Sunday, September 28, 2014

Berjalan dengan Sepatu Orang Lain


"Jangan mengejek rasa sakit yang belum pernah kamu alami."

Ini adalah kutipan yang setiap orang harus memasangnya di dinding rumah mereka dengan cahaya lampu seterang mungkin. Masyarakat kita begitu kejam dan begitu seringnya merendahkan orang-orang yang merasa sedih atau kesepian. Orang-orang yang mengalami kesulitan ini dicemooh dan dicela. Orang-orang yang merasa depresi atau gelisah selalu disamakan sebagai "pencari-perhatian" dan selalu disisihkan dengan ungkapan sarkastis "alaah, lupakan saja". Murid-murid akan merendahkan sesamanya yang memiliki kesulitan membaca karena gangguan psikologis dalam belajar. Ibu-ibu muda akan dijadikan bahan gosip bagi siapapun yang melihat mereka. Tidak ada perasaan empati bagi anak autis yang mengalami serangan panik karena rangsangan sensorik berlebihan. Parodi logat asing juga diulang dimana-mana, seakan-akan tidak menghargai bagaimana sulitnya untuk belajar bahasa asing (maksud saya, pernahkah kamu mendengar setengah dari murid-murid di kelas bahasa Inggris atau Prancis di sekolah?). Topeng-topeng palsu kebahagiaan dan keharmonisan dipakai oleh wajah-wajah yang jiwanya telah rusak. Semua orang merasa terlukai dan merasa bahwa merekalah satu-satunya orang di dunia ini yang terluka.

Masyarakat kita, untuk waktu yang sangat lama, memiliki sedikit sekali penghargaan untuk rasa sakit. Jatuh sakit dan menangis serta tampak emosional terlihat sebagai sesuatu yang lemah dan menyedihkan, seakan-akan jiwa manusia kita ini begitu kotor untuk terlihat di khalayak umum. Kutipan ini mirip dengan: "Jangan menghakimi seseorang sampai kamu berjalan dengan sepatunya." Sampai seseorang benar-benar paham secara keseluruhan mengapa orang lain merasa tercambuk atau depresi, tak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menghakimi. Bahkan sekalipun, jika anda berada di situasi yang sama, itu tidak berarti sepenuhnya sama, dan masih banyak perihal yang lebih luas yang tidak boleh disinggung. Kamu mungkin memperhatikan di blog saya dengan topik pemerkosaan, saya selalu menaruh "TW: Pemerkosaan" pada judul. TW berarti Trigger Warning atau Peringatan Pemicu, karena hanya dengan membacakan situasi dapat mengakibatkan seorang korban mengalami serangan panik. Saya melakukan ini karena menghormati korban yang selamat. Saya tidak secara personal mengalami masalah-masalah tersebut, tetapi saya paham bahwa itu adalah masalah kesehatan kejiwaan yang serius dan harus ditangani seserius luka fisik. Apakah anda akan menyuruh seseorang yang kakinya patah terus berlari dan memberi tahu mereka bahwa anak-anak yang lain baik-baik saja dan setiap orang bisa berlari, jadi mengapa mereka tidak bisa? Karena kaki mereka patah! Jiwa yang terluka dan pikiran yang berantakan juga sama. Seorang tentara mengalami guncangan hebat bila mendengar suara bising, yang mengingatkan mereka akan tembakan senjata dan ledakan bom, juga harus dirawat secara rajin seperti merawat seorang tentara yang bagian tubuhnya diamputasi.

Tapi tentu saja, saya tidak bermaksud segala kesulitan dapat dijadikan alasan tindakan seseorang. Tetapi empati akan memberi orang-orang ruang untuk saling memahami, dan mungkin saja dapat membantu satu sama lain dan mencegah rasa sakit terjadi kembali. Suatu ketika, saya menyadari bahwa dunia dan orang-orang di dalamnya lebih besar daripada diri saya sendiri, apapun dunia yang saya bayangkan itu telah memudar untuk menunjukkan keindahan dan berbagai macam kemungkinan. Ada begitu banyak hal yang mungkin saya tidak sanggup pahami, tetapi saya lebih suka berpikir bahwa itulah makna hidup — untuk tetap belajar dan memahami. Saya tidak berpikir kita akan berhenti belajar sampai kita mati. Bahkan seorang guru masih bisa belajar dari murid-muridnya, dan seorang murid mampu menjadi seorang guru. Saya yakin guru seperti anda, Ibu Lahaise, mungkin telah mengamati situasi dari berbagai macam perspektif hanya dari berdiskusi bahan pembelajaran atau membaca blog murid. Jika semua orang bisa mempertahankan pikiran yang terbuka dan hati yang penuh kasih dan kepedulian, saya percaya sepenuhnya bahwa dunia akan benar-benar menjadi tempat yang lebih baik.

“Berbuat baiklah kepada orang lain.” 
— Ellen DeGeneres

sumber terjemahan :http://lahaiseslair.com/uyenl/2014/04/01/81/

Stabat, Agustus 2014

Thursday, September 4, 2014

5 Tahap Kehilangan dan Kesedihan

Lima tahap kehilangan dan kesedihan normal pertama kali dikemukakan oleh Elisabeth KΓΌbler-Ross di tahun 1969 dalam bukunya On Death and Dying. Kehilangan bisa termasuk sebagai respon dari sakit parah yang dialami seseorang, kematian seseorang yang dicintai, kehilangan impian dan sebagainya. 

1. State of Denial and Isolation (Kondisi penyangkalan dan Mengurung Diri)
Respon yang paling sering terjadi terutama ketika baru saja kehilangan ialah menyangkal kondisi (SoD) yang dialami. Rasa kehilangan yang luar biasa tidak semerta-merta diikuti oleh kenyataan yang bisa diterima secara langsung bagi seseorang. Efeknya ada menganggap kehilangan itu tidak nyata, tidak terjadi atau bisa dikatakan sebagai mekanisme defensif yang dilakukan dari gelombang kesedihan. Mengurung diri juga respon yang sama untuk melarikan diri dari kenyataan. Pada beberapa orang yang merasakan kehilangan bahkan sampai berhalusinasi masih bersama dengan hal yang telah hilang tersebut.

2. Anger (Marah)
Bila kemudian respon penyangkalan tersebut efeknya mulai menghilang, tahap kedua - marah, adalah bentuk pelampiasan dari perasaan kehilangan tersebut. Amarah itu dilampiaskan pada apapun, benda mati, orang tua, teman, dan siapapun yang kemudian memiliki celah untuk bersalah, sekecil apapun.

3. Bargaining (Menawar)
Maksudnya melakukan pengandaian dengan kondisi ideal, atau pengandaian kenyataan yang diinginkan dengan harga kehilangan. Misal, "seandainya saja aku mendapatkan pengobatan yang baik dari dulu, pasti ..." atau "coba saja aku yang lebih dahulu meninggal, pasti ..." dan sebagainya.
Dengan menawar kenyataan seseorang bisa melihat secara visual seberapa besar rasa kehilangannya.

4. Depression (Depresi)
Ada dua jenis depresi, pertama ialah yang menjadi reaksi implikasi praktis dari kehilangan. Kesedihan dan penyesalan menjadi ciri utama depresi ini. Jenis kedua lebih halus, dengan kata lain lebih bersifat pribadi (e.g. rahasia). Ini semacam persiapan diri untuk memisahkan diri dan melepaskan hal yang kita cintai. Walau kadang, apa yang benar-benar butuhkan hanyalah sekadar pelukan.

5. Acceptance (Penerimaan)
Sampai di tahap ini dari kehilangan adalah karunia yang tidak semua orang bisa dapatkan. Terkadang kehilangan bisa terasa begitu tiba-tiba, dan amarah (pelampiasan) serta penyangkalan bisa menjadi begitu besar hingga sulit disembuhkan. Jangan kemudian hal ini menjadi penolakan pada diri sendiri untuk berdamai. Fase ini ditandai dengan kerelaan dan ketenangan. Penerimaan bukan bagian dari kebahagiaan dan juga mesti dibedakan dari depresi.

Seseorang akan mengalami kelima tahap dalam rentang waktu yang berbeda. Tahap yang dilalui tidak berarti juga secara bertahap sesuai urutan. Bisa saja melompat dari satu tahap ke tahap lainnya, atau bisa jadi ia stuck di satu tahap untuk sekian lama. Memahami kondisi diri adalah bagian terpenting. Ada saat dimana seseorang merasa tidak bisa ditolong oleh apapun dan tidak memiliki harapan. Kondisi ekstrem seperti dimana trauma (serangan panik), gejala kegelisahan, stress bisa mendorong seseorang pada kondisi yang lebih destruktif seperti self-harm (melukai diri sendiri) hingga bunuh diri. Mengatasi rasa kehilangan akhirnya merupakan pengalaman personal yang sangat dalam dan khusus  — tidak ada seorang pun yang dapat menolong secara mudah dan memahami kondisi yang dilewati. Tetapi orang lain mampu berada tetap disisi yang dibutuhkan dan menenangkan selama melalui proses ini. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah membiarkan diri sendiri untuk bersedih ketika harus bersedih. Melawan kesedihan hanya akan memperpanjang proses alami dari penyembuhan.


Stabat, September 2014
-----------------------------------------------------------------------------------------------
nb: diterjemahkan dengan proses penambahan seperlunya
sumber : http://psychcentral.com/lib/the-5-stages-of-loss-and-grief/000617

Pulau Damai

kenapa orang-orang itu melihat dengan tatapan kasihan, sementara jiwa mereka kehilangan satu fungsi; empati.
mengapa kemudian kita bermegah-megahan dengan impian, lalai dari makna perjuangan, padahal kebahagiaan bisa dari sekarang; ia tidak dibatasi oleh waktu.
puaskah diri dengan berdiri diatas kasta tertinggi, tertawa puas, makan kenyang dan minum sampai kembung?

kami duduk diatas dipan kehidupan, saling duduk menghapusi airmata yang satu dan yang lainnya.
ikut merunduk bila bersedih, lalu mengukir tawa atas nama kepuasan batin. berbagi suka dan menjadi sandaran bagi yang lelah.
begitupun kami masih lara bila ada jabat yang terlepas.
kami peduli, kami menghargai tepuk-tepuk ria yang sedikit, dan senyum rapuh bagi yang berduka.

jika saja kelak engkau memiliki luang, dari gedung-gedung pecakar dimana rongga jiwamu penuh sesak, akan kami bawa menuju ke tanah lapang tempat kami berlari kencang atau sekedar tidur beralaskan tikar. tuan, engkau akan kami ajari terbang di langit kebahagiaan. tidak dengan sepasang sayap putih di dongeng. tapi oleh rerantai lengan yang saling menguatkan.

kami menyebutnya,
...Pulau Damai.

Stabat, September 2014

Saturday, August 23, 2014

Dusta

berdusta tidak menjadikan seseorang tidak dapat dipercaya, sebaliknya berdusta menjadikan seseorang tak mempercayai siapapun. akan ada orang bodoh atau orang terlampau baik yang akan mempercayai atau bahkan seseorang yang telah ditipu berkali-kali tetapi tetap berusaha untuk mempercayai.

tapi, bisakah engkau mempercayai orang-orang yang siap menumpahkan kotak pandoramu? sampai rahasia tergelap hidupmu akan dibeberkan di khayalak ramai, lalu semua orang akan menatapmu jijik, sinis. mereka akan membicarakanmu dibelakang, mereka berbisik. tidak. tidak akan ada yang berubah. mereka akan selalu memperlakukanmu dengan manis.

untuk itulah engkau berdusta. mereka terlalu mengerikan untuk mengetahui kenyataan hidupmu. jangan percaya pada siapapun...dan berdustalah untuk dusta yang ingin engkau jadikan kenyataan.

Stabat, Agustus 2014

Friday, August 22, 2014

Detak Kesedihan

saya gak tahu harus dijudulin apa postingan ini. tapi, postingan panjang ini akan dimulai dari pertanyaan saya kepada seseorang, “1. apakah kita hidup ini harus selalu bahagia?" jawabannya tidak juga. saya tidak tahu apakah ketika pertanyaan terlontar ia benar-benar memiliki kekuatan untuk melahirkan sebuah jawaban atau hanya sekedar persetujuan. pada akhirnya dia hanya menjadi pertanyaan yang akan melahirkan pertanyaan baru lagi.

hingga kemudian, pertanyaan itu terevisi dengan sendirinya dan terlontar dari kawan saya. “2. apakah manusia tidak boleh berduka?" berita buruknya, saya yang harus menjawab. tapi saya akan berikan dua jawaban common sense.

dengan menggunakan pertanyaan kedua, mereka kebanyakan pasti akan menjawab, tidak boleh berduka. saya gak tahu apa yang terjadi di benak golongan ini. wajah bahagia itu kelihatannya satu, dan mereka belum kenal seribu satu wajah kesedihan. atau mungkin juga mereka menganggap kesedihan adalah wajah buruk dari kehidupan, sehingga sebisa mungkin, sejauh mungkin mereka punya jarak aman dari kesedihan.

major community kedua mungkin akan menjawab half empty half fullboleh, tapi jangan lama-lama. mereka orang baik yang punya empati. hanya saja barangkali mereka belum punya waktu untuk memahami ada jenis kesedihan yang tidak bisa diobati. kalau kalian sempat melihat postingan saya yg lalu tentang “don’t moke a pain that you haven’t endured”, saya berharap kemudian kalian memahami satu hal. serupa kematian, ada juga kesedihan yang tak disertakan obatnya. walau saya sendiri tak begitu yakin jika itu benar-benar tak ada obatnya.

jawaban minoritasnya sudah pasti, boleh. mereka tak lagi sebagai objek penanya, tapi sebagai pelaku utama dalam drama kehidupan mereka masing-masing. saya yakin jumlah mereka cukup banyak, walaupun kemudian alasan mereka variatif. bisa jadi, mereka hanya belum menemukan jalan keluar dari kesedihan. bisa juga mereka hanya terperosok dalam lubang kesedihan. bisa jadi juga mereka terjebak-terlilit-tersangkut atau apapun lah itu namanya oleh kesedihan. mereka itu semua…tolonglah, saya benar-benar meminta tolong. terangilah, ulurkanlah, dan bantulah mereka lepas dari kesedihan itu. kesedihan itu hidup dan bernafas, dan semakin lama ia tumbuh dalam diri seseorang. mereka…

mereka akan menjadi kesedihan itu sendiri. jalan keluar, obat, kesembuhan, keselamatan, bagi mereka adalah kata-kata asing. mereka adalah kekosongan yang tak lagi mengenal antitesisnya. mereka akan menjadi entitas yang tak lagi dapat dipisahkan dari inangnya. bagi kami, kesedihan baru adalah akhir kesedihan lama. kami tak lagi boleh diselamatkan, jika berarti kami harus dibunuh untuk kedua kalinya.

entah bila pun kalian mengerti, semua ini hanya berawal dari kata sederhana. impian.

Stabat, Agustus 2014

Saturday, August 16, 2014

Catatan #3

Haaaaah.....tinggal sepuluh lagi!! *ngais-ngais tanah nyari inspirasi*
untuk yang sepuluh ini belum tahu mau di apain. kalo nulis sekedar nulis, kabur ke kamusrima.com ngumpulin diksi, disatuin, jadi mah mau berapa pun diminta.

masih ada dua minggu sebelum September. saya mau istirahat panjaaaaaaaaannnggggg. 
kalo balik lagi kemungkinan nulis Catatan Harian di rumah baluuuu..ahehe. *itu juga kalo sempat nulis*
well, cuma pingin nulis catatan biasa. Why Froo?? Whyyyy??
*tiba-tiba teringat*
kenapa #3? yang #1 dijudulin "Horee...lahir deh!!" yang #2 dijudulin New Born.
tulisan paling lama di blog ini (di draft tepatnya) di tanggal 8 September 2008. sampai kemudian 3 tahun berikutnya, tepatnya di postingan 90an semua dimasukin balik ke draft, dan gaya tulisan di restart. *w..ww..wait! ini juga 3 tahun berikutnya kan? jangan-jangan ini siklus 3 tahunan?*
sekarang, total all (publish-draft) ada sekitar 336 (lebih banyak postingan sampah sih). dan sumpah...saya sayang banget sama ini blog. pingin dibukukan tapi..
1. takut hilang
2. malu-maluin \(._. )
3. takut ada alasan nomer 4
4. takut ada alasan nomer 5
dst...
di restart blog pertama kali di tahun 2011, saya bingung juga kedepan mau nulis apa. karena di tahun-tahun kebelakang saya nulis cuma bermodalkan mood. dan kebanyakan postingannya juga bercampur sama tulisan-tulisan iseng gak jelas. tapi berikut-berikutnya saya lebih konsisten menulis puisi dan belajar banyak gaya dan struktur puisi. surprisingly, saya yang anti nulis cepen (yes, anti!), mulai belajar nulis panjang-panjang (gak sanggup nulis panjang....) dan mulai bisa (belum terbiasa, tetep).

curcol acii?
key...
dulu di nick chibifrozen. anaknya masih kecil, sekarang udah gede di nick chiizen. ha!
.
.
.
.
.
udah, itu aja mah curcolnya. *krik krik krik*

postingan favorit? yg judulnya Sejauh Ini Hanya Luka. puisinya biasanya aja sih, diksinya juga. tapi feelnya diinjeksi berlebihan disana. diendapin bentaaaar aja di Istana Ingatan, kenapa? soalnya saya berasa ketemu musenya langsung. rasanya di penghujung 2012 itu banyak tulisan bagus. kaya Platonik, itu puisi bagus, langka karena salah satu puisi yang gak di endapkan di Taman Waktu ataupun Istana Ingatan, dan hasilnya, terasa bagus! dan feelnya juga gak segloomy lainnya. klo boleh di tag pake seven themes, mungkin masuk di kategori Impian.

paling hobi nulis puisi pake rima, tapi lebih seringnya ngerasa eneg karena kadang klo maksa langsung keliatan. klo mulai nulis pake rima, paling kuat 2 paragraf...ujung-ujungnya masuk draft. makanya nyoba berbagai macam bentuk puisi itu penting. agaknya sekarang kurang-lebih kena efek haiku. penulis tumblr semisal lang leav atau michael faudet banyak tulisannya pake haiku. aslinya satu paragraf itu satu kalimat, tapi banyak pula penggemarya. saya ada kenal sih yang hobinya nulis pendek-pendek gitu, tapi tulisan aslinya lebih original bentuknya. Pekat misalnya, gak bisa dibandingin dengan counterpartsnya, tapi kurang lebih gitu. dengan bahasa Indonesia susah bikin haiku, karena satu kata aja suku katanya bisa banyak. kurang tau apakah dengan memotong suara bisa dikategorikan kesana. well, puisi bukan teori. gak perlu dipikirin.

Dingin barangkali cerpen pertama saya yang agaknya lumayan. tapi bukan cerpen pertama sih. awal-awal banyak bikin kerangka tulisan, bikin karakter, ide cerita, dan yes..kebanyakan masuk tong sampah. Dingin sendiri idenya gak terlalu original. waktu itu saya nantangin diri sendiri karena tulisan yang bilang bahwa membuat cerita klise yang enak dibaca itu jauh lebih sulit daripada membuat satu ide cerita yang kreatif. Idenya dari salah satu video klip korea (atau jepang? waktu itu korea belum booming banget). judulnya winter love (coba tebak siapa penyanyinya? :D). baru kemudian scene di vidklipnya saya pindahin ke otak, terus pemerannya diganti sama Rin dan An. 

balik lagi ke puisi. setelah saya berkonfrontrasi dengan ketakutan saya akan cerpen, saya semakin jatuh cinta dengan gaya puisi bebas. sekat antara puisi yang terbatas dan cerpen yang terbuka lalu menyatu. setelah saya selami lebih dalam, ternyata saya ketemu sama bentuk tulisannya abstrak yang mengetuk pintu Istana Ingatan malam-malam. si abstrak itu nanya, "bisa gak bikin puisi pakai alur campuran?" saya gak tahu. tapi setelah itu endapan si abstrak tadi, jadilah Kenangan [5] dan Gerhana. dan sepertinya bukan jenis yang bisa dinikmati selain penulis. meminjam perkataan almarhumah teman saya, bahwa saya ini seperti sejarah dan yang paling sulit adalah ketika saya sendiri kehilangan benang merah dari satu waktu ke waktu yang lain. sampai sekarang saya belum tahu bagaimana menjahit dua warna dalam satu puisi. kalau perbandingannya mungkin ketika kekasih menuju penjara, kalau disitu dua orang dalam satu waktu.

hmm...berikutnya, sepertinya saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di http://yourpatheticjoke.tumblr.com


baiklah, gitu aja catatannya. kenapa juga ya bikin catatan di blog privat gini? entahlah. mungkin suatu saat ini bisa dibikin publik lagi.
----------------------------------------------------------
Wahai hati perdusta, hati yang bersalah ...
Wahai hati yang lalai cintanya, yang menutup akal ...
Menggelapkan kebenaran, Menghias dengan airmata ...
Kau terpesona dan memesona ...
Kau hanya bisa menyesal ...
Tertutup dan kesepian lah kau semoga, selamanya ...
( Drama : Rahasia Hati,  26 Juni 2010 )

Merayakan Kesedihan

Kematian [7]
Sudut Pandang Orang Pertama

Jika ada hal yang paling aku ingini sebagai penulis, ialah merayakan kesedihan. Aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya bagaimana keindahan merayakannya. Tapi hari ini aku datang dan menemukan.

Kami berdiri di ruang terbuka. Tidak di Taman Waktu, tidak juga di Istana Ingatan. Kami berdiri di dekat tebing, di timurnya terbentang padang rumput hijau dan di barat jauh di bawah ombak meraung berlipat-lipat.

An dan Rin saling bertatapan. Mereka kelihatannya bingung. Tentu saja. Aku mendekati An, Airlangga Kelana, lalu memeluknya. Dia diam saja dan dia telah mengerti. An selalu hidup atas ketidakmampuanku melawan dunia. Sekarang, setidaknya aku telah memulai untuk melawannya sendiri. Untuk itu istirahatlah, An.

Rin hanya bisa kupandang lama, walaupun pada akhirnya dia terjatuh dan memeluk lututku yang sudah tak lagi berasa. Rin, Airin Yuuji, selalu hidup untuk membenci. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memenuhi daftar orang-orang yang ingin dihapusnya. Tapi belajarlah untuk menjadi pemaaf Rin, karena mulai sekarang aku pun akan belajar meminta maaf. Engkau lelah, beristirahatlah Rin.

Lalu Manja. Aku hanya bisa menggendongnya, memeluknya rapat-rapat. Manja Citra Kelana. Si kecil yang memiliki mata yang aku sendiripun kiranya tak mampu menatapnya. Di antara An, Rin dan Manja, Manjalah yang memiliki aroma kesedihan yang paling harum dan luka yang paling ranum. Sebab itu, tak heran Manja langsung mengenaliku. Karena saat aku menggendongnya, justru ia yang berujar sambil mengusap rambutku, "tak apa.. tak apa.. tuan akan baik-baik saja." Terima kasih An kecil.

Mereka adalah nafas yang menyambungkan malam dengan siang, kenyataan dan impian, kesedihan dan jembatan kebahagiaan. Walaupun kemudian, kita tak bisa saling mengantar pada ujung jalan. Terima kasih, Rumah Hitam Putih.

Benamkan matahari, matikan lampu, hidupkan lilin. Mari kita rayakan...

Stabat, 15 Agustus

Absorbsi

Makam [7]
takdir menumbuhkan impian dibalik cangkang
lalu mengoleksi engkau dengan pijar kunang-kunang
tapi mereka melapuk, dibawah naung yang tak lagi berbahasa
tapi mereka layu, seperti sebongkah es dijenguki saga
   lihatlah engkau lelah serta bayangmu pun musnah
   bila sesuatu dalam lacimu adalah kunci
   tidakkah engkau rapatkan dan sunyikan dalam dada
   membiarkan rumah birumu terbuka, dan seolah memanggil suci
      kain-kain putih berjuntai tinggi
      lalu meraba cincin hitam disekitar mata
      oleh seorang yang menyematkan jiwa diantaranya
oleh malam yang kian meresap
kini tetes airmatanya pun berubah gelap

Stabat, 14 Agustus

Friday, August 15, 2014

Selamat Malam...

Impian [7]

Sejenak saja, kita tidak akan berbicara tentang kepahitan. Tidak tentang masa lalu. Tidak tentang masa depan. Ini tentang hari ini, sekarang, aku ingin mengajakmu tidur untuk punya mimpi yang sama. Hanya tentang bunga tidur.

Kita tertidur. 

Apa yang sedang kau bicarakan? Aku menghirup teh manisku pelan. Kau masih lanjut bercerita. Di antara lalu lalang pelayan di jam makan siang. Kau berbicara tentang hari-harimu yang sibuk. Kau bertanya, apa yang aku lakukan seminggu ini? Aku mendesah. Lalu menatap sisa tehku yang pekat. Lihat, ada beberapa ampas halus. Aku memijat keningku. Kukatakan, pikiran terlalu kasar untuk lewat saringan di kepalaku. Kau hanya menyunggingkan senyum kecil. Dari tasmu yang selalu kebesaran itu, kau mengeluarkan sebuah buku. Buku berwarna biru. Judulnya dicetak dengan warna emas. Dan ada namamu. Berikutnya kau berkata, "yaa ngapain disaring.."

Setelahnya, kita menghabiskan waktu berdiam. Kau mengutak-atik ponselmu, seolah ada yang penting. Aku tiduran dengan tangan terlipat, seolah berpikir. Dan buku biru di tengah meja, seolah tak mengapa.

Jemputanmu datang. Kau mengemasi barang-barangmu. Kau mengambil tisu, mencatatkan sesuatu. Kemudian giliranku. Mencatat sesuatu. Lalu tisu ditenggelamkan dalam mangkuk cuci tangan. Dua orang asing itu kemudian berdiri. Bersalaman. Saling mengucapkan perpisahan.

Aku terbangun dengan tengkuk yang penuh dengan asam. Ah, masih jam tiga.
Selamat pagi..
.. siapapun itu.

Stabat. 24 Juli

Gerbong Usang

Makam [6]

belumkah engkau lelah berjalan
berkejaran dengan bayangan
dengan lengan berkait awan
akankah engkau urung menjadi hujan?

bila ada saja secuil kemungkinan
istirahatlah dipangkuan
pada gerbong usang termakan zaman
padaku saja, engkau kereta diakhir penantian

Stabat, 11 Agustus

Tuesday, July 29, 2014

Rhytm of Losing

What if he is everything you don't know, every kind of impossibilites, will you still love him?
I think i'm going stop, but hug him instead. 
But it won't change a bit.
Yes, it won't. Then i'll hug him harder.
You just hurt him.
Why don't you ask why?
So, why?
Because i don't know. I don't know other option, thus I hug him with every his that I know and every kind of possible way to love him.
Still, it won't change.
Could it be still matter? Do you think it was unwishful for empty shell?
Yes, it isn't the case.
I'll try every physical and meta physical way to understand him, to let he understand himself.
You just making a fake prince of your unwishful thinking.
I'm being egoistical, but yes, so he does. Until my heart keep beat at the same rate, and those unwishful thinking he's actual wishes.
You're scary.
So you do.

Sepetak Kamar Tempat Ia Bermimpi

An : Dia tidur melayang, perlahan-lahan turun bersama selimut embun. Bulan sabit terlalu jauh dari sepenggalan tangan, tapi fajar tepat dibawah kelopak mata. Di telinganya masih berbisik dongeng tentang manusia.

Apakah mereka jatuh cinta? Igauku. Tidak, mereka terluka. Jawab bulan sambil menunjuk kawah-kawah di sekujur badannya. Apakah mereka sembuh? Sambungku. Tidak untuk waktu yang singkat. Bulan berbalik, menarik awan-awan kearah wajahnya. Kalau begitu jangan bangunkan aku.

Hari semakin dingin, angin berkerumun sedih di lingkar tubuhnya yang mendekap. Bulan di barat semakin lara dibuatnya.

Rin : Ruhnya semakin dekat ke bumi. Kabut mengitarinya. Sebelum matahari berganti menjaganya, bintang-bintang berkerumun lekat di piyamanya. Mereka menyisipkan sepotong kue.

Tapi engkau bahagia. Bulan menyeka airmatanya. Ia masih tertidur. Ia mengukir senyum.

An : Sejak saat itu, kami tak pernah bertemu purnama.

Sunday, July 27, 2014

Kiamat

Engkau yang menarik lengan kami di pagi hari, kami kehilangan.
Burung gereja tak lagi hinggap di ranting kering, kami kehilangan
Langkah-langkah termuai tujuannya, kemana Tuan?
Rindu tak lagi candu, cinta tak lagi sendu, dimana Tuan?
Remang di ujung jalan dan matahari di barat
punggung tak bertopang pun kami sekarat
kami kehilangan, Tuhan.

Thursday, July 24, 2014

Satu dari Tiga Semanggi

Makam [5]



Jurnal Ketiga : Di Atas Awan, Menjadi Kabut

kau membaca puisi, aku membaca ketakutan
segala yang diimpikan mengajakku berdiri, tapi terlalu tinggi tanpa pijakan
bahkan sekadar mengucap doa, peminta luka
bisakah waktu ditukar? ditawar? dan dibawa pulang?

jangan memapah, tak perlu menyemangati
cukup berdiri beberapa meter dari punggung
jadilah seperti ibu, biarkan aku menangis sendiri
berjalan untuk hidup, dan sesekali menatap kebelakang
dan jangan terlalu jauh dariku.

tunggulah, dengan segala upaya
biar anak-anak peluh dan airmata
tak menjadi sia-sia.

bila tidak, berlarilah
sekuat tenaga, tak perlu berdengung
biar kau menjemput siang
dari pagi yang terlalu terang,

7/21/14

Wednesday, July 23, 2014

Jurnal Kedua : Orang-Orang Bodoh

aku tuliskan ini untukmu yang tadi malam datang mengendap.
selalu menyembunyikan suara, lalu saat pagi beranjak bangun, 
engkau susut diantara kabut pikiran yang terjaga oleh raga pesakitan.

supaya seorang anak yang telah melarikan diri dari keluarganya
berharap mampu pulang dengan dagu yang dongak
tapi tidak untuk saudara kembarnya.

saudara kembarnya, si pemurung yang rindunya tak kunjung urung
dan engkau si pemabuk peminum darah merah
keluargamu sempurna tapi memilih untuk bisu

si pemurung kini telah melarikan diri juga dari keluarganya
agar semakin sempurna katanya, dan memang tak kurang
dari apa-apa yang kurang menjadi semakin lengkap dan tegak


pada peramal dan dukun-dukun zaman
aku berdoa pada tuhan agar lewat tangan mereka
meminta saudara kembar, si bodoh dan dosa-dosa besarnya

karena kini kalianlah dua saudara yang tak lagi kembar
karena engkau tlah keluar menemukan warna anggur dari cawan perak
sementara saudaramu keluar dan semakin luntur dibilas hujan asam

7/19/14

Jurnal Pertama : Kompetisi

tak peduli seberapa kotornya gelimang lumpur
kau telan bak bubur gemerlapan. hanya untuk melawan
seseorang yang berpura-pura mampu bertahan.
bayanganmu berdiri sama tinggi, berbisik pula
sambil mengayun tiang. pada kepala seseorang, dibenturkan.

7/18/14

(Rin) : Riak dan Kerak

Riak
Saat itu masa liburan akhir tahun sekolah. Teman sekelas mengadakan camping selama tiga. Di tiga hari yang sama aku menghabiskan waktu menginap di rumah salah seorang guru muda, Bu Citra, tapi ia sendiri lebih suka dipanggil Kak Citra. Masa SMP kuhabiskan mengkhatamkan beberapa rak di perpustakaan. Tak lebih dari bertegur sapa dengan Kak Citra, setiap hari, tapi membuatnya menjadi pilihan lebih dari siapapun.
Ketika teman-teman mempersiapkan bekal tiga hari, aku juga sama. Hanya berbeda tujuan. Saat kukatakan pada Kak Citra di perpustakaan, “Boleh menginap di tempat kakak aja?”, dia lalu menulis di selembar nota, mirip dokter yang dimintai resep. Lalu tersenyum sembari menyodorkan nota tadi, “Datangnya jam-jam 10an ya?”.  Maksudnya dia akan pergi bertanggung jawab menunggui keberangkatan camping kelas. Tapi tentu saja aku tetap datang lebih pagi. Ayahku hanya tahu aku ikutan camping. Dan aku lebih rela duduk berjam-jam di depan rumah orang asing daripada diam di rumah. Bahkan sebelum Kak Citra berangkat dari rumahnya, aku sudah berdiri manis. Kak Citra tinggal sendiri di kontrakan kecilnya. Aku disuruh menunggu.
Sampai hari kedua. Ada ritual kecil yang harus kulakukan setiap pagi. Sialnya, alat untuk ritual itu tertinggal di rumah.
Firasatku mengatakan, inilah awal rangkaian tragedi panjang.
========================================================================
Perempuan itu tinggal berjarak hanya satu kota. Sebuah fakta pertama yang tak sengaja kutemukan. Sebuah fakta yang sengaja ayah sembunyikan. Entah untuk alasan apa. Sebuah kertas di kantung celananya, bertimpa kutang wanita simpanannya – fakta kedua, tercuci sebagian. Kalau saja sebagian lagi bisa terbaca, entah apa, entah lindapan macam apa yang akan jatuh saat mataku beradu dengan mata ayah.
Berbekal fakta kedua, tahun pertama masa SMA ku nanti, akhirnya aku punya hak suara. Pertama kali seumur hidupku. Jika saja jeritan histeris panjangku tak bisa menggedor pintu telinganya, tidak dengan pintu telinga tetangga. Yang kutahu lindapan itu keluar sebagian. Wajahku dan wajahnya sama memerah. Aku menggigit bibirku, sekaligus mengunci rapat segala kuasa lelaki itu selama enam belas tahun. Fakta kedua di tanganku sudah cukup untuk berbicara dan mengancam jiwanya. Jika pertanyaan tiga kata itu keluar dengan nada jeritan yang sama, hidupku dan hidupnya akan poranda. Entah karena hidupku atau karena hidupnya, tapi sekali ini dia merasa kecut dan membagi hak hidupku yang seharusnya.
Tiga jam berikutnya, aku mengunci diri dalam kamar. Ayah mengunci seluruh rumah. Hingga ponselku bergetar, Kak Citra, tentu saja. Bagaimana mungkin aku meninggalkan seseorang dalam kondisi mengkhawatirkanku. Maksudku, satu-satunya orang yang mengkhawatirkanku. Aku membuka pintu kamarku. Menemukan ayah sedang duduk tenang merokok. Dan dia menemukan anak perempuannya keluar dengan wajah datar. Bila harus dicari kesamaan diantara kami, ialah kami sama-sama penipu. Seolah danau yang beriak tenang, tapi di dasarnya menggelegak lahar yang siap tumpah.
“Mau pergi lagi?”
“Hmm.”
Setengah jam berikutnya aku menemukan diriku berdiri di gerbang dengan lindapan yang lain lagi, hendak tumpah. Kak Citra berlari kemudian memelukku, berusaha meredam. Sampai besoknya aku hanya bisa terbaring di tempat tidur. Dan semua airmata yang tumpah itu membantuku. Menguras semua warna bahkan detik yang lalu menjadi abu-abu, lalu kusam, berikutnya tinggal noda-noda gelap di sekat ingatan.  
Kerak
Hanya alamat itu yang membekas. Perihal meneriaki ayahku dulu, fakta pertama harus menjadi bubur di genggamanku beserta emosi dan cucuran keringat yang mengalir deras. Hanya alamat itu. Di ingatan. Anehnya aku tak menemukan ada sebetik keinginan untuk mencari tahu. Kenapa? Tak kutelusuri lebih lanjut mengenai diriku sendiri. Yang jelas, semasa liburan kuhabiskan waktu mencari tempat bersekolah yang tepat. Tidak di kota ini. Tidak juga disana.
Momen berikutnya, aku menyodorkan formulir pendaftaran kepada ayah. Sudah kuisi keseluruhannya. Dan aku tidak meminta persetujuannya. Aku hanya menunggu secuil legalitas darinya. Legalitas yang bahkan aku tak sudi mengakuinya. Ayah kemudian mencoret-coret kecil. Dia hanya melihat kop surat, mencari nama instansi, lalu bagian kosong dekat catatan kaki. Sudah.
Berkat formulir itu seminggu kemudian, pada saat orientasi aku menemukannya. Orang itu salah satu panitia MOS. Dia terlihat ramah, ia bahkan memasang senyum tipis. Rambutnya diikat acak-acakan, seolah tak sempat merapikan, juga seolah mengatakan "hey, takutlah padaku". Aku tahu, semua orang menyukai penampilannya. Tapi pada saat tatapan mata kami bertemu, barulah aku benar-benar paham. Sumbu ketakutan di dalam dadaku, untuk pertama kalinya tersulut. Dan dia akan menjaga apinya agar tetap hidup.

bersambung...

Friday, July 18, 2014

Sajak Hujan

Hujan [3]

bacalah ini, bacalah sajak tentang hujan
yang mematikan percik api di hati puan
dan segelintir cemburu berarak di awan
lalu menjadi petir, menyambar ketakutan

pujilah ini, pujian air mata
yang menerobos benteng rasa
bila di hilir tenang bersemayam
kini diundangkan tabir tenggelam

panggullah diri, panggullah keselamatan
pasang di kanan kiri menggenggam tangan
jika raga jiwamu berderit retak
waktu pun sungkan lanjut bergerak

cepatlah kini, cepatlah engkau terang
bah sudah setinggi tugu selamat datang
tak ada tanda di empat penjuru palang
diliput pasrah, engkau tahu tlah ditelan jurang

Sunday, July 13, 2014

Bersama Rindu, Ia Berkecambah

Makam [4]

kau coba membedakannya
yang mengalir dibalik dada,
lalu menetes-netes dari jemari
selebihnya menguap kembali ke ujung pelipis mata.
simpan sebagian, kembang pelayang
yang hamparannya sepanjang mata memandang,
menjangkau pintu-pintu langit,
selebihnya tiup agar kembali terbang pada bumi.
lembayung jatuh, dimana disembunyikan
cecapku yang tak lagi punya rasa.

ada alasan untuk lari,
tapi dunia memilihmu untuk terendam.
memijar tanah kering dan menghauskan awan
yang pelan-pelan menghilang.
agar kau punya hak untuk menjadi ibu
atas kesah duniaku yang tak berbalas.
bila nanti kesanggupanku terbaring
diatas bekas kerambamu,
maukah menungguku di gerbang tuhan?

Sunday, July 6, 2014

Senyum Dulu

rasa sejuk
  menari dibawah lipatan tangan
  dibalik genggaman, bergumam
  "tak apa..."

agar berdiri anggun
   lekas pijakkan, lekas eratkan
   bekas tapak tuan terlanggar
   agar hati sepenuh seruni
    
lebam di dada sudah tak mengapa
  tinggal sejarak debar, biar saja
  mereka tak perlu mengerti
  "nan... bawa aku pergi"

Pendiam yang Berlalu

janji ini serupa tulang-belulang, 
dari jasad yang kita kubur dalam-dalam
kupapah berdiri untuk dirusak lagi
demi harapan di kalbumu yang telah pejam

bantu aku hidup,
dengan cacian atau uluran tangan
pelan-pelan atau deras seperti hujan
tapi tolong, jangan diam.
bila aku lebih suka kau mengancam
itu sebab aku lelah kesepian.

kini ada lembab menyelindap
berbisik untuk rehat; tidak - racauku kalap
dan ia menyelinap, di sekat mata, raga
mengerosi asa dan 
hangat rasa yang tak lagi kau anggap bermakna.



Wednesday, June 25, 2014

Gerhana

Matahari [4]

Hari ini aku lebih panik. Demamnya begitu tinggi. Dia juga tak menghabiskan minumnya. Sehari ini aku tidak pulang. Ada yang lebih penting
Bagaimana cara agar dia berhenti menangis?
Dia sudah pandai bicara. Tak henti-hentinya berceloteh dengan siapa saja. Dengan cermin sekalipun. Dia memanggilku...
Aku mengingatnya.
Di meja makan, dengan baju barunya. Tapi dia tak mau pergi jika tak diantar. Terpaksa rencanaku batal.
Katamu, "sabar..."
Wajahnya sembab. Bertengkar untuk kesekian kali dengan temannya. Aku menepuk pundaknya. Dia semakin marah.
Aku bisa apa?
Ada surat rahasia di balik bantalnya. Pantas saja, dia sering melamun.
Ada hal-hal yang sekalipun kau usahakan, tetap harus kau telan sendirian.
Dia ingin keluar rumah. Aku menamparnya. Dia tetap keluar rumah. Aku gagal.
Aku mengalah.

Yang Kau Simpan, Yang Kau Tanam

seharusnya aku bisa menjadi gelombang suaramu
luapan emosi mental yang silih berganti
menyusuri tumpahan kesunyian malam,

seharusnya aku bermegah-megahan di dalam dadamu
dengan setumpuk sesak tak tuntas
sebagai jerit dan isak yang mengendap karat

dan memang aku tumbuh pekat
lumut di liang benak, lendir di rongga hati
kapal benci dan naluri ingin mati
kami ingin pecah ruah.

sebut namanya... 
kami sedang santai dan bosan.

Sunday, June 22, 2014

Istana Ingatan

Impian [6]

kemarilah, berdecak kagum dengannya
bawa kaki yang bosan didekap, sekali ini hentakkan
genggam tangannya, berlomba lah untuk mabuk
siapa yang menelan kepahitan paling banyak; jadikan raja.

tak ada lampu kerlap-kerlip, hanya mata diambang lelahnya
dihadapkan pada wajah-wajah yang kau sukai
dan semua memeluk, menarik, menari diatas kesadaran rapuh
sudah kau kecap setiap getir, lalu hantarkan pada setiap bibir

confetti dari potongan boneka-boneka buangan, pecahan kelereng, 
lilitan renda-renda baju anak perempuan; berjatuhan dari langit
kita mandikan, menyucikan diri lewat goresan-goresan kesedihan
telan sebagian, tubuh kan semerbak kerajaan tuhan

belum lagi pagi, mual mengendap dari pundak
diantara serakan puluhan mata, potongan jari, dan album abu-abu
dua orang dementia lelah berpesta, terkapar ditengah
wajah mereka sama.

Saturday, June 21, 2014

(Rin) : Anak Tangga

"ngegambar anak tangga lagi?"

"hahaha, excuse me?"

Dia pikir itu gambar anak tangga. Buat gue yang seumur hidup nilai kesenian paling tinggi cuma tujuh, dilematis harus ngerasa tersanjung atau terhina. well, the latter was joke, of course.

then, he's babbling a you-know-how-it-will-go absurd conversation...

"loe yang mana, hidup yang turun nanjak nanjak atau lurus belok-belok?", An mulai ngelantur.
"i prefer turun nanjak-nanjak."
"nah pas!"
"sigh. mata gue gak bisa ngeliat yang frame ratenya rendah tauk.."
"oh ya. tapi pilihan loe gak jelek sih. siapapun tahu kalo naik gunung itu capekan ngedaki daripada turun. jadi, sekarang lagi turun apa nanjak?"
cyclic question, cih.
"gak dua-duanya, kan." senyum sinisnya keluar.
curse you, An.
"you and your own battlefield. jadi, kap.."
PLAK!
"gimme your keys, and don't you dare go back to your home. Manja staying with me tonight."
"EEhhhh??!! S.s..sorry."
"It's alright. daah."

Medan perang itu cuma imej-negatif. An lah yang mencucinya sedemikian rupa, hingga terlihat jelas warnanya, siapa berperang dengan siapa. Setiap pijakan di koridor, suara manusia berbicara, bertengkar, semuanya masuk kesana. Meng-audio visualisasi setiap imaji yang paling kubenci. Wajah dua orang itu. Wajah paling keras.

Ah iya, kelupaan. Aku berbalik lagi ke arah An.
"Hey, itu bukan anak tangga loh." aku menunjuk anak tangga yang terus digambar An.
untuk kedua, ketiga, keempat dan seterusnya memang anak tangga sih. haha
"Itu gambar anak panah. hahaha."
An terpelongo. Aku melenggang pergi. 




(Manja) : Bahasa Inggris

An dan kak Rin suka ngomong bahasa Inggris. aku gak ngerti. tapi aku suka. kemarin teman-teman tepuk tangan waktu kubilang cita-citaku berbahasa inggris. BuBu tertawa terus bilang haw ayu. aku gak ngerti. tapi ikutan tepuk tangan.
waktu di rumah, aku bilang haw yu. An, haw ayu. An tertawa, trus nulis "how are you".
"An, haw ayu."
em pein.
"Manja, haw ayu."
em pein.
=====
tapi em pein An dan em pein kak Rin beda.
kak Rin, haw ayu?
kak Rin ketawa.
waktu An yang tanya.
Rin, haw ayu?
em inpein. kak Rin ketawa lagi.


  

(Manja) : BuBu

namanya Jambu. jelas cuma aku yang memanggilnya begitu. alasannya? karena di badannya, dari dagu sampai lengannya, tumbuh bulu-bulu halus seperti bunga jambu. bila ia tertawa, bulu-bulu pirang itu berguguran. banyak sekali. tapi cuma aku yang peduli.
BuBu suka sekali tertawa. dia menertawai banyak hal. dari buku, orang, sawah, bangunan, keranjang sampah, dan lain-lain. aku juga suka tertawa. menertawai tawa bubu. dia tahu. tapi tak peduli.
di kelas kami juga tertawa. bubu tidak bisa menulis huruf 'x. 
Saat pelajaran berhitung.
"Nja..nih baca! berapa!"
"dua kali d.."
"salah!"
"ha?"
"dua digunting dua, empat! haha"
dia tertawa. aku tertawa. tidak lagi di kelas. kami tertawa disetrap berdua.
====
An cuma bisa senyum kecil pertama kali aku bercerita tentang bubu. cuma kak Rin yang ikut tertawa, jadi aku cuma cerita sama kak Rin. kalau gak salah kak Rin bilang "untung gak dipanggil BiBi atau NoNo ya. hehe". kak Rin keren, padahal aku belum cerita kalau An-nya BuBu juga suka bilang "no no". hehe.



Kenangan [5]

21 April 2000

Bapak libur hari ini. Tidak ngelaut.
Ibu bilang ada orang gila di sekitar pantai. Dia melubangi kapal-kapal.

Maghribnya aku lari, kahfi-ku tidak selesai, dan bapak menamparku.

Di anjungan ada laki-laki terisak sendirian. Dia memegang kertas bukan palu atau semacamnya.
Aku mengendap, kuambil batu setengah kepalan tangan. Kulempar. Lalu aku berteriak "ada orangg gilllllaaaa...." sambil ketakutan.

8 Juni 2007

Hasil raporku jelek. Bulan depan aku tinggal di kota.

18 Agustus 2013

Rasanya sudah lama gak ikutan upacara bendera.
Hari ini aku main ke kampung kawan. Iseng-iseng ikutan upacara sekolah.

Hehe, bener kan? Kakiku kesemutan.

15 Agustus 2014

Rupanya dia sekampung dengan kawanku.
Katanya sih cantik. Aku cuma dua kali lihat dia; punggungnya. Dua kali di perpus. Dengan tumpukan buku.
Seingatku ada tafsir Qur'an, alKitab, majalah fashion, komik.

Dia jurusan biologi. Namanya... 

18 Agustus 2014

Pagi ini aku terbangun di rumah sakit. Hah?!
Katanya sudah tiga hari aku gak sadarkan diri. Katanya keracunan makanan.

Pulang ke kosan, kotak indomieku lenyap.

12 Maret 2021

Sore ini, aku pergi ke dermaga lagi.
Bau ikan. Dua-tiga nelayan sedang mempersiapkan bau yang lebih segar besok.
Aku pulang sekitar lima belas menit kemudian.

19 Maret 2021

Aku datang lagi.
Hanya memutar. Tidak jadi.
Kulihat kau sudah berdiri di anjungan.

23 April 2021

Mungkin itu cinta pertamaku. Tapi aku hanya mengenali siluetnya dari kejauhan.

30 Mei 2030

Kami akan berziarah berdua saja besok. Kasihan dia belum pernah ketemu cucunya.

31 Mei 2030

Sedang tidak sehat.

Kemarin ada makam baru dekat kuburan bapak dan emak. Aku sedikit bercanda dengan jagoanku. Kubilang, "coba tebak ini adik ayah atau kakak ayah?" 
Haha, selera humorku memang selalu salah tempat. "...nanti nama ayah juga 'bin Supanji'"
Di pahatnya tertulis jelas namanya. Namany

16 Agustus 2030

Hello world!

Aku gak suka nulis sih. Ini bukunya tebel banget. Agak bau ikan.
Kata ayah gak perlu sering-sering nulis.
Lagian lebih asik main musik.


Notes by : Airlangga Kelana Respatih Putra

Friday, June 20, 2014

Taman Waktu, Hari Ini...

gadis kecil itu sedang menyibak-nyibak dedaunan basah. hari ini hujan. aku tidak sadar kapan. kapan? ah itu tidak penting. tiba-tiba saja dia sudah berlarian. meninggalkan rumah biru keperakan tergenang.
aku duduk tenang, sebelah tangan memegang pensil, sebelah lagi rautan. dan tiba-tiba dia menyodorkan sehelai daun. 
"ya. kenapa?"
aku tidak berbicara padanya. aku berbicara pada matahari yang masih menggantung.
"udah gak bisa."
dia kemudian duduk di samping, paling ujung dari bangku. menokok-nokok jam mati itu. aku kemudian bercakap-cakap dengan angin.
"gak bisa..."
"udah habis..."
"..kan udah kemarin."
udaranya begitu lembab.
"dasar gak berguna," sekarang aku bicara dengan matahari.
angin menderu itu datang lagi, meninggalkan pola daun yang digodanya. seperti kemarin. seperti kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarin kemarinnya lagi. kemarin? ah, ini juga tidak penting.
"aahhh, jam sembilan lewat empat dua..."
suara asing.
aku menoleh, dia menoleh. aku menatap jam itu. memastikan.
"bener kan?"
suara asing lagi.

Monday, May 26, 2014

dimana kau letakkan kesedihan?
   di lembah kesepian, tempat kenangan tumbuh subur
   saat ramai jiwa melawat, melepas jiwa yang penat
   di tebing-tebing curam

kelopak udara mengembang
meneteskan dingin yang mencekam geram
  sebab setitik airmata dijatuhkan.
  tak sudi, oleh angin diantar meninggi

lalu berjanjilah engkau, kita akan bertemu lagi
    saat jasad kita sudah bisa menumbuhkan kamboja sendiri
    doa-doa, kau tahu siapa yang mengamini.

nb: draft yang tak bisa dilanjutkan.

Sunday, March 23, 2014


Saat mencoba mengingat-ingat, oh iya, ternyata aku pernah mengutuk diriku sendiri
Demi menghargai kebahagiaan-kebahagiaan kecil,
Lebih baik menghabiskan semua jatah mimpi-mimpi buruk.
Hari ini diingatkan...
mungkin jiwa terlalu banyak mengemil bahagia. Baiklah.

Kubur Para Pelupa

Makam [3]

hari ini, dari tempat kuberdiri, 
lautan ikhlas, dan pulau untuk para pelupa
 ikhlaskanlah..
begitu katamu.

entah kapan, mereka bilang itu juga ukuran tuhan
aku mengangguk pelan
masih berdiri di anjungan.
dengan sakit yang menggigit, 
disitu.

mereka bilang aku harus menemukan maknanya,
maka aku melompat. menuju padanya, "pulau para pelupa."

airmata telah samar bersama ombak yang menampar-nampar
perlukah bagaimana kujelaskan luka disentuh sayang garam lautan
pada bibir koyak yang tergigit, kurekamkan.

jadi sudahkah kutemukan?
belum.
aku menggigil. sedihku beku.





ikhlas...
...sudah tak perlu.


Stabat, 23 Maret



Saturday, March 22, 2014


Keyakinan ini nantinya akan mengingatkanku bahwa aku pernah ada. Ha, Bagaimana?
Ya. Sebelum siapapun menamparku kelak, aku harus memastikan aku tidak pernah tertidur.
Dan kalaupun ada yang ingin menghadiahiku tamparan itu, aku akan menerimanya dan memastikan.
Bahwa aku juga pernah melukai diriku lebih dari itu.
Itu saja. Sebuah ego.

Wednesday, March 5, 2014

Apakah Kita Memiliki Keberanian Untuk Menghilang

Impian [5]

bila aku tiba di suatu kota, aku membayangkan
siapa gerangan tangan ini akan menjabat, dengan setangkup emosi seperti apakah?

adalah engkau, yang belum kutemukan
sedang melirik-lirik di depan etalase toko
bergumam, apakah mereka menjual hiasan untuk hati yang rusak.
tidak? baiklah.

lalu lonceng pintu toko itu bergemerincing.
adalah aku yang keluar sambil mendesah.
tak memperhatikanmu yang terhenyak; oleh lelaki berwajah lusuh.
apakah dia baik-baik saja. kau bergumam.
tidak? baiklah.

saat itu, aku tidak ingin hari cerah. tak jua ingin ada awan penyimbah.

karena di bilik perpustakaan kota, engkau sibuk membolak-balik buku.
mencari kapan dan dimana; sepetak mimpi yang bisa digadai.
siapapun bolehlah.
lalu aku sibuk menandai koran, mencari bagaimana dan seperti apa
mengganti jarum detik yang patah.
hingga sang penjaga setengah berteriak setengah berbisik, berisik!
di tanganku, tertanggal sekian bulan September, tertoreh.

engkau menatapku lagi.
apakah dia baik-baik saja. kau bergumam.
aku tidak lagi tenang. tidak sedari tadi. dengan sepatu sengaja kuderap menuju mejamu.
dengan masih tidak tenang. ku angkat salah satu buku di hadapmu.
aku menyentakmu, "aku tidak bisa baik-baik saja! dan ini jarum detik yang patah.
berbentuk hati. bisa kau pakai untuk menipu siapapun yang telah meminjam kepunyaanmu yang rusak."

engkau tersenyum. menggamitku, kedua lengan. bersama detik dan hujan.
dan kita raib tertelan. oleh jenis waktu yang menyelamatkan.

Tuesday, February 25, 2014

"bila aku ingin, tentulah aku ingin. melihat perempuan itu beruban, memapahnya ke pasar tuk memilih-memilih sayuran, lalu membilas kakinya yang penuh kerutan." 

Monday, February 24, 2014

Pekat

kita melihat jam dingin itu,
yang kilau legam, menimpali cahaya keemasan,
terpaku,
urung tuk melanjutkan detik.
tapi ia berdiri, menahan kaki kursi yang dimakan rayap
yang tak peduli, perlahan-lahan diselimuti abu kayu.
aku juga merasa dingin.
bersama angin dan dedaunan berbentuk bintang,
yang menampar-nampar dari belakang.
bagaimana denganmu?
kaki-kaki terpasung,
sendu menertawakannya. 
lalu kau merengkuh syahdu,
tubuhku yang tak lagi memiliki deru
belum sampai sadarku kembali, 
aku melirih.
jiwaku atau jiwamu kah yang dicuri waktu?

Stabat, 24 Februari
disadur ulang dari sebuah puisi

Monday, February 17, 2014

(An) : Jingga yang sepi, yang duduk sendiri

Bila bercerita tentang takdir tentulah sembilan bulan yang lalu bukanlah awal. Tapi di buku catatan Tuhan, jahitan takdir tidak pernah salah. Motifnya berwarna, bercampur dengan entah takdir siapa saja. Rajutan takdirnya tiba-tiba menuju pusat segala perhatianku. Mungkin. Dia sudah terjahit rapi di buku catatan Tuhan, sebagai kuncup bunga. Dan aku digiring secara rapi, menjadi tangkainya, berharap mampu memekarkan takdirnya; lebih panjang dari hidupku. Yang terakhir itu sebuah do'a.

Sembilan bulan yang lalu.
Sejujurnya, urusan kuliahku tak ada urusannya dengan kesibukanku selalu singgah ke tempat itu. Seujung kuku pun. Dan pekerjaan sampinganku sudah cukup memakan waktu, walaupun memang tidak setiap hari. Tapi membantu mengajar di salah satu sekolah desa Rukun Sejati sudah menjadi komitmen awalku. Rin sebenarnya yang merekomendasikan tempat ini sebagai tempat pengabdian kemahasiswaan terakhir. Dan aku tak mau tahu lebih banyak dari jaringan kliennya yang nomer berapa yang juga turut andil merekomendasikannya. That's itThe chain of fate. And it's not finished yet.

Jarak tempuh dari kosan ku yang sekarang dari tempat pengabdian memakan waktu sekitar dua jam kurang. Untungnya angkutan menuju desa itu dua puluh empat jam. Sampai di depan gapura desa, aku harus berjalan lagi sekitar tujuh menit untuk sampai sekolah. Sebenarnya jatah mengajarku hanya satu mata pelajaran. Tapi tentu saja bohong. Barangkali hampir semua sekolah dasar di daerah terpencil kekurangan tenaga pengajar. Ya, sekolah dasar. Aku harus mengajar tiga mata pelajaran sekaligus, selama empat hari seminggu, dan berhadapan dengan mental anak-anak. Well, aku tidak keberatan. Aku tidak terlalu penyayang dengan anak-anak, itu sebabnya aku meminta kelas lima dan kelas enam saja. Alasan kedua, kau tahu yang ini agak dilematis jika harus kusampaikan.

Bukan Rin namanya, kalau setiap bahasanya, ajakannya tidak memiliki makna politis. Aku hampir mengoyak-oyak kemejaku saat hari pertama mengajarku selesai. Minggu berikutnya, justru aku berdo'a agar jam mengajarku jangan selesai lebih awal. Yap. Di desa itu, bila dari sekolah berjalan lagi lebih kedalam, kira-kira dua ratus meter, kau akan menemukan kumpulan bangunan bercat kuning dalam kompleks berukuran kira-kira dua halaman sepak bola. Tepat setelah pintu gerbangnya, ada lapangan kecil serbaguna yang lebih kelihatannya hanya dipakai untuk upacara. Walaupun aku tidak mengerti bagaimana orang bisa mengetahui kompleks apa ini karena desain platform namanya tersembunyi dibalik dinding gerbang itu. Tertulis "Panti Asuhan Harmoni".

Setiap pekannya, kelompok grup relawan (salah satu jaringan Rin) yang terdiri dari lima sampai enam orang datang ke sini untuk membuat acara sosial. Tentu saja, pada awalnya aku secara terpaksa ikut bantu-bantu sebagai seksi sibuk. Bukannya aku tidak menyukai kegiatan-kegiatan sosial. Tapi bila harus bekerja sama dengan orang-orang 'asing', terlebih tiap pekannya diganti terasa merepotkan dan meninggalkan rasa ganjil secara khusus. Ini penyakit interpersonalku.

Secara otomatis, jadwalku yang seminggu empat kali ke sini harus bertambah menjadi lima sampai enam hari. Bila segalanya menjadi tak terkontrol, mau tak mau aku tak bisa pulang ke kosan. Soal menginap tak usah ditanya. Semua penduduk dengan senang hati menawarkan rumahnya. Tapi aku lebih memilih untuk tidur sendirian di surau samping panti dengan bercahayakan hanya lampu semprong. Ajaibnya stop kontaknya masih berarus. Dan ini alasan terakhir aku sanggup bertahan di surau sendirian. 
Mata yang berisik.
Setelah sebulan pertama ikut bantu-bantu di panti tiap pekan, ibu-ibu pengasuh lebih mengenalku daripada anggota relawan. Pekerjaanku meliputi mengangkat sarapan dan membagikannya bila itu berbentuk nasi kotak. Jika tidak, aku harus menuangkan nasi dan lauk secara adil tergantung pada umur berapa yang mengantri. Ada yang merasa mendapat nasi kurang, padahal nasinya sudah lebih banyak. Ada yang ogah-ogahan makan, tapi aku tetap tidak boleh mengiyakan permintaan mereka. Begitu kata Mbok Rami, salah satu ibu pengasuh yang paling cerewet soal makanan.

Sebelumnya aku tidak memperhatikan, tapi ada satu gadis kecil yang kapan pun bila kutanya, "Cukup nasinya? Cukup lauknya?" Dia tidak pernah menjawab. Anak-anak yang lain selalu berkomentar tentang nasinya, bila tidak langsung ngeloyor ke meja-meja makan. Tapi gadis kecil ini selalu menunggu aku bertanya seolah-olah itu adalah kerupuk yang aku selalu lupa untuk tambahkan. Bila aku sudah bertanya, dia pun pergi tanpa ada perubahan di ekspresi wajahnya. Wajahnya oval kecil. Pipinya putih merah, tampak urat-urat biru sepanjang pipi sampai lehernya. Matanya tampak besar tapi tidak, justru kelihatan tak pernah digunakan untuk membelalak atau berteriak layaknya anak-anak seumurannya. Lingkar matanya selalu alami tampak merah. Tidak bengkak. Rambutnya sebahu dengan keriting-keriting kecil diujung rambutnya. Satu lagi, dia selalu memegang buku cerita lusuh agak besar. Hard covernya bertuliskan, "Rumah Jingga". Belakangan aku tahu, dia dipanggil Jingga. Nama aslinya? Tak seorang pun tahu.

Di suatu sore ketika aku berjalan menuju surau, ya aku lembur, tatapanku tak sengaja menangkap Jingga yang sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman di lapangan. Mungkin kebetulan. Karena lebar pintu gerbang itu hanya bisa menampakkan wajahnya sekitar empat detik. Entah bisikan apa saat itu yang berhembus di telingaku. Tepat dua detik setelah wajah Jingga menghilang di balik dinding itu, aku berhenti sejenak dan memutuskan untuk singgah sebentar ke panti. Aku berjalan pelan menuju gedung utama. Untuk mencapaiya aku harus menyusuri lapangan kecil sebelah kiri dan melewati koridor yang menghubungkan gedung utama dengan kantor administrasi. Jingga duduk jauh di sebelah kanan lapangan, tapi aku masih bisa merasakan tatapannya yang mengikuti bayanganku. Sembari pura-pura melihat anak-anak panti dari berbagai umur yang berserak di lapangan kecil itu.

Sesampainya di gedung utama, aku hanya menemukan Mbok Firda yang sedang menyapu dedaunan flamboyan di depan gedung utama. Beliau menyapaku sopan, tidak kaget dengan kehadiranku. Aku mengambil dudukan di pagar balkon dan meletakkan tasku di dekat situ.

"Yang lain pada kemana, Mbok?" Maksudku para ibu pengasuh.
"Rami lagi belanja buat makan malam. Minah kayaknya ada di depan tadi jagain anak-anak. Kalok si Sri lagi ngerumput di taman belakang sama anak-anak putri."
"Oh."
"Mas An ndak pulang?"
"Ndak Mbok, agak banyakan tugas hari ini sama besok."
"Wes, mangan bareng sini aja Mas."
"Iya Mbok. Oh iya, omong-omong Jingga itu umurnya berapa tahun ya Mbok?"
"Hmm? Jingga?" Mbok Firda mengulang pertanyaanku sembari menghentikan sejenak aktifitasnya. "Empat tahun kurang." lanjutnya.
"Udah berapa lama disini?"
"Maksud Mas, kenapa bisa sampai disini?", Mbok Firda merevisi pertanyaanku. Mungkin pertanyaanku sudah biasa baginya.
"Hehe, iya Mbok."
"Itu si Rami yang lebih tahu dan paham. Saya kurang tahu detailnya. Kalo disini, baru sekitar empat bulan. Masih baru." lalu Mbok Firda melanjutkan aktifitasnya.
"Hmm.."
"Tapi, yang pingin adopsi Jingga udah banyak. Imut-imut gitu." Mbok Firda menambahkan. "Tapi, si Rami yang ndak ngasi. Kami ya sepakat aja. Kami percaya sama Rami."

Pikiranku mulai bercabang. Tapi aku berusaha penasaran sewajarnya. Mbok Firda kemudian menyelesaikan tumpukan daun yang disapunya. Masih memegang sapunya, kemudian mengambil tempat duduk di sampingku.

"Ndak usahkan orang tuanya yang baru nanti. Lha kami aja yang udah puluhan tahun saja bingung lihat Jingga. Banyak anak yang sampai kesini dengan berbagai macam alasan. Punya trauma, ketakutan dan segala macamnya. Yang pertama sampai sini nangis lah, mau kabur, sampai juga ada yang ngamuk berminggu-minggu. Alasan-alasan itu gak bisa terbuang begitu saja. Butuh waktu kadang sampai tahunan, Mas. Kami bukan ya yang terlalu berpengalaman juga. Tapi kayak si Rami yang udah puluhan tahun disini, paling senior di antara kami, kami sepakat bahwa kebahagiaan anak itu paling penting kalau mau anak-anak dari sini. Bukan uangnya loh Mas." Mbok Firda tersenyum. Aku hanya menyepakati dalam hati. Menunggu kelanjutan ceritanya.

"Tapi anak-anak biasa saling nyemangatin, saling perhatian. Kalo yang tua-tua kita gini lamban, kalo sama yang seumuran cepet nyambungnya. Bagi kami, panti ini, mesti jadi rumah yang nyaman bagi mereka. Ndak ada pilihan lain. Prioritas. Soal donatur perihal lain. Kalo cerita duit, si Rami itu paling pelit. Tapi kalo cerita anak-anak barangkali udah ludes semua tabungan kami demi anak-anak."
Mbok Firda mengambil nafas panjang.

"Kalo soal Jingga...anak itu agak lain. Saya bukannya ndak tahu asal-usulnya. Tapi Ramilah yang berhak cerita. Dari pertama kali sampai disini, dia satu-satunya yang ndak bisa berubah. Kalo Rami bilang 'belum', 'sabar', 'nanti aja'. Kalo soal makan Mas An tau ndiri, anaknya gak rewel. Kalo sama kawan-kawannya juga biasa aja, main bareng, belajar bareng. Tapi kami tahu...dia itu masih memperlakukan dirinya sebagai tamu. Dikit banyaknya pastilah kami sedih."

Aku terdiam. Mencoba mengingat selama sebulan ini suara Jingga. Dan ternyata aku belum pernah mendengarnya. Aku memperhatikan wajah si Mbok. Pastilah keras perjuangan ibu-ibu pengasuh untuk membahagiakan puluhan anak-anak ini. Kuperhatikan satu-persatu kerutan di wajahnya yang berumur kepala lima. Setiap kerutan itu berasal dari anak yang mana. Dari empat ibu pengasuh, cuma Mbok Rami yang perawakannya paling tegar walaupun dari umur beliau paling senior. Aku pun mulai berpikir bagaimana caranya menghidupkan 'warna' panti ini.

"Wes, mandi dulu kamu sana di belakang. Mbok juga mau manggil anak-anak."
"Ndak mbok, di surau saja." Aku bangkit dan tersenyum. Lalu bersama-sama Mbok Firda ke lapangan.
Sembari membantu menyuruh anak-anak masuk untuk mandi dan mengaji sore, aku mendekati Jingga yang sedang serius membaca buku lusuhnya. Ia tak sadar kudekati.
"Jingga." Aku memanggilnya pelan dan setengah menunduk

Kuperhatikan tubuhnya membeku. Lalu seperti gerakan slow motion, dia menutup bukunya. Menegakkan kepalanya datar, tanpa mendongak dia menatapku. Ekspresinya secara alami tidak mengernyit. Tapi matanya menyipit karena tidak mendongak itu. Baru ini aku memperhatikannya dekat dan lekat. Di bibirnya ada senyum tipis, terlalu tipis bahkan seakan-akan disapu angin pun hilang. Dan matanya. Entah apa yang terjadi, panggilanku barusan terngiang lagi ditelingaku. "Jingga". Lalu matanya menjawabnya. Dengan suaranya. Dari pita suara yang aku masih berimajinasi berbunyi seperti apa. Lewat mata itu kami bercakap-cakap banyak. Seolah mimpi di malam hari, pada detik berikutnya kau lupa bercerita apa dengan perasaan buncah yang seperti apa. Matanya terlalu berisik.

Jingga melompat dari tempat duduknya, membuyarkan imajinasiku tadi, melewatiku pelan. Mengikuti barisan Mbok Firda yang pelan-pelan juga menghilang dari balik koridor.

Hei...apa yang barusan itu?





Saturday, February 15, 2014

Bintang Pagi (1) : "Di Suatu Kafe..."

Gadis kecil itu mengunyah makanannya dengan amat sangat lucu. Gadis kecil itu mengenakan gamis biru dengan renda merah dan jilbab panjang berwarna krem. Pipinya yang merah bulat itu kembang kempis saat mengunyah pelan.  Tapi tangan mungilnya justru sibuk memain-mainkan koin pecahan ratusan, dibolak-balik, lalu diputar-putar di atas meja dengan jemarinya. Kutaksir umurnya belum sampai lima tahun.

Di meja itu gadis kecil itu duduk sendirian. Di tengah salah satu meja food court. Memang tak banyak orang yang makan jam-jam brunch, apalagi dihari kerja seperti ini. Di depan gadis kecil itu terdapat laptop setengah terbuka dan tas ransel berukuran berukuran sedang. Bila diintip sedikit, terlihat sehelai kain berwarna paduan oranye terang dan biru muda. Barangkali baju milik gadis kecil itu.

Aku masih memperhatikan gadis kecil itu hingga pada saat tatapan kami bertemu, barulah ia menarik tangannya, menyembunyikan senyum riangnya tadi, dan menundukkan wajahnya seperti anak yang baru saja tertangkap basah bermain genangan air. Aku pun membalikkan pandanganku, juga sambil menahan senyum. Namun jelas saja sesekali aku mencuri-curi pandang gadis kecil itu. Setelah dia juga puas mencuri-curi lihat padaku, memastikan bahwa aku tidak sedang memperhatikannya, barulah bibir merahnya mengembang lagi.

Semenjak aku datang di kafe ini, terhitung sepuluh menit kemudian barulah seorang pemuda datang menghampiri gadis kecil itu. Kutaksir umurnya sekitar dua puluhan. Pemuda itu mengenakan kemeja lengan panjang, dengan tiga kancing sampai dada, berwarna krem dan strip biru di kerah dan pergelangan tangannya. Bila pemuda itu berdiri berdampingan dengan si gadis kecil, sungguh perpaduan warna yang serasi sekali.

Saat pria itu kembali entah darimana, ekspresi gadis itu berubah manyun. Pura-pura ngambek kelihatannya. Tapi pemuda sengaja tersenyum, seolah-olah dia yakin gadis kecil itu tidak apa-apa selama ia tinggalkan. Dan, kelihatannya memang seperti itu. Pemuda membuka laptopnya sambil tidak melepaskan senyumnya. Gadis kecil itu tetap manyun sambil mengunyah makanannya yang belum habis. 

Selama beberapa menit ekspresi mereka belum berubah, hingga pada akhirnya si gadis kecil tersenyum kecil. Si pemuda yang sedari tadi mengotak-atik laptopnya berhenti, kemudian memandang pada gadis kecil itu. Matanya tertarik seolah heran. Tapi ia sudah curiga maksud gadis kecil. Lalu gadis itu mendorong piring makanannya ke arah pemuda itu. Pemuda lalu menggelengkan sambil mengedipkan kedua matanya. Tapi si gadis kecil itu, mungkin punya bawaan genetik yang sama hingga membalas menggelengkan kepalanya sambil mengedipkan mata. Kemudian disusul dengan tangan mungilnya yang ditempel pada wajah, kemudian jari telunjuk dan matanya kompak mengajak pemuda itu untuk melihat kearah yang ditujunya. Sebuah papan menu besar bergambar Ice Cream Sundae Banana Split ukuran sedang. Pemuda itu sontak menarik badannya, menatap balik ke gadis kecil itu lalu membelalakkan matanya. Ia menggeleng.

Gadis kecil itu menggembungkan pipinya dan melemparkan wajahnya dari pemuda. Ngambek. Pemuda itu menghela nafas, tak sanggup mengelak permintaan gadis kecilnya, lalu memesan sundae ukuran sedang itu.
Gadis kecil itu tersenyum senang. Menampakkan barisan gigi susunya yang putih.

Selang beberapa saat sambil melihat gadis kecil itu melahap sundaenya dengan lahap, pemuda itu meneruskan kegiatan dengan laptopnya. Tangan gadis kecil yang memainkan koin sambil melahap sundae itu menarik kembali perhatian si pemuda. Dia setengah menutup laptopnya, meminggirkannya, lalu mengambil koin yang kebetulan sedang lepas dari genggaman si gadis. Gadis kecil itu terdiam, lalu menatap pemuda itu serius. Kedua alis gadis kecil itu terlihat dipaksakan agar bertemu ditengah. Matanya juga seperti dipaksa disipit-sipit agar terlihat sinis. Tapi pemuda itu mengembalikan ekspresi si gadis kecil dengan tersenyum nakal.

Pemuda itu kemudian memberikan isyarat dengan telunjuknya untuk memperhatikannya. Lalu ia mempertontonkan trik old school dengan melemparkan koin itu ke udara dan menangkapnya dengan cepat. Kemudian ia menghadapkan kedua tangannya yang terkatup tadi, tak sempat memberikan kesan di tangan mana koin itu tertangkap pada si gadis kecil. Gadis kecil itu tersenyum namun menatap masih menatap pemuda itu heran. Pemuda itu menatap kedua tangannya yang terkatup bergantian, berisyarat agar si gadis kecil memilih salah satunya. Si gadis girang, dengan manjanya pura-pura bingung lalu menggengam salah satu tangan dengan kedua tangannya lalu melepaskannya. Pemuda itu menahan diri untuk membukanya, lalu begitu terbuka ternyata kosong. Lalu ia membuka tangannya yang lainnya. Ia tersenyum senang, senyum kemenangan. Si gadis mendesah, lalu bertepuk tangan meminta diulang kembali trik yang barusa. Pemuda itu menggeleng, lalu menepuk pipinya dengan telunjuk dan mendekatkannya ke arah si gadis kecil. Si gadis manyun, lalu dengan ia berdiri diatas bangku dan dengan setengah hati mencium cepat pemuda itu. Pemuda itu tersenyum lalu memperagakan triknya tadi. Kali ini si gadis kecil tersenyum penuh percaya diri. Tapi ia pun tak kalah lecenya dari si pemuda, ia pura-pura ragu meletakkan tangannya. Kemudian memilih salah satu tangan yang terkatup. Pemuda itu masih menahan untuk membukanya, lalu beberapa saat ia membukanya pasrah. Gadis kecil itu menang. Lalu ia membalas menepuk-nepuk pipinya yang bulat dengan telunjuknya. Pemuda itu mendesah, pura-pura malas, lalu mencium pipi si gadis dengan cepat.

Gadis kecil itu bertepuk girang. Tapi kali ini wajah si pemuda serius, ia menyembunyikan senyumnya, lalu seolah dengan sinis menyipitkan kedua matanya. Si gadis tak ingin terkecoh membalas dengan ekspresi yang sama. Pemuda itu melempar koinnya lebih cepat, tapi sesaat sebelum menurunkan kedua lengannya, ia menjatuhkan koinnya kedalam lipatan baju lengan panjangnya. Ia membiarkan gadis kecil memilih. Tentu saja pilihan pertamanya salah. Tapi ia tak terburu-buru membuka tangan yang lainnya. Wajah si gadis cemberut karena salah. Karena tangan satunya lagi tak kunjung dibuka oleh si pemuda, ia menepuk tangannya. Tatkala pemuda itu membuka tangannya, ternyata juga kosong. Gadis kecil itu kaget. Belum selesai keterkejutannya, si pemuda itu sudah memberikan isyarat pipinya dengan senyum penuh kemenangan. Si gadis kecil manyun, mau tak mau mencium pipi pemuda itu dengan cepat. Setelah puas dengan kemenangannya, pemuda itu merogoh lengannya dan menunjukkan koin yang disembunyikannya dengan curang. Si gadis kecil tak bisa menyembunyikan ekspresi yang campur aduk, tapi ia tertawa. Tawa yang paling jujur. 

Tapi dibalik itu, hanya An, pemuda itu yang paling paham apa yang ada dibalik tawa jenaka Manja, gadis kecil itu....

to be continued