Showing posts with label survival road. Show all posts
Showing posts with label survival road. Show all posts

Wednesday, December 16, 2015

Pulih

Almariku kosong oleh pakaian, pun di laci kecilnya kosong dari album-album masa silam. Ini bukan tentangmu. Bukan tentang baju-baju berwarna gelap seperti yang aku suka pakai. Kosongku bukan tentang apapun yang dulu aku perkirakan.

Pohon depan kamarku kemarin ditebang. Udara tidak begitu dingin lagi ketika pagi, tapi sinar matahari sekarang lebih terang. Aku masih berpikir mana yang lebih baik selain pergi dari ruang kenang. Dan jelmaan ketakutan yang hilir-mudik tak lagi kami saling menghiraukan.

Di penghujung tahun, orang-orang sibuk memperhatikan kebelakang. Aku hanya hirau soal jemariku yang bergelang karat dan nadi yang perlahan-lahan mencuat. Semua sudah kukemasi, kutimbun di langit-langit lapuk. Sebelum nantinya kupasrahkan pada musang dan tikus, yang berebut rakus. Gundahku sudah khatam. Sekalipun terkadang ada kilas yang membayang.
Hatiku? Tak usah hiraukan. Dustaku tetap bernama dusta. Khianatku tetap bernama khianat. Kecewaku pun tetap bernama kecewa. Bahagiaku tetap bernama bahagia. Tak kan lagi tertukar dan kusembunyikan. Sayup-sayup di kejauhan. Aku hanya pejalan di bumi Tuhan. Oleh panggil yang silih bergantian, kukenakan wajahku yang sudah pulang.

Stabat
16 Desember 2015

Friday, September 25, 2015

Hujan [4]

kau takkan pernah tahu bagaimana menggigilnya 
ujung jari kaki yang terbenam di dalam sepatu saat hari hujan. 
tapi bila kukisahkan padamu tentang perjalanan menuju persinggahan ini, 
benar-benar bukan suatu perkara bahkan jika seluruh tubuhku demam. 
tidak ada jejak untuk kau baca 
kecuali kau berniat meraba lumpur dari deras yang tak kunjung reda. 
sebab bila sesampainya aku dihadapmu,
aku tahu segala resahku telah bersih tertinggal di genangan-genangan; 
hingga kemarau tahun depan tak ada yang perlu dikenang. 
sebab bila sesampainya aku dihadapmu,
yang perlu kau tahu kusisakan pelangi dari badai yang kutelan sendiri. 
sebab bila sesampainya aku di pusaramu, 
hanya ada kelopak segar dan basah; 
dan itu bukan airmataku.

Stabat, September 2015

Sunday, September 28, 2014

Berjalan dengan Sepatu Orang Lain


"Jangan mengejek rasa sakit yang belum pernah kamu alami."

Ini adalah kutipan yang setiap orang harus memasangnya di dinding rumah mereka dengan cahaya lampu seterang mungkin. Masyarakat kita begitu kejam dan begitu seringnya merendahkan orang-orang yang merasa sedih atau kesepian. Orang-orang yang mengalami kesulitan ini dicemooh dan dicela. Orang-orang yang merasa depresi atau gelisah selalu disamakan sebagai "pencari-perhatian" dan selalu disisihkan dengan ungkapan sarkastis "alaah, lupakan saja". Murid-murid akan merendahkan sesamanya yang memiliki kesulitan membaca karena gangguan psikologis dalam belajar. Ibu-ibu muda akan dijadikan bahan gosip bagi siapapun yang melihat mereka. Tidak ada perasaan empati bagi anak autis yang mengalami serangan panik karena rangsangan sensorik berlebihan. Parodi logat asing juga diulang dimana-mana, seakan-akan tidak menghargai bagaimana sulitnya untuk belajar bahasa asing (maksud saya, pernahkah kamu mendengar setengah dari murid-murid di kelas bahasa Inggris atau Prancis di sekolah?). Topeng-topeng palsu kebahagiaan dan keharmonisan dipakai oleh wajah-wajah yang jiwanya telah rusak. Semua orang merasa terlukai dan merasa bahwa merekalah satu-satunya orang di dunia ini yang terluka.

Masyarakat kita, untuk waktu yang sangat lama, memiliki sedikit sekali penghargaan untuk rasa sakit. Jatuh sakit dan menangis serta tampak emosional terlihat sebagai sesuatu yang lemah dan menyedihkan, seakan-akan jiwa manusia kita ini begitu kotor untuk terlihat di khalayak umum. Kutipan ini mirip dengan: "Jangan menghakimi seseorang sampai kamu berjalan dengan sepatunya." Sampai seseorang benar-benar paham secara keseluruhan mengapa orang lain merasa tercambuk atau depresi, tak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menghakimi. Bahkan sekalipun, jika anda berada di situasi yang sama, itu tidak berarti sepenuhnya sama, dan masih banyak perihal yang lebih luas yang tidak boleh disinggung. Kamu mungkin memperhatikan di blog saya dengan topik pemerkosaan, saya selalu menaruh "TW: Pemerkosaan" pada judul. TW berarti Trigger Warning atau Peringatan Pemicu, karena hanya dengan membacakan situasi dapat mengakibatkan seorang korban mengalami serangan panik. Saya melakukan ini karena menghormati korban yang selamat. Saya tidak secara personal mengalami masalah-masalah tersebut, tetapi saya paham bahwa itu adalah masalah kesehatan kejiwaan yang serius dan harus ditangani seserius luka fisik. Apakah anda akan menyuruh seseorang yang kakinya patah terus berlari dan memberi tahu mereka bahwa anak-anak yang lain baik-baik saja dan setiap orang bisa berlari, jadi mengapa mereka tidak bisa? Karena kaki mereka patah! Jiwa yang terluka dan pikiran yang berantakan juga sama. Seorang tentara mengalami guncangan hebat bila mendengar suara bising, yang mengingatkan mereka akan tembakan senjata dan ledakan bom, juga harus dirawat secara rajin seperti merawat seorang tentara yang bagian tubuhnya diamputasi.

Tapi tentu saja, saya tidak bermaksud segala kesulitan dapat dijadikan alasan tindakan seseorang. Tetapi empati akan memberi orang-orang ruang untuk saling memahami, dan mungkin saja dapat membantu satu sama lain dan mencegah rasa sakit terjadi kembali. Suatu ketika, saya menyadari bahwa dunia dan orang-orang di dalamnya lebih besar daripada diri saya sendiri, apapun dunia yang saya bayangkan itu telah memudar untuk menunjukkan keindahan dan berbagai macam kemungkinan. Ada begitu banyak hal yang mungkin saya tidak sanggup pahami, tetapi saya lebih suka berpikir bahwa itulah makna hidup — untuk tetap belajar dan memahami. Saya tidak berpikir kita akan berhenti belajar sampai kita mati. Bahkan seorang guru masih bisa belajar dari murid-muridnya, dan seorang murid mampu menjadi seorang guru. Saya yakin guru seperti anda, Ibu Lahaise, mungkin telah mengamati situasi dari berbagai macam perspektif hanya dari berdiskusi bahan pembelajaran atau membaca blog murid. Jika semua orang bisa mempertahankan pikiran yang terbuka dan hati yang penuh kasih dan kepedulian, saya percaya sepenuhnya bahwa dunia akan benar-benar menjadi tempat yang lebih baik.

“Berbuat baiklah kepada orang lain.” 
— Ellen DeGeneres

sumber terjemahan :http://lahaiseslair.com/uyenl/2014/04/01/81/

Stabat, Agustus 2014

Thursday, September 4, 2014

5 Tahap Kehilangan dan Kesedihan

Lima tahap kehilangan dan kesedihan normal pertama kali dikemukakan oleh Elisabeth KΓΌbler-Ross di tahun 1969 dalam bukunya On Death and Dying. Kehilangan bisa termasuk sebagai respon dari sakit parah yang dialami seseorang, kematian seseorang yang dicintai, kehilangan impian dan sebagainya. 

1. State of Denial and Isolation (Kondisi penyangkalan dan Mengurung Diri)
Respon yang paling sering terjadi terutama ketika baru saja kehilangan ialah menyangkal kondisi (SoD) yang dialami. Rasa kehilangan yang luar biasa tidak semerta-merta diikuti oleh kenyataan yang bisa diterima secara langsung bagi seseorang. Efeknya ada menganggap kehilangan itu tidak nyata, tidak terjadi atau bisa dikatakan sebagai mekanisme defensif yang dilakukan dari gelombang kesedihan. Mengurung diri juga respon yang sama untuk melarikan diri dari kenyataan. Pada beberapa orang yang merasakan kehilangan bahkan sampai berhalusinasi masih bersama dengan hal yang telah hilang tersebut.

2. Anger (Marah)
Bila kemudian respon penyangkalan tersebut efeknya mulai menghilang, tahap kedua - marah, adalah bentuk pelampiasan dari perasaan kehilangan tersebut. Amarah itu dilampiaskan pada apapun, benda mati, orang tua, teman, dan siapapun yang kemudian memiliki celah untuk bersalah, sekecil apapun.

3. Bargaining (Menawar)
Maksudnya melakukan pengandaian dengan kondisi ideal, atau pengandaian kenyataan yang diinginkan dengan harga kehilangan. Misal, "seandainya saja aku mendapatkan pengobatan yang baik dari dulu, pasti ..." atau "coba saja aku yang lebih dahulu meninggal, pasti ..." dan sebagainya.
Dengan menawar kenyataan seseorang bisa melihat secara visual seberapa besar rasa kehilangannya.

4. Depression (Depresi)
Ada dua jenis depresi, pertama ialah yang menjadi reaksi implikasi praktis dari kehilangan. Kesedihan dan penyesalan menjadi ciri utama depresi ini. Jenis kedua lebih halus, dengan kata lain lebih bersifat pribadi (e.g. rahasia). Ini semacam persiapan diri untuk memisahkan diri dan melepaskan hal yang kita cintai. Walau kadang, apa yang benar-benar butuhkan hanyalah sekadar pelukan.

5. Acceptance (Penerimaan)
Sampai di tahap ini dari kehilangan adalah karunia yang tidak semua orang bisa dapatkan. Terkadang kehilangan bisa terasa begitu tiba-tiba, dan amarah (pelampiasan) serta penyangkalan bisa menjadi begitu besar hingga sulit disembuhkan. Jangan kemudian hal ini menjadi penolakan pada diri sendiri untuk berdamai. Fase ini ditandai dengan kerelaan dan ketenangan. Penerimaan bukan bagian dari kebahagiaan dan juga mesti dibedakan dari depresi.

Seseorang akan mengalami kelima tahap dalam rentang waktu yang berbeda. Tahap yang dilalui tidak berarti juga secara bertahap sesuai urutan. Bisa saja melompat dari satu tahap ke tahap lainnya, atau bisa jadi ia stuck di satu tahap untuk sekian lama. Memahami kondisi diri adalah bagian terpenting. Ada saat dimana seseorang merasa tidak bisa ditolong oleh apapun dan tidak memiliki harapan. Kondisi ekstrem seperti dimana trauma (serangan panik), gejala kegelisahan, stress bisa mendorong seseorang pada kondisi yang lebih destruktif seperti self-harm (melukai diri sendiri) hingga bunuh diri. Mengatasi rasa kehilangan akhirnya merupakan pengalaman personal yang sangat dalam dan khusus  — tidak ada seorang pun yang dapat menolong secara mudah dan memahami kondisi yang dilewati. Tetapi orang lain mampu berada tetap disisi yang dibutuhkan dan menenangkan selama melalui proses ini. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah membiarkan diri sendiri untuk bersedih ketika harus bersedih. Melawan kesedihan hanya akan memperpanjang proses alami dari penyembuhan.


Stabat, September 2014
-----------------------------------------------------------------------------------------------
nb: diterjemahkan dengan proses penambahan seperlunya
sumber : http://psychcentral.com/lib/the-5-stages-of-loss-and-grief/000617

Pulau Damai

kenapa orang-orang itu melihat dengan tatapan kasihan, sementara jiwa mereka kehilangan satu fungsi; empati.
mengapa kemudian kita bermegah-megahan dengan impian, lalai dari makna perjuangan, padahal kebahagiaan bisa dari sekarang; ia tidak dibatasi oleh waktu.
puaskah diri dengan berdiri diatas kasta tertinggi, tertawa puas, makan kenyang dan minum sampai kembung?

kami duduk diatas dipan kehidupan, saling duduk menghapusi airmata yang satu dan yang lainnya.
ikut merunduk bila bersedih, lalu mengukir tawa atas nama kepuasan batin. berbagi suka dan menjadi sandaran bagi yang lelah.
begitupun kami masih lara bila ada jabat yang terlepas.
kami peduli, kami menghargai tepuk-tepuk ria yang sedikit, dan senyum rapuh bagi yang berduka.

jika saja kelak engkau memiliki luang, dari gedung-gedung pecakar dimana rongga jiwamu penuh sesak, akan kami bawa menuju ke tanah lapang tempat kami berlari kencang atau sekedar tidur beralaskan tikar. tuan, engkau akan kami ajari terbang di langit kebahagiaan. tidak dengan sepasang sayap putih di dongeng. tapi oleh rerantai lengan yang saling menguatkan.

kami menyebutnya,
...Pulau Damai.

Stabat, September 2014

Saturday, August 23, 2014

Dusta

berdusta tidak menjadikan seseorang tidak dapat dipercaya, sebaliknya berdusta menjadikan seseorang tak mempercayai siapapun. akan ada orang bodoh atau orang terlampau baik yang akan mempercayai atau bahkan seseorang yang telah ditipu berkali-kali tetapi tetap berusaha untuk mempercayai.

tapi, bisakah engkau mempercayai orang-orang yang siap menumpahkan kotak pandoramu? sampai rahasia tergelap hidupmu akan dibeberkan di khayalak ramai, lalu semua orang akan menatapmu jijik, sinis. mereka akan membicarakanmu dibelakang, mereka berbisik. tidak. tidak akan ada yang berubah. mereka akan selalu memperlakukanmu dengan manis.

untuk itulah engkau berdusta. mereka terlalu mengerikan untuk mengetahui kenyataan hidupmu. jangan percaya pada siapapun...dan berdustalah untuk dusta yang ingin engkau jadikan kenyataan.

Stabat, Agustus 2014

Friday, August 22, 2014

Detak Kesedihan

saya gak tahu harus dijudulin apa postingan ini. tapi, postingan panjang ini akan dimulai dari pertanyaan saya kepada seseorang, “1. apakah kita hidup ini harus selalu bahagia?" jawabannya tidak juga. saya tidak tahu apakah ketika pertanyaan terlontar ia benar-benar memiliki kekuatan untuk melahirkan sebuah jawaban atau hanya sekedar persetujuan. pada akhirnya dia hanya menjadi pertanyaan yang akan melahirkan pertanyaan baru lagi.

hingga kemudian, pertanyaan itu terevisi dengan sendirinya dan terlontar dari kawan saya. “2. apakah manusia tidak boleh berduka?" berita buruknya, saya yang harus menjawab. tapi saya akan berikan dua jawaban common sense.

dengan menggunakan pertanyaan kedua, mereka kebanyakan pasti akan menjawab, tidak boleh berduka. saya gak tahu apa yang terjadi di benak golongan ini. wajah bahagia itu kelihatannya satu, dan mereka belum kenal seribu satu wajah kesedihan. atau mungkin juga mereka menganggap kesedihan adalah wajah buruk dari kehidupan, sehingga sebisa mungkin, sejauh mungkin mereka punya jarak aman dari kesedihan.

major community kedua mungkin akan menjawab half empty half fullboleh, tapi jangan lama-lama. mereka orang baik yang punya empati. hanya saja barangkali mereka belum punya waktu untuk memahami ada jenis kesedihan yang tidak bisa diobati. kalau kalian sempat melihat postingan saya yg lalu tentang “don’t moke a pain that you haven’t endured”, saya berharap kemudian kalian memahami satu hal. serupa kematian, ada juga kesedihan yang tak disertakan obatnya. walau saya sendiri tak begitu yakin jika itu benar-benar tak ada obatnya.

jawaban minoritasnya sudah pasti, boleh. mereka tak lagi sebagai objek penanya, tapi sebagai pelaku utama dalam drama kehidupan mereka masing-masing. saya yakin jumlah mereka cukup banyak, walaupun kemudian alasan mereka variatif. bisa jadi, mereka hanya belum menemukan jalan keluar dari kesedihan. bisa juga mereka hanya terperosok dalam lubang kesedihan. bisa jadi juga mereka terjebak-terlilit-tersangkut atau apapun lah itu namanya oleh kesedihan. mereka itu semua…tolonglah, saya benar-benar meminta tolong. terangilah, ulurkanlah, dan bantulah mereka lepas dari kesedihan itu. kesedihan itu hidup dan bernafas, dan semakin lama ia tumbuh dalam diri seseorang. mereka…

mereka akan menjadi kesedihan itu sendiri. jalan keluar, obat, kesembuhan, keselamatan, bagi mereka adalah kata-kata asing. mereka adalah kekosongan yang tak lagi mengenal antitesisnya. mereka akan menjadi entitas yang tak lagi dapat dipisahkan dari inangnya. bagi kami, kesedihan baru adalah akhir kesedihan lama. kami tak lagi boleh diselamatkan, jika berarti kami harus dibunuh untuk kedua kalinya.

entah bila pun kalian mengerti, semua ini hanya berawal dari kata sederhana. impian.

Stabat, Agustus 2014