Monday, October 10, 2011

aku yang patah hati

dijemariku, ada malu dan iba berbisik
menyampaikan tujuan yang tak terlisankan
dalam kelu lidahku, kucoba berucap balik
“semesta...semesta...semesta...”, itu mantranya

bertintakan hujan, langit menulisiku rindu
rindunya fajar pada kejora, rindunya mentari untuk pelangi
ya..semua tak lama, lalu terpisahkan oleh sehelai ruang
namun rindu itu terlalu luas, terlalu haus untuk bersapa dengan hitungan waktu

kau dan aku adalah penyatuan rindu itu
berkelabat cepat di semua dimensi,
lalu duduk hening dibawah cahya tak bernama

dalam putih pucat kucecar abstrak hadirmu
menggores tiap detil indahmu, tapi tak mampu
logikaku tunduk bisu, dan entah nafsu ataukah jeritan yang terlalu berderu
aku rusak - tenggelam - berserakan .

Friday, October 7, 2011

Memangkir Janji

pecutlah hati yang gelisah
dan piaralah damai dalam heningnya
tutur sang guru
dan aku terkantuk-kantuk mendengarnya

oh, guru
setapak jalanku adalah bara
dan ujungnya adalah durjana
resah ini tiada habisnya, dan lakuku semakin gila

remahan bahagia kutelan
ku pecut-pecut di sela luka yang kutahan
dan dihadapku albaqarah enam tiga
adakah tempatku lari selain Tuhan yang murka?

Ditepi Nelangsa

kutatap diriku diantara kapas-kapas bisu
dan kutemukan bisik meracau payau

berkata nurani pada kulit yang dingin
aku hilang tak bisa kembali
benci pada dunia yang telah kubohongi berkali-kali

apa ada tempat buatku ini?
sementara angin telah menjadi badai 
dan gadis kecil berwajah mengerikan membuatku hilang tempat memijak

aku lupa bagaimana jemari menari
di atas kertas berbingkai hangus yang biasa kuhadiahkan padamu
aku hanya dapat melayang terbang dalam ingatan

pinjamkan aku lentera, lilin, korek, mancis
atau apa saja penerang gelap di sudut mata
tak ada bentuk atau rupa, hitam saja

dan lain ketika siangku mendekat
sekumpulan orang berpeci dan berbaju hitam datang
memegang yasin dan potongan kain kafan...
ah, waktunya ku dimakamkan.