dijemariku, ada malu dan iba
berbisik
menyampaikan tujuan yang tak
terlisankan
dalam kelu lidahku, kucoba
berucap balik
“semesta...semesta...semesta...”,
itu mantranya
bertintakan hujan, langit
menulisiku rindu
rindunya fajar pada kejora, rindunya
mentari untuk pelangi
ya..semua tak lama, lalu terpisahkan oleh sehelai ruang
namun rindu itu terlalu luas,
terlalu haus untuk bersapa dengan hitungan waktu
kau dan aku adalah penyatuan
rindu itu
berkelabat cepat di semua dimensi,
lalu duduk hening dibawah cahya
tak bernama
dalam putih pucat kucecar abstrak
hadirmu
menggores tiap detil indahmu,
tapi tak mampu
logikaku tunduk bisu, dan entah
nafsu ataukah jeritan yang terlalu berderu
aku rusak - tenggelam - berserakan .