Tuesday, July 29, 2014

Sepetak Kamar Tempat Ia Bermimpi

An : Dia tidur melayang, perlahan-lahan turun bersama selimut embun. Bulan sabit terlalu jauh dari sepenggalan tangan, tapi fajar tepat dibawah kelopak mata. Di telinganya masih berbisik dongeng tentang manusia.

Apakah mereka jatuh cinta? Igauku. Tidak, mereka terluka. Jawab bulan sambil menunjuk kawah-kawah di sekujur badannya. Apakah mereka sembuh? Sambungku. Tidak untuk waktu yang singkat. Bulan berbalik, menarik awan-awan kearah wajahnya. Kalau begitu jangan bangunkan aku.

Hari semakin dingin, angin berkerumun sedih di lingkar tubuhnya yang mendekap. Bulan di barat semakin lara dibuatnya.

Rin : Ruhnya semakin dekat ke bumi. Kabut mengitarinya. Sebelum matahari berganti menjaganya, bintang-bintang berkerumun lekat di piyamanya. Mereka menyisipkan sepotong kue.

Tapi engkau bahagia. Bulan menyeka airmatanya. Ia masih tertidur. Ia mengukir senyum.

An : Sejak saat itu, kami tak pernah bertemu purnama.

No comments:

Post a Comment