Showing posts with label An. Show all posts
Showing posts with label An. Show all posts

Saturday, August 16, 2014

Merayakan Kesedihan

Kematian [7]
Sudut Pandang Orang Pertama

Jika ada hal yang paling aku ingini sebagai penulis, ialah merayakan kesedihan. Aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya bagaimana keindahan merayakannya. Tapi hari ini aku datang dan menemukan.

Kami berdiri di ruang terbuka. Tidak di Taman Waktu, tidak juga di Istana Ingatan. Kami berdiri di dekat tebing, di timurnya terbentang padang rumput hijau dan di barat jauh di bawah ombak meraung berlipat-lipat.

An dan Rin saling bertatapan. Mereka kelihatannya bingung. Tentu saja. Aku mendekati An, Airlangga Kelana, lalu memeluknya. Dia diam saja dan dia telah mengerti. An selalu hidup atas ketidakmampuanku melawan dunia. Sekarang, setidaknya aku telah memulai untuk melawannya sendiri. Untuk itu istirahatlah, An.

Rin hanya bisa kupandang lama, walaupun pada akhirnya dia terjatuh dan memeluk lututku yang sudah tak lagi berasa. Rin, Airin Yuuji, selalu hidup untuk membenci. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memenuhi daftar orang-orang yang ingin dihapusnya. Tapi belajarlah untuk menjadi pemaaf Rin, karena mulai sekarang aku pun akan belajar meminta maaf. Engkau lelah, beristirahatlah Rin.

Lalu Manja. Aku hanya bisa menggendongnya, memeluknya rapat-rapat. Manja Citra Kelana. Si kecil yang memiliki mata yang aku sendiripun kiranya tak mampu menatapnya. Di antara An, Rin dan Manja, Manjalah yang memiliki aroma kesedihan yang paling harum dan luka yang paling ranum. Sebab itu, tak heran Manja langsung mengenaliku. Karena saat aku menggendongnya, justru ia yang berujar sambil mengusap rambutku, "tak apa.. tak apa.. tuan akan baik-baik saja." Terima kasih An kecil.

Mereka adalah nafas yang menyambungkan malam dengan siang, kenyataan dan impian, kesedihan dan jembatan kebahagiaan. Walaupun kemudian, kita tak bisa saling mengantar pada ujung jalan. Terima kasih, Rumah Hitam Putih.

Benamkan matahari, matikan lampu, hidupkan lilin. Mari kita rayakan...

Stabat, 15 Agustus

Tuesday, July 29, 2014

Sepetak Kamar Tempat Ia Bermimpi

An : Dia tidur melayang, perlahan-lahan turun bersama selimut embun. Bulan sabit terlalu jauh dari sepenggalan tangan, tapi fajar tepat dibawah kelopak mata. Di telinganya masih berbisik dongeng tentang manusia.

Apakah mereka jatuh cinta? Igauku. Tidak, mereka terluka. Jawab bulan sambil menunjuk kawah-kawah di sekujur badannya. Apakah mereka sembuh? Sambungku. Tidak untuk waktu yang singkat. Bulan berbalik, menarik awan-awan kearah wajahnya. Kalau begitu jangan bangunkan aku.

Hari semakin dingin, angin berkerumun sedih di lingkar tubuhnya yang mendekap. Bulan di barat semakin lara dibuatnya.

Rin : Ruhnya semakin dekat ke bumi. Kabut mengitarinya. Sebelum matahari berganti menjaganya, bintang-bintang berkerumun lekat di piyamanya. Mereka menyisipkan sepotong kue.

Tapi engkau bahagia. Bulan menyeka airmatanya. Ia masih tertidur. Ia mengukir senyum.

An : Sejak saat itu, kami tak pernah bertemu purnama.

Saturday, June 21, 2014

(Manja) : Bahasa Inggris

An dan kak Rin suka ngomong bahasa Inggris. aku gak ngerti. tapi aku suka. kemarin teman-teman tepuk tangan waktu kubilang cita-citaku berbahasa inggris. BuBu tertawa terus bilang haw ayu. aku gak ngerti. tapi ikutan tepuk tangan.
waktu di rumah, aku bilang haw yu. An, haw ayu. An tertawa, trus nulis "how are you".
"An, haw ayu."
em pein.
"Manja, haw ayu."
em pein.
=====
tapi em pein An dan em pein kak Rin beda.
kak Rin, haw ayu?
kak Rin ketawa.
waktu An yang tanya.
Rin, haw ayu?
em inpein. kak Rin ketawa lagi.


  

Monday, February 17, 2014

(An) : Jingga yang sepi, yang duduk sendiri

Bila bercerita tentang takdir tentulah sembilan bulan yang lalu bukanlah awal. Tapi di buku catatan Tuhan, jahitan takdir tidak pernah salah. Motifnya berwarna, bercampur dengan entah takdir siapa saja. Rajutan takdirnya tiba-tiba menuju pusat segala perhatianku. Mungkin. Dia sudah terjahit rapi di buku catatan Tuhan, sebagai kuncup bunga. Dan aku digiring secara rapi, menjadi tangkainya, berharap mampu memekarkan takdirnya; lebih panjang dari hidupku. Yang terakhir itu sebuah do'a.

Sembilan bulan yang lalu.
Sejujurnya, urusan kuliahku tak ada urusannya dengan kesibukanku selalu singgah ke tempat itu. Seujung kuku pun. Dan pekerjaan sampinganku sudah cukup memakan waktu, walaupun memang tidak setiap hari. Tapi membantu mengajar di salah satu sekolah desa Rukun Sejati sudah menjadi komitmen awalku. Rin sebenarnya yang merekomendasikan tempat ini sebagai tempat pengabdian kemahasiswaan terakhir. Dan aku tak mau tahu lebih banyak dari jaringan kliennya yang nomer berapa yang juga turut andil merekomendasikannya. That's itThe chain of fate. And it's not finished yet.

Jarak tempuh dari kosan ku yang sekarang dari tempat pengabdian memakan waktu sekitar dua jam kurang. Untungnya angkutan menuju desa itu dua puluh empat jam. Sampai di depan gapura desa, aku harus berjalan lagi sekitar tujuh menit untuk sampai sekolah. Sebenarnya jatah mengajarku hanya satu mata pelajaran. Tapi tentu saja bohong. Barangkali hampir semua sekolah dasar di daerah terpencil kekurangan tenaga pengajar. Ya, sekolah dasar. Aku harus mengajar tiga mata pelajaran sekaligus, selama empat hari seminggu, dan berhadapan dengan mental anak-anak. Well, aku tidak keberatan. Aku tidak terlalu penyayang dengan anak-anak, itu sebabnya aku meminta kelas lima dan kelas enam saja. Alasan kedua, kau tahu yang ini agak dilematis jika harus kusampaikan.

Bukan Rin namanya, kalau setiap bahasanya, ajakannya tidak memiliki makna politis. Aku hampir mengoyak-oyak kemejaku saat hari pertama mengajarku selesai. Minggu berikutnya, justru aku berdo'a agar jam mengajarku jangan selesai lebih awal. Yap. Di desa itu, bila dari sekolah berjalan lagi lebih kedalam, kira-kira dua ratus meter, kau akan menemukan kumpulan bangunan bercat kuning dalam kompleks berukuran kira-kira dua halaman sepak bola. Tepat setelah pintu gerbangnya, ada lapangan kecil serbaguna yang lebih kelihatannya hanya dipakai untuk upacara. Walaupun aku tidak mengerti bagaimana orang bisa mengetahui kompleks apa ini karena desain platform namanya tersembunyi dibalik dinding gerbang itu. Tertulis "Panti Asuhan Harmoni".

Setiap pekannya, kelompok grup relawan (salah satu jaringan Rin) yang terdiri dari lima sampai enam orang datang ke sini untuk membuat acara sosial. Tentu saja, pada awalnya aku secara terpaksa ikut bantu-bantu sebagai seksi sibuk. Bukannya aku tidak menyukai kegiatan-kegiatan sosial. Tapi bila harus bekerja sama dengan orang-orang 'asing', terlebih tiap pekannya diganti terasa merepotkan dan meninggalkan rasa ganjil secara khusus. Ini penyakit interpersonalku.

Secara otomatis, jadwalku yang seminggu empat kali ke sini harus bertambah menjadi lima sampai enam hari. Bila segalanya menjadi tak terkontrol, mau tak mau aku tak bisa pulang ke kosan. Soal menginap tak usah ditanya. Semua penduduk dengan senang hati menawarkan rumahnya. Tapi aku lebih memilih untuk tidur sendirian di surau samping panti dengan bercahayakan hanya lampu semprong. Ajaibnya stop kontaknya masih berarus. Dan ini alasan terakhir aku sanggup bertahan di surau sendirian. 
Mata yang berisik.
Setelah sebulan pertama ikut bantu-bantu di panti tiap pekan, ibu-ibu pengasuh lebih mengenalku daripada anggota relawan. Pekerjaanku meliputi mengangkat sarapan dan membagikannya bila itu berbentuk nasi kotak. Jika tidak, aku harus menuangkan nasi dan lauk secara adil tergantung pada umur berapa yang mengantri. Ada yang merasa mendapat nasi kurang, padahal nasinya sudah lebih banyak. Ada yang ogah-ogahan makan, tapi aku tetap tidak boleh mengiyakan permintaan mereka. Begitu kata Mbok Rami, salah satu ibu pengasuh yang paling cerewet soal makanan.

Sebelumnya aku tidak memperhatikan, tapi ada satu gadis kecil yang kapan pun bila kutanya, "Cukup nasinya? Cukup lauknya?" Dia tidak pernah menjawab. Anak-anak yang lain selalu berkomentar tentang nasinya, bila tidak langsung ngeloyor ke meja-meja makan. Tapi gadis kecil ini selalu menunggu aku bertanya seolah-olah itu adalah kerupuk yang aku selalu lupa untuk tambahkan. Bila aku sudah bertanya, dia pun pergi tanpa ada perubahan di ekspresi wajahnya. Wajahnya oval kecil. Pipinya putih merah, tampak urat-urat biru sepanjang pipi sampai lehernya. Matanya tampak besar tapi tidak, justru kelihatan tak pernah digunakan untuk membelalak atau berteriak layaknya anak-anak seumurannya. Lingkar matanya selalu alami tampak merah. Tidak bengkak. Rambutnya sebahu dengan keriting-keriting kecil diujung rambutnya. Satu lagi, dia selalu memegang buku cerita lusuh agak besar. Hard covernya bertuliskan, "Rumah Jingga". Belakangan aku tahu, dia dipanggil Jingga. Nama aslinya? Tak seorang pun tahu.

Di suatu sore ketika aku berjalan menuju surau, ya aku lembur, tatapanku tak sengaja menangkap Jingga yang sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman di lapangan. Mungkin kebetulan. Karena lebar pintu gerbang itu hanya bisa menampakkan wajahnya sekitar empat detik. Entah bisikan apa saat itu yang berhembus di telingaku. Tepat dua detik setelah wajah Jingga menghilang di balik dinding itu, aku berhenti sejenak dan memutuskan untuk singgah sebentar ke panti. Aku berjalan pelan menuju gedung utama. Untuk mencapaiya aku harus menyusuri lapangan kecil sebelah kiri dan melewati koridor yang menghubungkan gedung utama dengan kantor administrasi. Jingga duduk jauh di sebelah kanan lapangan, tapi aku masih bisa merasakan tatapannya yang mengikuti bayanganku. Sembari pura-pura melihat anak-anak panti dari berbagai umur yang berserak di lapangan kecil itu.

Sesampainya di gedung utama, aku hanya menemukan Mbok Firda yang sedang menyapu dedaunan flamboyan di depan gedung utama. Beliau menyapaku sopan, tidak kaget dengan kehadiranku. Aku mengambil dudukan di pagar balkon dan meletakkan tasku di dekat situ.

"Yang lain pada kemana, Mbok?" Maksudku para ibu pengasuh.
"Rami lagi belanja buat makan malam. Minah kayaknya ada di depan tadi jagain anak-anak. Kalok si Sri lagi ngerumput di taman belakang sama anak-anak putri."
"Oh."
"Mas An ndak pulang?"
"Ndak Mbok, agak banyakan tugas hari ini sama besok."
"Wes, mangan bareng sini aja Mas."
"Iya Mbok. Oh iya, omong-omong Jingga itu umurnya berapa tahun ya Mbok?"
"Hmm? Jingga?" Mbok Firda mengulang pertanyaanku sembari menghentikan sejenak aktifitasnya. "Empat tahun kurang." lanjutnya.
"Udah berapa lama disini?"
"Maksud Mas, kenapa bisa sampai disini?", Mbok Firda merevisi pertanyaanku. Mungkin pertanyaanku sudah biasa baginya.
"Hehe, iya Mbok."
"Itu si Rami yang lebih tahu dan paham. Saya kurang tahu detailnya. Kalo disini, baru sekitar empat bulan. Masih baru." lalu Mbok Firda melanjutkan aktifitasnya.
"Hmm.."
"Tapi, yang pingin adopsi Jingga udah banyak. Imut-imut gitu." Mbok Firda menambahkan. "Tapi, si Rami yang ndak ngasi. Kami ya sepakat aja. Kami percaya sama Rami."

Pikiranku mulai bercabang. Tapi aku berusaha penasaran sewajarnya. Mbok Firda kemudian menyelesaikan tumpukan daun yang disapunya. Masih memegang sapunya, kemudian mengambil tempat duduk di sampingku.

"Ndak usahkan orang tuanya yang baru nanti. Lha kami aja yang udah puluhan tahun saja bingung lihat Jingga. Banyak anak yang sampai kesini dengan berbagai macam alasan. Punya trauma, ketakutan dan segala macamnya. Yang pertama sampai sini nangis lah, mau kabur, sampai juga ada yang ngamuk berminggu-minggu. Alasan-alasan itu gak bisa terbuang begitu saja. Butuh waktu kadang sampai tahunan, Mas. Kami bukan ya yang terlalu berpengalaman juga. Tapi kayak si Rami yang udah puluhan tahun disini, paling senior di antara kami, kami sepakat bahwa kebahagiaan anak itu paling penting kalau mau anak-anak dari sini. Bukan uangnya loh Mas." Mbok Firda tersenyum. Aku hanya menyepakati dalam hati. Menunggu kelanjutan ceritanya.

"Tapi anak-anak biasa saling nyemangatin, saling perhatian. Kalo yang tua-tua kita gini lamban, kalo sama yang seumuran cepet nyambungnya. Bagi kami, panti ini, mesti jadi rumah yang nyaman bagi mereka. Ndak ada pilihan lain. Prioritas. Soal donatur perihal lain. Kalo cerita duit, si Rami itu paling pelit. Tapi kalo cerita anak-anak barangkali udah ludes semua tabungan kami demi anak-anak."
Mbok Firda mengambil nafas panjang.

"Kalo soal Jingga...anak itu agak lain. Saya bukannya ndak tahu asal-usulnya. Tapi Ramilah yang berhak cerita. Dari pertama kali sampai disini, dia satu-satunya yang ndak bisa berubah. Kalo Rami bilang 'belum', 'sabar', 'nanti aja'. Kalo soal makan Mas An tau ndiri, anaknya gak rewel. Kalo sama kawan-kawannya juga biasa aja, main bareng, belajar bareng. Tapi kami tahu...dia itu masih memperlakukan dirinya sebagai tamu. Dikit banyaknya pastilah kami sedih."

Aku terdiam. Mencoba mengingat selama sebulan ini suara Jingga. Dan ternyata aku belum pernah mendengarnya. Aku memperhatikan wajah si Mbok. Pastilah keras perjuangan ibu-ibu pengasuh untuk membahagiakan puluhan anak-anak ini. Kuperhatikan satu-persatu kerutan di wajahnya yang berumur kepala lima. Setiap kerutan itu berasal dari anak yang mana. Dari empat ibu pengasuh, cuma Mbok Rami yang perawakannya paling tegar walaupun dari umur beliau paling senior. Aku pun mulai berpikir bagaimana caranya menghidupkan 'warna' panti ini.

"Wes, mandi dulu kamu sana di belakang. Mbok juga mau manggil anak-anak."
"Ndak mbok, di surau saja." Aku bangkit dan tersenyum. Lalu bersama-sama Mbok Firda ke lapangan.
Sembari membantu menyuruh anak-anak masuk untuk mandi dan mengaji sore, aku mendekati Jingga yang sedang serius membaca buku lusuhnya. Ia tak sadar kudekati.
"Jingga." Aku memanggilnya pelan dan setengah menunduk

Kuperhatikan tubuhnya membeku. Lalu seperti gerakan slow motion, dia menutup bukunya. Menegakkan kepalanya datar, tanpa mendongak dia menatapku. Ekspresinya secara alami tidak mengernyit. Tapi matanya menyipit karena tidak mendongak itu. Baru ini aku memperhatikannya dekat dan lekat. Di bibirnya ada senyum tipis, terlalu tipis bahkan seakan-akan disapu angin pun hilang. Dan matanya. Entah apa yang terjadi, panggilanku barusan terngiang lagi ditelingaku. "Jingga". Lalu matanya menjawabnya. Dengan suaranya. Dari pita suara yang aku masih berimajinasi berbunyi seperti apa. Lewat mata itu kami bercakap-cakap banyak. Seolah mimpi di malam hari, pada detik berikutnya kau lupa bercerita apa dengan perasaan buncah yang seperti apa. Matanya terlalu berisik.

Jingga melompat dari tempat duduknya, membuyarkan imajinasiku tadi, melewatiku pelan. Mengikuti barisan Mbok Firda yang pelan-pelan juga menghilang dari balik koridor.

Hei...apa yang barusan itu?





Saturday, February 15, 2014

Bintang Pagi (1) : "Di Suatu Kafe..."

Gadis kecil itu mengunyah makanannya dengan amat sangat lucu. Gadis kecil itu mengenakan gamis biru dengan renda merah dan jilbab panjang berwarna krem. Pipinya yang merah bulat itu kembang kempis saat mengunyah pelan.  Tapi tangan mungilnya justru sibuk memain-mainkan koin pecahan ratusan, dibolak-balik, lalu diputar-putar di atas meja dengan jemarinya. Kutaksir umurnya belum sampai lima tahun.

Di meja itu gadis kecil itu duduk sendirian. Di tengah salah satu meja food court. Memang tak banyak orang yang makan jam-jam brunch, apalagi dihari kerja seperti ini. Di depan gadis kecil itu terdapat laptop setengah terbuka dan tas ransel berukuran berukuran sedang. Bila diintip sedikit, terlihat sehelai kain berwarna paduan oranye terang dan biru muda. Barangkali baju milik gadis kecil itu.

Aku masih memperhatikan gadis kecil itu hingga pada saat tatapan kami bertemu, barulah ia menarik tangannya, menyembunyikan senyum riangnya tadi, dan menundukkan wajahnya seperti anak yang baru saja tertangkap basah bermain genangan air. Aku pun membalikkan pandanganku, juga sambil menahan senyum. Namun jelas saja sesekali aku mencuri-curi pandang gadis kecil itu. Setelah dia juga puas mencuri-curi lihat padaku, memastikan bahwa aku tidak sedang memperhatikannya, barulah bibir merahnya mengembang lagi.

Semenjak aku datang di kafe ini, terhitung sepuluh menit kemudian barulah seorang pemuda datang menghampiri gadis kecil itu. Kutaksir umurnya sekitar dua puluhan. Pemuda itu mengenakan kemeja lengan panjang, dengan tiga kancing sampai dada, berwarna krem dan strip biru di kerah dan pergelangan tangannya. Bila pemuda itu berdiri berdampingan dengan si gadis kecil, sungguh perpaduan warna yang serasi sekali.

Saat pria itu kembali entah darimana, ekspresi gadis itu berubah manyun. Pura-pura ngambek kelihatannya. Tapi pemuda sengaja tersenyum, seolah-olah dia yakin gadis kecil itu tidak apa-apa selama ia tinggalkan. Dan, kelihatannya memang seperti itu. Pemuda membuka laptopnya sambil tidak melepaskan senyumnya. Gadis kecil itu tetap manyun sambil mengunyah makanannya yang belum habis. 

Selama beberapa menit ekspresi mereka belum berubah, hingga pada akhirnya si gadis kecil tersenyum kecil. Si pemuda yang sedari tadi mengotak-atik laptopnya berhenti, kemudian memandang pada gadis kecil itu. Matanya tertarik seolah heran. Tapi ia sudah curiga maksud gadis kecil. Lalu gadis itu mendorong piring makanannya ke arah pemuda itu. Pemuda lalu menggelengkan sambil mengedipkan kedua matanya. Tapi si gadis kecil itu, mungkin punya bawaan genetik yang sama hingga membalas menggelengkan kepalanya sambil mengedipkan mata. Kemudian disusul dengan tangan mungilnya yang ditempel pada wajah, kemudian jari telunjuk dan matanya kompak mengajak pemuda itu untuk melihat kearah yang ditujunya. Sebuah papan menu besar bergambar Ice Cream Sundae Banana Split ukuran sedang. Pemuda itu sontak menarik badannya, menatap balik ke gadis kecil itu lalu membelalakkan matanya. Ia menggeleng.

Gadis kecil itu menggembungkan pipinya dan melemparkan wajahnya dari pemuda. Ngambek. Pemuda itu menghela nafas, tak sanggup mengelak permintaan gadis kecilnya, lalu memesan sundae ukuran sedang itu.
Gadis kecil itu tersenyum senang. Menampakkan barisan gigi susunya yang putih.

Selang beberapa saat sambil melihat gadis kecil itu melahap sundaenya dengan lahap, pemuda itu meneruskan kegiatan dengan laptopnya. Tangan gadis kecil yang memainkan koin sambil melahap sundae itu menarik kembali perhatian si pemuda. Dia setengah menutup laptopnya, meminggirkannya, lalu mengambil koin yang kebetulan sedang lepas dari genggaman si gadis. Gadis kecil itu terdiam, lalu menatap pemuda itu serius. Kedua alis gadis kecil itu terlihat dipaksakan agar bertemu ditengah. Matanya juga seperti dipaksa disipit-sipit agar terlihat sinis. Tapi pemuda itu mengembalikan ekspresi si gadis kecil dengan tersenyum nakal.

Pemuda itu kemudian memberikan isyarat dengan telunjuknya untuk memperhatikannya. Lalu ia mempertontonkan trik old school dengan melemparkan koin itu ke udara dan menangkapnya dengan cepat. Kemudian ia menghadapkan kedua tangannya yang terkatup tadi, tak sempat memberikan kesan di tangan mana koin itu tertangkap pada si gadis kecil. Gadis kecil itu tersenyum namun menatap masih menatap pemuda itu heran. Pemuda itu menatap kedua tangannya yang terkatup bergantian, berisyarat agar si gadis kecil memilih salah satunya. Si gadis girang, dengan manjanya pura-pura bingung lalu menggengam salah satu tangan dengan kedua tangannya lalu melepaskannya. Pemuda itu menahan diri untuk membukanya, lalu begitu terbuka ternyata kosong. Lalu ia membuka tangannya yang lainnya. Ia tersenyum senang, senyum kemenangan. Si gadis mendesah, lalu bertepuk tangan meminta diulang kembali trik yang barusa. Pemuda itu menggeleng, lalu menepuk pipinya dengan telunjuk dan mendekatkannya ke arah si gadis kecil. Si gadis manyun, lalu dengan ia berdiri diatas bangku dan dengan setengah hati mencium cepat pemuda itu. Pemuda itu tersenyum lalu memperagakan triknya tadi. Kali ini si gadis kecil tersenyum penuh percaya diri. Tapi ia pun tak kalah lecenya dari si pemuda, ia pura-pura ragu meletakkan tangannya. Kemudian memilih salah satu tangan yang terkatup. Pemuda itu masih menahan untuk membukanya, lalu beberapa saat ia membukanya pasrah. Gadis kecil itu menang. Lalu ia membalas menepuk-nepuk pipinya yang bulat dengan telunjuknya. Pemuda itu mendesah, pura-pura malas, lalu mencium pipi si gadis dengan cepat.

Gadis kecil itu bertepuk girang. Tapi kali ini wajah si pemuda serius, ia menyembunyikan senyumnya, lalu seolah dengan sinis menyipitkan kedua matanya. Si gadis tak ingin terkecoh membalas dengan ekspresi yang sama. Pemuda itu melempar koinnya lebih cepat, tapi sesaat sebelum menurunkan kedua lengannya, ia menjatuhkan koinnya kedalam lipatan baju lengan panjangnya. Ia membiarkan gadis kecil memilih. Tentu saja pilihan pertamanya salah. Tapi ia tak terburu-buru membuka tangan yang lainnya. Wajah si gadis cemberut karena salah. Karena tangan satunya lagi tak kunjung dibuka oleh si pemuda, ia menepuk tangannya. Tatkala pemuda itu membuka tangannya, ternyata juga kosong. Gadis kecil itu kaget. Belum selesai keterkejutannya, si pemuda itu sudah memberikan isyarat pipinya dengan senyum penuh kemenangan. Si gadis kecil manyun, mau tak mau mencium pipi pemuda itu dengan cepat. Setelah puas dengan kemenangannya, pemuda itu merogoh lengannya dan menunjukkan koin yang disembunyikannya dengan curang. Si gadis kecil tak bisa menyembunyikan ekspresi yang campur aduk, tapi ia tertawa. Tawa yang paling jujur. 

Tapi dibalik itu, hanya An, pemuda itu yang paling paham apa yang ada dibalik tawa jenaka Manja, gadis kecil itu....

to be continued

Monday, September 23, 2013

rin...
mereka telah menolak dan mempermalukanku di kaki langit.
mereka bilang, mereka tak bisa memulai menghukum ruh yang berserakan.
jadi, aku dikembalikan. aku pulang.

padamu, sekarang, rumah kecil itu telah berubah menjadi gundukan dengan kamboja layu.
apakah engkau masih disana? aku tak tahu harus kemana.





Monday, June 25, 2012

Nostalgia

Akan menyenangkan apabila suatu saat pertemuan itu seperti janji-janji di kebanyakan cerita. Dan saat itu, apa yang mesti kita lakukan? Cerita apa yang kau ingin dengar? Apa kau masih pendiam? Apa kau sudah bahagia?

Dadaku bergemuruh hebat hanya membayangkannya.
...dan Rin, berapa lamakah lagi pertemuan itu akan datang?
Karena firasatku mengatakan, pertemuan itu sudah kita lalui. 
...berkali-kali...di dalam mimpi.
An, Taman Waktu

Thursday, April 5, 2012

Takut

An, hari ini aku ingin bercerita. Aku selalu enggan kesana. Ke masa depan. Tempat para sahabat meletakkan cita-citanya. Bukan kerut atau keriput, tapi aku selalu membayangkan nafas yang kusut, dan ingatan yang pelan-pelan menyusut.

Bayangkan, benang laba-laba yang menggantung di pohon jambu. Anak kecil yang bermain dibawahnya tak pernah tahu. Hingga ia menjerat halus, lalu anak kecil pun memekik histeris. Anak kecil itu bukan aku. Aku benangnya. Laba-laba itu waktu dan kau anak kecilnya. Aku tak tahu, kapan kau akan bosan. Dan kelak kau pergi, meletakkan sesaji tanpa tahu aku ingin.

Sepi itu yang kutakutkan. Yang menggema saat sendiri di rumah lapuk kita. Tak ada lagi canda, atau perdebatan kecil yang menyemarakkan suasana. Ingatkan dirimu sendiri, an. Kalau kau sudah bisa tertawa, aku sudah mati. Dengan tenang.

...

Monday, August 8, 2011

Dingin (Flash Fiction)

Aku masih memandang keluar jendela. Badai salju di luar tidak berhenti sejak kemarin. Tumpukkan halus itu pun sudah meninggi. Melalui jendela dengan jelas bisa kulihat persimpangan jalan. Hanya sedikit orang yang berlalu lalang di jalan, mereka melawan badai pastilah karena hal yang benar-benar penting. Aku sedang menunggu. Dan hal yang penting yang sedang kutunggu itu...

"Tok..tok..tok.."

Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Siapa yang bertamu ke rumah gadis tengah malam begini?

"Siapa?" 

"Tok..tok..tok.."

Dia masih saja mengetuk. Dengan berat aku berjalan menuju pintu. Kubuka perlahan pintunya. An. Walaupun sudah lama ia tak mengunjungiku, aku tidak begitu terkejut. An berdiri gemetar, wajahnya pucat dan tertutup sebagian oleh salju. Sebenarnya aku kasihan melihatnya begini. Tapi rasa kasihan ini harus kutahan. Aku mengacuhkannya tanpa mempersilahkannya masuk. Kuharap ia masuk dengan sendirinya untuk menghangatkan badannya. 

Aku kembali duduk menatap keluar jendela. Kali ini tak ada yang kutunggu. An masih berdiri di ambang pintu. Sesekali kuintip dia untuk memastikan dia segera masuk dan menutup pintu. Hawa dingin badai dan hawa lainnya menyergapku, dingin. Tepat sebelum aku beranjak kesal, akhirnya An masuk. An masih diam. Aku juga tak ingin bicara padanya. Saat-saat seperti ini benar-benar menyesakkan dada.

Sudah 4 tahun kami menjadi kekasih, aku mengenal betul kapan An berbicara. Dia berbicara terlalu jarang. Dan perhatian apa yang kau harapkan dari seseorang yang jarang bicara. Sejujurnya untuk hal ini aku sudah lama memakluminya. Bahkan Bibi Ery, tetanggaku, mengatakan kami ini benar-benar cocok. Mengapa? Karena An terlalu pendiam dan aku terlalu cerewet. Selama 3 tahun aku merasa kasih sayang yang diberikan An, tapi sedikit rasanya yang bisa kulakukan untuknya. Dan setahun ini, rasanya hubungan kami di ambang kehancuran. Awalnya aku hanya ingin dia berbicara sedikit lebih banyak. Saat itu aku berpikir bagaimana kalau aku juga ikut berdiam diri. Biasanya, kalau aku berbicara dengan An persis seperti perawat dengan pasien yang sedang sekarat. Kamu ingin ini An? Dia menggeleng. Atau yang ini? Dia menggeleng. Hmm, pasti ini yang kamu suka? Lalu, ia tersenyum tipis, dan matanya melengkung sayu. Ah, sungguh manis senyumnya itu. Bagiku walau dia tidak bicara terlalu banyak, tapi senyum manisnya mencukupkan segalanya. Dulu.

Kembali, aku menatap jendela. Melalui pantulannya kulihat An mengamatiku dari belakang. Wajahnya tidak terlihat sedih. Tapi tak juga ada senyuman disana. Seperti 3 bulan yang lalu. Malam itu, ia mengirimkan pesan untuk ikut pergi bersamanya ke suatu tempat. Aku yang sedang mengimitasi tingkahnya sama sekali tidak berniat membalas. Keesokan harinya, dia datang. Persis seperti hari ini, aku membuka pintu, tidak menyapa, tidak menyuruhnya masuk, hanya membiarkan dia di depan pintu. Sekitar beberapa menit, aku hanya duduk diam. Berharap dia merayuku dan sebagainya. Tapi dia tetap saja berdiri diam. Menungguku. Bingung. Sudah beberapa kali seperti ini dan aku hanya bisa berharap dan berharap. Dan dia selalu diam. Hingga akhirnya kemudian dia memulai nadanya.

"Rin, kamu tidak berdandan?"

Ah. Aku mendesah. Aku yakin dia mendengarnya. Bukan itu pertanyaan yang kuharapkan, An. Ayo, katakan lagi. Lagi...

"Apakah kamu sakit?"

An, bisa tidak sih kamu mengajakku dengan raut wajah lebih ceria. Terlebih, cobalah lebih talkatif. Lagi...

"Rin..."

Persis seperti hari ini. Wajahnya tak tampak sedih, tapi tak kutemukan senyum tipisnya. Barangkali ia tidak 
perduli. Aku memalingkan wajah. Aku melamun. Apakah ini rasanya ketika aku selalu bertanya padanya? Apakah ini rasanya ketika sedikit berbicara dan sebenarnya ingin berbicara banyak. Atau sebenarnya An memang tidak banyak berpikir. Kukira tidak begitu. Kantung mata dan kerutan di sekitarnya jelas membuktikan dia banyak berpikir. Aku terus berpikir. Dan berpikir. Bukankah aku melakukan ini untuk mengetahui bagaimana perasaannya terhadapku? Atau barangkali...

"An, apa benar kamu mencintaiku?" aku melamun sambil berbisik.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. An. Aku berpikir terlalu lama, sampai mengacuhkannya. Buru-buru kubalikkan tubuhku. Hening. An sudah pergi. Pintunya sudah ditutup dengan membiarkan sedikit celah. Barangkali ia merasa tak ingin menganggu. Aku menyesal. Sejak itu An sudah tak pernah lagi kerumahku.

Aku kembali merinding. Tersadar dari lamunanku. An masih berdiri pucat di belakangku. Aku bergerak menuju pintu. Sesaat sebelum kusentuh gagang pintu, An terlebih dahulu merebut tanganku. Beku. Tangannya membeku. Hampir saja aku memuntahkan kata, aku begitu khawatir. Tapi demi egoku. Ini kutahan. Kutahan demi hal yang begitu penting dan kuinginkan.


Egoku itu berdiri bak karang. Tidak mudah hancur. Dan egoku itu ibarat bom waktu, kalau sudah waktunya atau tercapai barulah aku merasa puas. Saat itu, saat aku ingin bekerja di perusahaan Mr. Lim. Dengan syarat membuat sebuah karya ilmiah dengan riset paling kreatif adalah syarat untuk diterima. Aku dengan berapi-apinya ingin membuat 100 lembar dengan rancangan detail penuh. Waktu satu bulan kuhabiskan untuk fokus total terhadap karya ilmiah ini.

Saat-saat obsesif ini sangat rentan sebenarnya bagiku. Aku bukan tipe yang mudah goyah saat mengerjakan tugas. Tapi juga bukan tipe yang bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Maka, satu bulan itu aku benar-benar mirip gelandangan. Ah, aku sudah menjadi gelandangan barangkali saat itu, jika An tidak sering mampir kerumah. Aku melupakan banyak hal. Mulai dari hal paling kecil, makan, mandi, sampai membersihkan rumah. Bahkan An. Keterlaluan memang. Obsesif-kompulsif ku ini memang tidak ada obatnya.

"Rin, kamu kehilangan kompas ya?"

Saat itu An bertanya dengan raut serius. Karena aku juga sedang serius mendesain gambar, kupikir syarafku memang sedang lambat untuk mencerna maksud An.

"Obsesif! Makan donk. Udah dingin itu masakannya."

An tertawa. Sumpah, ia tertawa. Dan aku masih termangu-mangu. Antara sadar dengan tidak. Bayangkan, seseorang yang jarang berbicara. Seberapa jarang pula ia tertawa. Akhirnya aku ikut bicara.

"An, hari ini gak perlu bikin pesta?"

Sekarang, An yang bingung.


Entah kemana saat-saat bahagia itu. Dalam setahun ini, semua itu hanya kenangan. Aku merasa kehilangan, An. An yang begitu perhatian. Entah bagaimana ia saat itu selalu datang dan pergi dari rumahku tanpa kuketahui. Makanan yang tiba-tiba sudah terhidang. Bak mandi yang terisi penuh dengan air dingin. Barangkali awalnya itu panas. Ruangan-ruangan yang rapi. Padahal desainku itu berserak dimana-mana sebelumnya. Ia seperti hantu. Hantu yang manis.


Kutatap An. Bibirnya memutih. Kuhalau tangannya yang dingin. Belum sempat lagi tanganku berpindah menuju pintu, tangan An sudah melingkar di leherku. Benda itu berkilau redup. Antara putih kebiru-biruan. Itu, 2 buah keping berlian berbentuk salju. Hatiku dingin. Tapi dengan cepat kelempar emosiku. Aku takkan runtuh dengan benda seperti ini.


An tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar manis. Bibirnya sedikit bergetar. Kalau saja ia tidak berbalik untuk pergi, barangkali aku akan berbicara padanya. Ah, sudahlah. An sudah pergi. Kututup pintu. Sudah terlalu banyak angin yang masuk. Aku kembali duduk melamun menatap jendela. Kali ini hanya kepingan salju di tanganku yang tertatap. An, kamu begitu dingin. 


"Tok..tok..tok.." 

Dengan cepat ku menuju pintu. Berharap..

"Bibi Eri??"

Aku sedikit terkejut. Sedikit kecewa juga.


"Rin..."

Tubuhnya gemetar, disudut matanya sebening air mengalir.


Aku terduduk. Kaki langung mati rasa. Aku membiarkan badai menamparku. Malam itu semuanya membiru. Aku menitikkan butiran es. Ya, butiran dari hatiku yang membeku. Berkelabat semuanya, 5 tahun kenangan itu. Dapat kudengar. Jeritan yang ikut terbawa angin. Lama-lama berbisik...


Rin, kamu kenapa? Kamu kenapa? Kenapa?
Aku rindu sekali tawamu. Aku tidak mengerti. Akhir-akhir ini kamu selalu diam. Kamu tidak lagi tertawa, tidak juga tersenyum. Aku sangat khawatir.
Apakah kamu sakit?
Hari itu, saat kamu mulai diam. Hari saat aku ingin membawamu ke makam orang tuaku. Aku sangat senang, karena sudah lama aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Tapi barangkali kamu ingin sendiri?
Rin, hari-hariku semakin sepi. Semakin sepi, semakin rinduku membuncah membawaku padamu. Tapi tiap waktu, saat berdiri di depan rumahmu, rasa takut menyergapku. Takut kehilangan. Apa kah kamu sudah bosan? Tidak. tidak. Jangan. 
Tapi Rin, malam selalu membisikkanku sesuatu. Ia terus membisikkanku, "Mana buktinya? Mana buktinya?" Sungguh saat itu aku juga melamun banyak sepertimu belakangan. Aku bingung. Bagaimana lagi cara membuktikannya. 
Tiap malam memandang langit. Apakah kamu masih memandang langit yang sama?
Tiap malam saat angin dingin datang. Perlukah aku datang ketempatmu, membuatkanmu coklat panas? Memastikan selimutmu? Memastikan kamu masih aman? 
Rin, maafkan aku kalau aku tak mampu menjelaskan apa yang ingin aku katakan. Bagiku aku harus memberikan segalanya yang terbaik bagimu.
Rin, aku selalu mencoba menjadi matahari bagimu. Maaf kalau aku selalu menyusahkanmu. Apa mencoba sehangat mungkin. Apa mungkin bagimu aku hanya dingin yang mengganggu. Rin, rin, rin...
Rin, kalau kamu menemukan matahari lain, apakah kamu akan bahagia?
Rin, aku berjanji tidak akan menyusahkanmu lagi. Tapi, aku juga tidak akan berhenti mencintaimu, menjagaku. Maka, malam ini aku berdo'a menjadi salju. Sekali lagi, aku tak bermaksud menyusahkanmu. Aku akan memastikan kamu selalu hangat. Dan apabila kamu kedinginan, saat mataharimu tak mampu menghangatkanmu, aku hanya ingin memastikan, hanya aku yang menjadi dinginmu. 

...

Dua keping salju di dadaku bergemerincing pilu...

"Bibi Eri??" Aku terkejut.
"Rin..., A..a..An meninggal. Tubuhnya terjebak runtuhan salju sejak semalam."


*rasa tak puas selalu memaksa, menghadirkan ego antagonis. menyeruak kepada cinta yang rentan pada rasa percaya.
Stabat, 08 Agustus 2011

NB: maaf norak! xP  klise, basi, tapi sekali lagi...ini fiksi!! :P