Thursday, September 4, 2014

Pulau Damai

kenapa orang-orang itu melihat dengan tatapan kasihan, sementara jiwa mereka kehilangan satu fungsi; empati.
mengapa kemudian kita bermegah-megahan dengan impian, lalai dari makna perjuangan, padahal kebahagiaan bisa dari sekarang; ia tidak dibatasi oleh waktu.
puaskah diri dengan berdiri diatas kasta tertinggi, tertawa puas, makan kenyang dan minum sampai kembung?

kami duduk diatas dipan kehidupan, saling duduk menghapusi airmata yang satu dan yang lainnya.
ikut merunduk bila bersedih, lalu mengukir tawa atas nama kepuasan batin. berbagi suka dan menjadi sandaran bagi yang lelah.
begitupun kami masih lara bila ada jabat yang terlepas.
kami peduli, kami menghargai tepuk-tepuk ria yang sedikit, dan senyum rapuh bagi yang berduka.

jika saja kelak engkau memiliki luang, dari gedung-gedung pecakar dimana rongga jiwamu penuh sesak, akan kami bawa menuju ke tanah lapang tempat kami berlari kencang atau sekedar tidur beralaskan tikar. tuan, engkau akan kami ajari terbang di langit kebahagiaan. tidak dengan sepasang sayap putih di dongeng. tapi oleh rerantai lengan yang saling menguatkan.

kami menyebutnya,
...Pulau Damai.

Stabat, September 2014

No comments:

Post a Comment