Showing posts with label ibu. Show all posts
Showing posts with label ibu. Show all posts

Monday, December 7, 2015

Nyanyian Kirana

Aduhai. Langit sedang bertabur sonet dan tawamu menyelisir di selasar rumah. Yang kerap merentang kisah, apakah? Kudengar mimpimu adalah tabuh yang tumbuh dari sulur-sulur peluh. Sulamlah lebih riuh! Menjadi berbingkai dan ketat menjuntai. Akan ada aku dan ribuan doa yang kubidik di situ; untukmu.
Kau menanyakan jauh. Aku memastikan utuh. Yang lebih nyeri dari lara bukankah yang tanpa coba? Sebab kata kembara adalah kesima yang menyala-nyala di jantungku. Meski gentar kerap berujar untuk menahanmu lebih genggam.
Sejauh-jauh kau berlayar, sedekat-dekat kau dengan pijar. Kelak tuan, kau akan menyalami alam dengan nyanyian yang dulu kusenandungkan waktu sore di pangkuan. Dadaku adalah lengang yang lebih dari lautan, yang ketika kau kembali pulang, mataku lebih gemericik dari hujan. Sedang pelukku? Berada di barisan terdepan; menampung haru yang lebih semerbak dari gaharu.

Irawati Ningsih
Desember 2015

Thursday, December 3, 2015

ibu dan anaknya

: ibu

tidak apa-apa, katanya
kemarilah
tidak apa-apa, katanya
pergilah
diantaranya, kau mengusap dada
pedih yang tak luka
kasih yang rela

setahun, dua tahun
dan sudah satu dasawarsa
upahmu penantian
upahnya penyesalan
diantaranya, cium tangan yang terlupakan

medan,
desember 2015

Tarian Sunyi

aku menghadiahimu kaus kaki, belum lagi sepatu. tapi katamu tak perlu. penari bersalaman dengan bumi, jangan diperumit. kemudian kau menari, dari matahari sepenggalan lengan sampai tepat di atas dahi.

pijar liar menggeliat di telapak kakimu, selimut angin pun berderai bergantungan di bawah selendang, dan rambut ikal indah itu berombak panas. ujar kagumku berserakan, tapi puja-puji gerakmu lebih pantas menyembahi alam.

kau lagi menyanyikan salam, dengan tengadah memejam sunyi. tiba-tiba pedis rindu menyibak rerumputan, bersama dersik yang dibawa lautan. tapi hanya dengan harum peluh tari syukurmu nona, kelimpungan aku menghidunya. aduhai.

medan
november 2015

------------------------------------------------------------------
puisi bisa didengarkan;

https://soundcloud.com/kelaspuisi/tarian-sunyi-yourpatheticjoke

Tuesday, February 25, 2014

"bila aku ingin, tentulah aku ingin. melihat perempuan itu beruban, memapahnya ke pasar tuk memilih-memilih sayuran, lalu membilas kakinya yang penuh kerutan." 

Tuesday, October 9, 2012

Bunga April

Waktu itu April, perempuan manis itu mengemasi sisa perbekalannya yang tersisa, Dan kami, anak-anak dari rahimnya yang hangat, dihadiahinya airmata. Tidak untuk dihabiskan hari itu, tidak untuk jatah sebulan. Seumur hidup katanya. Jatah airmata yang mengingatkan kami, untuk tidak menyia-yiakan yang terkasih bagi kami.

Tapi, ketika sampai wajahnya di tikungan bumi. Mendadak tumpah ruah seluruh rinduku, seluruh keluh kesah dalam raga ringkihku. Karena kutahu, rindu ini takkan pernah sampai, takkan ada lagi pertemuan yang melegakan dada. Dan aku juga ingin mati bersama April. Setelah anak-anakku menghormati hari lahirku, sesaat kemudian mengingat kematianku. Karena ya..mereka dekat.

Friday, September 18, 2009

untuk Ibu


bu...
setetes airmatamu kan menenggelamkan ku di samudra dosa...
bagaimana bisa kucium tanganmu seperti biasa saat idul fitri tiba...
dapat kubaui telaga biru di sajadah ini...
tempat dulu kau mengadu pada Allah yang Satu...

bu...
terpekurku kenangan di nisan batu...
berolah tragedi dan misteri semasa dulu...
dan tiap helai rambut yang kau sapu...
membisikkan risalah tanpa arrayu...
kini aliran cintu itu, kian berdentum mengejar rindu...

bu...
ajarkan aku tuk mengerti...
ilmu hati dan kasih sejati...
dalam selimut mimpi tanpa tepi...
agar tak ada lagi jiwa yang tersakiti...

Thursday, July 16, 2009

Bermasa bintang berjauhan
Dilangit tergantung bulan yang nestapa
Bersama angin kau selipkan rintik hujan
Dan aku, di lubang ini menatap kalian terpana

Masihku menatap bisu
Hingga satu cahaya datang padaku
Menarik perlahan jiwa terbelenggu
Meninggalkan telaga hatiku yang semu

Pagiku yang biru...
Aku memulai hidup yang baru...

Ku tahu kau bermain dengan luka
Mencecar hati hinggaku berlumur dosa
Kau senyum tertawa melihatku hina
Tahukah, aku rela...

Menunduk membaca bintang yang angkuh
Meniti harum hujan ribuan daun sakura
Karna kau pergi dengan pipi berpeluh
Kau tahu, aku mengejarmu dengan mata yang buta

Dahulu,
Kau angkat aku dari sumur sepi,
Untuk kau tinggalkan di lubang galaksi,

Pagiku yang baru,
Kumulai hidup yang biru..

Stabat, 16 Juli 2009