saat masih berdiri di depan pintu masa depan
saat kenangan masih belum ada
dan kita ukir disitu, perlahan dan selamanya
saat semua mimpi bergitu haru
saat semua yang kita rasa masih terasa begitu nyata
dan kita percaya tawa selamanya
tapi kawan…
mimpi itu bukan simpang tiga empat
yang biasa kita lewati sehari-harinya
ada seribu atau sejuta jalan setapak disana
yang tiap langkah membuat kita berbeda
saat pertama kita selalu akan bicara
saat kedua kita akan meratap berdua
saat ketiga kita akan saling menukar cinta
saat keempat kau akan bilang, “kenapa…”
saat pertama kita sudah tutup bahasa
saat kedua gelora sakit membuat kita lupa
saat ketiga kita akan saling menukar kecewa
saat keempat kau akan bilang, “kenapa…”
tapi kawan…
mimpi itu pernah ada
yang dulu sama-sama kita gantung di langit
ada sejuta atau seribu malaikat berdansa
yang tiap do’anya mempertemukan kita
kita manusia, berbicara dengan hati yang perasa
kita kerdil, dengan segala ciptaan nuansa
luka-luka ditutup lembut, takkan hilang tapi tiada berasa
kitab-kitab rencana ditata ulang, kita belum hilang suatu asa
sesungguhnya kita saling percaya, jauh disana
sesungguhnya kita saling berharap, walau tak dikata
dan inilah kita, yang melihat dan tertawa
dan inilah kita, yang menangis dan tersenyum
biar saja Tuhan sesuka-Nya memplintir kehidupan kita
karena rantai pengikat hati takkan lepas selamanya