Showing posts with label kematian. Show all posts
Showing posts with label kematian. Show all posts

Saturday, January 30, 2016

Rumah Kita

: Valentina Edellwiz
       di mana senyum manis merebak wangi
kususuri jalan yang pernah menggenanginya
tanganku berasam kandis menjinjing kering
setelah lepas jabat yang setia bercanda
lama kulihat sederhana rumahmu
penuh bunga dan rumputrumput kenang
kala kudengarkan suara ngaji
dari bacaan angin di tubuh kamboja
sekamar denganmu berlampukan surya
fajar hingga senja, kadang berhujan
oleh bisik burung gereja 
dan isak tangis keluarga
aku juga ingin rebah bila waktunya
dan kita – tak perlu bangun
tuk menikmati dunia
Medan, 2016

Saturday, August 16, 2014

Merayakan Kesedihan

Kematian [7]
Sudut Pandang Orang Pertama

Jika ada hal yang paling aku ingini sebagai penulis, ialah merayakan kesedihan. Aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya bagaimana keindahan merayakannya. Tapi hari ini aku datang dan menemukan.

Kami berdiri di ruang terbuka. Tidak di Taman Waktu, tidak juga di Istana Ingatan. Kami berdiri di dekat tebing, di timurnya terbentang padang rumput hijau dan di barat jauh di bawah ombak meraung berlipat-lipat.

An dan Rin saling bertatapan. Mereka kelihatannya bingung. Tentu saja. Aku mendekati An, Airlangga Kelana, lalu memeluknya. Dia diam saja dan dia telah mengerti. An selalu hidup atas ketidakmampuanku melawan dunia. Sekarang, setidaknya aku telah memulai untuk melawannya sendiri. Untuk itu istirahatlah, An.

Rin hanya bisa kupandang lama, walaupun pada akhirnya dia terjatuh dan memeluk lututku yang sudah tak lagi berasa. Rin, Airin Yuuji, selalu hidup untuk membenci. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memenuhi daftar orang-orang yang ingin dihapusnya. Tapi belajarlah untuk menjadi pemaaf Rin, karena mulai sekarang aku pun akan belajar meminta maaf. Engkau lelah, beristirahatlah Rin.

Lalu Manja. Aku hanya bisa menggendongnya, memeluknya rapat-rapat. Manja Citra Kelana. Si kecil yang memiliki mata yang aku sendiripun kiranya tak mampu menatapnya. Di antara An, Rin dan Manja, Manjalah yang memiliki aroma kesedihan yang paling harum dan luka yang paling ranum. Sebab itu, tak heran Manja langsung mengenaliku. Karena saat aku menggendongnya, justru ia yang berujar sambil mengusap rambutku, "tak apa.. tak apa.. tuan akan baik-baik saja." Terima kasih An kecil.

Mereka adalah nafas yang menyambungkan malam dengan siang, kenyataan dan impian, kesedihan dan jembatan kebahagiaan. Walaupun kemudian, kita tak bisa saling mengantar pada ujung jalan. Terima kasih, Rumah Hitam Putih.

Benamkan matahari, matikan lampu, hidupkan lilin. Mari kita rayakan...

Stabat, 15 Agustus

Thursday, January 2, 2014

Kematian [6]

apa yang tertinggal
dari bilik-bilik rasa
kasihan kecuali butir-butir
kebutaan. apa
yang ternanti di sudut-sudut lembab pias
kecuali kabut dan lumut. 
sepilin raga diam di pelataran wahyu, bila harap bisa membangunkannya, 
entah pula ia akan segera 
terlupa. bila segalanya harus kalah oleh waktu, sepantasnya pun 
ia sudah binasa menjadi abu.

lalu kusayat nadi, 
kucarikan aliran yang tak pernah sempat terhubung
kukais-kais segala tempat diatasmu pernah bernaung, 
hanya tuk menemukan sekeping tunas yang barangkali tertinggal. 
tapi biru jasad ini yang kupunya. tinggal ini yang kupunya. yang tak berharga.

hentak dan bentak tak jua membangunkan, 
dari rantai kemiskinan jiwa;
yang sempat memperlambat masa yang tak mungkin lagi bisa ku erat.
kau pekat; 
semakin pekat menghilangkan asa nan kian meredup
melihatmu, 
hanya meninggalkan pahit dan keenggananku untuk hidup.

bagaimana tentang janji?

cerita yang barangkali usai
atau mungkin 
lentera itu masih 
bernyawa
itupun bila kau ingin
sesaat, dan pasti bila terjadi itupun
terlambat.


Wednesday, September 25, 2013

Kematian [5]

pada kakimu yang melangkah berat
terikat kuat segenap beban
yang sudah terlalu jauh untuk kau lepaskan
    pada dadamu yang bernafas berat
    ada resah terselimut rapat
    oleh kabut-kabut tebal yang sudah kau lewatkan

kunci rumahku berdenting pelan
bersama isak yang sesekali kau tahan
begitu pula sisa-sisa airmata, sudah kering disapu dingin
hanya hujan saja belum turun
melengkapi sedihmu yang kian rimbun

lewat kail bintang di kejauhan
embun turun mengisi rongga
   pada tubuh yang jatuh dipelataran jalan
dan tatapmu semakin hampa
   menerobos gulita malam, malam pesakitan

ruhmu masih enggan berjabat tangan
sedang malaikat maut tlah berjongkok didepanmu
menatapmu, penyesalanku...

       ~Impian [2]
         Jika kau dapat membongkar dadanya
         Tentulah kau lihat geladak kapal hidupnya, telah porak-poranda
         Oleh badai pedih yang buncah, mematah-duakan hati yang samasekali tak berpenyangga

         Sekali kau biarkan tenggelam
         Buritan yang jatuh ke lembah hitam, tak kau selamatkan
         Berapa lama disana ia lapar, tak menemukan cahaya untuk pulang
                Kau biarkan ia tenggelam

         Setelah itu kau biarkan yang lain terapung hilang
         Terombang-ombing sendirian, tanpa kawan, tanpa tujuan
         Sampai terurai, tak bisa berlabuh barang sepatah kayu
                Kau biarkan ia menghilang

        Maka, penuhilah panggilanku
        Sujudkan keningmu pada lautan langit
        Tempat hening dan dukaku disemayamkan

~Impian [3]
Jika kau dapat menguburkan takdir
Semaikanlah bibit melati dibibir jendela
Hingga bila hujan, bayangku akan duduk disampingnya
Bersenandung dalam diam, meminta maaf panjang kepada Tuhan
Untuk doa-doa tentang kita, yang tak pernah bisa kurapalkan

Jika kau ingin menguburkan takdir
Semaikan bibir putri malu dipagar pekarangan
    Tempat kau duduk menikmati petang
Hingga bila langit cerah, bayangnya kan menengadah lemah
Bersama tanah yang sabar, mereka akan berbaris saling menguatkan
Melindungimu, walau tak bisa selamanya, kuhidup dalam ingatan

Jika kau ingin menguburkan takdir
Kuburkan saja.



Saturday, August 31, 2013

Kematian [4]

andai saja angin di padang-padang ini bisa jauh lebih lembut
mungkin kau akan berpikir seribu kali menyeberanginya
dengan kaki mungkil yang sesekali terperosok dan tenggelam dalam pasir putih.

luputkah dari penglihatanmu, jauh disana, perompak mengawasimu nanar
sebilah pedang dan sedikit bercak darah telah dihunus, serigala-serigala pun mengendus lapar
kau lihat? kau lihat? nafsu telah dilempar.
tapi jiwamu barangkali jauh lebih membakar, merahnya mawar barangkali pun akan pudar
malu padamu.

belum lagi setengah hari, seperempat menuju oasis ilusi, impian tak mungkinmu
di depanmu mereka menatapmu, kau balas dengan tatapan tajam
lagi, mata pisau itupun malu padamu.

kau kira mereka telah berhenti mengusikmu
dan kaupun melangkah dengan pongah kemenangan
sedikit senyum simpul meremehkan

belum lagi setengah hari, seperempat dari mereka kau lewati, perompak terbaik bagiku
di depanmu tinggal kelamnya tujuan, kau berhenti
bukan lupa, bukan pula takut
hanya saja, ada yang hilang...

andai saja angin di padang-padang ini bisa membangunkanmu lebih cepat
tentu kau masih beserta perasaanmu yang terbenam.

Friday, June 28, 2013

Kematian (3)

#3
jika saja bersama hujan aku bisa memahami tanah
mungkin, bersama kenang aku bisa merasakan dingin disana
terlepas dari taburan bunga yang; apakah mewangikan bentuk yang fasad?
dan nafas benci yang meruak dari pori-pori bumi
pujilah takdir; aku masih merutuki tuhan
yang membawa retak yang tak tertambal
yang melukai tanpa mengobati
atas nama yang tak bisa kembali; aku masih merutuki tuhan
bicarakan pada yang bernyawa
ya, lepaskan saja nada - terserah entah bagaimana
lalu tertawalah; identitasnya tlah dicabut tuhan

Tuesday, June 11, 2013

Kematian [1] & [2]

#1
sore hari, dikejauhan suara kereta memanjang
menghempas senyap
kabarkan kepulangan
dari sepucuk surat yang lama kau cemaskan
kendi-kendi tlah diisi penuh
oleh wajah-wajah teduh
mereka mensyairkan sedih
dari sepucuk surat yang aku takutkan
tertegun
mematung
saat hanya sehelai syal yang dititipkan
dari sepenuh raga yang tentram
telah disemayamkan
dan kerinduan jiwa yang damai
telah sampai di sisi Tuhan

#2
masih disore yang sama, diantara pesan-pesan ibunda
tak kutemukan namaku disana...

seluruh tulangnya melunak
lalu meleleh bersama liur anak-anak berpenyakit mental
matanya mencuat
meleleh juga bersama tangis yang tak lagi asin

entah apa yang Tuhan sematkan
di jiwa yang mati Ia hidupkan nafas panjang
di jiwa yang hidup Ia jedakan, terlalu panjang

di duniaku, akhirat terjadi berkali-kali
berapa kali aku mati?


NB : hutangku 7 atau 10? 2 dulu ya...