Almariku kosong oleh pakaian, pun di laci kecilnya kosong dari album-album masa silam. Ini bukan tentangmu. Bukan tentang baju-baju berwarna gelap seperti yang aku suka pakai. Kosongku bukan tentang apapun yang dulu aku perkirakan.
Pohon depan kamarku kemarin ditebang. Udara tidak begitu dingin lagi ketika pagi, tapi sinar matahari sekarang lebih terang. Aku masih berpikir mana yang lebih baik selain pergi dari ruang kenang. Dan jelmaan ketakutan yang hilir-mudik tak lagi kami saling menghiraukan.
Di penghujung tahun, orang-orang sibuk memperhatikan kebelakang. Aku hanya hirau soal jemariku yang bergelang karat dan nadi yang perlahan-lahan mencuat. Semua sudah kukemasi, kutimbun di langit-langit lapuk. Sebelum nantinya kupasrahkan pada musang dan tikus, yang berebut rakus. Gundahku sudah khatam. Sekalipun terkadang ada kilas yang membayang.
Hatiku? Tak usah hiraukan. Dustaku tetap bernama dusta. Khianatku tetap bernama khianat. Kecewaku pun tetap bernama kecewa. Bahagiaku tetap bernama bahagia. Tak kan lagi tertukar dan kusembunyikan. Sayup-sayup di kejauhan. Aku hanya pejalan di bumi Tuhan. Oleh panggil yang silih bergantian, kukenakan wajahku yang sudah pulang.
Stabat
16 Desember 2015
