Showing posts with label prosa. Show all posts
Showing posts with label prosa. Show all posts

Wednesday, December 16, 2015

Pulih

Almariku kosong oleh pakaian, pun di laci kecilnya kosong dari album-album masa silam. Ini bukan tentangmu. Bukan tentang baju-baju berwarna gelap seperti yang aku suka pakai. Kosongku bukan tentang apapun yang dulu aku perkirakan.

Pohon depan kamarku kemarin ditebang. Udara tidak begitu dingin lagi ketika pagi, tapi sinar matahari sekarang lebih terang. Aku masih berpikir mana yang lebih baik selain pergi dari ruang kenang. Dan jelmaan ketakutan yang hilir-mudik tak lagi kami saling menghiraukan.

Di penghujung tahun, orang-orang sibuk memperhatikan kebelakang. Aku hanya hirau soal jemariku yang bergelang karat dan nadi yang perlahan-lahan mencuat. Semua sudah kukemasi, kutimbun di langit-langit lapuk. Sebelum nantinya kupasrahkan pada musang dan tikus, yang berebut rakus. Gundahku sudah khatam. Sekalipun terkadang ada kilas yang membayang.
Hatiku? Tak usah hiraukan. Dustaku tetap bernama dusta. Khianatku tetap bernama khianat. Kecewaku pun tetap bernama kecewa. Bahagiaku tetap bernama bahagia. Tak kan lagi tertukar dan kusembunyikan. Sayup-sayup di kejauhan. Aku hanya pejalan di bumi Tuhan. Oleh panggil yang silih bergantian, kukenakan wajahku yang sudah pulang.

Stabat
16 Desember 2015

Monday, September 28, 2015

Ada yang berupaya bugar dengan memupuk beban di pundak, berat dikiranya akan menyadarkan otot dan urat. Ada yang berupaya tegar dengan memupuk simpul senyum dimuka, ramah dikiranya akan menyadarkan jiwa dan mata. Tapi kontras, tiba-tiba dihadapnya, ada siluet yang dibangun atas cerita-cerita pengantar senja kepada malamnya; menerobos pelak sangkanya.

Kau saksikan aku berlari jatuh dan menangis di pengasingan. Aku lah cerita candaan dan drama yang tak bosan-bosan. Buatku ini beban kebutaan dan keserakahan dari gelak tak tahu kapan. Aku berserah padamu tuan puan pemilik pekarangan masa depan. Aku anakmu yang terbuang.


Ini kritis. Pengemis pesimis; meminta saja dia tak pernah yakin. Bangunan kebanggaan akan perjuangannya runtuh, jauh-jauh ingin lupa bila ia membatin. Bajunya kumal dan lusuh, acap kali basah dan oleh kutukan debu kekecewaan; ia kesakitan. Di tempat tidurnya, dia bermimpi pada mimpi. Ketidaksanggupannya seperti miasma yang menembus lorong waktu. Ia menyesal. Ia tak ingin diselamatkan.

Percayalah pada garis-garis daun yang kami sebut ramalan. Apa yang terlihat masih pada lembaran mukadimah tentang keputusasaan, Berikutnya ada serupa peluru ketidakberdayaan datang di ingatan. Aku hanya mengayuh saat petang hingga kemudian petang, padahal kau telah memutuskan tak lagi datang.


Monday, September 7, 2015

Saat...

...Hujan.
Ada apa saat hari hujan? Tidak ada apa-apa sih. Aku barangkali tidak berapa sering bilang suka hujan. Tapi aku suka sengaja pulang berbasah-basahan kalau hari hujan. Lalu sepatuku berat berisi air hujan yang enggan keluar. Kulitku akan berkerut dan semakin pucat. Air hujannya akan mengalir dari rambutku ke pipi, seperti menangis, lengket dan merembes ke bibir; asin. Wangi hujannya tidak terlalu lama bisa kunikmati. Hidungku akan cepat mampet. Lalu aku bernafas lewat mulut. Panasnya akan kontras saat bertabrakan dengan udara. Sepulang di rumah, aku langsung mandi. Tentu saja. Langsung sakit. Pasti.
...Matahari Terbit.
Aku bangun dan berangkat sebelum matahari terbit. Matahari adalah penunjuk waktu. Kalau berangkat terlalu terang pasti terlambat dan susah dapat angkutan. Aku duduk di sebelah kiri, agar bisa melihat matahari bersinar merah. Aku suka melihat matahari yang mencuri-curi lihat dibalik barisan rumah dan pepohonan di sepanjang jalan. Aku berharap saat tepat melewati lapangan yang luas atau sawah, aku bisa melihatnya tepat merah memanjati langit hitam kebiru-biruan. Kalau beruntung, ketika sampai di tujuanku, dia disamping menemaniku berjalan dan melamun.

Saturday, August 23, 2014

Dusta

berdusta tidak menjadikan seseorang tidak dapat dipercaya, sebaliknya berdusta menjadikan seseorang tak mempercayai siapapun. akan ada orang bodoh atau orang terlampau baik yang akan mempercayai atau bahkan seseorang yang telah ditipu berkali-kali tetapi tetap berusaha untuk mempercayai.

tapi, bisakah engkau mempercayai orang-orang yang siap menumpahkan kotak pandoramu? sampai rahasia tergelap hidupmu akan dibeberkan di khayalak ramai, lalu semua orang akan menatapmu jijik, sinis. mereka akan membicarakanmu dibelakang, mereka berbisik. tidak. tidak akan ada yang berubah. mereka akan selalu memperlakukanmu dengan manis.

untuk itulah engkau berdusta. mereka terlalu mengerikan untuk mengetahui kenyataan hidupmu. jangan percaya pada siapapun...dan berdustalah untuk dusta yang ingin engkau jadikan kenyataan.

Stabat, Agustus 2014

Saturday, August 16, 2014

Merayakan Kesedihan

Kematian [7]
Sudut Pandang Orang Pertama

Jika ada hal yang paling aku ingini sebagai penulis, ialah merayakan kesedihan. Aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya bagaimana keindahan merayakannya. Tapi hari ini aku datang dan menemukan.

Kami berdiri di ruang terbuka. Tidak di Taman Waktu, tidak juga di Istana Ingatan. Kami berdiri di dekat tebing, di timurnya terbentang padang rumput hijau dan di barat jauh di bawah ombak meraung berlipat-lipat.

An dan Rin saling bertatapan. Mereka kelihatannya bingung. Tentu saja. Aku mendekati An, Airlangga Kelana, lalu memeluknya. Dia diam saja dan dia telah mengerti. An selalu hidup atas ketidakmampuanku melawan dunia. Sekarang, setidaknya aku telah memulai untuk melawannya sendiri. Untuk itu istirahatlah, An.

Rin hanya bisa kupandang lama, walaupun pada akhirnya dia terjatuh dan memeluk lututku yang sudah tak lagi berasa. Rin, Airin Yuuji, selalu hidup untuk membenci. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memenuhi daftar orang-orang yang ingin dihapusnya. Tapi belajarlah untuk menjadi pemaaf Rin, karena mulai sekarang aku pun akan belajar meminta maaf. Engkau lelah, beristirahatlah Rin.

Lalu Manja. Aku hanya bisa menggendongnya, memeluknya rapat-rapat. Manja Citra Kelana. Si kecil yang memiliki mata yang aku sendiripun kiranya tak mampu menatapnya. Di antara An, Rin dan Manja, Manjalah yang memiliki aroma kesedihan yang paling harum dan luka yang paling ranum. Sebab itu, tak heran Manja langsung mengenaliku. Karena saat aku menggendongnya, justru ia yang berujar sambil mengusap rambutku, "tak apa.. tak apa.. tuan akan baik-baik saja." Terima kasih An kecil.

Mereka adalah nafas yang menyambungkan malam dengan siang, kenyataan dan impian, kesedihan dan jembatan kebahagiaan. Walaupun kemudian, kita tak bisa saling mengantar pada ujung jalan. Terima kasih, Rumah Hitam Putih.

Benamkan matahari, matikan lampu, hidupkan lilin. Mari kita rayakan...

Stabat, 15 Agustus

Friday, August 15, 2014

Selamat Malam...

Impian [7]

Sejenak saja, kita tidak akan berbicara tentang kepahitan. Tidak tentang masa lalu. Tidak tentang masa depan. Ini tentang hari ini, sekarang, aku ingin mengajakmu tidur untuk punya mimpi yang sama. Hanya tentang bunga tidur.

Kita tertidur. 

Apa yang sedang kau bicarakan? Aku menghirup teh manisku pelan. Kau masih lanjut bercerita. Di antara lalu lalang pelayan di jam makan siang. Kau berbicara tentang hari-harimu yang sibuk. Kau bertanya, apa yang aku lakukan seminggu ini? Aku mendesah. Lalu menatap sisa tehku yang pekat. Lihat, ada beberapa ampas halus. Aku memijat keningku. Kukatakan, pikiran terlalu kasar untuk lewat saringan di kepalaku. Kau hanya menyunggingkan senyum kecil. Dari tasmu yang selalu kebesaran itu, kau mengeluarkan sebuah buku. Buku berwarna biru. Judulnya dicetak dengan warna emas. Dan ada namamu. Berikutnya kau berkata, "yaa ngapain disaring.."

Setelahnya, kita menghabiskan waktu berdiam. Kau mengutak-atik ponselmu, seolah ada yang penting. Aku tiduran dengan tangan terlipat, seolah berpikir. Dan buku biru di tengah meja, seolah tak mengapa.

Jemputanmu datang. Kau mengemasi barang-barangmu. Kau mengambil tisu, mencatatkan sesuatu. Kemudian giliranku. Mencatat sesuatu. Lalu tisu ditenggelamkan dalam mangkuk cuci tangan. Dua orang asing itu kemudian berdiri. Bersalaman. Saling mengucapkan perpisahan.

Aku terbangun dengan tengkuk yang penuh dengan asam. Ah, masih jam tiga.
Selamat pagi..
.. siapapun itu.

Stabat. 24 Juli

Tuesday, July 29, 2014

Sepetak Kamar Tempat Ia Bermimpi

An : Dia tidur melayang, perlahan-lahan turun bersama selimut embun. Bulan sabit terlalu jauh dari sepenggalan tangan, tapi fajar tepat dibawah kelopak mata. Di telinganya masih berbisik dongeng tentang manusia.

Apakah mereka jatuh cinta? Igauku. Tidak, mereka terluka. Jawab bulan sambil menunjuk kawah-kawah di sekujur badannya. Apakah mereka sembuh? Sambungku. Tidak untuk waktu yang singkat. Bulan berbalik, menarik awan-awan kearah wajahnya. Kalau begitu jangan bangunkan aku.

Hari semakin dingin, angin berkerumun sedih di lingkar tubuhnya yang mendekap. Bulan di barat semakin lara dibuatnya.

Rin : Ruhnya semakin dekat ke bumi. Kabut mengitarinya. Sebelum matahari berganti menjaganya, bintang-bintang berkerumun lekat di piyamanya. Mereka menyisipkan sepotong kue.

Tapi engkau bahagia. Bulan menyeka airmatanya. Ia masih tertidur. Ia mengukir senyum.

An : Sejak saat itu, kami tak pernah bertemu purnama.

Thursday, December 12, 2013

Kenangan [4]

sejarah hidupmu tidak berasal dari satu benang merah. mungkin saja ia pernah berbelit dengan benang orang lain dan menjadi hidupmu. mungkin pula sebenarnya benang hidupmu telah lama terputus dan kau hanya melanjutkan kenangan orang lain. bagiku, mungkin saja.
kau mungkin ingin mengulang beberapa rekaman, tentang apa-apa saja cita-cita yang pernah kau banggakan. polisi? dokter? ilmuwan? guru? pilot? dari rekaman itu, apa kau menemukan bagian hitam seperti kusam dimakan malam? bagimu mungkin tak mengapa. barangkali itu hanyalah jejak-jejak tak signifikan dalam kehidupan. bagiku, itu ketakutan.
masa depan terdiri dari mozaik-mozaik yang belum kita temukan. kau akan temukan di tangan sahabat lamamu-sahabat terbaikmu yang akan mengkhianatimu dalam beberapa tahun kedepan. kau akan temukan di mata seseorang yang bukan siapa-siapa hari ini, tapi di masa depan mata itu akan mengalirkan ketulusan yang tak mungkin bisa dibeli. kau akan temukan di kaki seorang yang telah kau bantu berdiri suatu kali dengan aluran tanganmu, dan dia akan muncul lagi menghamparkan duri lewat jempol kakinya. kau akan temukan di rambut orang tuamu yang memutih dan bersyukur karena pernah tak sengaja menelan rambut dalam mangkuk bubur yang mereka sediakan. 
bagiku, sama saja. karena sejarah bagiku adalah masa depan. masa depanku sudah menjadi sejarah. masa depan yang terdiri dari pecahan masa lalu yang kukumpulkan sekuat tenaga. bercampur bau darah entah milik siapa. dalam ikatan benang entah darimana.

Tuesday, November 12, 2013

Impian [4]

kukira ia telah memenuhi udara. kata. lebih dari yang bisa kita bisa. biarlah sekarang hening datang. menggantikan bahasa dalam batas yang nada-nada terlalu lelah untuk dibaca. biarlah hening. biar ia menerjemahkan segalanya dalam syahdu alam. biarlah tenang. lalu kita akan bersama menggenggam bara dingin. membiarkan hitam membercak ditangan. dan hening akan pecah, oleh tawa.

seperti ini itu kehidupan, seperti kita yang senang mereka-reka. kita bersama udara dan langit tak saling mengetahui. kita berbahasa dengan perhatian yang tak putus kecuali saling mengikat. dalam nafas, dalam udara yang bertukar tinggi dan rendahnya. mereka tak tahu. tak tahu kita mencintai senja. dan semena-menanya malam menggantikan. karena sayang dan kita berjatuhan.

panggil aku. dalam puisimu. dalam indah dalam sembunyi. dalam ingin yang sejuta kali ingin kutepati. tapi tak mungkin. jika saja dua bisa mengalirkan tak hingga, maka dua puluh enam akan mengucapkannya tak pernah diam. kau tak sendiri. kau tak sendiri. kita tak sendiri.

patahkan sayapmu satu. kutukar dengan insangku. lewat keindahanmu dan keindahan yang seharusnya bisa kau nikmati, kutukar dengan setengah hidupku. aku tetap tak bisa terbang bersama, begitu jua kau. tapi bila kau bisa mengintip dibalik lemah dunia yang kelam. aku sedang mengamati terang. dan bila kita telah sama-sama menyerah pada dunia. setidaknya, kalbu, kalbuku. telah pernah menyesap teh hangat diteras senja.

Wednesday, September 18, 2013

Makam [2]

Ditengah malam seperti ini, biasanya penjaja peti mati mulai berkeliling kampung. BIla kamu terbangun tengah malam, mungkin kamu akan berpikir untuk tidur lagi atau pura-pura tidur kembali. Kamu mungkin tidak begitu berani, saat penjaja peti mati itu diam-diam mengintip dari jendela kamarmu. Dan bila saja kamu memutuskan untuk membuka mata, barangkali kamu dengan penasarannya dan sengaja menatap matanya dibalik kaca jendela. Dan dia akan berkata, "Mau beli peti mati?"

Bila sebelum pagi resahmu belum juga reda. Cobalah pesan satu peti mati. Peti mati yang biasanya diseret dari rumah si penjaja. Kamu akan mendengar suara kayu berderit dari gesekan aspal yang dingin. Dan penjaja peti mati akan dengan senang hati mengetuk pintu di ruang tamu. Dan dia akan berkata, "Hatimu saja atau sekalian jasadmu semua?"

Aku pernah melihat penjaja peti mati. Seperti ini, sebelum pukul tiga pagi. Wajahnya lusuh dan pakaian putihnya bercampur lumut-lumut. Aku mengintip diam-diam dari lubang bambu dinding rumahku. Salah satu peti matinya menganga memanggil-manggil seperti kesepian. Kesepian yang panjang. Disela-sela mulut peti mati itu, kulihat mata yang bersembunyi dibalik gelap. Mata yang tak asing lagi. Mata ibuku. Sebelahnya mata pualam berwarna biru. Matamu. Aku menggigil. Sebelum akhirnya pintu kayu ruang tamu kembali diketuk.

Penjaja peti mati tak pernah dipanggil. Bukan seperti penjual roti atau mie yang lewat saban hari dengan terompet atau lonceng besi. Tapi sesaat sebelum hatimu memanggil, selalu ada erangan suara kecil dari kayu peti mati. Suaramu sendiri.

Friday, August 23, 2013

Aksara di Lingkar Kepala

Ada, satu cerita berputar-putar dikepalaku. Ia ingin duduk, terserah dimana, di kertas atau di dunia binari. Ia ingin tampil sebagai aksara, sebagai perwakilan gelombang debar yang tak bisa kau rasakan. Ia yang akan menyampaikan.

Tapi aksara dalam pikirku begitu pemalu. Sepanjang umurnya hanya bertemankan dusta, dipakaikan rima dan metafora pula. Aksaraku. Dia begitu lekat, bersembunyi di balik kuku, menjabat mataku dekat, takut seakan-akan mata pun bisa berkhianat, ia ikat erat-erat lidah dan pita suara, hanya saja...benarkah dia pantas untuk dilahirkan, disampaikan?
Aksaraku duduk, sendunya...apakah bisa dikatakan sendu sekali. Ia pun paham...disampaikan atau tidak, ia tidak akan mengubah apa-apa.

Tuesday, October 9, 2012

Bunga April

Waktu itu April, perempuan manis itu mengemasi sisa perbekalannya yang tersisa, Dan kami, anak-anak dari rahimnya yang hangat, dihadiahinya airmata. Tidak untuk dihabiskan hari itu, tidak untuk jatah sebulan. Seumur hidup katanya. Jatah airmata yang mengingatkan kami, untuk tidak menyia-yiakan yang terkasih bagi kami.

Tapi, ketika sampai wajahnya di tikungan bumi. Mendadak tumpah ruah seluruh rinduku, seluruh keluh kesah dalam raga ringkihku. Karena kutahu, rindu ini takkan pernah sampai, takkan ada lagi pertemuan yang melegakan dada. Dan aku juga ingin mati bersama April. Setelah anak-anakku menghormati hari lahirku, sesaat kemudian mengingat kematianku. Karena ya..mereka dekat.

Tuesday, July 31, 2012

Makam Hati


tak ada peti mati, seperti dimakan jam batu itu. dan jam itu sudah berhenti berdetak.

tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.

tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.

tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.

pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.

sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.

jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.

dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.

trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.

aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...

ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??

Saturday, May 12, 2012

Apa kau lebih suka menjadi badai? Yang sibuk datang lalu bergegas hilang. Meninggalkan puing dan segala hening yang jua berplintir. Apa kau lebih suka menjadi semilir. Yang tersipu di sore hari. Lembut dan sesekali menepuk pipi. Tapi kau menghilang tanpa peringatan, membiarkan kehilangan tanpa kebiasaan. Apa kau sungai? Yang mengalir membawa perasaan damai. Gemericik tawa dan laku di arus kebosanan. Ah, kau sungai, dimana kau hanyutkan hatiku? Apa kau langit. Awan yang tipis dan pembawa hujan yang kelam. Pasti kau mudah menemukanku, yang terserak di hamparan bumi yang putih.

Bayang

"Kau itu seperti pelajaran sejarah. Jika tidak bisa menangkap benang yg menghubungkan setiap kejadiannya maka akan jadi sulit di mengerti. Kalimatmu memiliki sebuah benang tipis jika salah tarik aku bisa tersesat. Hatiku selalu risau. Takut jika benangmu tidak bisa terlihat. Tapi seperti pelajaran sejarah menarik keinginanku untuk tau lebih dalam."
Aku selalu lupa, pada siapa, kapan, dan dimana, serpihan itu kujatuhkan. Kupinjam dulu, aku ingin mengatakannya pada ilalang yang tajam, ilalang yang memanjang. Ia sulit kelihatan. Karena ia sama. Tak mau berbeda. Meskipun begitu, hadirnya begitu rapuh. Pada detik manakah, di masa depan, ia kan menghilang, bahkan sebelum angin menyadarinya.


Thursday, April 5, 2012

Takut

An, hari ini aku ingin bercerita. Aku selalu enggan kesana. Ke masa depan. Tempat para sahabat meletakkan cita-citanya. Bukan kerut atau keriput, tapi aku selalu membayangkan nafas yang kusut, dan ingatan yang pelan-pelan menyusut.

Bayangkan, benang laba-laba yang menggantung di pohon jambu. Anak kecil yang bermain dibawahnya tak pernah tahu. Hingga ia menjerat halus, lalu anak kecil pun memekik histeris. Anak kecil itu bukan aku. Aku benangnya. Laba-laba itu waktu dan kau anak kecilnya. Aku tak tahu, kapan kau akan bosan. Dan kelak kau pergi, meletakkan sesaji tanpa tahu aku ingin.

Sepi itu yang kutakutkan. Yang menggema saat sendiri di rumah lapuk kita. Tak ada lagi canda, atau perdebatan kecil yang menyemarakkan suasana. Ingatkan dirimu sendiri, an. Kalau kau sudah bisa tertawa, aku sudah mati. Dengan tenang.

...

Monday, March 12, 2012

Anak Langit

Namaku Rin. Ini cerita tentang makamku. Aku mati sekitar 10 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 1 Juni. Benar. Aku mati di tengah tahun, di tengah kerisauan, dan tengah melayang diantara langit dan bumi. Sekali lagi ini cerita tentang makamku, bukan caraku mati. Saat ini jasadku ditanam diantara awan. Tiap hari, tak lupa Tuhan menyirami makamku yang putih kebiru-biruan.
Tiap akhir tahun, datang menziarahiku burung-burung dari selatan. Tak ubah layaknya kerabat sebelum hari raya. Apa mereka reinkarnasi orang-orang dari kampung halamanku?

Dan untuk hari-hari matiku, sama seperti mayat-mayat lainnya. Aku ditanya oleh dua penjaga langit dan bumi. Tentu saja aku disiksa jika tak bisa dijawabnya. Tiap aku tak bisa menjawab pertanyaan mereka, tubuhku mulai mengumpul. Kukira aku akan dihidupkan kembali. Tapi sekujur tubuhku terlalu dingin dan organku bergumpal acak. Kepala yang disambung oleh kuku, kaki yang bedesakan dengan ginjal, hati yang bercampur dubur, dan lainnya. Dan saat semua bagian tubuh lengkap terkumpul, saat itulah aku hancur. Berjatuhan menuju bumi. Hingga pada suatu waktu aku memuai dan berkumpul lagi di langit yang tak berujung. 

Sejujurnya sikasaan ini tidak terlalu buruk. Karena selain itu dua penjaga penyiksa, aku juga ditemani dua malaikat lainnya. Kedua malaikat ini berwarna putih dan merah kekuning-kuningan. Dua malaikatku itu cantik dan menemaniku seharian. Dan saat aku terjatuh atau memuai terpisah-pisah, mereka ikut tertawa bersama.

Oh iya, sedikit teringat tentangku mati. Waktu itu aku sedang marah pada temanku. Tiba-tiba tubuhku panas. Terlalu panas, hingga bola mataku meleleh keluar, berjatuhan lalu hilang di udara. Bagian tubuhku yang lain juga mulai meleleh berlepasan, yang lainnya mendidih bergelembung, lepas ke udara dan meletup. Mereka terurai menjadi atom-atom dan meledak antara beningnya kegelisahan.

Barangkali, itu kenapa aku selalu melihat manusia yang gelisah saat aku terjatuh. Atau aku memang pembawa sial? Ah.

Wednesday, March 7, 2012

Sederhana, ya...sebuah rencana

Apa kau pernah merasa hancur? Tubuhmu retak-retak mengering terlalu lama panas terpanggang, lalu kau disentuh angin yang membuat dagingmu jatuh sedikit demi sedikit dan terserak tak berbentuk? Apa kau pernah merasa di suatu tempat, dimana kau merasa asing, dimana semua terlihat sama dan membosankan. Semua orang memakai seragam yang sama. Semua rumah bercat putih berbentuk kotak dan beratap seng merah berkarat. Semua mengendarai mobil yang sama merk dan warnanya. Dan kau merasa muak. "Tak seharusnya aku ada disini!".

Tak ada seorang pun mengerti jeritan kasar, apalagi desis bencimu. Kau ingin melarikan diri. Tapi tak tahu harus kemana. Hingga kau mengunci kamarmu. Dengan bit musik yang keras dan menghentak, jeritanmu tenggelam dan kau pun menghilang dari kenyataan.

Apa kau ingin menjadi orang lain? Saat hidupmu benar-benar sia-sia. Dan kau ingin menemukan sejumput ekstasi untuk membahagiakan hidupmu yang terlalu payah. Tetapi itu hanya angan-angan. Karena kau tetap terjebak, terjepit di hidupmu yang rumit, yang kau benci. Apa kau merasa muak dengan orang-orang disekitarmu? Mereka yang tersenyum lebar penuh kepalsuan dan kebohongan-kebohongan mereka yang bodoh. Kau hanya bisa tersenyum tipis mengiyakan, sedang dalam hatimu berdarah-darah, ingin muntah, merasa jijik dan ingin menampar mereka dengan kenyataan pahit yang barangkali mereka tak pernah alami.

Meski tak ada yang pernah berbohong langsung kepadamu dan tak pernah ada yang menusukmu dari belakang, kau mungkin berpikir aku senang, tetapi aku tak pernah baik. Meski semua orang memberikan apa yang kau inginkan dan kau tak perlu berkerja keras untuk memiliki apa yang seharusnya ada, apa kau pikir aku senang?

Tidak. Kau tak tahu. Kau tak tahu rasanya ketika tak ada satupun yang terasa benar. Kau tak tahu. Kau tak tahu rasanya menjadi aku. Tiap malam bibir dan tanganmu berdarah, serta aku tak tahu lagi dinding rumahku entah berapa kali bergetar. Tiap malam aku merasa sepi, duduk di ruang gelap sepanjang waktu tanpa tahu kapan pagi datang. Sedang saat pagi, aku terus dilempari saat aku terjatuh, seakan-akan aku hanya badut yang tak bisa terluka. Terus di dorong menuju ujung jurang dan tak ada siapapun yang bisa menolongmu. Kau tahu rasanya? Tidak. Kau tak akan tahu. Selamat datang, inilah hidupku.


nb: anggap saja sebuah transliterasi dari lagu Simple Plan - Welcome to My Life

Friday, February 10, 2012

Rok Pendek

Untuk perempuan yang memakai rok pendek. Aku  tak punya dendam denganmu. Aku juga tak suka kalau kau tertidur di mataku. Tapi aku ingatkan hari itu, saat kau menyandarkan seluruh tubuhmu, aku mengingat sesuatu yang begitu penting.

Yang didirikan oleh angan-angan. Terlalu lembut untuk di katakan impian. Maka anggap saja ini sebuah perumpamaan. Siang hari bagimu, bagi manusia yang berlalu-lalang di hiruk pikuk kota, adalah panas menyengat yang (kalau bisa) dihindari. Tahukah? Matahari itu bintang. Sedang, seseorang di tengah malam tak kunjung merasa hangat. Kuharap kau mengerti, perempuan ber-rok pendek.

Saat ini, aku tak hilang kendali. Sungguh. Aku sepenuhnya paham aturan main disini. Hanya saja, saat melihat rok yang melingkar di pahamu, aku berpikir untuk mencadari tanganku. Kau tahu, ia bisa lebih vulgar dari dunia tahu. Akan kutuliskan sebait sajak untukmu, kuharap kau tak mengerti. Sungguh. Karena kau bodoh.

Jilati aku tuan...
Aku puisi bercampur nanah...
Usap aku dengan lidahmu...
Aku empedu berlarik seribu...
Kau rumahku...
Tempat iblis dan rindu bercumbu...

Sunday, February 5, 2012

sepotong cerita yang tak perlu

ada yang berbicara, ada yang mendengar. kau tak bisa pilih keduanya.
ada yang menderita, ada yang mengasihaninya. kau tak bisa merasa kedua-duanya.
ada yang berhenti, ada yang terus berjalan. kau tak mesti memaksakan salah satunya.
ada yang diam, ada yang menjerit perlahan. kau salah satunya.

aku ingin bicara, akan terus bicara, tak perlu ada yang mengasihani, tentang apa aku bercerita. kau boleh berhenti, dan aku akan terus berjalan. karena suatu saat aku akan diam. kehabisan cerita untuk kau dengar. padahal dalam hati aku masih saja bercerita. siapa dari kita yang menjerit perlahan?

aku ingin kau mendengarkan, yang barangkali kau anggap derita, kau pikir kau tak mampu meneruskan, dan aku tetap takkan berhenti. sampai aku diam. dan salah satu dari kita menjerit perlahan.

kau juga pasti berbicara, seringnya bukan deritamu. seringnya aku tak mendengarkan, seringnya justru aku mengasihanimu. karena kau berhenti, aku juga akan takkan meneruskan. kita diam. tak perlu ada yang menjerit perlahan.

kau belajar mendengar dari aku yang tampaknya pendiam. aku belajar bicara darimu yang tampak banyak bicara. apa sekarang kau ikut menderita, soalnya aku tidak. kurang atau lebih, sakit takkan lebih sakit. kau bilang kau akan berhenti, tapi ada yang berjalan. ada yang diam. dan hening yang perlahan.

kita bukan siapa-siapa di skenario tuhan. terlalu banyak peran yang mesti dimainkan. aku memilih antagonis. anggap saja ini sebuah prolog dalam hidupmu, sebelum kau menemukan lawan utamamu. ah,aku berlebihan. aku cameo saja kalau begitu. sorry. aku sengaja membuangmu.