Hujan [3]
bacalah ini, bacalah sajak tentang hujan
yang mematikan percik api di hati puan
dan segelintir cemburu berarak di awan
lalu menjadi petir, menyambar ketakutan
pujilah ini, pujian air mata
yang menerobos benteng rasa
bila di hilir tenang bersemayam
kini diundangkan tabir tenggelam
panggullah diri, panggullah keselamatan
pasang di kanan kiri menggenggam tangan
jika raga jiwamu berderit retak
waktu pun sungkan lanjut bergerak
cepatlah kini, cepatlah engkau terang
bah sudah setinggi tugu selamat datang
tak ada tanda di empat penjuru palang
diliput pasrah, engkau tahu tlah ditelan jurang
Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Showing posts with label hujan. Show all posts
Showing posts with label hujan. Show all posts
Friday, July 18, 2014
Friday, October 11, 2013
Nyala Hujan, Ketika Pagi...
menunggu jiwa yang paling miskin sekalipun
sekadar membuka jendela
kabut menunggu
bukan wewangian bunga ditaman
di tengah perjalanan, yang entah kapan aku akan melangkah berjalan
dan melangkah lah lagi, seperti dulu-dulu
seperti detik jam, tujuanku yang hanya itu-itu
oleh dingin pagi ini, sebab mata terjaga
dadaku menggigil, ada yang memanggil
itukah tuhan, atau engkau disisian tuhan, dengan penuh kerinduan
hujan berjatuhan
Stabat, 11 Oktober
Tuesday, August 13, 2013
Hujan [1]
berat melepas beban, tak begitu saat takdir disatukan
dua anak langit, kakinya pernah membumi; tidak lagi
sejak mereka dipertuan
langit dipertuan, jauh sebelum kembang ditemukan
matanya hendak menghujam, tapi ia lupa ukur ketinggian
duhai langit yang penuh kerinduan...
ia sakiti, puas pada panas yg ganas
belantara semu tengah pongah, sebelum angkuh diterjemah
duhai langit yang penuh keramaian...
tekan saja, sementara sesak di ulu hati dan mata
sudah seluruh pijarmu mengelam, tertutup gelapnya keculasan
duhai langit yang hendak runtuh....
Subscribe to:
Posts (Atom)
