Friday, November 27, 2015

Layangan

bukannya ranum biru parasmu
yang membuatku melayang-layang
dihantarkan benang.
dan angin memukul-mukul pundakku
yang malu-malu menujumu.
kau puisi yang Tuhan bentangkan, 
agar aku mengilhami hujan bintang 
dan kemilau fajar hingga senja.
kau suruh pula aku membaca maumu, 
dekatmu saja hatiku liung.

Stabat
November 2015

Tuesday, November 24, 2015

Dasi Untuk Mati

siapa sibuk melilitkan tubuhnya dengan kafan
baju-baju dan hiasan duka buatan
dan sesiapa berlari kaki kijang, dari
rampasan nyawa dan jerit-jerit nyalang

dosa-dosa naik memanjati hujan
ditengah-tengah siul anak yatim
untuk segala doa yang memilih bisu
peluru dosa beserta aamiin ameen palsu

aku; kau mandikan dengan bunga rampai
yang tumbuhnya subur dari cucuran mata, 
lapar yang melata, dan hari-hari berbayar sakit
dan itu bukan hakku si pongah nan pelit

lumbung lambung telah limbung
nafas satu-satu tundung berkabung
untuk segala jatah yang telah kutelan
bagaimana melarikan diri dari pengadilan Tuhan?

Medan
November 2015

Monday, November 23, 2015

Perkara Cinta-Cintaan

Saya tidak terlalu hobi menulis hal-hal yang berbau nikah. Tapi sempat dulu saya menguping kaji di mesjid kampus (ya, beda jamaah sih, dulu anaknya gak fanatik), tapi berhubung kajiannya menarik, saya dengerin sampai hampir habis.


Topiknya soal mahabbah; cinta kepada Allah. Beliau meyebutkan ada tiga macam bentuknya perkara cinta ini. Tersebutlah mahabbatullah, mahabbah fillah, dan mahabbah lillah. Saya tidak ingat betul bagaimana syarahnya kecuali definisi singkatnya. Mahabbatullah ialah cintanya hamba karena Allah. Dan sebagaimana layaknya manusia jatuh cinta, tak lepas objek kecintaan dari pikirnya. Mereka yang hati merindu dan pikirnya meronta mencari jalan untuk bertemu. Sepanjang waktu mencari ridhanya Allah. Seolah-olah bahkan ketika makan pun bertanya, "Allah ridha gak ya dengan makananku? Suka tidak ya?" Lalu ketika berpakaian, "Allah ridha gak ya dengan dandananku hari ini? Apa nanti dia ga suka?" Dan tak ada pertemuan yang lebih panjang daripada seorang kekasih yang bertemu pujaannya. Lalu di dalam shalatnya begitu khusyu' dan begitu mendua seolah berjamaah pun hanya ada dia dan Tuhannya.

Mahabbah fillah, ialah kecintaan yang hadir karena alasan. Semisal seorang laki-laki yang sebenarnya tak suka makan bakso. Tapi karena kekasihnya suka makan bakso, maka ia pun belajar mencintai makan bakso. Sampai disini, saya teringat pengalaman yang begitu personal ketika saya benci ayat-ayat perang seolah-olah Islam hanya berbicara pedang. Hingga kemudian, ternyata disebutkan bahwa mestilah ada kebencian dalam diri seorang mukmin akan perang dan pertumpahan darah terkecuali untuk menegakkan perintah Allah. Saya tidak akan menjelaskan disini karena bukan topik kali ini, setidaknya saya lega karena perang pun butuh prasyarat dan kondisi sebelum dicetuskan. Lalu perihal bagaimana ada hal-hal yang sebenarnya kita tak sukai, bila Allah mencintainya, maka kitapun harus belajar mencintainya.

Mahabbah lillah, ialah kecintaan yang terus menerus ditanam atas apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Baik itu yang wajib seperti shalat, zakat, puasa, maupun yang sifatnya sunnah seperti tersenyum, bersih-bersih, menjadi tetangga yang baik, dan lain sebagainya. Iman maupun cinta, sama-sama punya siklus naik turunnya. Namun kekasih yang baik, akan belajar dan melakukan banyak hal agar tidak turun perasaaannya.

Cerita soal nikahnya dimana? Haha. Itu pengantar saja. Saya kebayang seandainya kelak menikah, yang ada hanya rasa kasihan. Saya dan masalalu saya tidak terlalu loveable. Tapi bagaimana kalau saya menikahi seseorang yang bahkan tak menuliskan nama saya di hatinya? Itu...berat. Jikapun tidak mampu dua orang itu saling mencintai, tidak menemukan pula alasan-alasan untuk dicintai, setidaknya ia mestilah mencintai Tuhannya. Ibarat dua orang kesepian yang tidak bergandengan tangan, memakai tabir di wajah hingga tak saling mengenal jiwa, setidaknya satu jalan. Bila begitu, berkuranglah setidaknya rasa kesepian itu. Hingga bila Allah nantinya berkenan, menghapusi satu-satu nama sebelum kami, lalu saling mengukir - sekali dan sampai mati. Dan bila tidak di dunia ini, boleh di akhirat nanti. Aamiin Allahuma Aamiin.

Thursday, November 19, 2015

kenapa merobek lukamu semakin dalam?
kebahagiaan bukan tunas yang ditanam
terkadang ia bersama dedaunan yang 
berterbangan; dia, memintamu berjalan.

Monday, November 16, 2015

Yang Pulang Dan Berkalung Salam


Emak telah bangun di hadapan Pencipta.
Ditinggalkannya kami di belakang selang-selang penyangga kehidupan.
Hari itu, adzan subuh pertama kalinya kalah berisik.

Jangan pernah sekali-kali kau hirup udara sepi.
Mereka menjuntai dari bisik kumpulan orang asing,
bergemuruh dibalik tenda-tenda simpatik,
keluar masuk dari paru-paru anak yang sakit.
Dan tak lebih perih dari rindu, bertemu tapi abu, biru, sendu.

Perempuan cantik tak lagi bertudung sutra
Dan riasannya berupa senyum tipis yang berjanji tak dimakan usia,
itu juga bila kau tak lupa katanya.
Wanginya harum, seperti kakek berangkat ke surau.
Sama, ia pun diangkat ke surau, 
oleh tandu yang biasa teronggok dekat gudang bedug.

Aku kira aku yang paling menderita,
sebelum perempuan kecil memeluk nisan seolah boneka permainan,
ditekuk kuat, tapi tak ada yang mau merampas.
Kecuali waktu yang lebih dahulu melepas.

Ada dia yang disitu menatap tajam,
di balik selubung Tuhan
Menanti kami pulang.

Medan
November, 2015



Sunday, November 8, 2015

Ada masa yang sengaja kita tak beri nama, apalagi prasasti. Agar bila kelak ia terkubur dalam hijau, tak ada patah-patah kesengajaan dalam hati. Sesuatu yang tak kau miliki kekuatan atasnya, dan waktu akan membantu. Jika ia tak pulih, setidaknya tak satupun dari kita menjadikannya dalih.

Sebab itu bila kau temukan rongga ku semakin bersekat, adalah kesengajaan agar kau tak kembali tersesat. Jiwaku, terlanjur pekat.