Thursday, July 24, 2014

Jurnal Ketiga : Di Atas Awan, Menjadi Kabut

kau membaca puisi, aku membaca ketakutan
segala yang diimpikan mengajakku berdiri, tapi terlalu tinggi tanpa pijakan
bahkan sekadar mengucap doa, peminta luka
bisakah waktu ditukar? ditawar? dan dibawa pulang?

jangan memapah, tak perlu menyemangati
cukup berdiri beberapa meter dari punggung
jadilah seperti ibu, biarkan aku menangis sendiri
berjalan untuk hidup, dan sesekali menatap kebelakang
dan jangan terlalu jauh dariku.

tunggulah, dengan segala upaya
biar anak-anak peluh dan airmata
tak menjadi sia-sia.

bila tidak, berlarilah
sekuat tenaga, tak perlu berdengung
biar kau menjemput siang
dari pagi yang terlalu terang,

7/21/14

No comments:

Post a Comment