Akhirnya ketemu sama bagian diriku yang selama ini modenya off; yang posesif, gak betah, cemburuan dan suka gelisah tak menentu. Tapi tenang, lagi berlatih sama subuh untuk menguasai empat elemen tersebut. Avatar, The Legend of Kalem!
Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Friday, December 18, 2015
Wednesday, December 16, 2015
Pulih
Almariku kosong oleh pakaian, pun di laci kecilnya kosong dari album-album masa silam. Ini bukan tentangmu. Bukan tentang baju-baju berwarna gelap seperti yang aku suka pakai. Kosongku bukan tentang apapun yang dulu aku perkirakan.
Pohon depan kamarku kemarin ditebang. Udara tidak begitu dingin lagi ketika pagi, tapi sinar matahari sekarang lebih terang. Aku masih berpikir mana yang lebih baik selain pergi dari ruang kenang. Dan jelmaan ketakutan yang hilir-mudik tak lagi kami saling menghiraukan.
Di penghujung tahun, orang-orang sibuk memperhatikan kebelakang. Aku hanya hirau soal jemariku yang bergelang karat dan nadi yang perlahan-lahan mencuat. Semua sudah kukemasi, kutimbun di langit-langit lapuk. Sebelum nantinya kupasrahkan pada musang dan tikus, yang berebut rakus. Gundahku sudah khatam. Sekalipun terkadang ada kilas yang membayang.
Hatiku? Tak usah hiraukan. Dustaku tetap bernama dusta. Khianatku tetap bernama khianat. Kecewaku pun tetap bernama kecewa. Bahagiaku tetap bernama bahagia. Tak kan lagi tertukar dan kusembunyikan. Sayup-sayup di kejauhan. Aku hanya pejalan di bumi Tuhan. Oleh panggil yang silih bergantian, kukenakan wajahku yang sudah pulang.
Stabat
16 Desember 2015
Thursday, December 10, 2015
Belajar Tentang Alam
aku anak kijang yang kau ajarkan berlari kencang dari rentetan anak panah;
yang akan datang kukenal sebagai perang. di sabana kau sembunyikan,
berkeliling pula harimau-harimau, mendekat tak kau izinkan.
perutku busung, tak lapar, hanya deru tanyaku tak pernah diberi makan rerumputan hijau.
aku anak ayam yang tertidur dari pandangan elang.
pula suara desis ular yang sering kusangka radio rusak milik pemandu manusia.
dan pada ingar-bingar itulah, aku ketemu lubang persembunyian.
tembus persis di hadapan Tuhan.
"gerbang surga?"
bukan.
mulut buaya.
Medan,
Desember 2015
yang akan datang kukenal sebagai perang. di sabana kau sembunyikan,
berkeliling pula harimau-harimau, mendekat tak kau izinkan.
perutku busung, tak lapar, hanya deru tanyaku tak pernah diberi makan rerumputan hijau.
aku anak ayam yang tertidur dari pandangan elang.
pula suara desis ular yang sering kusangka radio rusak milik pemandu manusia.
dan pada ingar-bingar itulah, aku ketemu lubang persembunyian.
tembus persis di hadapan Tuhan.
"gerbang surga?"
bukan.
mulut buaya.
Medan,
Desember 2015
Monday, December 7, 2015
Nyanyian Kirana
Aduhai. Langit sedang bertabur sonet dan tawamu menyelisir di selasar rumah. Yang kerap merentang kisah, apakah? Kudengar mimpimu adalah tabuh yang tumbuh dari sulur-sulur peluh. Sulamlah lebih riuh! Menjadi berbingkai dan ketat menjuntai. Akan ada aku dan ribuan doa yang kubidik di situ; untukmu.
Kau menanyakan jauh. Aku memastikan utuh. Yang lebih nyeri dari lara bukankah yang tanpa coba? Sebab kata kembara adalah kesima yang menyala-nyala di jantungku. Meski gentar kerap berujar untuk menahanmu lebih genggam.
Sejauh-jauh kau berlayar, sedekat-dekat kau dengan pijar. Kelak tuan, kau akan menyalami alam dengan nyanyian yang dulu kusenandungkan waktu sore di pangkuan. Dadaku adalah lengang yang lebih dari lautan, yang ketika kau kembali pulang, mataku lebih gemericik dari hujan. Sedang pelukku? Berada di barisan terdepan; menampung haru yang lebih semerbak dari gaharu.
Irawati Ningsih
Desember 2015
Desember 2015
Friday, December 4, 2015
hari raya
keripik berdesak-desakan di toples
bau bawang, cabai, merica lengket di baju
kukira parfum
minyak jelantah, minyak zaitun, dan ampas kelapa
demo mengacak-acak wajan punya emak
jangan tanya makanan favoritku
belum seminggu sudah berganti kue nastar
bau bawang, cabai, merica lengket di baju
kukira parfum
minyak jelantah, minyak zaitun, dan ampas kelapa
demo mengacak-acak wajan punya emak
jangan tanya makanan favoritku
belum seminggu sudah berganti kue nastar
Thursday, December 3, 2015
ibu dan anaknya
: ibu
tidak apa-apa, katanya
kemarilah
tidak apa-apa, katanya
pergilah
diantaranya, kau mengusap dada
pedih yang tak luka
kasih yang rela
setahun, dua tahun
dan sudah satu dasawarsa
upahmu penantian
upahnya penyesalan
diantaranya, cium tangan yang terlupakan
medan,
desember 2015
Tarian Sunyi
aku menghadiahimu kaus kaki, belum lagi sepatu. tapi katamu tak perlu. penari bersalaman dengan bumi, jangan diperumit. kemudian kau menari, dari matahari sepenggalan lengan sampai tepat di atas dahi.
pijar liar menggeliat di telapak kakimu, selimut angin pun berderai bergantungan di bawah selendang, dan rambut ikal indah itu berombak panas. ujar kagumku berserakan, tapi puja-puji gerakmu lebih pantas menyembahi alam.
kau lagi menyanyikan salam, dengan tengadah memejam sunyi. tiba-tiba pedis rindu menyibak rerumputan, bersama dersik yang dibawa lautan. tapi hanya dengan harum peluh tari syukurmu nona, kelimpungan aku menghidunya. aduhai.
medan
november 2015
------------------------------------------------------------------
puisi bisa didengarkan;
https://soundcloud.com/kelaspuisi/tarian-sunyi-yourpatheticjoke
------------------------------------------------------------------
puisi bisa didengarkan;
https://soundcloud.com/kelaspuisi/tarian-sunyi-yourpatheticjoke
Khianat
kau jahanam,
menyeruak merusuk seringai lapar di jalanan
aku, makanan kau sajikan tanpa saus dan kecap kedelai
kau, naar paling runcing,
maharaja pantat belanga
aku budak yang dihela didih hutang pengharapan
kenyataan sedemikian zalim
kolusi iblis pemberi restu
mahar bebas pun bersulam mandau
bila aku tahu perkara khianat,
sejak rahim detak kan kupecat
Medan,
November 2015
Bila Musim Berganti
bila musim berganti kulihat senyummu luruh,
disapu-sapukan dingin di antara regang tangan kita
aku beranjak dari bangku taman,
menyisakan ruang untuk kunang berduaan dengan bukan
lalu bisik padanya tapak perjalanan pulang,
kau katakan aku surya yang hilang panas cintanya.
duduk lah kita pada malam di teras menyembah Tuhan,
masing-masing menggemakan bosan hitam arang.
dan pada hari berikutnya, kita bertemu,
dengan jiwa yang bersembunyi di balik tirai sunyi.
di samar matamu, kulihat makna membidik tanya,
sejauh mana ruang di tempatku bermahkota
dan di dasar relungmu, aku, kau ikat bejana dusta
kita bersentuhan, melukisi kuasa guruh,
ada gentar seberat mayapada angan
bersuara lah pisah berlapis janji, bersalaman
dan tentang kita, perlahan-lahan padam.
Medan,
November 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)