hingga kemudian, pertanyaan itu terevisi dengan sendirinya dan terlontar dari kawan saya. “2. apakah manusia tidak boleh berduka?" berita buruknya, saya yang harus menjawab. tapi saya akan berikan dua jawaban common sense.
dengan menggunakan pertanyaan kedua, mereka kebanyakan pasti akan menjawab, tidak boleh berduka. saya gak tahu apa yang terjadi di benak golongan ini. wajah bahagia itu kelihatannya satu, dan mereka belum kenal seribu satu wajah kesedihan. atau mungkin juga mereka menganggap kesedihan adalah wajah buruk dari kehidupan, sehingga sebisa mungkin, sejauh mungkin mereka punya jarak aman dari kesedihan.
major community kedua mungkin akan menjawab half empty half full. boleh, tapi jangan lama-lama. mereka orang baik yang punya empati. hanya saja barangkali mereka belum punya waktu untuk memahami ada jenis kesedihan yang tidak bisa diobati. kalau kalian sempat melihat postingan saya yg lalu tentang “don’t moke a pain that you haven’t endured”, saya berharap kemudian kalian memahami satu hal. serupa kematian, ada juga kesedihan yang tak disertakan obatnya. walau saya sendiri tak begitu yakin jika itu benar-benar tak ada obatnya.
jawaban minoritasnya sudah pasti, boleh. mereka tak lagi sebagai objek penanya, tapi sebagai pelaku utama dalam drama kehidupan mereka masing-masing. saya yakin jumlah mereka cukup banyak, walaupun kemudian alasan mereka variatif. bisa jadi, mereka hanya belum menemukan jalan keluar dari kesedihan. bisa juga mereka hanya terperosok dalam lubang kesedihan. bisa jadi juga mereka terjebak-terlilit-tersangkut atau apapun lah itu namanya oleh kesedihan. mereka itu semua…tolonglah, saya benar-benar meminta tolong. terangilah, ulurkanlah, dan bantulah mereka lepas dari kesedihan itu. kesedihan itu hidup dan bernafas, dan semakin lama ia tumbuh dalam diri seseorang. mereka…
mereka akan menjadi kesedihan itu sendiri. jalan keluar, obat, kesembuhan, keselamatan, bagi mereka adalah kata-kata asing. mereka adalah kekosongan yang tak lagi mengenal antitesisnya. mereka akan menjadi entitas yang tak lagi dapat dipisahkan dari inangnya. bagi kami, kesedihan baru adalah akhir kesedihan lama. kami tak lagi boleh diselamatkan, jika berarti kami harus dibunuh untuk kedua kalinya.
entah bila pun kalian mengerti, semua ini hanya berawal dari kata sederhana. impian.
Stabat, Agustus 2014
No comments:
Post a Comment