Pita merah, panjang terbentang dari tanganku…menuju lingkar lehermu. Mengikatmu, kata orang. Tapi terseret di gersang amarahmu, aku. Yang katanya dulu penuh dengan hijau rerumputan dan bunga-bunga liar.
Dibawah kakimu, terinjak buta mata kananku. Frasa, melihat sebelah mata lengkap sudah. Bukan tajam wajah yang menghujam, yang kau tawarkan lebih besar. Sendu. Air mata yang tervaporasi, merah hitam tatapmu, karat sejarah di ujung pelipisnya, bibir merah yang terkoyak – dan ruang hampa di hatimu menenggelamkanku dalam segala tanpa akhir.
Aku koma. Bahkan disana kau masih berdiri bergetar. Masih dengan tali merah di lehermu, mencambukku, dan ribuan darah segar memandikanku. Ini caramu menyucikanku. Kau tatap langit, sedang kau menggantungiku menuju angka enam. Lalu kita mati bersama. Kau setia. Epilog yang kau sediakan untuk yang mencintaimu.
Disana berdiri, di ujung jalan, dimana waktu terhenti. Kita yang menghentikankannya. Berharap tak ada yang merebut rasa sakit ini.