Tuesday, July 31, 2012

Makam Hati


tak ada peti mati, seperti dimakan jam batu itu. dan jam itu sudah berhenti berdetak.

tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.

tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.

tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.

pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.

sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.

jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.

dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.

trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.

aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...

ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??

Friday, July 27, 2012

Meredup

nun dikejauhan bulan pualam
pernah kutimbun beberapa dosa kelam
satu-satu ia berterbangan
menuju hati yang tak setimbang

perih ini sesaat menjadi tuhan
meniupkan nafas pada kenangan
aku berhenti dipersimpangan
aku lupa siapa cintaku gerangan

bawa aku berjalan pelan
aku sedang dirundung kesedihan
tuntunkan aku pulang
menuju rumah yang terang

bukakan pintumu sayang
aku didepan menanti istirahat panjang
bukakan segera oh sayang
kafankan aku dengan lampu temaram



Friday, July 20, 2012

Luluhan

kupangku pudar lalu lantak dunia
kau pacu langkah acuh sekali bicara
kain hitam selendangkan kita
kisah-kisah ini, jangan lagi pernah dibuka

senandungkan aku mantra peniada
sebab rupamu bukan nisan berduka
sejauh mana ratapan surga, duhai adinda
sebelum merah-merah di pagi buta

jelaga hati dikuliti ragu
jenuh berdamai, kau pintakan seteru
jerangkan benci dalam priuk pilu
jerit-jerit bambu, akhirnya pun berdesing mesiu