Tiang-tiang penyangga rindumu beranjak ke dasawarsanya.
Tak ada harum rapuh meskipun lembab dan risik angin
sesekali menyelinap menyetir gigil. Dan sarang burung
diatas sana telah berkali-kali berganti generasi dengan
bayi-bayi yang mencicitkan lapar, serta bingar.
Diatas gundukan lantai tanah berserakan lembaran ingatan,
itupun ada yang sudah menjadi remah bekas dimakan tikus tanah.
Berserakan pula hiasan gelang, cincin, kalung yang dulu
acapkali menjadi sesembahanmu. Sesaji lipstik dan janji,
inai dan segenggam tanda janji, tapi kini di hak milik debu
dan karat-karat hitam.
Aku mendengar dulu istana yang dibangun karena rajanya
jatuh cinta, dipugarnya beragam warna emas perak dan berlian
segala rupa. Ditanaknya nasi dengan campuran liur anak-anak
miskin. Dinyalakannya dupa, dan aku tahu segala kemewahan
ini atas kesederhanaan yang ditelan duka.
Dan seiring mengganasnya waktu, yang tersisa hanya cerita.
Dan kenangan ditimbun agar manusia membangun sejarahmu
yang baru.
Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Showing posts with label seventhemes. Show all posts
Showing posts with label seventhemes. Show all posts
Wednesday, September 30, 2015
Friday, September 25, 2015
Hujan [4]
kau takkan pernah tahu bagaimana menggigilnya
ujung jari kaki yang terbenam di dalam sepatu saat hari hujan.
tapi bila kukisahkan padamu tentang perjalanan menuju persinggahan ini,
benar-benar bukan suatu perkara bahkan jika seluruh tubuhku demam.
tidak ada jejak untuk kau baca
kecuali kau berniat meraba lumpur dari deras yang tak kunjung reda.
sebab bila sesampainya aku dihadapmu,
aku tahu segala resahku telah bersih tertinggal di genangan-genangan;
hingga kemarau tahun depan tak ada yang perlu dikenang.
sebab bila sesampainya aku dihadapmu,
yang perlu kau tahu kusisakan pelangi dari badai yang kutelan sendiri.
sebab bila sesampainya aku di pusaramu,
hanya ada kelopak segar dan basah;
dan itu bukan airmataku.
Stabat, September 2015
Saturday, August 16, 2014
Merayakan Kesedihan
Kematian [7]
Sudut Pandang Orang Pertama
Jika ada hal yang paling aku ingini sebagai penulis, ialah merayakan kesedihan. Aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya bagaimana keindahan merayakannya. Tapi hari ini aku datang dan menemukan.
Kami berdiri di ruang terbuka. Tidak di Taman Waktu, tidak juga di Istana Ingatan. Kami berdiri di dekat tebing, di timurnya terbentang padang rumput hijau dan di barat jauh di bawah ombak meraung berlipat-lipat.
An dan Rin saling bertatapan. Mereka kelihatannya bingung. Tentu saja. Aku mendekati An, Airlangga Kelana, lalu memeluknya. Dia diam saja dan dia telah mengerti. An selalu hidup atas ketidakmampuanku melawan dunia. Sekarang, setidaknya aku telah memulai untuk melawannya sendiri. Untuk itu istirahatlah, An.
Rin hanya bisa kupandang lama, walaupun pada akhirnya dia terjatuh dan memeluk lututku yang sudah tak lagi berasa. Rin, Airin Yuuji, selalu hidup untuk membenci. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memenuhi daftar orang-orang yang ingin dihapusnya. Tapi belajarlah untuk menjadi pemaaf Rin, karena mulai sekarang aku pun akan belajar meminta maaf. Engkau lelah, beristirahatlah Rin.
Lalu Manja. Aku hanya bisa menggendongnya, memeluknya rapat-rapat. Manja Citra Kelana. Si kecil yang memiliki mata yang aku sendiripun kiranya tak mampu menatapnya. Di antara An, Rin dan Manja, Manjalah yang memiliki aroma kesedihan yang paling harum dan luka yang paling ranum. Sebab itu, tak heran Manja langsung mengenaliku. Karena saat aku menggendongnya, justru ia yang berujar sambil mengusap rambutku, "tak apa.. tak apa.. tuan akan baik-baik saja." Terima kasih An kecil.
Mereka adalah nafas yang menyambungkan malam dengan siang, kenyataan dan impian, kesedihan dan jembatan kebahagiaan. Walaupun kemudian, kita tak bisa saling mengantar pada ujung jalan. Terima kasih, Rumah Hitam Putih.
Benamkan matahari, matikan lampu, hidupkan lilin. Mari kita rayakan...
Stabat, 15 Agustus
Stabat, 15 Agustus
Absorbsi
Makam [7]
takdir menumbuhkan impian dibalik cangkang
lalu mengoleksi engkau dengan pijar kunang-kunang
Stabat, 14 Agustus
takdir menumbuhkan impian dibalik cangkang
lalu mengoleksi engkau dengan pijar kunang-kunang
tapi mereka melapuk, dibawah naung yang tak lagi berbahasa
tapi mereka layu, seperti sebongkah es dijenguki saga
lihatlah engkau lelah serta bayangmu pun musnah
bila sesuatu dalam lacimu adalah kunci
tidakkah engkau rapatkan dan sunyikan dalam dada
membiarkan rumah birumu terbuka, dan seolah memanggil suci
kain-kain putih berjuntai tinggi
lalu meraba cincin hitam disekitar mata
oleh seorang yang menyematkan jiwa diantaranya
oleh malam yang kian meresap
kini tetes airmatanya pun berubah gelap
lihatlah engkau lelah serta bayangmu pun musnah
bila sesuatu dalam lacimu adalah kunci
tidakkah engkau rapatkan dan sunyikan dalam dada
membiarkan rumah birumu terbuka, dan seolah memanggil suci
kain-kain putih berjuntai tinggi
lalu meraba cincin hitam disekitar mata
oleh seorang yang menyematkan jiwa diantaranya
oleh malam yang kian meresap
kini tetes airmatanya pun berubah gelap
Stabat, 14 Agustus
Friday, August 15, 2014
Selamat Malam...
Impian [7]
Kita tertidur.
Apa yang sedang kau bicarakan? Aku menghirup teh manisku pelan. Kau masih lanjut bercerita. Di antara lalu lalang pelayan di jam makan siang. Kau berbicara tentang hari-harimu yang sibuk. Kau bertanya, apa yang aku lakukan seminggu ini? Aku mendesah. Lalu menatap sisa tehku yang pekat. Lihat, ada beberapa ampas halus. Aku memijat keningku. Kukatakan, pikiran terlalu kasar untuk lewat saringan di kepalaku. Kau hanya menyunggingkan senyum kecil. Dari tasmu yang selalu kebesaran itu, kau mengeluarkan sebuah buku. Buku berwarna biru. Judulnya dicetak dengan warna emas. Dan ada namamu. Berikutnya kau berkata, "yaa ngapain disaring.."
Setelahnya, kita menghabiskan waktu berdiam. Kau mengutak-atik ponselmu, seolah ada yang penting. Aku tiduran dengan tangan terlipat, seolah berpikir. Dan buku biru di tengah meja, seolah tak mengapa.
Jemputanmu datang. Kau mengemasi barang-barangmu. Kau mengambil tisu, mencatatkan sesuatu. Kemudian giliranku. Mencatat sesuatu. Lalu tisu ditenggelamkan dalam mangkuk cuci tangan. Dua orang asing itu kemudian berdiri. Bersalaman. Saling mengucapkan perpisahan.
Aku terbangun dengan tengkuk yang penuh dengan asam. Ah, masih jam tiga.
Selamat pagi..
.. siapapun itu.
Stabat. 24 Juli
Stabat. 24 Juli
Gerbong Usang
Makam [6]
belumkah engkau lelah berjalan
berkejaran dengan bayangan
dengan lengan berkait awan
akankah engkau urung menjadi hujan?
bila ada saja secuil kemungkinan
istirahatlah dipangkuan
pada gerbong usang termakan zaman
padaku saja, engkau kereta diakhir penantian
Stabat, 11 Agustus
belumkah engkau lelah berjalan
berkejaran dengan bayangan
dengan lengan berkait awan
akankah engkau urung menjadi hujan?
bila ada saja secuil kemungkinan
istirahatlah dipangkuan
pada gerbong usang termakan zaman
padaku saja, engkau kereta diakhir penantian
Stabat, 11 Agustus
Thursday, July 24, 2014
Friday, July 18, 2014
Sajak Hujan
Hujan [3]
bacalah ini, bacalah sajak tentang hujan
yang mematikan percik api di hati puan
dan segelintir cemburu berarak di awan
lalu menjadi petir, menyambar ketakutan
pujilah ini, pujian air mata
yang menerobos benteng rasa
bila di hilir tenang bersemayam
kini diundangkan tabir tenggelam
panggullah diri, panggullah keselamatan
pasang di kanan kiri menggenggam tangan
jika raga jiwamu berderit retak
waktu pun sungkan lanjut bergerak
cepatlah kini, cepatlah engkau terang
bah sudah setinggi tugu selamat datang
tak ada tanda di empat penjuru palang
diliput pasrah, engkau tahu tlah ditelan jurang
bacalah ini, bacalah sajak tentang hujan
yang mematikan percik api di hati puan
dan segelintir cemburu berarak di awan
lalu menjadi petir, menyambar ketakutan
pujilah ini, pujian air mata
yang menerobos benteng rasa
bila di hilir tenang bersemayam
kini diundangkan tabir tenggelam
panggullah diri, panggullah keselamatan
pasang di kanan kiri menggenggam tangan
jika raga jiwamu berderit retak
waktu pun sungkan lanjut bergerak
cepatlah kini, cepatlah engkau terang
bah sudah setinggi tugu selamat datang
tak ada tanda di empat penjuru palang
diliput pasrah, engkau tahu tlah ditelan jurang
Sunday, July 13, 2014
Bersama Rindu, Ia Berkecambah
Makam [4]
yang mengalir dibalik dada,
lalu menetes-netes dari jemari
selebihnya menguap kembali ke ujung pelipis mata.
simpan sebagian, kembang pelayang
yang hamparannya sepanjang mata memandang,
menjangkau pintu-pintu langit,
selebihnya tiup agar kembali terbang pada bumi.
lembayung jatuh, dimana disembunyikan
cecapku yang tak lagi punya rasa.
ada alasan untuk lari,
tapi dunia memilihmu untuk terendam.
memijar tanah kering dan menghauskan awan
yang pelan-pelan menghilang.
agar kau punya hak untuk menjadi ibu
atas kesah duniaku yang tak berbalas.
bila nanti kesanggupanku terbaring
diatas bekas kerambamu,
maukah menungguku di gerbang tuhan?
Wednesday, June 25, 2014
Gerhana
Matahari [4]
Hari ini aku lebih panik. Demamnya begitu tinggi. Dia juga tak menghabiskan minumnya. Sehari ini aku tidak pulang. Ada yang lebih penting
Hari ini aku lebih panik. Demamnya begitu tinggi. Dia juga tak menghabiskan minumnya. Sehari ini aku tidak pulang. Ada yang lebih penting
Bagaimana cara agar dia berhenti menangis?
Dia sudah pandai bicara. Tak henti-hentinya berceloteh dengan siapa saja. Dengan cermin sekalipun. Dia memanggilku...
Aku mengingatnya.
Di meja makan, dengan baju barunya. Tapi dia tak mau pergi jika tak diantar. Terpaksa rencanaku batal.
Katamu, "sabar..."
Wajahnya sembab. Bertengkar untuk kesekian kali dengan temannya. Aku menepuk pundaknya. Dia semakin marah.
Aku bisa apa?
Ada surat rahasia di balik bantalnya. Pantas saja, dia sering melamun.
Ada hal-hal yang sekalipun kau usahakan, tetap harus kau telan sendirian.
Dia ingin keluar rumah. Aku menamparnya. Dia tetap keluar rumah. Aku gagal.
Aku mengalah.
Sunday, June 22, 2014
Istana Ingatan
Impian [6]
bawa kaki yang bosan didekap, sekali ini hentakkan
genggam tangannya, berlomba lah untuk mabuk
siapa yang menelan kepahitan paling banyak; jadikan raja.
tak ada lampu kerlap-kerlip, hanya mata diambang lelahnya
dihadapkan pada wajah-wajah yang kau sukai
dan semua memeluk, menarik, menari diatas kesadaran rapuh
sudah kau kecap setiap getir, lalu hantarkan pada setiap bibir
confetti dari potongan boneka-boneka buangan, pecahan kelereng,
lilitan renda-renda baju anak perempuan; berjatuhan dari langit
kita mandikan, menyucikan diri lewat goresan-goresan kesedihan
telan sebagian, tubuh kan semerbak kerajaan tuhan
belum lagi pagi, mual mengendap dari pundak
diantara serakan puluhan mata, potongan jari, dan album abu-abu
dua orang dementia lelah berpesta, terkapar ditengah
wajah mereka sama.
Saturday, June 21, 2014
Kenangan [5]
21 April 2000
Bapak libur hari ini. Tidak ngelaut.
Ibu bilang ada orang gila di sekitar pantai. Dia melubangi kapal-kapal.
Maghribnya aku lari, kahfi-ku tidak selesai, dan bapak menamparku.
Di anjungan ada laki-laki terisak sendirian. Dia memegang kertas bukan palu atau semacamnya.
Aku mengendap, kuambil batu setengah kepalan tangan. Kulempar. Lalu aku berteriak "ada orangg gilllllaaaa...." sambil ketakutan.
8 Juni 2007
Hasil raporku jelek. Bulan depan aku tinggal di kota.
18 Agustus 2013
Rasanya sudah lama gak ikutan upacara bendera.
Hari ini aku main ke kampung kawan. Iseng-iseng ikutan upacara sekolah.
Hari ini aku main ke kampung kawan. Iseng-iseng ikutan upacara sekolah.
Hehe, bener kan? Kakiku kesemutan.
15 Agustus 2014
Rupanya dia sekampung dengan kawanku.
Katanya sih cantik. Aku cuma dua kali lihat dia; punggungnya. Dua kali di perpus. Dengan tumpukan buku.
Seingatku ada tafsir Qur'an, alKitab, majalah fashion, komik.
Dia jurusan biologi. Namanya...
18 Agustus 2014
Pagi ini aku terbangun di rumah sakit. Hah?!
Katanya sudah tiga hari aku gak sadarkan diri. Katanya keracunan makanan.
Pulang ke kosan, kotak indomieku lenyap.
Sore ini, aku pergi ke dermaga lagi.
Bau ikan. Dua-tiga nelayan sedang mempersiapkan bau yang lebih segar besok.
Aku pulang sekitar lima belas menit kemudian.
19 Maret 2021
Aku datang lagi.
Hanya memutar. Tidak jadi.
Kulihat kau sudah berdiri di anjungan.
23 April 2021
Mungkin itu cinta pertamaku. Tapi aku hanya mengenali siluetnya dari kejauhan.
30 Mei 2030
Kami akan berziarah berdua saja besok. Kasihan dia belum pernah ketemu cucunya.
31 Mei 2030
Sedang tidak sehat.
Kemarin ada makam baru dekat kuburan bapak dan emak. Aku sedikit bercanda dengan jagoanku. Kubilang, "coba tebak ini adik ayah atau kakak ayah?"
Haha, selera humorku memang selalu salah tempat. "...nanti nama ayah juga 'bin Supanji'"
Di pahatnya tertulis jelas namanya. Namany
16 Agustus 2030
Hello world!
Aku gak suka nulis sih. Ini bukunya tebel banget. Agak bau ikan.
Kata ayah gak perlu sering-sering nulis.
Lagian lebih asik main musik.
Notes by : Airlangga Kelana Respatih Putra
Sunday, March 23, 2014
Kubur Para Pelupa
Makam [3]
hari ini, dari tempat kuberdiri,
hari ini, dari tempat kuberdiri,
lautan ikhlas, dan pulau untuk para pelupa
ikhlaskanlah..
begitu katamu.
entah kapan, mereka bilang itu juga ukuran tuhan
aku mengangguk pelan
masih berdiri di anjungan.
dengan sakit yang menggigit,
disitu.
mereka bilang aku harus menemukan maknanya,
maka aku melompat. menuju padanya, "pulau para pelupa."
airmata telah samar bersama ombak yang menampar-nampar
perlukah bagaimana kujelaskan luka disentuh sayang garam lautan
pada bibir koyak yang tergigit, kurekamkan.
jadi sudahkah kutemukan?
belum.
aku menggigil. sedihku beku.
ikhlas...
...sudah tak perlu.
Stabat, 23 Maret
Wednesday, March 5, 2014
Apakah Kita Memiliki Keberanian Untuk Menghilang
Impian [5]
siapa gerangan tangan ini akan menjabat, dengan setangkup emosi seperti apakah?
adalah engkau, yang belum kutemukan
sedang melirik-lirik di depan etalase toko
bergumam, apakah mereka menjual hiasan untuk hati yang rusak.
tidak? baiklah.
lalu lonceng pintu toko itu bergemerincing.
adalah aku yang keluar sambil mendesah.
tak memperhatikanmu yang terhenyak; oleh lelaki berwajah lusuh.
apakah dia baik-baik saja. kau bergumam.
tidak? baiklah.
saat itu, aku tidak ingin hari cerah. tak jua ingin ada awan penyimbah.
karena di bilik perpustakaan kota, engkau sibuk membolak-balik buku.
mencari kapan dan dimana; sepetak mimpi yang bisa digadai.
siapapun bolehlah.
lalu aku sibuk menandai koran, mencari bagaimana dan seperti apa
mengganti jarum detik yang patah.
hingga sang penjaga setengah berteriak setengah berbisik, berisik!
di tanganku, tertanggal sekian bulan September, tertoreh.
engkau menatapku lagi.
apakah dia baik-baik saja. kau bergumam.
aku tidak lagi tenang. tidak sedari tadi. dengan sepatu sengaja kuderap menuju mejamu.
dengan masih tidak tenang. ku angkat salah satu buku di hadapmu.
aku menyentakmu, "aku tidak bisa baik-baik saja! dan ini jarum detik yang patah.
berbentuk hati. bisa kau pakai untuk menipu siapapun yang telah meminjam kepunyaanmu yang rusak."
engkau tersenyum. menggamitku, kedua lengan. bersama detik dan hujan.
dan kita raib tertelan. oleh jenis waktu yang menyelamatkan.
Thursday, January 2, 2014
Kematian [6]
apa yang tertinggal
dari bilik-bilik rasa
kasihan kecuali butir-butir
kebutaan. apa
yang ternanti di sudut-sudut lembab pias
kecuali kabut dan lumut.
sepilin raga diam di pelataran wahyu, bila harap bisa membangunkannya,
entah pula ia akan segera
terlupa. bila segalanya harus kalah oleh waktu, sepantasnya pun
ia sudah binasa menjadi abu.
lalu kusayat nadi,
kucarikan aliran yang tak pernah sempat terhubung
kukais-kais segala tempat diatasmu pernah bernaung,
hanya tuk menemukan sekeping tunas yang barangkali tertinggal.
tapi biru jasad ini yang kupunya. tinggal ini yang kupunya. yang tak berharga.
hentak dan bentak tak jua membangunkan,
dari rantai kemiskinan jiwa;
yang sempat memperlambat masa yang tak mungkin lagi bisa ku erat.
kau pekat;
semakin pekat menghilangkan asa nan kian meredup
melihatmu,
hanya meninggalkan pahit dan keenggananku untuk hidup.
bagaimana tentang janji?
cerita yang barangkali usai
atau mungkin
lentera itu masih
bernyawa
itupun bila kau ingin
sesaat, dan pasti bila terjadi itupun
terlambat.
Thursday, December 12, 2013
Kenangan [4]
sejarah hidupmu tidak berasal dari satu benang merah. mungkin saja ia pernah berbelit dengan benang orang lain dan menjadi hidupmu. mungkin pula sebenarnya benang hidupmu telah lama terputus dan kau hanya melanjutkan kenangan orang lain. bagiku, mungkin saja.
kau mungkin ingin mengulang beberapa rekaman, tentang apa-apa saja cita-cita yang pernah kau banggakan. polisi? dokter? ilmuwan? guru? pilot? dari rekaman itu, apa kau menemukan bagian hitam seperti kusam dimakan malam? bagimu mungkin tak mengapa. barangkali itu hanyalah jejak-jejak tak signifikan dalam kehidupan. bagiku, itu ketakutan.
masa depan terdiri dari mozaik-mozaik yang belum kita temukan. kau akan temukan di tangan sahabat lamamu-sahabat terbaikmu yang akan mengkhianatimu dalam beberapa tahun kedepan. kau akan temukan di mata seseorang yang bukan siapa-siapa hari ini, tapi di masa depan mata itu akan mengalirkan ketulusan yang tak mungkin bisa dibeli. kau akan temukan di kaki seorang yang telah kau bantu berdiri suatu kali dengan aluran tanganmu, dan dia akan muncul lagi menghamparkan duri lewat jempol kakinya. kau akan temukan di rambut orang tuamu yang memutih dan bersyukur karena pernah tak sengaja menelan rambut dalam mangkuk bubur yang mereka sediakan.
bagiku, sama saja. karena sejarah bagiku adalah masa depan. masa depanku sudah menjadi sejarah. masa depan yang terdiri dari pecahan masa lalu yang kukumpulkan sekuat tenaga. bercampur bau darah entah milik siapa. dalam ikatan benang entah darimana.
Tuesday, November 12, 2013
Impian [4]
kukira ia telah memenuhi udara. kata. lebih dari yang bisa kita bisa. biarlah sekarang hening datang. menggantikan bahasa dalam batas yang nada-nada terlalu lelah untuk dibaca. biarlah hening. biar ia menerjemahkan segalanya dalam syahdu alam. biarlah tenang. lalu kita akan bersama menggenggam bara dingin. membiarkan hitam membercak ditangan. dan hening akan pecah, oleh tawa.
seperti ini itu kehidupan, seperti kita yang senang mereka-reka. kita bersama udara dan langit tak saling mengetahui. kita berbahasa dengan perhatian yang tak putus kecuali saling mengikat. dalam nafas, dalam udara yang bertukar tinggi dan rendahnya. mereka tak tahu. tak tahu kita mencintai senja. dan semena-menanya malam menggantikan. karena sayang dan kita berjatuhan.
panggil aku. dalam puisimu. dalam indah dalam sembunyi. dalam ingin yang sejuta kali ingin kutepati. tapi tak mungkin. jika saja dua bisa mengalirkan tak hingga, maka dua puluh enam akan mengucapkannya tak pernah diam. kau tak sendiri. kau tak sendiri. kita tak sendiri.
patahkan sayapmu satu. kutukar dengan insangku. lewat keindahanmu dan keindahan yang seharusnya bisa kau nikmati, kutukar dengan setengah hidupku. aku tetap tak bisa terbang bersama, begitu jua kau. tapi bila kau bisa mengintip dibalik lemah dunia yang kelam. aku sedang mengamati terang. dan bila kita telah sama-sama menyerah pada dunia. setidaknya, kalbu, kalbuku. telah pernah menyesap teh hangat diteras senja.
Tuesday, October 29, 2013
Matahari [3]
di matamu, kota tuamu hidup dengan santai
merajut pelangi berlekuk-lekuk, diatas dan bawah kelopak mata
sepertinya aku juga ingin mencari rumah
lalu berlari-lari di pagi hari
mencari-cari papan pengumuman
"dicari: pengemban kebahagiaan"
lalu berkali-kali ditolak, dengan senyum kelegaan
bila berlalu lalang aku di dalam sana
kutemukan ditengah taman yang penuh dengan tawa ramah keluarga
sekelompok perajut manula
keriput mereka berjumlah sama, tapi kebahagiaan mereka seperti rima
seperti tangga nada, berbeda, berwarna, dan simpul-simpulnya penuh makna
pantas saja, dikenyataan kau sedang tersenyum manja
dan aku masih berkejaran, dengan bus yang sudah beranjak beberapa detik saja
aku tebak, kau sedang berdegup. segalanya terlontar
anak-anak penerbang layang menarik jemari-jemariku
kami berlari mengejar entah apa; mengapa?
ternyata ada matahari tersangkut, terjepit diantara dua awan jahil.
Matahari [2]
tak ada yang terlalu senja
untuk duduk-duduk dihamparan rumput
dibelaian angin sore yang lembut
disentuh oleh cahaya
yang bersikut-sikutan bersandar di kulitmu
dan sepertinya tidak pernah berniat pergi menjauh
ini matahari dari taman waktu
berpindah dari dimensi yang poranda
ternyata satu bahagiannya kembali padamu
lalu matahari ini duduk berpasangan
bersama kedua matamu yang tak henti memancarkan sinar
dan aku adalah siang.
tak pernah puas dengan terang. dan aku buncah
seperti buih-buih gelembung pecah
ditiup ria oleh anak-anak hikmah
Lilin
Matahari [1]
di tanganku, segalanya seperti lilin
dan bila kuperhatikan sekeliling, ada bias kesepian
jatuh ketitik-titik buta, tepat dibelakang mata
aku enggan untuk sadar, sekadar memandang remah tak bertuan
kepingan sisa saksi sejarah ia dihancurkan, keramaian
maka ini kutulisankan
bagaimana engkau pelan-pelan menghilang
menerobos genggam dan perhatian, mungkin juga ingin pulang
maka, kau dihantarkan
oleh panas ketakutan, walau ia menguap sekejap
menjemput kasih yang rapuh, terebut kejam; malam
seperti itu
kau dipikirku
lalu ini tentang aku
Subscribe to:
Posts (Atom)



