Wednesday, June 25, 2014

Gerhana

Matahari [4]

Hari ini aku lebih panik. Demamnya begitu tinggi. Dia juga tak menghabiskan minumnya. Sehari ini aku tidak pulang. Ada yang lebih penting
Bagaimana cara agar dia berhenti menangis?
Dia sudah pandai bicara. Tak henti-hentinya berceloteh dengan siapa saja. Dengan cermin sekalipun. Dia memanggilku...
Aku mengingatnya.
Di meja makan, dengan baju barunya. Tapi dia tak mau pergi jika tak diantar. Terpaksa rencanaku batal.
Katamu, "sabar..."
Wajahnya sembab. Bertengkar untuk kesekian kali dengan temannya. Aku menepuk pundaknya. Dia semakin marah.
Aku bisa apa?
Ada surat rahasia di balik bantalnya. Pantas saja, dia sering melamun.
Ada hal-hal yang sekalipun kau usahakan, tetap harus kau telan sendirian.
Dia ingin keluar rumah. Aku menamparnya. Dia tetap keluar rumah. Aku gagal.
Aku mengalah.

Yang Kau Simpan, Yang Kau Tanam

seharusnya aku bisa menjadi gelombang suaramu
luapan emosi mental yang silih berganti
menyusuri tumpahan kesunyian malam,

seharusnya aku bermegah-megahan di dalam dadamu
dengan setumpuk sesak tak tuntas
sebagai jerit dan isak yang mengendap karat

dan memang aku tumbuh pekat
lumut di liang benak, lendir di rongga hati
kapal benci dan naluri ingin mati
kami ingin pecah ruah.

sebut namanya... 
kami sedang santai dan bosan.

Sunday, June 22, 2014

Istana Ingatan

Impian [6]

kemarilah, berdecak kagum dengannya
bawa kaki yang bosan didekap, sekali ini hentakkan
genggam tangannya, berlomba lah untuk mabuk
siapa yang menelan kepahitan paling banyak; jadikan raja.

tak ada lampu kerlap-kerlip, hanya mata diambang lelahnya
dihadapkan pada wajah-wajah yang kau sukai
dan semua memeluk, menarik, menari diatas kesadaran rapuh
sudah kau kecap setiap getir, lalu hantarkan pada setiap bibir

confetti dari potongan boneka-boneka buangan, pecahan kelereng, 
lilitan renda-renda baju anak perempuan; berjatuhan dari langit
kita mandikan, menyucikan diri lewat goresan-goresan kesedihan
telan sebagian, tubuh kan semerbak kerajaan tuhan

belum lagi pagi, mual mengendap dari pundak
diantara serakan puluhan mata, potongan jari, dan album abu-abu
dua orang dementia lelah berpesta, terkapar ditengah
wajah mereka sama.

Saturday, June 21, 2014

(Rin) : Anak Tangga

"ngegambar anak tangga lagi?"

"hahaha, excuse me?"

Dia pikir itu gambar anak tangga. Buat gue yang seumur hidup nilai kesenian paling tinggi cuma tujuh, dilematis harus ngerasa tersanjung atau terhina. well, the latter was joke, of course.

then, he's babbling a you-know-how-it-will-go absurd conversation...

"loe yang mana, hidup yang turun nanjak nanjak atau lurus belok-belok?", An mulai ngelantur.
"i prefer turun nanjak-nanjak."
"nah pas!"
"sigh. mata gue gak bisa ngeliat yang frame ratenya rendah tauk.."
"oh ya. tapi pilihan loe gak jelek sih. siapapun tahu kalo naik gunung itu capekan ngedaki daripada turun. jadi, sekarang lagi turun apa nanjak?"
cyclic question, cih.
"gak dua-duanya, kan." senyum sinisnya keluar.
curse you, An.
"you and your own battlefield. jadi, kap.."
PLAK!
"gimme your keys, and don't you dare go back to your home. Manja staying with me tonight."
"EEhhhh??!! S.s..sorry."
"It's alright. daah."

Medan perang itu cuma imej-negatif. An lah yang mencucinya sedemikian rupa, hingga terlihat jelas warnanya, siapa berperang dengan siapa. Setiap pijakan di koridor, suara manusia berbicara, bertengkar, semuanya masuk kesana. Meng-audio visualisasi setiap imaji yang paling kubenci. Wajah dua orang itu. Wajah paling keras.

Ah iya, kelupaan. Aku berbalik lagi ke arah An.
"Hey, itu bukan anak tangga loh." aku menunjuk anak tangga yang terus digambar An.
untuk kedua, ketiga, keempat dan seterusnya memang anak tangga sih. haha
"Itu gambar anak panah. hahaha."
An terpelongo. Aku melenggang pergi. 




(Manja) : Bahasa Inggris

An dan kak Rin suka ngomong bahasa Inggris. aku gak ngerti. tapi aku suka. kemarin teman-teman tepuk tangan waktu kubilang cita-citaku berbahasa inggris. BuBu tertawa terus bilang haw ayu. aku gak ngerti. tapi ikutan tepuk tangan.
waktu di rumah, aku bilang haw yu. An, haw ayu. An tertawa, trus nulis "how are you".
"An, haw ayu."
em pein.
"Manja, haw ayu."
em pein.
=====
tapi em pein An dan em pein kak Rin beda.
kak Rin, haw ayu?
kak Rin ketawa.
waktu An yang tanya.
Rin, haw ayu?
em inpein. kak Rin ketawa lagi.


  

(Manja) : BuBu

namanya Jambu. jelas cuma aku yang memanggilnya begitu. alasannya? karena di badannya, dari dagu sampai lengannya, tumbuh bulu-bulu halus seperti bunga jambu. bila ia tertawa, bulu-bulu pirang itu berguguran. banyak sekali. tapi cuma aku yang peduli.
BuBu suka sekali tertawa. dia menertawai banyak hal. dari buku, orang, sawah, bangunan, keranjang sampah, dan lain-lain. aku juga suka tertawa. menertawai tawa bubu. dia tahu. tapi tak peduli.
di kelas kami juga tertawa. bubu tidak bisa menulis huruf 'x. 
Saat pelajaran berhitung.
"Nja..nih baca! berapa!"
"dua kali d.."
"salah!"
"ha?"
"dua digunting dua, empat! haha"
dia tertawa. aku tertawa. tidak lagi di kelas. kami tertawa disetrap berdua.
====
An cuma bisa senyum kecil pertama kali aku bercerita tentang bubu. cuma kak Rin yang ikut tertawa, jadi aku cuma cerita sama kak Rin. kalau gak salah kak Rin bilang "untung gak dipanggil BiBi atau NoNo ya. hehe". kak Rin keren, padahal aku belum cerita kalau An-nya BuBu juga suka bilang "no no". hehe.



Kenangan [5]

21 April 2000

Bapak libur hari ini. Tidak ngelaut.
Ibu bilang ada orang gila di sekitar pantai. Dia melubangi kapal-kapal.

Maghribnya aku lari, kahfi-ku tidak selesai, dan bapak menamparku.

Di anjungan ada laki-laki terisak sendirian. Dia memegang kertas bukan palu atau semacamnya.
Aku mengendap, kuambil batu setengah kepalan tangan. Kulempar. Lalu aku berteriak "ada orangg gilllllaaaa...." sambil ketakutan.

8 Juni 2007

Hasil raporku jelek. Bulan depan aku tinggal di kota.

18 Agustus 2013

Rasanya sudah lama gak ikutan upacara bendera.
Hari ini aku main ke kampung kawan. Iseng-iseng ikutan upacara sekolah.

Hehe, bener kan? Kakiku kesemutan.

15 Agustus 2014

Rupanya dia sekampung dengan kawanku.
Katanya sih cantik. Aku cuma dua kali lihat dia; punggungnya. Dua kali di perpus. Dengan tumpukan buku.
Seingatku ada tafsir Qur'an, alKitab, majalah fashion, komik.

Dia jurusan biologi. Namanya... 

18 Agustus 2014

Pagi ini aku terbangun di rumah sakit. Hah?!
Katanya sudah tiga hari aku gak sadarkan diri. Katanya keracunan makanan.

Pulang ke kosan, kotak indomieku lenyap.

12 Maret 2021

Sore ini, aku pergi ke dermaga lagi.
Bau ikan. Dua-tiga nelayan sedang mempersiapkan bau yang lebih segar besok.
Aku pulang sekitar lima belas menit kemudian.

19 Maret 2021

Aku datang lagi.
Hanya memutar. Tidak jadi.
Kulihat kau sudah berdiri di anjungan.

23 April 2021

Mungkin itu cinta pertamaku. Tapi aku hanya mengenali siluetnya dari kejauhan.

30 Mei 2030

Kami akan berziarah berdua saja besok. Kasihan dia belum pernah ketemu cucunya.

31 Mei 2030

Sedang tidak sehat.

Kemarin ada makam baru dekat kuburan bapak dan emak. Aku sedikit bercanda dengan jagoanku. Kubilang, "coba tebak ini adik ayah atau kakak ayah?" 
Haha, selera humorku memang selalu salah tempat. "...nanti nama ayah juga 'bin Supanji'"
Di pahatnya tertulis jelas namanya. Namany

16 Agustus 2030

Hello world!

Aku gak suka nulis sih. Ini bukunya tebel banget. Agak bau ikan.
Kata ayah gak perlu sering-sering nulis.
Lagian lebih asik main musik.


Notes by : Airlangga Kelana Respatih Putra

Friday, June 20, 2014

Taman Waktu, Hari Ini...

gadis kecil itu sedang menyibak-nyibak dedaunan basah. hari ini hujan. aku tidak sadar kapan. kapan? ah itu tidak penting. tiba-tiba saja dia sudah berlarian. meninggalkan rumah biru keperakan tergenang.
aku duduk tenang, sebelah tangan memegang pensil, sebelah lagi rautan. dan tiba-tiba dia menyodorkan sehelai daun. 
"ya. kenapa?"
aku tidak berbicara padanya. aku berbicara pada matahari yang masih menggantung.
"udah gak bisa."
dia kemudian duduk di samping, paling ujung dari bangku. menokok-nokok jam mati itu. aku kemudian bercakap-cakap dengan angin.
"gak bisa..."
"udah habis..."
"..kan udah kemarin."
udaranya begitu lembab.
"dasar gak berguna," sekarang aku bicara dengan matahari.
angin menderu itu datang lagi, meninggalkan pola daun yang digodanya. seperti kemarin. seperti kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarin kemarinnya lagi. kemarin? ah, ini juga tidak penting.
"aahhh, jam sembilan lewat empat dua..."
suara asing.
aku menoleh, dia menoleh. aku menatap jam itu. memastikan.
"bener kan?"
suara asing lagi.