Tuesday, October 29, 2013

Matahari [3]

di matamu, kota tuamu hidup dengan santai
merajut pelangi berlekuk-lekuk, diatas dan bawah kelopak mata
sepertinya aku juga ingin mencari rumah
lalu berlari-lari di pagi hari
mencari-cari papan pengumuman
"dicari: pengemban kebahagiaan"
lalu berkali-kali ditolak, dengan senyum kelegaan

bila berlalu lalang aku di dalam sana
kutemukan ditengah taman yang penuh dengan tawa ramah keluarga
sekelompok perajut manula
keriput mereka berjumlah sama, tapi kebahagiaan mereka seperti rima
seperti tangga nada, berbeda, berwarna, dan simpul-simpulnya penuh makna
pantas saja, dikenyataan kau sedang tersenyum manja

dan aku masih berkejaran, dengan bus yang sudah beranjak beberapa detik saja
aku tebak, kau sedang berdegup. segalanya terlontar
anak-anak penerbang layang menarik jemari-jemariku
kami berlari mengejar entah apa; mengapa?
ternyata ada matahari tersangkut, terjepit diantara dua awan jahil.

duniamu berputar, pada degup tawa. dadamu yang dipenuhi canda

begitu banyak cerita, begitu banyak...
bila menatapmu saja menghadirkan sejuta rasa
alangkah wajar, debaran dihitung pun tak hingga

Matahari [2]


tak ada yang terlalu senja
untuk duduk-duduk dihamparan rumput
dibelaian angin sore yang lembut
disentuh oleh cahaya
yang bersikut-sikutan bersandar di kulitmu

ia belum jatuh
dan sepertinya tidak pernah berniat pergi menjauh
ini matahari dari taman waktu
berpindah dari dimensi yang poranda
ternyata satu bahagiannya kembali padamu

lalu matahari ini duduk berpasangan
bersama kedua matamu yang tak henti memancarkan sinar
dan aku adalah siang.
tak pernah puas dengan terang. dan aku buncah
seperti buih-buih gelembung pecah
ditiup ria oleh anak-anak hikmah







Lilin


Matahari [1]

di tanganku, segalanya seperti lilin
dan bila kuperhatikan sekeliling, ada bias kesepian
jatuh ketitik-titik buta, tepat dibelakang mata

aku enggan untuk sadar, sekadar memandang remah tak bertuan
kepingan sisa saksi sejarah ia dihancurkan, keramaian

maka ini kutulisankan
bagaimana engkau pelan-pelan menghilang
menerobos genggam dan perhatian, mungkin juga ingin pulang
maka, kau dihantarkan
oleh panas ketakutan, walau ia menguap sekejap
menjemput kasih yang rapuh, terebut kejam; malam

seperti itu
kau dipikirku
lalu ini tentang aku

Friday, October 11, 2013

Nyala Hujan, Ketika Pagi...

Hujan [2]

tuhan lah yang paling pagi membuka mata
menunggu jiwa yang paling miskin sekalipun
sekadar membuka jendela

kabut menunggu
bukan wewangian bunga ditaman
di tengah perjalanan, yang entah kapan aku akan melangkah berjalan
dan melangkah lah lagi, seperti dulu-dulu
seperti detik jam, tujuanku yang hanya itu-itu

oleh dingin pagi ini, sebab mata terjaga
dadaku menggigil, ada yang memanggil
itukah tuhan, atau engkau disisian tuhan, dengan penuh kerinduan
       hujan berjatuhan

Stabat, 11 Oktober