Showing posts with label gibberish. Show all posts
Showing posts with label gibberish. Show all posts

Sunday, January 24, 2016

Cowok

Sebenarnya sudah lama aku mau nulis ini. Berkali-kali ngecek ke dalam diri sendiri dulu -- seobjektif apa hasil tulisanku nanti. Tapi sebodoamat lah, anggap saja aku setengah munafik waktu menuliskan ini. Biasa nulis juga ngalor-ngidul.

Apa? Apa? Aku mau menuliskan tentang cowok di tengah trend Wanita Selalu Benar, feminisme, emansipasi dan kawan-kawan. Di zaman yang laju informasi tak terbendung ini, melemparku ke suatu masa saat SMP, entah tahun 2001 atau 2002. Internet masih suatu hal yang luar biasa yang tak semua orang menikmatinya. Tepat sebelum friendster booming. Kebetulan aku pernah pakai sekali coba-coba di rumah. Tapi berhubung sewaktu itu masih bego, dan koneksi internet belum semurah sekarang, alhasil tagihan telepon kami sampai sejuta lebih! Emak marah. Ayah terdiam. Wassalamu'alaikum Internet.

Tapi tak lama, ada warnet telkom baru buka. Jadilah entah usul dari temanku yang mana, pergilah kami beramai-ramai ke internet. Balada anak kampung ketemu teknologi. Kami sekitar 10 atau belasan orang, dan waktu itu komputernya tidak bersekat-sekat antara satu dengan yang lainnya. Privasi apakabar? Aku ditodong jadi pengguna, sementara belasan kawanku menonton di kanan kiri belakang tempat dudukku. Apa yang situs kami buka? Coba tebak!

Situs porno!! Yak, benar sekali sodara-sodara. Belum ada Internet Positif waktu itu kalau kita menuliskannya di searching engine yahoo. Apa hasil yang nampak pertama, asal klik saja. Aku menunduk sementara mengintip-intip mana yang bisa di klik sesuai petunjuk teman-temanku. Temanku ketawa-ketawa saja. Kegirangan. Gak tahu deh reaksi operator di belakang itu gimana, segerombolan anak SMP jadi saksi sejarah Ghazwul Fikr. Selamat datang Wahai Zaman! 

Belum terpikirku saat itu, bahwa kepolosan segerombolan laki-laki belum matang tadi terkikis pelan-pelan. Pada kenyataannya, yang notabene anak kampung saja sekreatif itu usilnya. Apalagi anak kota yang dimana akses begitu-begitu lebih cepat.

Mau bicarain apa deh kira-kira? Tunggu. Ceritaku belum selesai

Ada fenomena lain yang cukup sering aku perhatikan, yaitu mata keranjangnya cowok. Sering banget kalau aku lagi di angkot aku memperhatikan mata cowok yang ngekorin cewek turun dari angkot, cewek yang berdiri di jalan, cewek yang naik kereta papasan dengan angkotnya, dan segala jenis cewek. Ada juga yang curi-curi pandang lewat spion atau segala kaca yang bisa merefleksi keberadaan cewek.

Ah kali aja cowok brengsek itu? Ikhwan-ikhwan pengajian apa kabar? Nah, metodenya lebih asooy lagi malah.

Mushalla kampusku rada unik posisinya. Kebetulan ada kipas angin di dekat hijab pemisah, tapi masih di bagian laki-laki. Selain untuk kepentingan rapat-rapat, aku sendiri jarang berada di daerah situ kecuali buat berbual dengan mereka yang kebetulan ngadem disitu. Aku kurang suka duduk daerah situ karena dekat sekali dengan pintu keluar. Jadi mereka yang diluar bisa mengintip kedalam, Siapapun yang mondar-mandir ke kamar mandi. Aku mah sukanya tidur di spot dekat jendela. Tidur di bawah kipas angin itu gak ngenakin. Eh terus bagian pentingnya?

Nah, aku gak tau sejak kapan ngetrend setelah sholat itu, sebagian cowok (sebagian lho) itu hobi berbondong-bondong ngadem di bawah kipas angin yang notabene ada sekitar lima langkah kebelakang dari shaf kedua. Maksudnya, sebegitu panasnya kah habis sholat? Zikir dulu kek, eh maksud ana mau ngeringin air wudhu ya? Hihi~ Ada juga waktu di mana, mereka suka tilawahan deket hijab situ. Aku aja yang semau narsis-narsisnya baca tilawah depan cewek mikir-mikir bacain apa, sempet salah tajwid harokat, wuayoo...gagal kereen! Lah ini, rata-rata tilawah setengah juz. Pamer akh? Eh maaf. Bukan begitu maksudnya. Pernah suatu kali aku bercerita dengan senior yang emang rada-rada, tapi aku respect sama belio. Sewaktu zaman-zaman ghadul bashor itu ya Allah ketat gila. Bisa muter arah, mutar dah biar gak papasan sama lawan jenis. Belio pas ngelanturnya bilang gini, "Aduh akh, kalau sempat seorang ikhwan itu VMJ, dengar suara di balik hijab aja Masya Allah..." Nih, negatifnya. Tapi positifnya yang aku tangkap adalah, ghadul bashor menurunkan tingkat mata keranjang jadi telinga keranjang. Aduh ketawa dulu...Hahahaha. Eh maksudnya, dia bisa malu kalau dengar suara aja. Makanya akhwat-akhwat situ dilarang lembek-lembek.

Aku juga keranjangan sih, even temanku yang bagus yaumiyahnya pernah suatu kali teman cina cewek sekelas pakai rok mini (dia jarang pakai rok), dia entah gak sadar atau engga melototin paha temenku yang masuk kelas itu. Aku mikirnya, "Oh ternyata dia manusiawi juga. Btw hilang berapa dah itu hafalannya..."

Aku gak mau bahas dalil, atau dari segi baik buruknya di mata cewek, feminisme, emansipasi wanita, dan lain-lain. Aku juga tertarik, dan barangkali ga ada bedanya sama yang kusebutkan di atas. Cuma terkadang satu nafsu itu luarbiasa banget dah kelihatannya. Mungkin juga aku de-sensitif karena terpapar sekian lama. Nah loh. Tapi mungkin juga kadang aku emang malu. Pernah gitu, aku sengaja NIAT mau natap cewek gak dikenal, pas duduk di depanku di angkutan. Rupanya kan dia duluan yang lihat aku. Reaksi, aku duluan yang buang muka. Nelan ludah dah. Kenapa E? Gak cantik woy. Wakakakaka. Eh ga gitu lah. Ya malu. Ish.

Pernah juga pas lagi main ke mall sama adikku yang cewek, pas nitipin barang aku tahu ini mbak-mbaknya luarbiasa cantik. Cuma kulihat sekali. Eh malah adikku nyeletuk, "Mbaknya cantik yaa". Kalau adikku dah ngomong gitu berarti bener cantik. Pas udah pergi jauh, aku ada rasa juga pingin lagi ngecek, modusnya "yang bener? masa?". Tapi gak gitu juga. Selain kepentingan ngobrol dan hal-hal lainnya, aku emang cuek. Kadang cewek-cewek yang baru kerja di rumah aja aku gatau mukanya kayak apa. Seminggu dua mingguan kalau kepaksa nyapa aja baru kelihatan mukanya.

Gara-gara ngaji dah, sekalipun keranjangan ada kepikiranku begini "Kalau cantik emangnya kenapa?" Maksudnya ya, cantik yaa cantik. Ditatap tapi ga punya, ujung-ujungnya cuma dibawa ngayal. Ngayal apa? Ngayal punya. Enak engga. Sedih yang iya. Punya pacar/istri cantik itu ada gak enaknya. Kadang cantiknya dinikmati orang lain juga. Dibawa ngayal orang lain. Nggg...buat aku yang anaknya cemburuan abis, cewek cantik itu simalakama. Pingin istri cantik iya juga sih. Tapi gak mau bagi-bagi. Priviledge cowok macam aku beginilah yang kemudian berkembang, "Maunya aja ceweknya jaim, tapi cowoknya tebar pesona kemana-mana." Ngggg...

Iya emang. Zaman sekarang, regardless the gender, ketulusan orang lain gampang disalahartikan. Tapi sebaliknya, sepikers pun suka mengambil ketulusan sebagai excuses. Baiknya gimana? Mengunci diri dari peradaban? Membentengi diri dengan cadar-cadaran? Mementali diri dengan sikap tegas dan untolerable, unquestionable principal?

Aku? Aku gak tahu jawabannya. Bahkan yang disokong dengan dalil agama sekalipun yang sering bahkan tampak paradoks dan anti-klimaks. Mungkin kurang ngaji. Nah sementara itu, aku milih bunuh diri. Blending mencari kenyamanan sendiri, minta maaf sama calon jodoh di akhirat nanti. Duh umi, calonmu ini masih brengsek. Selipin do'a biar aku bisa menjaga diri.

Medan, 2016

NB:
Nulis sambil diketawain Manja.
Dia bilang, "Nah, cepet nikah sana, An...!"
Aku, "Nggggg....."

Friday, December 18, 2015

Akhirnya ketemu sama bagian diriku yang selama ini modenya off; yang posesif, gak betah, cemburuan dan suka gelisah tak menentu. Tapi tenang, lagi berlatih sama subuh untuk menguasai empat elemen tersebut. Avatar, The Legend of Kalem!

Monday, November 23, 2015

Perkara Cinta-Cintaan

Saya tidak terlalu hobi menulis hal-hal yang berbau nikah. Tapi sempat dulu saya menguping kaji di mesjid kampus (ya, beda jamaah sih, dulu anaknya gak fanatik), tapi berhubung kajiannya menarik, saya dengerin sampai hampir habis.


Topiknya soal mahabbah; cinta kepada Allah. Beliau meyebutkan ada tiga macam bentuknya perkara cinta ini. Tersebutlah mahabbatullah, mahabbah fillah, dan mahabbah lillah. Saya tidak ingat betul bagaimana syarahnya kecuali definisi singkatnya. Mahabbatullah ialah cintanya hamba karena Allah. Dan sebagaimana layaknya manusia jatuh cinta, tak lepas objek kecintaan dari pikirnya. Mereka yang hati merindu dan pikirnya meronta mencari jalan untuk bertemu. Sepanjang waktu mencari ridhanya Allah. Seolah-olah bahkan ketika makan pun bertanya, "Allah ridha gak ya dengan makananku? Suka tidak ya?" Lalu ketika berpakaian, "Allah ridha gak ya dengan dandananku hari ini? Apa nanti dia ga suka?" Dan tak ada pertemuan yang lebih panjang daripada seorang kekasih yang bertemu pujaannya. Lalu di dalam shalatnya begitu khusyu' dan begitu mendua seolah berjamaah pun hanya ada dia dan Tuhannya.

Mahabbah fillah, ialah kecintaan yang hadir karena alasan. Semisal seorang laki-laki yang sebenarnya tak suka makan bakso. Tapi karena kekasihnya suka makan bakso, maka ia pun belajar mencintai makan bakso. Sampai disini, saya teringat pengalaman yang begitu personal ketika saya benci ayat-ayat perang seolah-olah Islam hanya berbicara pedang. Hingga kemudian, ternyata disebutkan bahwa mestilah ada kebencian dalam diri seorang mukmin akan perang dan pertumpahan darah terkecuali untuk menegakkan perintah Allah. Saya tidak akan menjelaskan disini karena bukan topik kali ini, setidaknya saya lega karena perang pun butuh prasyarat dan kondisi sebelum dicetuskan. Lalu perihal bagaimana ada hal-hal yang sebenarnya kita tak sukai, bila Allah mencintainya, maka kitapun harus belajar mencintainya.

Mahabbah lillah, ialah kecintaan yang terus menerus ditanam atas apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Baik itu yang wajib seperti shalat, zakat, puasa, maupun yang sifatnya sunnah seperti tersenyum, bersih-bersih, menjadi tetangga yang baik, dan lain sebagainya. Iman maupun cinta, sama-sama punya siklus naik turunnya. Namun kekasih yang baik, akan belajar dan melakukan banyak hal agar tidak turun perasaaannya.

Cerita soal nikahnya dimana? Haha. Itu pengantar saja. Saya kebayang seandainya kelak menikah, yang ada hanya rasa kasihan. Saya dan masalalu saya tidak terlalu loveable. Tapi bagaimana kalau saya menikahi seseorang yang bahkan tak menuliskan nama saya di hatinya? Itu...berat. Jikapun tidak mampu dua orang itu saling mencintai, tidak menemukan pula alasan-alasan untuk dicintai, setidaknya ia mestilah mencintai Tuhannya. Ibarat dua orang kesepian yang tidak bergandengan tangan, memakai tabir di wajah hingga tak saling mengenal jiwa, setidaknya satu jalan. Bila begitu, berkuranglah setidaknya rasa kesepian itu. Hingga bila Allah nantinya berkenan, menghapusi satu-satu nama sebelum kami, lalu saling mengukir - sekali dan sampai mati. Dan bila tidak di dunia ini, boleh di akhirat nanti. Aamiin Allahuma Aamiin.

Thursday, October 29, 2015

Slam Poem / Poem is Living


Phil Kaye : Repetition

I plan to post about this about two weeks ago. But just today I could make the effort. In the very first of this posting, consist my favorite videos of slam poem. Slam poem is kind of trend reading poetry which speaking about something vague, taboo, or just ordinary but kinda make us muttering "oh boy, that was i really want to talk about" (at least this is my feeling towards it). It's not like our local doesn't have good poet reader, though I prefer old men like Saut Sitompul et cetera et cetera. (yeah, I don't know much).

What makes slam poem good? I research about them a bit. And I found there are pros and cons, but it's good already. On last of my list, where Sarah actually speaking in some kind of college graduation, well, she also read about two poem (the latter is The Type, you can search on your own). I know about last four years, maybe, that poem doesnt necessarily to be read where you pour emotion, burst and blast, like such. But there also like Katie Makkai's Pretty which is pretty awesome. Let me tell you if you don't know about much poem. My teacher ever told me, in a contest (theatre), a poem reader shouldn't let his own projection pour into his reading, though it possible you read your own. In some cases, a reader who read a poem very powerful, make your heart move, and surely good, but in a contest, a jury disqualify him. My teacher ask, "do you know why?". When he read, he give a moment to bend his hat, maybe his hat slightly off and the jury give his a disqualify. And that very moment, he let his own projection interfere with his reading. While you maybe questioning this, why, we wont talk about this. Let me told another matter.

A poem, commonly use metaphor to disguise its own meaning to give a beautiful structure and imagination. This is sometimes looks funny, because ... does our humanity seem that poor? Maybe not. And there is personification. Let aside another poem where words just loose with metaphor and almost like story telling, and still make good poem too. But here a thing; a poem is also like a living. They have tons of layer to disguise their own meaning. What readers read simply interpret how their limit. I've written short article about deride concept. It's almost alike. Until an author tell its meaning, its free zone of interpreting. Though I also ever read, when an art given to someone, in this case publish it, its totally public who have rights about its meaning. Not the author. There is time when I share my works, and they tell me "hey, isn't about this and that?". And that times I realize, "it (may) relate". And this is it. The power to move people isn't about what an author want. Like Dewi Lestari said to every her works as "giving birth to..", I think. "poem is also living."

I recommend to listen on my list above, it's pretty cool and could give me several insight to make own or just to widen my perspective. I would like know if you know another good slam poem. But since they (Sarah and Phil) are founder of Project VOICE, they're one of the best around. 


Tuesday, October 20, 2015

there are times when I dont want to talk with people. I burned out easily. but not a primary excuse. sometimes talk doesn't solve anything as well as how quiet dissolving into the air.

I ever seen how big a flame could lit, and ashes that came from it never will be same again. regret, sad, frustrate, you name it, I would never identify then as the same feeling as I felt at first time. 

while I'll look them in dictionary later, maybe I wont feel it in the process. i admit i lose several parts and it'll continue to tampe my heart. sorry for i am not.

Saturday, September 26, 2015

Jadi, blognya bakal di update dulu sama postingan-postingan lama dari berbagai tempat persembunyian. Beberapa postingan bakal disesuaiin sama jadwal postingan tersebut di post. Kalau di post pada setahun yang lalu yaa bakal keluar di tahun yang lalu, bukan jadi newest post. Kalau ga di subscribe ulang yawndizzy-nya kemungkinan ga bakal keliatan apa yang di posting. Karena saya males bikin listnya. *ditendang*

Dan sambilan, mau memperbaiki tag-tag dan beberapa pages. Jadi blog putikdankoma dan anakhawwa, resmi ditutup. Segala projek-projek ga beresnya dilanjut disini juga. *Iya, projek-projek alay itu*

Da dahh...

Friday, September 18, 2015

Things I Don't Do (Anymore)

Mimisan
Sebenarnya diantara tiga bersaudara, sayalah yang paling penyakitan. Tapi anehnya, sampai sekarang belum pernah ngerasain yang namanya mimisan.


Step
Ini step kalau demam itu. Kalau mulai demam biasanya barang-barang yang dekat terlihat sangaaaaaaaaaat jauh. Dan terkadang ngelihat sehelai benang itu sangaaaaaaaaatt berat. Dan ini termasuk pengalaman yang seram.

Chameleon Effect
Mungkin kedengarannya aneh, tapi katanya dulu (SMA) saya suka gak sadar ngikutin mimik bicara kalau ada yang ngomong di depan. "Ihh, kau hobi kali ngikutin bibirku ngomong..." Dan saya cuma bisa kaget "ha?"

Sunday, September 13, 2015

Delay

pernah ngatain orang alay?
nah tunggu aja giliranmu jadi 'layangan' juga.
ya, layangan stage dua. *keren bener*
delay=dewasa layangan.
itu yang dikit-dikit melayang, tenggelam, floating, flying and sinking.
itulah maksudnya.
drama, ngeluh, lain waktu pura-pura bahagia, de el el.
ya. semua orang akan layangan pada waktunnya.


`,:)

*pamer emote baru*
*yawda sik gitu aja*

btw, bangun tidur langsung kangen.
iya, kangennya cuma bisa pas bangun tidur. 
kalo sadar ga yakin kangen sama siapa.
kangen andi. kangen albi. 
coincidence?

Saturday, September 12, 2015

Apakah yang kita harus catat? Apakah kjta harus yang terpenting, mengabaikan yang kurang penting, dan melupakan sama sekali yang tidak penting?
Namun apakah jaminannya bahwa yang tidak penting dan boleh dilupakan saja, memang lebih tidak penting daripada yang kurang penting dan cukup diabaikan saja, dan apapula jaminannya bahwa yang kurang penting dan boleh diabaikan, memang kurang penting daripada yang penting - yang tidak bisa tidak mesti dicatat, meskipun menjadi penting hanya karena dibuat agar tampak seperti penting?
Sukab - Travelogue
Someone tells me: this kind of love is not viable. But how can you evaluate viability? Why is the viable a Good Thing? Why is it better to last than to burn?
Roland Barthes - Lover’s Disclosure
Dua potongan quote ini membuat saya berkontemplasi sedikit tentang upaya-upaya hidup dalam sepanjang perencanaan. Kita suka sekali berbicara mengenai rencana-rencana bagaimana nantinya menjalani masa depan. Perencanaan itu buah baik dari siraman air kerja keras pada hari ini, pada awalnya. Setidaknya memang mekanisme harapan bekerja seperti itu; buah baik yang kita kira pada hari ini.
Adakah yang lebih baik dari hari ini? Adalah sebuah janji yang diletakkan Tuhan di dalam dada hambanya, agar biar bagaimana pun kita terjatuh tidak begitu sakit, katanya. Terserah bagaimana urutannya, perencanaanmu, a sampai z, perencanaan Tuhan, atau sebaliknya, kita tidak pernah benar-benar tahu pada batas mana buah harapan yang benar-benar kita harapkan. Benar kan?
Saya sudah lama memikirkan hal ini, entah seperti apapun motivator favoritmu mengatakan untuk berencana sebelum memulai. Rencana sepertinya hanyalah kesia-siaan. Bukan. Saya tidak mengatakan sebab saya orangnya fatalis, atau malah bersebab pada banyaknya rencana yang gagal. Teruslah berencana. Teruslah berharap. Tapi bukan pada kenyataan yang masih Tuhan jadikan impian. Tapi pada keyakinannya.
Sama seperti ketika kita memastikan mana yang baik mana yang tidak baik. Pada akhirnya, urutan-urutan itu hanya membenarkan mana yang lebih diyakini dan tidak diyakini. Lalu bagaimana bila saya katakan saya berhenti berencana, dan meyakini segalanya. Melenyapkan segala ketidakmungkinan, baik atau buruk, hanya karena bila semesta berencana hancur pun akan berakibat pada perjalanan baru.

Stabat, September 2015

Sunday, August 16, 2015

Hai...

Ta....daaaa....

Home sweet home!

Walaupun blog ini isinya alay. Mari kita sama-sama lanjutkan kembali, jun! With a new soul, of course. Mungkin kita selesaikan dulu project seventhemes yang belum rampung tahun lalu. Hehehe...

*peluk cium pembaca setia*
Love you all! :* :* :*

*padahal sudah tak ada pembaca lagi* :D

Saturday, August 16, 2014

Catatan #3

Haaaaah.....tinggal sepuluh lagi!! *ngais-ngais tanah nyari inspirasi*
untuk yang sepuluh ini belum tahu mau di apain. kalo nulis sekedar nulis, kabur ke kamusrima.com ngumpulin diksi, disatuin, jadi mah mau berapa pun diminta.

masih ada dua minggu sebelum September. saya mau istirahat panjaaaaaaaaannnggggg. 
kalo balik lagi kemungkinan nulis Catatan Harian di rumah baluuuu..ahehe. *itu juga kalo sempat nulis*
well, cuma pingin nulis catatan biasa. Why Froo?? Whyyyy??
*tiba-tiba teringat*
kenapa #3? yang #1 dijudulin "Horee...lahir deh!!" yang #2 dijudulin New Born.
tulisan paling lama di blog ini (di draft tepatnya) di tanggal 8 September 2008. sampai kemudian 3 tahun berikutnya, tepatnya di postingan 90an semua dimasukin balik ke draft, dan gaya tulisan di restart. *w..ww..wait! ini juga 3 tahun berikutnya kan? jangan-jangan ini siklus 3 tahunan?*
sekarang, total all (publish-draft) ada sekitar 336 (lebih banyak postingan sampah sih). dan sumpah...saya sayang banget sama ini blog. pingin dibukukan tapi..
1. takut hilang
2. malu-maluin \(._. )
3. takut ada alasan nomer 4
4. takut ada alasan nomer 5
dst...
di restart blog pertama kali di tahun 2011, saya bingung juga kedepan mau nulis apa. karena di tahun-tahun kebelakang saya nulis cuma bermodalkan mood. dan kebanyakan postingannya juga bercampur sama tulisan-tulisan iseng gak jelas. tapi berikut-berikutnya saya lebih konsisten menulis puisi dan belajar banyak gaya dan struktur puisi. surprisingly, saya yang anti nulis cepen (yes, anti!), mulai belajar nulis panjang-panjang (gak sanggup nulis panjang....) dan mulai bisa (belum terbiasa, tetep).

curcol acii?
key...
dulu di nick chibifrozen. anaknya masih kecil, sekarang udah gede di nick chiizen. ha!
.
.
.
.
.
udah, itu aja mah curcolnya. *krik krik krik*

postingan favorit? yg judulnya Sejauh Ini Hanya Luka. puisinya biasanya aja sih, diksinya juga. tapi feelnya diinjeksi berlebihan disana. diendapin bentaaaar aja di Istana Ingatan, kenapa? soalnya saya berasa ketemu musenya langsung. rasanya di penghujung 2012 itu banyak tulisan bagus. kaya Platonik, itu puisi bagus, langka karena salah satu puisi yang gak di endapkan di Taman Waktu ataupun Istana Ingatan, dan hasilnya, terasa bagus! dan feelnya juga gak segloomy lainnya. klo boleh di tag pake seven themes, mungkin masuk di kategori Impian.

paling hobi nulis puisi pake rima, tapi lebih seringnya ngerasa eneg karena kadang klo maksa langsung keliatan. klo mulai nulis pake rima, paling kuat 2 paragraf...ujung-ujungnya masuk draft. makanya nyoba berbagai macam bentuk puisi itu penting. agaknya sekarang kurang-lebih kena efek haiku. penulis tumblr semisal lang leav atau michael faudet banyak tulisannya pake haiku. aslinya satu paragraf itu satu kalimat, tapi banyak pula penggemarya. saya ada kenal sih yang hobinya nulis pendek-pendek gitu, tapi tulisan aslinya lebih original bentuknya. Pekat misalnya, gak bisa dibandingin dengan counterpartsnya, tapi kurang lebih gitu. dengan bahasa Indonesia susah bikin haiku, karena satu kata aja suku katanya bisa banyak. kurang tau apakah dengan memotong suara bisa dikategorikan kesana. well, puisi bukan teori. gak perlu dipikirin.

Dingin barangkali cerpen pertama saya yang agaknya lumayan. tapi bukan cerpen pertama sih. awal-awal banyak bikin kerangka tulisan, bikin karakter, ide cerita, dan yes..kebanyakan masuk tong sampah. Dingin sendiri idenya gak terlalu original. waktu itu saya nantangin diri sendiri karena tulisan yang bilang bahwa membuat cerita klise yang enak dibaca itu jauh lebih sulit daripada membuat satu ide cerita yang kreatif. Idenya dari salah satu video klip korea (atau jepang? waktu itu korea belum booming banget). judulnya winter love (coba tebak siapa penyanyinya? :D). baru kemudian scene di vidklipnya saya pindahin ke otak, terus pemerannya diganti sama Rin dan An. 

balik lagi ke puisi. setelah saya berkonfrontrasi dengan ketakutan saya akan cerpen, saya semakin jatuh cinta dengan gaya puisi bebas. sekat antara puisi yang terbatas dan cerpen yang terbuka lalu menyatu. setelah saya selami lebih dalam, ternyata saya ketemu sama bentuk tulisannya abstrak yang mengetuk pintu Istana Ingatan malam-malam. si abstrak itu nanya, "bisa gak bikin puisi pakai alur campuran?" saya gak tahu. tapi setelah itu endapan si abstrak tadi, jadilah Kenangan [5] dan Gerhana. dan sepertinya bukan jenis yang bisa dinikmati selain penulis. meminjam perkataan almarhumah teman saya, bahwa saya ini seperti sejarah dan yang paling sulit adalah ketika saya sendiri kehilangan benang merah dari satu waktu ke waktu yang lain. sampai sekarang saya belum tahu bagaimana menjahit dua warna dalam satu puisi. kalau perbandingannya mungkin ketika kekasih menuju penjara, kalau disitu dua orang dalam satu waktu.

hmm...berikutnya, sepertinya saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di http://yourpatheticjoke.tumblr.com


baiklah, gitu aja catatannya. kenapa juga ya bikin catatan di blog privat gini? entahlah. mungkin suatu saat ini bisa dibikin publik lagi.
----------------------------------------------------------
Wahai hati perdusta, hati yang bersalah ...
Wahai hati yang lalai cintanya, yang menutup akal ...
Menggelapkan kebenaran, Menghias dengan airmata ...
Kau terpesona dan memesona ...
Kau hanya bisa menyesal ...
Tertutup dan kesepian lah kau semoga, selamanya ...
( Drama : Rahasia Hati,  26 Juni 2010 )

Sunday, March 23, 2014


Saat mencoba mengingat-ingat, oh iya, ternyata aku pernah mengutuk diriku sendiri
Demi menghargai kebahagiaan-kebahagiaan kecil,
Lebih baik menghabiskan semua jatah mimpi-mimpi buruk.
Hari ini diingatkan...
mungkin jiwa terlalu banyak mengemil bahagia. Baiklah.

Saturday, March 22, 2014


Keyakinan ini nantinya akan mengingatkanku bahwa aku pernah ada. Ha, Bagaimana?
Ya. Sebelum siapapun menamparku kelak, aku harus memastikan aku tidak pernah tertidur.
Dan kalaupun ada yang ingin menghadiahiku tamparan itu, aku akan menerimanya dan memastikan.
Bahwa aku juga pernah melukai diriku lebih dari itu.
Itu saja. Sebuah ego.

Tuesday, February 25, 2014

"bila aku ingin, tentulah aku ingin. melihat perempuan itu beruban, memapahnya ke pasar tuk memilih-memilih sayuran, lalu membilas kakinya yang penuh kerutan." 

Saturday, December 21, 2013

(Fiksi) Doa


pernah berpikir tidak tentang do'a-do'a yang gak/belum dikabulkan Tuhan di langit jadi apa? 
jadi, sebenarnya di atas langit ada antrian do'a. do'a yang paling cepat, do'a yang paling banyak, do' yang saling mendo'akan, dan sebagainya. tapi loket buat ambil karcis ketemu Tuhan cuma ada tujuh. taulah kenapa tujuh. Tuhan suka angka tujuh. bukan bermaksud sara sih ni ya, tapi orang muslim beruntung karena sehari banyak berdo'a. kita gak pernah tau lewat loket mana duluan yang bisa cepat sampai. juga ada do'a-do'a yang cepat sampai, kayak do'a anak sholeh, orang yang menderita, sama yang saling mendoakan. biasanya doa-doa kaya gitu ada stempel khusus dari Mikail.
Intinya, doa yang udah karcis ketemu Tuhan sama yang distempel Mikail pasti langsung dikabulin Tuhan. tapi gimana sisanya yang masih ngantri? ternyata Tuhan ngasi pintu khusus buat doa-doa yang males ngantri, yang gak punya kualifikasi dan doa-doa sejenis yang gak lolos-lolos. hahaha, kasian. :P Iya, ada dong doa yang males ngantri. sama kaya si tukang doa, biasanya mereka doanya sekali-sekali. nah, kalo doa yang gak punya kualifikasi biasanya bercampur dosa atau yang ga ada bau keringatnya sama sekali. ngertilah ya. kalo doa-doa sejenis (maksudnya doanya itu-itu mulu), biasanya udah dikabulin tapi minta lagi, atau belum disyukurin. ibaratnya belum terima kasih, udah nagih lagi. ckck
balik ke pintu doraemon, eh maksudnya pintu doa. :D doa-doa tadi bukan gak dikabulin, tapi justru Tuhan ngasi kesempatan buat doanya turun kebumi. udah capek-capek naik, disuruh turun lagi. tega ih, Tuhan!
doa-doa itu masuk pintu tapi berbayar. nah lho?! ini Tuhan apa calo? xD tapi ini serius, harga untuk lewat pintu itu macam-macam. ada yang ruh waktu tidurnya dikasi doa. "doa diberi nafas..." rada pernah dengar kalimat ini...
ada doa yang dibayar dengan keikhlasan, ini doa orang tulus, yang terserah Tuhan mau ngabulin apa engga, asal diberikan yang terbaik versi Tuhan. yang terakhir, ada doa yang dimintakan ke siapa aja (wal muslimin wal muslimat). makanya penghuni langit ikut bingung... oke, itu bercanda. :P
terus doanya bayar pake apa?  gak bayar. ditraktir sama semesta. :)
makanya doa-doa yang udah lewat pintu tadi jatuh kebumi menjadi apa aja, kalo doraemon punya pintu kemana saja. Tuhan punya pintu apa aja. keren ih Tuhan... doa-doa tadi jadi awan, hujan, udara, embun, salju, semburat jingga, debu di jendela, hara di tanah, makanan burung, dan sebagainya. bahkan, bisa jadi selimut hangat dimalam harimu itu tidak hangat. ada doa-doa orang yang menyayangimu terselip, memeluk hangat setiap saat. makasih ya mak, pak.. :')
Jadi, bersyukur, kamu gak pernah tau doamu tlah menjadi apa, dan disekitarmu ada doa siapa.

Oktober, 2013

Saturday, July 6, 2013

I am thinking about obsession

It just I was pretend to be strong. If I were built by words, what am I if you think every second and now it's fake, shit, and goddamn worthless. How worth gold is, if you happen seeking God's heaven?

And so, I'm thinking back and forth. I will try as far as my limit...


I'm trying to recall as many as possible I could, yet I found empty house and long echoes of those I couldn't remember.

And here we are...

...Time doesn't heal, it change us.

Wednesday, February 22, 2012

aku hanya butuh tuhan, tak butuh konsep agama.
aku hanya hamba tuhan, bukan objekan aturan.
dan kita hanya tersesat, dengan peta di tangan.

Friday, February 3, 2012

Sepuluh Hal (Benci)

1. Nama
Saya sebenarnya tidak pernah terlalu suka dengan nama. Tidak. Nama saya bagus. Maknanya juga. Hanya saja saya lebih memilih (kalau bisa) nama saya tidak terlalu punya arti. Seperti kehidupan saya barangkali. Nama itu tidak perlu panjang-panjang. Asal lekat gampang diingat. Uki, misalnya. #eh

2. Sekolah
Yup, saya salah satu dari kebanyakan yang benci sekolah. Tapi saya lebih benci karena tak ada satu hal menarik pun yang ditawarkan disana. Saya suka belajar. Tapi untuk saat ini, tak ada kenyataan sekolah/kampus yang seideal dengan keinginan saya. Teman-temannya? Ah, kan kau bisa menebaknya.

3. Kendaraan
Saya tidak suka dengan semua jenis kendaraan. Walaupun saya tidak pernah naik kereta api dan pesawat terbang, tapi saya kira saya tidak suka. Bukan karena saya tidak bisa mengendarai salah satu jenisnya (kalaupun iya), tapi lebih karena saya lebih memilih jalan kaki, terlebih duduk berdiam diri. Saya lebih memilih tak beranjak kemanapun. Kalau bisa.

4. Repetisi
Diulang-ulang. Saya pernah posting tentang hal ini. Terkhusus untuk sebuah pertanyaan "kenapa?". Saya terlalu benci, sampai mengakibatkan delusi. Pernah dengarkan lagu JB yang Baby itukan? Semacam itulah. Ah sial.  Delusi lagi!!

5. Hidung Mampet
Saya tidak ingat lagi bagaimana rasanya menghirup udara dengan kedua lubang hidung ini. Saya terlalu benci sampai melupakannya.

6. Fashionista
Gak tau sih, seberapa fashionistanya saya. Lelaki itu tidak umum. Walaupun begitu, semua orang yang fashionista itu, bagi saya. Bodoh. Kalau wanita apalagi.

7. Makanan Basi
Adalah hal luar biasa. Karena hampir tiap hari saya menemukannya. Bukannya rumah ini berlebihan dalam hal makanan, justru sebaliknya. Semua orang dirumah ini bisa lupa makan seharian. Dan makanan dimakan kalau perut udah desperate saja. Orang dirumah ini lebih milih makanan instan diluar. Mahal? Tentu saja.

8. Subjektif
Saya tidak suka dengan orang yang berpendapat subjektif. Saya benci sampai saya ketakutan sendiri. Orang-orang yang subjektif jelas saja egois. Cenderung tak bertenggang rasa. Dan jenis orang yang tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Pada akhirnya, saya justru lebih subjektif dari orang-orang sejenis. Sial. 

9. Pikiran
Kadang saya ingin berhenti berpikir. Berhenti memikirkan hal-hal kecil. Hal-hal besar yang menjadi kecil-kecil. Berhenti berbicara disana. Dan berhenti menulis. Berpikir lebih banyak menyakiti hati. Itulah kenapa saya sangat suka tidur. Walaupun, untuk tidur saja susah!!!

10. Saya
Cukup jelas. Haters gonna hate.

Tuesday, July 12, 2011

Gak Jelas

Jam 1 Malam...

Sedang mengutak-atik lepi, kulihat pantulan bayanganku di laptop, ada gumpalan kain putih di belakangku. Ternyata selimut. 
(-__-")
Lanjut ngutak-ngatiknya.

Aku ke dapur, haus. Berencana membuat susu panas. Kulihat bentuk putih bulat-bulat di balik celah pintu (aku ini sedang gapake kacamata). Ternyata tiang bendera.
(-__-")
Lanjut bikin susunya


Aku balik ke kamar, ada suara krasak krusuk di luar. Kuintip dari jendela. Meongg... Rupanya kucing.
(-__-")
Aku lanjut main laptop.


Aku berencana ngintip bulan. Kuintip dari jendela. Ada guling nyangkut di pokok jambu. Oh, ternyata guling.
(@#$~!@##@%???~!!!)
Aku langsung tidur.