Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Sunday, September 26, 2010
My Fear
my heart was pounding like burst out...
i scared tomorrow of tomorrow...
i can not wait until pain sprouted...
so, i prepare to go as black crow...
father, mother...to all system of life...
i have no name, no sister and no friend...
no emotion no passion for zombie...
and now, lemme go to very world of fiend...
Wednesday, September 22, 2010
Lukisan Malam
F : aku bersepeda nanti malam,
jangan tunggu aku pulang,
biar kuminum awan,
Dan kusisakan bintang serta bulan.
Y : Jangan lupa bawa diktat kawan ya
biar besok bisa melahap habis
badai yang menerpa gugus-gugus bintang
yang tersisa tadi malam
F : ya ya ya,
aku akan pulang ke lautan,
tempat seribu taman dan sejuta teman,
coba saja nanti malam hujan,
kan kubentangkan pelangi keemasan.
Y : tapi di depan rumahku,
tanpa mengurangi warna dan bentuknya,
tanpa harus mengabaikan sang pelukis alam
yang bersarang dalam hati setiap insan,
dan aku akan menunggu saat itu datang tepat di hadapan ku.
F : dengan paralayang dan setir sepeda,
menyelami angkasa malam perkotaan,
tapi aku bisa bungkam.
dimana pekarangan yang kan kutuju?
Y : tepat di bawah langit atas bumi.
dimana aku bermukim, dikota yang kau seberangi.
yang dapat kau jangkau dalam memory waktumu.
F : tapi aku takkan pulang...
...takkan pulang.
Saturday, September 4, 2010
Pulang
apa yang kulakukan, bersimpuh beradu lengan.
katakan setiap duka karena sembilu lidahku.
tak usah sembunyikan, biar dosa semua kusimpan.
rapat rapat kutahan, berbalut air mata membeku.
biru, tak seperti langit pagi
saat mentari jujur katakan aku tak ingin pergi.
maka mendunglah itu hari.
biru, tak seperti duga prasangka.
saat aku alpa katakan cinta, dan kau pergi bersama kecewa.
maka berkabunglah itu hati.
sakitnya tak seberapa, usah kau tanya.
hidup itu terlalu berharga, ah sudah sering kudengar.
yuan, kau bilang kau pergi ke kota raya.
baiklah, sekarang jariku cemas bergetar.
aku duduk terdiam di taman waktu.
saat detik tak urung beranjak berdetak.
dan masih surut perasaan melampau.
aku diam dan tak ingin lagi bergerak.
katakan setiap duka karena sembilu lidahku.
tak usah sembunyikan, biar dosa semua kusimpan.
rapat rapat kutahan, berbalut air mata membeku.
biru, tak seperti langit pagi
saat mentari jujur katakan aku tak ingin pergi.
maka mendunglah itu hari.
biru, tak seperti duga prasangka.
saat aku alpa katakan cinta, dan kau pergi bersama kecewa.
maka berkabunglah itu hati.
sakitnya tak seberapa, usah kau tanya.
hidup itu terlalu berharga, ah sudah sering kudengar.
yuan, kau bilang kau pergi ke kota raya.
baiklah, sekarang jariku cemas bergetar.
aku duduk terdiam di taman waktu.
saat detik tak urung beranjak berdetak.
dan masih surut perasaan melampau.
aku diam dan tak ingin lagi bergerak.
Menepuk di dulang
karena kita tak pernah jujur pada diri sendiri..
berani menentang dunia pun tak berani..
kita kalah melawan dilema..
teronggok-onggok disana bersama asa yg tak nyata..
bukan!! bukan karena tak bisa!!
Tuhan tak suka..
kita kalah melawan arus..
kita kalah melawan angin..
kita harus belajar menjadi kecil..
menyusup diantara ketiadaan..
bersabar dan berdo'a..
semoga Tuhan, menampar kita dengan sayang..
berani menentang dunia pun tak berani..
kita kalah melawan dilema..
teronggok-onggok disana bersama asa yg tak nyata..
bukan!! bukan karena tak bisa!!
Tuhan tak suka..
kita kalah melawan arus..
kita kalah melawan angin..
kita harus belajar menjadi kecil..
menyusup diantara ketiadaan..
bersabar dan berdo'a..
semoga Tuhan, menampar kita dengan sayang..
Subscribe to:
Posts (Atom)