yang kilau legam, menimpali cahaya keemasan,
terpaku,
urung tuk melanjutkan detik.
tapi ia berdiri, menahan kaki kursi yang dimakan rayap
yang tak peduli, perlahan-lahan diselimuti abu kayu.
aku juga merasa dingin.
bersama angin dan dedaunan berbentuk bintang,
yang menampar-nampar dari belakang.
bagaimana denganmu?
kaki-kaki terpasung,
sendu menertawakannya.
lalu kau merengkuh syahdu,
tubuhku yang tak lagi memiliki deru
belum sampai sadarku kembali,
aku melirih.
jiwaku atau jiwamu kah yang dicuri waktu?
Stabat, 24 Februari
disadur ulang dari sebuah puisi
No comments:
Post a Comment