Friday, May 25, 2012

Sejauh Ini Hanya Luka

waktu kini tak teraba, antara kenangan dan tatapmu diseberang sana.
dahulu hilang, kini menatapku tak percaya.
bukti-bukti tak berguna, mata sayu itu menatap daging-daging luka.
dulunya luka kita serupa, kini kau menatapku tak percaya.
wangi masih sama, sedang satu sapa merobek sajak nama; namamu.
kau tersenyum hampir kuiikuti, sebelum kau bertanya sambil tertawa,
"kau masih terluka?"
"ya, aku pun tak percaya."

Saturday, May 12, 2012

Apa kau lebih suka menjadi badai? Yang sibuk datang lalu bergegas hilang. Meninggalkan puing dan segala hening yang jua berplintir. Apa kau lebih suka menjadi semilir. Yang tersipu di sore hari. Lembut dan sesekali menepuk pipi. Tapi kau menghilang tanpa peringatan, membiarkan kehilangan tanpa kebiasaan. Apa kau sungai? Yang mengalir membawa perasaan damai. Gemericik tawa dan laku di arus kebosanan. Ah, kau sungai, dimana kau hanyutkan hatiku? Apa kau langit. Awan yang tipis dan pembawa hujan yang kelam. Pasti kau mudah menemukanku, yang terserak di hamparan bumi yang putih.

Bayang

"Kau itu seperti pelajaran sejarah. Jika tidak bisa menangkap benang yg menghubungkan setiap kejadiannya maka akan jadi sulit di mengerti. Kalimatmu memiliki sebuah benang tipis jika salah tarik aku bisa tersesat. Hatiku selalu risau. Takut jika benangmu tidak bisa terlihat. Tapi seperti pelajaran sejarah menarik keinginanku untuk tau lebih dalam."
Aku selalu lupa, pada siapa, kapan, dan dimana, serpihan itu kujatuhkan. Kupinjam dulu, aku ingin mengatakannya pada ilalang yang tajam, ilalang yang memanjang. Ia sulit kelihatan. Karena ia sama. Tak mau berbeda. Meskipun begitu, hadirnya begitu rapuh. Pada detik manakah, di masa depan, ia kan menghilang, bahkan sebelum angin menyadarinya.


Monday, May 7, 2012

Sembilu Lalu

menemuimu adalah penciptaan pertama kali
sebelum ceritaku tentang ceritamu membangunkan sajak
untuk kematian perasaan, kutangkupkan berkali-kali
sebelum kau dan rindu serta aku dan kenangan beranak pinak

pinjamkanku dari tuhan berupa keindahan
sebelum ketemukan bengis dan benci menjalar di nadi
karena aku dan tuhan, berkejaran memfaalkan perpisahan
sebelum mengkita, kujanjikan lebih dulu salah satu mati
  
kelak ingatannya kan cedera, tak berhenti untuk menyesal 
airmatanya mengintan, tuk perpisahan yang tak terucapkan
selama takdir menyisipi getir, dibawah mata yang kian menebal
selama wajah-wajah terkambang, dipelukan hatinya ia rebahkan

Stabat, 2012