Kau di kantung mataku, semakin berat untuk tak memimpikanmu. Tapi kau di kantung mataku, penyakit sebab rindu.
Wednesday, September 30, 2015
Kenangan [6]
Tak ada harum rapuh meskipun lembab dan risik angin
sesekali menyelinap menyetir gigil. Dan sarang burung
diatas sana telah berkali-kali berganti generasi dengan
bayi-bayi yang mencicitkan lapar, serta bingar.
Diatas gundukan lantai tanah berserakan lembaran ingatan,
itupun ada yang sudah menjadi remah bekas dimakan tikus tanah.
Berserakan pula hiasan gelang, cincin, kalung yang dulu
acapkali menjadi sesembahanmu. Sesaji lipstik dan janji,
inai dan segenggam tanda janji, tapi kini di hak milik debu
dan karat-karat hitam.
Aku mendengar dulu istana yang dibangun karena rajanya
jatuh cinta, dipugarnya beragam warna emas perak dan berlian
segala rupa. Ditanaknya nasi dengan campuran liur anak-anak
miskin. Dinyalakannya dupa, dan aku tahu segala kemewahan
ini atas kesederhanaan yang ditelan duka.
Dan seiring mengganasnya waktu, yang tersisa hanya cerita.
Dan kenangan ditimbun agar manusia membangun sejarahmu
yang baru.
Monday, September 28, 2015
Saturday, September 26, 2015
Dan sambilan, mau memperbaiki tag-tag dan beberapa pages. Jadi blog putikdankoma dan anakhawwa, resmi ditutup. Segala projek-projek ga beresnya dilanjut disini juga. *Iya, projek-projek alay itu*
Da dahh...
Aliran Pikir
kalau memang suka tasawuf, setidaknya kau sudah bisa menyadari banyaknya orang bijak yang lebih suka diam.
bukan diam yang tidak acuh, tapi diamnya air yang mengikuti takdir. derasnya pertanyaan kita sama derasnya dengan aliran sungai. tapi betapapun derasnya aliran air itu, belum tentu mampu menghidupi akar-akar yang hampir mati. semua ada jalannya.
sama ketika kau tahu mampu menjelaskan isi dunia ini pada orang yang belum tahu, tapi kau belum tentu tahu seberapa besar wadah si dungu. semua ada masanya.
bila lain kali bertanya, atau barangkali seseorang bertanya, terlebih kau bertanya pada dirimu sendiri. diam sejenak. biarkan setitik air kesadaranmu menyelami wadah yang kau kira hanya genangan air hujan. setelah kau sadar betapa luasnya jawaban yang mungkin, bicaralah.
kalau aku belajar juga untuk menjawab,
aku tak tahu (pertanyaanmu).
aku tak tahu (jawabanku).
aku tak tahu (inginmu).
aku tak tahu (kesamaan pandangku).
aku tak tahu (manfaat semua ini).
bila kau sudah tahu,
begini ...
Friday, September 25, 2015
Hujan [4]
Friday, September 18, 2015
Things I Don't Do (Anymore)
Sunday, September 13, 2015
Genap
Dulunya kupikir kamu adalah faktor yang menggenapkan hidupku. Tapi bagaimana bila aku sudah genap, dan kamu adalah faktor dari segala keganjilan hidupku? Haruskah kulepas apa yang kupunya untuk memilikimu?
Dulunya kupikir kamu adalah genap dari segala keganjilan hidupku. Tapi, bagaimana bila aku hanya setengah dan memilikimu atau tidak tak pernah menyempurnakan apapun? Sedang yang harus kucari adalah setengah tanpa identitas asli, penyatuan atas diriku sendiri.
Dulunya kupikir kita genap. Ternyata hanya sebagian binari pembentuk hidup.
Dan ternyata memang kita genap. Sebelum aritmatika kegenapan yang lainnya.
Delay
Saturday, September 12, 2015
Apakah yang kita harus catat? Apakah kjta harus yang terpenting, mengabaikan yang kurang penting, dan melupakan sama sekali yang tidak penting?Namun apakah jaminannya bahwa yang tidak penting dan boleh dilupakan saja, memang lebih tidak penting daripada yang kurang penting dan cukup diabaikan saja, dan apapula jaminannya bahwa yang kurang penting dan boleh diabaikan, memang kurang penting daripada yang penting - yang tidak bisa tidak mesti dicatat, meskipun menjadi penting hanya karena dibuat agar tampak seperti penting?Sukab - Travelogue
Someone tells me: this kind of love is not viable. But how can you evaluate viability? Why is the viable a Good Thing? Why is it better to last than to burn?Roland Barthes - Lover’s Disclosure