Sudut Pandang Orang Pertama
Jika ada hal yang paling aku ingini sebagai penulis, ialah merayakan kesedihan. Aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya bagaimana keindahan merayakannya. Tapi hari ini aku datang dan menemukan.
Kami berdiri di ruang terbuka. Tidak di Taman Waktu, tidak juga di Istana Ingatan. Kami berdiri di dekat tebing, di timurnya terbentang padang rumput hijau dan di barat jauh di bawah ombak meraung berlipat-lipat.
An dan Rin saling bertatapan. Mereka kelihatannya bingung. Tentu saja. Aku mendekati An, Airlangga Kelana, lalu memeluknya. Dia diam saja dan dia telah mengerti. An selalu hidup atas ketidakmampuanku melawan dunia. Sekarang, setidaknya aku telah memulai untuk melawannya sendiri. Untuk itu istirahatlah, An.
Rin hanya bisa kupandang lama, walaupun pada akhirnya dia terjatuh dan memeluk lututku yang sudah tak lagi berasa. Rin, Airin Yuuji, selalu hidup untuk membenci. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memenuhi daftar orang-orang yang ingin dihapusnya. Tapi belajarlah untuk menjadi pemaaf Rin, karena mulai sekarang aku pun akan belajar meminta maaf. Engkau lelah, beristirahatlah Rin.
Lalu Manja. Aku hanya bisa menggendongnya, memeluknya rapat-rapat. Manja Citra Kelana. Si kecil yang memiliki mata yang aku sendiripun kiranya tak mampu menatapnya. Di antara An, Rin dan Manja, Manjalah yang memiliki aroma kesedihan yang paling harum dan luka yang paling ranum. Sebab itu, tak heran Manja langsung mengenaliku. Karena saat aku menggendongnya, justru ia yang berujar sambil mengusap rambutku, "tak apa.. tak apa.. tuan akan baik-baik saja." Terima kasih An kecil.
Mereka adalah nafas yang menyambungkan malam dengan siang, kenyataan dan impian, kesedihan dan jembatan kebahagiaan. Walaupun kemudian, kita tak bisa saling mengantar pada ujung jalan. Terima kasih, Rumah Hitam Putih.
Benamkan matahari, matikan lampu, hidupkan lilin. Mari kita rayakan...
Stabat, 15 Agustus
Stabat, 15 Agustus
No comments:
Post a Comment