Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, January 30, 2016

Membalik Mimpi

Aku pernah berharap di balik kulitku hanya ada air, tenang, tanpa gelombang. Dan ketika siapapun melempar jangkar cinta dan benci, aku tak ingin bergeming. 
“Af, kalau kau tak bisa mengerjakannya, bilang dong!”
“Loh itu kan bukan tugasku. Af, kan kamu juga ikutan dengar, kok ga ngabarin aku?!” Aku merasa tugasku terlalu banyak, penuh tekanan dan aku hanya ingin lari saja.

Sadar bahwa menjadi air, aku terlalu mudah mendidih lalu menguap, atau terlalu cepat dirundung sunyi lalu aku membeku. Oleh karena itu, mengurung diri menjadi jawabanku. 
Aku pernah berharap di balik kulitku hanya ada api, panas, dan sangat menyengat. Dan ketika siapapun melempar penuh iri, perhatian palsu dan hasrat mendengki – seketika akan melepuh. 

Pintu diketuk tiga kali. Aku masih mengantuk. Pintu diketuk lagi, lalu ibu masuk. “Afat, sudah jam berapa ini? Kamu ga pergi bekerja?”
“Ah ibu, aku masih capek ini. Ibu jangan ganggu aku dulu! Nanti kalau sudah segar juga aku keluar!”, aku setengah berteriak. Kesalku salah tumpah. Tapi aku tak acuh. Kusembunyikan wajahku dibalik bantal. Kudengar ibu berdiam, tak lama pintu ditutup.
Pada malam hari kuintip ibu duduk di ruang makan, melamun. Aku cukup tahu apa yang disembunyikan di wajah pias itu. Di depannya, nasi penuh lauk tampak dingin. Dan ketika ia sadar aku berdiri di depan pintu, senyum mencerahi wajahnya sedikit, “Af…”
Sadar bahwa menjadi api, aku terlalu lemah pada sejuk tatapan sedih, atau bahkan mudah padam bila disiram tulus airmata. Tak ingin kulukai sesiapa, maka kusembunyikan dari mata pengasih.
Dulu di rumah ini ada ayah, ibu dan aku. Tapi perlahan kami kehilangan bagiannya. Ibu kehilangan belahan jiwanya, ayah kehilangan nyawanya, dan aku merasa waktu mencuri seluruh sandaranku.
Aku sudah puas tertidur, saat duduk bersandari di dinding tak sengaja mataku tertuju di bingkai foto itu. Wajah tiga orang yang tertawa di taman ria.  Aku pun pernah berharap tak menjadi apa-apa. Biar saja menjadi anomali, yang waktu juga takkan perduli. Tapi malam ini, tiga bayangan di foto itu menggamitku sampai bermimpi.
Keesokan paginya aku menghambur dari kamarku, segera kuketuk pintu kamar ibu. Kupeluk ibu sambil tersedu-sedu. Aku ingat benar bisik tiga bayang itu dalam mimpi. Seperti ucapan mereka padaku, kuucapkan pada ibu, “Maaf , meninggalkan ibu sendiri.”

Medan, 2016

Wednesday, July 23, 2014

(Rin) : Riak dan Kerak

Riak
Saat itu masa liburan akhir tahun sekolah. Teman sekelas mengadakan camping selama tiga. Di tiga hari yang sama aku menghabiskan waktu menginap di rumah salah seorang guru muda, Bu Citra, tapi ia sendiri lebih suka dipanggil Kak Citra. Masa SMP kuhabiskan mengkhatamkan beberapa rak di perpustakaan. Tak lebih dari bertegur sapa dengan Kak Citra, setiap hari, tapi membuatnya menjadi pilihan lebih dari siapapun.
Ketika teman-teman mempersiapkan bekal tiga hari, aku juga sama. Hanya berbeda tujuan. Saat kukatakan pada Kak Citra di perpustakaan, “Boleh menginap di tempat kakak aja?”, dia lalu menulis di selembar nota, mirip dokter yang dimintai resep. Lalu tersenyum sembari menyodorkan nota tadi, “Datangnya jam-jam 10an ya?”.  Maksudnya dia akan pergi bertanggung jawab menunggui keberangkatan camping kelas. Tapi tentu saja aku tetap datang lebih pagi. Ayahku hanya tahu aku ikutan camping. Dan aku lebih rela duduk berjam-jam di depan rumah orang asing daripada diam di rumah. Bahkan sebelum Kak Citra berangkat dari rumahnya, aku sudah berdiri manis. Kak Citra tinggal sendiri di kontrakan kecilnya. Aku disuruh menunggu.
Sampai hari kedua. Ada ritual kecil yang harus kulakukan setiap pagi. Sialnya, alat untuk ritual itu tertinggal di rumah.
Firasatku mengatakan, inilah awal rangkaian tragedi panjang.
========================================================================
Perempuan itu tinggal berjarak hanya satu kota. Sebuah fakta pertama yang tak sengaja kutemukan. Sebuah fakta yang sengaja ayah sembunyikan. Entah untuk alasan apa. Sebuah kertas di kantung celananya, bertimpa kutang wanita simpanannya – fakta kedua, tercuci sebagian. Kalau saja sebagian lagi bisa terbaca, entah apa, entah lindapan macam apa yang akan jatuh saat mataku beradu dengan mata ayah.
Berbekal fakta kedua, tahun pertama masa SMA ku nanti, akhirnya aku punya hak suara. Pertama kali seumur hidupku. Jika saja jeritan histeris panjangku tak bisa menggedor pintu telinganya, tidak dengan pintu telinga tetangga. Yang kutahu lindapan itu keluar sebagian. Wajahku dan wajahnya sama memerah. Aku menggigit bibirku, sekaligus mengunci rapat segala kuasa lelaki itu selama enam belas tahun. Fakta kedua di tanganku sudah cukup untuk berbicara dan mengancam jiwanya. Jika pertanyaan tiga kata itu keluar dengan nada jeritan yang sama, hidupku dan hidupnya akan poranda. Entah karena hidupku atau karena hidupnya, tapi sekali ini dia merasa kecut dan membagi hak hidupku yang seharusnya.
Tiga jam berikutnya, aku mengunci diri dalam kamar. Ayah mengunci seluruh rumah. Hingga ponselku bergetar, Kak Citra, tentu saja. Bagaimana mungkin aku meninggalkan seseorang dalam kondisi mengkhawatirkanku. Maksudku, satu-satunya orang yang mengkhawatirkanku. Aku membuka pintu kamarku. Menemukan ayah sedang duduk tenang merokok. Dan dia menemukan anak perempuannya keluar dengan wajah datar. Bila harus dicari kesamaan diantara kami, ialah kami sama-sama penipu. Seolah danau yang beriak tenang, tapi di dasarnya menggelegak lahar yang siap tumpah.
“Mau pergi lagi?”
“Hmm.”
Setengah jam berikutnya aku menemukan diriku berdiri di gerbang dengan lindapan yang lain lagi, hendak tumpah. Kak Citra berlari kemudian memelukku, berusaha meredam. Sampai besoknya aku hanya bisa terbaring di tempat tidur. Dan semua airmata yang tumpah itu membantuku. Menguras semua warna bahkan detik yang lalu menjadi abu-abu, lalu kusam, berikutnya tinggal noda-noda gelap di sekat ingatan.  
Kerak
Hanya alamat itu yang membekas. Perihal meneriaki ayahku dulu, fakta pertama harus menjadi bubur di genggamanku beserta emosi dan cucuran keringat yang mengalir deras. Hanya alamat itu. Di ingatan. Anehnya aku tak menemukan ada sebetik keinginan untuk mencari tahu. Kenapa? Tak kutelusuri lebih lanjut mengenai diriku sendiri. Yang jelas, semasa liburan kuhabiskan waktu mencari tempat bersekolah yang tepat. Tidak di kota ini. Tidak juga disana.
Momen berikutnya, aku menyodorkan formulir pendaftaran kepada ayah. Sudah kuisi keseluruhannya. Dan aku tidak meminta persetujuannya. Aku hanya menunggu secuil legalitas darinya. Legalitas yang bahkan aku tak sudi mengakuinya. Ayah kemudian mencoret-coret kecil. Dia hanya melihat kop surat, mencari nama instansi, lalu bagian kosong dekat catatan kaki. Sudah.
Berkat formulir itu seminggu kemudian, pada saat orientasi aku menemukannya. Orang itu salah satu panitia MOS. Dia terlihat ramah, ia bahkan memasang senyum tipis. Rambutnya diikat acak-acakan, seolah tak sempat merapikan, juga seolah mengatakan "hey, takutlah padaku". Aku tahu, semua orang menyukai penampilannya. Tapi pada saat tatapan mata kami bertemu, barulah aku benar-benar paham. Sumbu ketakutan di dalam dadaku, untuk pertama kalinya tersulut. Dan dia akan menjaga apinya agar tetap hidup.

bersambung...

Saturday, June 21, 2014

(Rin) : Anak Tangga

"ngegambar anak tangga lagi?"

"hahaha, excuse me?"

Dia pikir itu gambar anak tangga. Buat gue yang seumur hidup nilai kesenian paling tinggi cuma tujuh, dilematis harus ngerasa tersanjung atau terhina. well, the latter was joke, of course.

then, he's babbling a you-know-how-it-will-go absurd conversation...

"loe yang mana, hidup yang turun nanjak nanjak atau lurus belok-belok?", An mulai ngelantur.
"i prefer turun nanjak-nanjak."
"nah pas!"
"sigh. mata gue gak bisa ngeliat yang frame ratenya rendah tauk.."
"oh ya. tapi pilihan loe gak jelek sih. siapapun tahu kalo naik gunung itu capekan ngedaki daripada turun. jadi, sekarang lagi turun apa nanjak?"
cyclic question, cih.
"gak dua-duanya, kan." senyum sinisnya keluar.
curse you, An.
"you and your own battlefield. jadi, kap.."
PLAK!
"gimme your keys, and don't you dare go back to your home. Manja staying with me tonight."
"EEhhhh??!! S.s..sorry."
"It's alright. daah."

Medan perang itu cuma imej-negatif. An lah yang mencucinya sedemikian rupa, hingga terlihat jelas warnanya, siapa berperang dengan siapa. Setiap pijakan di koridor, suara manusia berbicara, bertengkar, semuanya masuk kesana. Meng-audio visualisasi setiap imaji yang paling kubenci. Wajah dua orang itu. Wajah paling keras.

Ah iya, kelupaan. Aku berbalik lagi ke arah An.
"Hey, itu bukan anak tangga loh." aku menunjuk anak tangga yang terus digambar An.
untuk kedua, ketiga, keempat dan seterusnya memang anak tangga sih. haha
"Itu gambar anak panah. hahaha."
An terpelongo. Aku melenggang pergi. 




Monday, February 17, 2014

(An) : Jingga yang sepi, yang duduk sendiri

Bila bercerita tentang takdir tentulah sembilan bulan yang lalu bukanlah awal. Tapi di buku catatan Tuhan, jahitan takdir tidak pernah salah. Motifnya berwarna, bercampur dengan entah takdir siapa saja. Rajutan takdirnya tiba-tiba menuju pusat segala perhatianku. Mungkin. Dia sudah terjahit rapi di buku catatan Tuhan, sebagai kuncup bunga. Dan aku digiring secara rapi, menjadi tangkainya, berharap mampu memekarkan takdirnya; lebih panjang dari hidupku. Yang terakhir itu sebuah do'a.

Sembilan bulan yang lalu.
Sejujurnya, urusan kuliahku tak ada urusannya dengan kesibukanku selalu singgah ke tempat itu. Seujung kuku pun. Dan pekerjaan sampinganku sudah cukup memakan waktu, walaupun memang tidak setiap hari. Tapi membantu mengajar di salah satu sekolah desa Rukun Sejati sudah menjadi komitmen awalku. Rin sebenarnya yang merekomendasikan tempat ini sebagai tempat pengabdian kemahasiswaan terakhir. Dan aku tak mau tahu lebih banyak dari jaringan kliennya yang nomer berapa yang juga turut andil merekomendasikannya. That's itThe chain of fate. And it's not finished yet.

Jarak tempuh dari kosan ku yang sekarang dari tempat pengabdian memakan waktu sekitar dua jam kurang. Untungnya angkutan menuju desa itu dua puluh empat jam. Sampai di depan gapura desa, aku harus berjalan lagi sekitar tujuh menit untuk sampai sekolah. Sebenarnya jatah mengajarku hanya satu mata pelajaran. Tapi tentu saja bohong. Barangkali hampir semua sekolah dasar di daerah terpencil kekurangan tenaga pengajar. Ya, sekolah dasar. Aku harus mengajar tiga mata pelajaran sekaligus, selama empat hari seminggu, dan berhadapan dengan mental anak-anak. Well, aku tidak keberatan. Aku tidak terlalu penyayang dengan anak-anak, itu sebabnya aku meminta kelas lima dan kelas enam saja. Alasan kedua, kau tahu yang ini agak dilematis jika harus kusampaikan.

Bukan Rin namanya, kalau setiap bahasanya, ajakannya tidak memiliki makna politis. Aku hampir mengoyak-oyak kemejaku saat hari pertama mengajarku selesai. Minggu berikutnya, justru aku berdo'a agar jam mengajarku jangan selesai lebih awal. Yap. Di desa itu, bila dari sekolah berjalan lagi lebih kedalam, kira-kira dua ratus meter, kau akan menemukan kumpulan bangunan bercat kuning dalam kompleks berukuran kira-kira dua halaman sepak bola. Tepat setelah pintu gerbangnya, ada lapangan kecil serbaguna yang lebih kelihatannya hanya dipakai untuk upacara. Walaupun aku tidak mengerti bagaimana orang bisa mengetahui kompleks apa ini karena desain platform namanya tersembunyi dibalik dinding gerbang itu. Tertulis "Panti Asuhan Harmoni".

Setiap pekannya, kelompok grup relawan (salah satu jaringan Rin) yang terdiri dari lima sampai enam orang datang ke sini untuk membuat acara sosial. Tentu saja, pada awalnya aku secara terpaksa ikut bantu-bantu sebagai seksi sibuk. Bukannya aku tidak menyukai kegiatan-kegiatan sosial. Tapi bila harus bekerja sama dengan orang-orang 'asing', terlebih tiap pekannya diganti terasa merepotkan dan meninggalkan rasa ganjil secara khusus. Ini penyakit interpersonalku.

Secara otomatis, jadwalku yang seminggu empat kali ke sini harus bertambah menjadi lima sampai enam hari. Bila segalanya menjadi tak terkontrol, mau tak mau aku tak bisa pulang ke kosan. Soal menginap tak usah ditanya. Semua penduduk dengan senang hati menawarkan rumahnya. Tapi aku lebih memilih untuk tidur sendirian di surau samping panti dengan bercahayakan hanya lampu semprong. Ajaibnya stop kontaknya masih berarus. Dan ini alasan terakhir aku sanggup bertahan di surau sendirian. 
Mata yang berisik.
Setelah sebulan pertama ikut bantu-bantu di panti tiap pekan, ibu-ibu pengasuh lebih mengenalku daripada anggota relawan. Pekerjaanku meliputi mengangkat sarapan dan membagikannya bila itu berbentuk nasi kotak. Jika tidak, aku harus menuangkan nasi dan lauk secara adil tergantung pada umur berapa yang mengantri. Ada yang merasa mendapat nasi kurang, padahal nasinya sudah lebih banyak. Ada yang ogah-ogahan makan, tapi aku tetap tidak boleh mengiyakan permintaan mereka. Begitu kata Mbok Rami, salah satu ibu pengasuh yang paling cerewet soal makanan.

Sebelumnya aku tidak memperhatikan, tapi ada satu gadis kecil yang kapan pun bila kutanya, "Cukup nasinya? Cukup lauknya?" Dia tidak pernah menjawab. Anak-anak yang lain selalu berkomentar tentang nasinya, bila tidak langsung ngeloyor ke meja-meja makan. Tapi gadis kecil ini selalu menunggu aku bertanya seolah-olah itu adalah kerupuk yang aku selalu lupa untuk tambahkan. Bila aku sudah bertanya, dia pun pergi tanpa ada perubahan di ekspresi wajahnya. Wajahnya oval kecil. Pipinya putih merah, tampak urat-urat biru sepanjang pipi sampai lehernya. Matanya tampak besar tapi tidak, justru kelihatan tak pernah digunakan untuk membelalak atau berteriak layaknya anak-anak seumurannya. Lingkar matanya selalu alami tampak merah. Tidak bengkak. Rambutnya sebahu dengan keriting-keriting kecil diujung rambutnya. Satu lagi, dia selalu memegang buku cerita lusuh agak besar. Hard covernya bertuliskan, "Rumah Jingga". Belakangan aku tahu, dia dipanggil Jingga. Nama aslinya? Tak seorang pun tahu.

Di suatu sore ketika aku berjalan menuju surau, ya aku lembur, tatapanku tak sengaja menangkap Jingga yang sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman di lapangan. Mungkin kebetulan. Karena lebar pintu gerbang itu hanya bisa menampakkan wajahnya sekitar empat detik. Entah bisikan apa saat itu yang berhembus di telingaku. Tepat dua detik setelah wajah Jingga menghilang di balik dinding itu, aku berhenti sejenak dan memutuskan untuk singgah sebentar ke panti. Aku berjalan pelan menuju gedung utama. Untuk mencapaiya aku harus menyusuri lapangan kecil sebelah kiri dan melewati koridor yang menghubungkan gedung utama dengan kantor administrasi. Jingga duduk jauh di sebelah kanan lapangan, tapi aku masih bisa merasakan tatapannya yang mengikuti bayanganku. Sembari pura-pura melihat anak-anak panti dari berbagai umur yang berserak di lapangan kecil itu.

Sesampainya di gedung utama, aku hanya menemukan Mbok Firda yang sedang menyapu dedaunan flamboyan di depan gedung utama. Beliau menyapaku sopan, tidak kaget dengan kehadiranku. Aku mengambil dudukan di pagar balkon dan meletakkan tasku di dekat situ.

"Yang lain pada kemana, Mbok?" Maksudku para ibu pengasuh.
"Rami lagi belanja buat makan malam. Minah kayaknya ada di depan tadi jagain anak-anak. Kalok si Sri lagi ngerumput di taman belakang sama anak-anak putri."
"Oh."
"Mas An ndak pulang?"
"Ndak Mbok, agak banyakan tugas hari ini sama besok."
"Wes, mangan bareng sini aja Mas."
"Iya Mbok. Oh iya, omong-omong Jingga itu umurnya berapa tahun ya Mbok?"
"Hmm? Jingga?" Mbok Firda mengulang pertanyaanku sembari menghentikan sejenak aktifitasnya. "Empat tahun kurang." lanjutnya.
"Udah berapa lama disini?"
"Maksud Mas, kenapa bisa sampai disini?", Mbok Firda merevisi pertanyaanku. Mungkin pertanyaanku sudah biasa baginya.
"Hehe, iya Mbok."
"Itu si Rami yang lebih tahu dan paham. Saya kurang tahu detailnya. Kalo disini, baru sekitar empat bulan. Masih baru." lalu Mbok Firda melanjutkan aktifitasnya.
"Hmm.."
"Tapi, yang pingin adopsi Jingga udah banyak. Imut-imut gitu." Mbok Firda menambahkan. "Tapi, si Rami yang ndak ngasi. Kami ya sepakat aja. Kami percaya sama Rami."

Pikiranku mulai bercabang. Tapi aku berusaha penasaran sewajarnya. Mbok Firda kemudian menyelesaikan tumpukan daun yang disapunya. Masih memegang sapunya, kemudian mengambil tempat duduk di sampingku.

"Ndak usahkan orang tuanya yang baru nanti. Lha kami aja yang udah puluhan tahun saja bingung lihat Jingga. Banyak anak yang sampai kesini dengan berbagai macam alasan. Punya trauma, ketakutan dan segala macamnya. Yang pertama sampai sini nangis lah, mau kabur, sampai juga ada yang ngamuk berminggu-minggu. Alasan-alasan itu gak bisa terbuang begitu saja. Butuh waktu kadang sampai tahunan, Mas. Kami bukan ya yang terlalu berpengalaman juga. Tapi kayak si Rami yang udah puluhan tahun disini, paling senior di antara kami, kami sepakat bahwa kebahagiaan anak itu paling penting kalau mau anak-anak dari sini. Bukan uangnya loh Mas." Mbok Firda tersenyum. Aku hanya menyepakati dalam hati. Menunggu kelanjutan ceritanya.

"Tapi anak-anak biasa saling nyemangatin, saling perhatian. Kalo yang tua-tua kita gini lamban, kalo sama yang seumuran cepet nyambungnya. Bagi kami, panti ini, mesti jadi rumah yang nyaman bagi mereka. Ndak ada pilihan lain. Prioritas. Soal donatur perihal lain. Kalo cerita duit, si Rami itu paling pelit. Tapi kalo cerita anak-anak barangkali udah ludes semua tabungan kami demi anak-anak."
Mbok Firda mengambil nafas panjang.

"Kalo soal Jingga...anak itu agak lain. Saya bukannya ndak tahu asal-usulnya. Tapi Ramilah yang berhak cerita. Dari pertama kali sampai disini, dia satu-satunya yang ndak bisa berubah. Kalo Rami bilang 'belum', 'sabar', 'nanti aja'. Kalo soal makan Mas An tau ndiri, anaknya gak rewel. Kalo sama kawan-kawannya juga biasa aja, main bareng, belajar bareng. Tapi kami tahu...dia itu masih memperlakukan dirinya sebagai tamu. Dikit banyaknya pastilah kami sedih."

Aku terdiam. Mencoba mengingat selama sebulan ini suara Jingga. Dan ternyata aku belum pernah mendengarnya. Aku memperhatikan wajah si Mbok. Pastilah keras perjuangan ibu-ibu pengasuh untuk membahagiakan puluhan anak-anak ini. Kuperhatikan satu-persatu kerutan di wajahnya yang berumur kepala lima. Setiap kerutan itu berasal dari anak yang mana. Dari empat ibu pengasuh, cuma Mbok Rami yang perawakannya paling tegar walaupun dari umur beliau paling senior. Aku pun mulai berpikir bagaimana caranya menghidupkan 'warna' panti ini.

"Wes, mandi dulu kamu sana di belakang. Mbok juga mau manggil anak-anak."
"Ndak mbok, di surau saja." Aku bangkit dan tersenyum. Lalu bersama-sama Mbok Firda ke lapangan.
Sembari membantu menyuruh anak-anak masuk untuk mandi dan mengaji sore, aku mendekati Jingga yang sedang serius membaca buku lusuhnya. Ia tak sadar kudekati.
"Jingga." Aku memanggilnya pelan dan setengah menunduk

Kuperhatikan tubuhnya membeku. Lalu seperti gerakan slow motion, dia menutup bukunya. Menegakkan kepalanya datar, tanpa mendongak dia menatapku. Ekspresinya secara alami tidak mengernyit. Tapi matanya menyipit karena tidak mendongak itu. Baru ini aku memperhatikannya dekat dan lekat. Di bibirnya ada senyum tipis, terlalu tipis bahkan seakan-akan disapu angin pun hilang. Dan matanya. Entah apa yang terjadi, panggilanku barusan terngiang lagi ditelingaku. "Jingga". Lalu matanya menjawabnya. Dengan suaranya. Dari pita suara yang aku masih berimajinasi berbunyi seperti apa. Lewat mata itu kami bercakap-cakap banyak. Seolah mimpi di malam hari, pada detik berikutnya kau lupa bercerita apa dengan perasaan buncah yang seperti apa. Matanya terlalu berisik.

Jingga melompat dari tempat duduknya, membuyarkan imajinasiku tadi, melewatiku pelan. Mengikuti barisan Mbok Firda yang pelan-pelan juga menghilang dari balik koridor.

Hei...apa yang barusan itu?





Saturday, February 15, 2014

Bintang Pagi (1) : "Di Suatu Kafe..."

Gadis kecil itu mengunyah makanannya dengan amat sangat lucu. Gadis kecil itu mengenakan gamis biru dengan renda merah dan jilbab panjang berwarna krem. Pipinya yang merah bulat itu kembang kempis saat mengunyah pelan.  Tapi tangan mungilnya justru sibuk memain-mainkan koin pecahan ratusan, dibolak-balik, lalu diputar-putar di atas meja dengan jemarinya. Kutaksir umurnya belum sampai lima tahun.

Di meja itu gadis kecil itu duduk sendirian. Di tengah salah satu meja food court. Memang tak banyak orang yang makan jam-jam brunch, apalagi dihari kerja seperti ini. Di depan gadis kecil itu terdapat laptop setengah terbuka dan tas ransel berukuran berukuran sedang. Bila diintip sedikit, terlihat sehelai kain berwarna paduan oranye terang dan biru muda. Barangkali baju milik gadis kecil itu.

Aku masih memperhatikan gadis kecil itu hingga pada saat tatapan kami bertemu, barulah ia menarik tangannya, menyembunyikan senyum riangnya tadi, dan menundukkan wajahnya seperti anak yang baru saja tertangkap basah bermain genangan air. Aku pun membalikkan pandanganku, juga sambil menahan senyum. Namun jelas saja sesekali aku mencuri-curi pandang gadis kecil itu. Setelah dia juga puas mencuri-curi lihat padaku, memastikan bahwa aku tidak sedang memperhatikannya, barulah bibir merahnya mengembang lagi.

Semenjak aku datang di kafe ini, terhitung sepuluh menit kemudian barulah seorang pemuda datang menghampiri gadis kecil itu. Kutaksir umurnya sekitar dua puluhan. Pemuda itu mengenakan kemeja lengan panjang, dengan tiga kancing sampai dada, berwarna krem dan strip biru di kerah dan pergelangan tangannya. Bila pemuda itu berdiri berdampingan dengan si gadis kecil, sungguh perpaduan warna yang serasi sekali.

Saat pria itu kembali entah darimana, ekspresi gadis itu berubah manyun. Pura-pura ngambek kelihatannya. Tapi pemuda sengaja tersenyum, seolah-olah dia yakin gadis kecil itu tidak apa-apa selama ia tinggalkan. Dan, kelihatannya memang seperti itu. Pemuda membuka laptopnya sambil tidak melepaskan senyumnya. Gadis kecil itu tetap manyun sambil mengunyah makanannya yang belum habis. 

Selama beberapa menit ekspresi mereka belum berubah, hingga pada akhirnya si gadis kecil tersenyum kecil. Si pemuda yang sedari tadi mengotak-atik laptopnya berhenti, kemudian memandang pada gadis kecil itu. Matanya tertarik seolah heran. Tapi ia sudah curiga maksud gadis kecil. Lalu gadis itu mendorong piring makanannya ke arah pemuda itu. Pemuda lalu menggelengkan sambil mengedipkan kedua matanya. Tapi si gadis kecil itu, mungkin punya bawaan genetik yang sama hingga membalas menggelengkan kepalanya sambil mengedipkan mata. Kemudian disusul dengan tangan mungilnya yang ditempel pada wajah, kemudian jari telunjuk dan matanya kompak mengajak pemuda itu untuk melihat kearah yang ditujunya. Sebuah papan menu besar bergambar Ice Cream Sundae Banana Split ukuran sedang. Pemuda itu sontak menarik badannya, menatap balik ke gadis kecil itu lalu membelalakkan matanya. Ia menggeleng.

Gadis kecil itu menggembungkan pipinya dan melemparkan wajahnya dari pemuda. Ngambek. Pemuda itu menghela nafas, tak sanggup mengelak permintaan gadis kecilnya, lalu memesan sundae ukuran sedang itu.
Gadis kecil itu tersenyum senang. Menampakkan barisan gigi susunya yang putih.

Selang beberapa saat sambil melihat gadis kecil itu melahap sundaenya dengan lahap, pemuda itu meneruskan kegiatan dengan laptopnya. Tangan gadis kecil yang memainkan koin sambil melahap sundae itu menarik kembali perhatian si pemuda. Dia setengah menutup laptopnya, meminggirkannya, lalu mengambil koin yang kebetulan sedang lepas dari genggaman si gadis. Gadis kecil itu terdiam, lalu menatap pemuda itu serius. Kedua alis gadis kecil itu terlihat dipaksakan agar bertemu ditengah. Matanya juga seperti dipaksa disipit-sipit agar terlihat sinis. Tapi pemuda itu mengembalikan ekspresi si gadis kecil dengan tersenyum nakal.

Pemuda itu kemudian memberikan isyarat dengan telunjuknya untuk memperhatikannya. Lalu ia mempertontonkan trik old school dengan melemparkan koin itu ke udara dan menangkapnya dengan cepat. Kemudian ia menghadapkan kedua tangannya yang terkatup tadi, tak sempat memberikan kesan di tangan mana koin itu tertangkap pada si gadis kecil. Gadis kecil itu tersenyum namun menatap masih menatap pemuda itu heran. Pemuda itu menatap kedua tangannya yang terkatup bergantian, berisyarat agar si gadis kecil memilih salah satunya. Si gadis girang, dengan manjanya pura-pura bingung lalu menggengam salah satu tangan dengan kedua tangannya lalu melepaskannya. Pemuda itu menahan diri untuk membukanya, lalu begitu terbuka ternyata kosong. Lalu ia membuka tangannya yang lainnya. Ia tersenyum senang, senyum kemenangan. Si gadis mendesah, lalu bertepuk tangan meminta diulang kembali trik yang barusa. Pemuda itu menggeleng, lalu menepuk pipinya dengan telunjuk dan mendekatkannya ke arah si gadis kecil. Si gadis manyun, lalu dengan ia berdiri diatas bangku dan dengan setengah hati mencium cepat pemuda itu. Pemuda itu tersenyum lalu memperagakan triknya tadi. Kali ini si gadis kecil tersenyum penuh percaya diri. Tapi ia pun tak kalah lecenya dari si pemuda, ia pura-pura ragu meletakkan tangannya. Kemudian memilih salah satu tangan yang terkatup. Pemuda itu masih menahan untuk membukanya, lalu beberapa saat ia membukanya pasrah. Gadis kecil itu menang. Lalu ia membalas menepuk-nepuk pipinya yang bulat dengan telunjuknya. Pemuda itu mendesah, pura-pura malas, lalu mencium pipi si gadis dengan cepat.

Gadis kecil itu bertepuk girang. Tapi kali ini wajah si pemuda serius, ia menyembunyikan senyumnya, lalu seolah dengan sinis menyipitkan kedua matanya. Si gadis tak ingin terkecoh membalas dengan ekspresi yang sama. Pemuda itu melempar koinnya lebih cepat, tapi sesaat sebelum menurunkan kedua lengannya, ia menjatuhkan koinnya kedalam lipatan baju lengan panjangnya. Ia membiarkan gadis kecil memilih. Tentu saja pilihan pertamanya salah. Tapi ia tak terburu-buru membuka tangan yang lainnya. Wajah si gadis cemberut karena salah. Karena tangan satunya lagi tak kunjung dibuka oleh si pemuda, ia menepuk tangannya. Tatkala pemuda itu membuka tangannya, ternyata juga kosong. Gadis kecil itu kaget. Belum selesai keterkejutannya, si pemuda itu sudah memberikan isyarat pipinya dengan senyum penuh kemenangan. Si gadis kecil manyun, mau tak mau mencium pipi pemuda itu dengan cepat. Setelah puas dengan kemenangannya, pemuda itu merogoh lengannya dan menunjukkan koin yang disembunyikannya dengan curang. Si gadis kecil tak bisa menyembunyikan ekspresi yang campur aduk, tapi ia tertawa. Tawa yang paling jujur. 

Tapi dibalik itu, hanya An, pemuda itu yang paling paham apa yang ada dibalik tawa jenaka Manja, gadis kecil itu....

to be continued

Wednesday, February 5, 2014

Alasan

Tidak begitu susah sebenarnya bagiku, jika hanya duduk diam denganmu lalu berbicara tentang hari-hari kita. Tidak begitu susah sebenarnya bagiku juga, jika saja pertanyaan itu tidak pernah kau lontarkan.
Karin masih memejamkan matanya saat aku menatapnya dengan perasaan hangat. Dia menikmati belai angin dan suara ombak. Aku menikmati ombak lain yang berkecamuk di dadaku. Hari ini, ya, hari ini aku berencana untuk menembaknya. Momen yang tepat menurutku.
“Rin, hei Rin..”
“Ehm…apa ada Lang? Ganggu orang asik tidur aja nih.”
“Hehe, sorry. Udah mimpi belum tadi?”
“Engga. Suara ombaknya bukan bantu gue tidur nyenyak, malah asik mikir.”
“Sama dong, emang loe mikir apa?”
“Hmm, kenapa ada ya orang yang mau baik sama kita?”
“Masa orang mau berbuat baik ditanya-tanya sih.”
“Gak gitu, kalo subjeknya dasar baik sih kaya gue sih maklum.”
“Yee…” Gue tepuk pundaknya pelan.
“Oke-oke, gue bercanda. Terus tadi loe mikir apa?”
Aku mengambil nafas pelan. Berusaha berpikir kalau semesta ini melahirkanku dimana pun, bahwa takdirku tetap jatuh pada Karin. Semoga saja.
“Kira-kira, berapa banyak jumlah kebaikan yang harus seseorang lakukan untuk dia pantas mencintai orang lain?”
“Ha? Emang loe mikir gitu tadi? Kok temanya dekat ya. Haha”
“Udah jawab aja.”
“Hmm…berat pertanyaan loe men.”
“Berapa banyak jumlah kesalahan yang seseorang maksimal lakukan agar dia masih pantas mencintai orang lain?”
Karin terdiam. Tapi wajahnya tidak seperti orang bingung. Wajahnya begitu tenang, seakan-akan dia telah mempunyai jawabannya.
“Gilang..”
“Ya?”
“Seandainya pun manusia berbuat kesalahan banyak, Tuhan masih menerima manusia yang datang padaNya dengan mengakui kesalahannya. Tapi seandainya manusia melakukan banyak kebaikan, apa yang menjadi intinya apakah dia melakukannya karena ia taat pada Tuhannya atau karena ketakutannya, keterpaksaan, dan sebagainya.”
Aku tercengang.
“Maksudnya Rin?”
Karin kemudian berdiri. Membiarkan wajah dan rambutnya disapu angin.
“Seandainya loe berbuat baik karena gue, ataupun loe berbuat kesalahan sama gue. Pertanyaannya, berapa banyak diri loe yang mesti loe hadirkan atas alasan-alasan itu? Sederhananya, bagian diri loe yang mana yang benar-benar hadir untuk gue?”
Aku terdiam. Teringat tiga tahun yang lalu. Tak sengaja melihat Karin keluar dari hotel dengan seorang lelaki yang berumur. Wajah Karin kusam. Saat itu lautan menemukan ombaknya. Ombak yang mampu menenggelamkan cinta itu sendiri.


Monday, August 22, 2011

Pengukir Mimpi

Pengukir Mimpi
By: Albi Yohana Sinaga
            Aku bangun pagi ini dan mendapakan ibuku bertengkar dengan kakakku. Mereka saling berteriak. Memenuhi dapur dengan suara tak penting mereka. Sehingga rumah yang baru kami tempati kemarin ini terasa pengap.
            “Jika mau menyalahkanku salahkan saja!” teriak kakak perempuanku. ”Semua ini memang salahku, jangan pura-pura tidak menyalahkanku, tapi terus-terusan menyudutkanku!”
         “Siapa yang menyudutkanmu, kenapa kau tak kunjung mengerti.” bela ibuku. Entah akan terjadi berapa lama. Aku juga tak peduli. Mereka selalu meributkan hal yang sama sejak seminggu yang lalu. Aku sejujurnya sudah bosan. Jadi, terserahlah mereka akan berbuat apa. Aku masuk ke kamar mandi, melewati mereka. Beberapa puluh menit kemudian, aku telah selesai sarapan. Dan siap berangkat sekolah.
           "Aku pergi!" kataku pelan kepada ibuku. Kakakku diam saja.
           "Aku harap kau suka sekolah barumu.” kata kakakku di tengah perjalanan sekolah di atas motornya.
         "Bagiku sama saja, kau dan ibu, sama-sama salah.” kataku dingin, kakakku tak berkata apa-apa lagi. Nama ayahku, Matahari. Dia meninggal satu minggu yang lalu. Meninggalkan tiga wanita yang tidak bisa hidup tanpanya. Beberapa jam setelah pemakamannya, kakak sepupu kami, anak dari adik kandung ayahku, berkata pada kakakku, “Rumahmu adalah rumah orangtuaku yang dulu pernah di berikan pada ayahmu. Batalkan pertunanganmu dengan Yusuf, maka rumah itu bisa jadi milik kalian. Selamanya.” Ibuku mendengar pernyataan itu, dengan sok berani dan sok baiknya dia menampar kakak sepupuku, dan bilang tidak butuh rumah. Padahal tidak ada yang punya perkerjaan atau orang yang bisa dijadikan penopang diantara kami bertiga. Entah apa yang dilakukan oleh kakak sepupuku, sehingga dihari yang sama kami diusir oleh keluarga besar ayahku. Terlunta-lunta beberapa saat di jalan. Sampai akhirnya kami menemukan rumah mungil di kontrakkan. Itu juga atas bantuan teman ibuku. Kami jatuh miskin seketika. Tunangan kakak tidak bisa di hubungi. Dia menghilang. Kakak mencari kerja bersama ibu. Sejak dua hari yang lalu kakak bekerja di perusahaan swasta sebagai administrasi. Dan ibuku diperhotelan. Lalu, aku terpaksa pindah sekolah karena dua alasan. Pertama, sekolah lama terlalu mahal. Kedua, sekolah itu terlalu jauh. Aku terdampar di pinggir jalan, di rumah kecil, dan sekolah tidak penting tanpa teman. Aku tidak dapat menjangkau teman-teman lamaku untuk beberapa alasan. Dan beberapa saat.
            “Ini adikku, Anggrek”, kata kakakku kepada seorang perempuan sebayanya. Namanya Rosa. Guru dan teman kakakku waktu SMA. Rosa ini mengajar disini, dia akan mengurusku selama aku di sekolah. Mau tau pendapatku tentang Rosa? Aku benci senyumnya. Satu-satunya hal yang terus-terusan ia tunjukkan. Orang seperti dia ini biasanya menghabiskan ‘bagian dalam’ lebih dahulu. Tahu maksudku? Tidak bisa di percaya.
            “Titip dia ya?” kata kakakku lagi.
            “Tenang saja”, Rosa mengelus-ngelus kepalaku. Menjijikkan.
          "Enjoy your new school.” Lalu perempuan tidak penting itu meninggalkan aku berdua saja dengan guru ‘tidak bisa di percaya’ ini.
            “Kau akan suka dengan kelas barumu”, mulai Rosa dengan senyum yang tidak kalah lebar dengan sebelumnya.
            “Kenapa ibu diberi nama ‘Rosa’?”, kami saling melirik.
“jika aku boleh tahu.” kataku melanjutkan.
            “Mungkin karena orang tua ibu suka bunga, ‘Rosa’ kan di ambil dari kata ‘Rose’ artinya mawar.
         “Berduri dong.” aku nyengir lebar tanpa alasan. Dan sekejap senyum Ibu Rosa menghilang. Sepertinya kaget. Dia tercengang.
            “Ini kelasnya.”
          Rosa mneggenggam tanganku tiba-tiba dan membawaku masuk ke dalam sebuah kelas. Dengan senyum dua jari bibir atas dan bawahnya itu, kami masuk, dan membuat semua perhatian teralihkan. Pelajaran bahasa Inggris. Gurunya sedang menjelaskan sesuatu tapi kemudian berhenti.
          “Maaf mengganggu, ibu akan memperkenalkan murid baru.” Keheningan langsung riuh. Tidak penting.
         “Karena ibu wali kelas kalian, jadi ibu akan memperkenalkan warga baru kita.” Basa-basi yang tidak perlu. Jujur, semua jadi aneh.
            “Namanya Anggrek.” Rosa mendorongku sedikit ke depan.
            “Silahkan Anggrek, perkenalkan dirimu.” Mereka semua diam menunggu, seperti orang bodoh.
            “Aku Anggrek. Anggrek Shasmitha.” kataku singkat.
            “Jelaskan juga kamu tinggal di mana dan pindahan dari mana.” kata Rosa dengen senyumannya.
            “Alamat rumahku…”
           Aku beralih menatap Rosa. Dan raut muka Rosa seolah bilang ‘ayo katakan’. Tapi aku diam saja dan terus menatapnya.
          “Mungkin Anggrek masih malu, sisanya kamu tanya sendiri. Anggrek, duduklah di sana.” Tunjukannya menunjuk pada satu-satunya kursi yang kosong. Aku berjalan acuh, aku duduk, semua mata berhenti tertuju padaku. Rosa keluar dan pelajaran dilanjutkan. Teman sebangkuku yang baru adalah laki-laki. Aku tak tahu namanya. Dan tidak penting untuk itu. Guru bahasa Inggris yang tertunda tadi mencatatkan sesuatu di papan tulis. Aku mengeluarkan bukuku. Aku tak tahu mengapa. Tapi tanganku sempat mampir ke laci sebelum mengeluarkan alat tulis. Dan menemukan ‘kalung’.
         “Ini punyamu?” tanyaku menunjukkan kalung itu pada teman sebangkuku. Dia berhenti menulis sejenak lalu melihatku dengan kalung itu secara bergantian.
            “Kalau mau ambil saja.”
Kalungnya memang bagus. Perak dan bandulnya berbentuk pasak dan palu.
“Itu kalung pengukir mimpi. Dia akan mengabulkan permintaan pertama yang kau pikirkan setelah memakainya.” Kami saling melontarkan pandangan aneh. Seolah bilang ‘kau percaya?’. Tapi siapa peduli, toh ini cuma kalung. Jadi aku langsung memakainya.
"Mungkin lebih baik jika aku mati…” gumamku begitu saja. Kita harus mencobakan untuk tau apa benar kalung ini seperti perkataannya.
Krek..krek..
Debu-debu kecil berjatuhan di kepalaku. Beserta serpihan-serpihan…Atap? Aku mendongak.
“Ha?”
Atapnya retak. Pecahan-pecahannya seperti mau runtuh menimpaku. Tapi aku sama sekali tidak mau beranjak lari. Aku menunggu atapnya benar-benar menimpaku. Lalu, satu bongkahan batu besar datang dari atas. Seperti lepas dari perekat. Aku memejamkan mata.
“Hei!”
Mataku sentak terbuka. Aku sedang tertidur di tempat aku duduk dan baru saja di bangunkan oleh teman sebangkuku. Tanganku dalam keadaan menggenggam bandul kalung.
“Itu kalung pengukir mimpi. Tidak meminta tumbalan, bayaran, pengorbanan atau apapun sejenisnya. Kalung itu mengabulkan permintaan pertama yang kau pikirkan, tapi itu hanya pengukir mimpi.” Penjelasan yang benar-benar memukau. Tidak juga sih.
“Siapa tadi namamu?”
“Yusuf!”
Aku menatap lekat-lekat kalung berbandul perak ini. Pengukir mimpi ya? Benarkah? Tapi sekalipun iya, semua hanya mimpi. Mimpi mungkin tidak brpengaruh apa-apa, tapi aku butuh hal sejenis mimpi untuk membuka mataku terhadap kenyataan ini. Mimpi tidak akan membunuh kan? Jadi aku melepas dan memakainya lagi.
“Aku harap semua ini tidak pernah terjadi.”
Semua berubah gelap.
            “Anggrek..anggrek..”
Aku mendengar kumpulan suara memanggil, tapi aku tidak bisa melihat apa-apa.
            “Anggrek!”
Tubuhku tersentak.
         “Kau tak apa-apa Anggrek?” Terry meremas tanganku. Terry? Sahabatku? Kenapa dia? Aku memperhatikan sekeliling. Aku tahu ruang kesehatan ini. Catnya masih baru. Porselennya bening. Ruangan identik dengan warna merah muda. Ini ruang kesehatan di sekolah lamaku. Tidak salah lagi.
            “Kenapa senyum-senyum seperti itu? Terry mendorong lenganku, kusadari aku nyengir saat tahu ini sekolah lama ku.
            “Aku tadi mimpi aneh. Mana Terra?” Kembaran Terry. Aku dekat dengan mereka berdua. Dengan Josh, pemain basket sekolah. Dan Adam, atlet lari sekaligus berandalan. Tiap hari selalu mendapatinya berjalan di kejar wakil kepsek karena ketahuan makan saat jam kosong. Tapi mereka bertiga tidak ada, hanya ada Terry.
            “Entahlah, aku di sini saja sendirian selama dua jam menunggumu bangun.”
            “Eh…”
            “Kau tidak ingat? Tadi kau pingsan karena lemparan bola basket Josh ketika istirahat. Aku rasa dia takut bertemu denganmu sementara waktu.”
            Aku kembali. Aku telah kembali. Pulang ini aku akan lari ke rumah dan memeluk ayahku.
            “Ayah?”
            “Ayah? Ada apa dengan ayahmu?” Tanya Terry.
            “Tiba-tiba aku ingin bertemu ayahku.”
            “Dia kan ada di aula, hari ini ada pertemuan wali murid. Ayo lihat!”
Terry menarik lenganku untuk segera bangkit. Kami berlarian kecil menuruni tangga menuju lantai bawah dan segera menghampiri aula.
            “Hei!”
Ayah. Aku memeluknya. Kami bertemu di pintu aula.
            “Kepalamu terbentur sesuatu, Anggrek?” tanya ayahku heran. Wajar saja, aku bukan anak papi. Atau seseorang yang dekat dengan orangtuanya. Tapi kehilangannya selama seminggu terakhir ini dan masalah bertubi-tubi menerpa kami bahkan kuburan ayahku belum kering. Aku sudah benar-benar merindukannya. Aku ingin di sini selamanya. Aku menyesal sama sekali tidak pernah memeluk ayahku. Sama sekali tidak pernah mengajaknya bicara. Aku hanya mendengar suaranya beberapa kali dalam satu bulan.
            “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Berpelukan sampai kering?” Tanya ayahku. Sekarang dengan nada risih. Jadi, aku melepaskan pelukanku. Aku mengangkat kepalaku. Ayahku melirikku. Lama kami saling melihat.
            “Eh..aku tak tahu apa yang di lakukan seorang ayah kalau ketemu anaknya.”
Aku tersenyum kecil. Aku juga tidak tahu apa yang akan di lakukan seorang anak kalau bertemu ayahnya.
          “Begini saja!” Terry tiba-tiba angkat bicara. Cara mencairkan suasana yang baik. Kami berdua beralih padanya. “kita makan malam di rumahku sebagai acara keluarga. Aku akan ajak josh dan adam berserta kaluarga mereka. Gimana?”
         “Boleh!” kataku semangat. Kenapa jadi semangat? Terserahlah. Toh, sudah di sini kan. Tapi bagaimana jika aku mau kembali? Mungkin tidak bisa kembali dan terus begini. Hidup itu harus dijalani kan? Jadi, kenapa tidak dijalani saja. Mimpi atau bukan jelas-jelas ini tidak bisa merugikanku. Lalu semuanya berjalan normal. Aku bermain bersama empat temanku sepanjang istirahat. Pulangnya aku membuat eksperimen masakan bersama kakak dan ibuku. Mereka akur dan tidak meributkan siapa yang salah. Jadi ingat tunangan kakak. Siapa? Yusuf? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Meski sudah jadi tunangan kakak selama tiga bulan. Ngomong-ngomong nama Yusuf sama dengan teman sebangkuku.
          “Bagaimana Yusuf?” aku melemparkan pertanyaan yang membayangkannya saja tidak pernah. Kakak berhenti makan siang.
            “Dia baik-baik saja.” Jawabnya dingin. Lalu melanjutkan makan.
            “Ajak saja dia makan di rumah Terra-Terry hari ini.” Kalimat itu terlontar begitu saja. Sebenarnya bagiku tidak penting bagaimana rupa si Yusuf-Yusuf itu. Tapi ada satu suara dipikiranku mengatakan, ”Siapa tau mirip dengan Yusuf teman sebangkuku.” Saran yang aku keluarkan didukung oleh ayahku. Lebih mirip tindakan terimakasih karena telah memeluknya siang tadi ketimbang sebuah dukungan.
            “Terserah.”
            Selesai makan aku habiskan dengan memilih-milih pakaian untuk makan malam. Lalu pukul 06.30 sore. Kami pergi berempat ke rumah Terra Terry. Aku berpikir ‘ini...malam paling mengesankan’. Makan malam di rumah Terra Terry seperti pesta kerajaan Inggris. Terra, Terry, kakak dan aku mengenakan dress warna-warni hingga aku pusing jika harus menjelaskannya satu persatu pakaian mereka. Semua orang tua mengenakan jas dan gaun. Josh dan Adam jelas memakai jas. Tidak ada tambahan orang dipesta karena Josh dan Adam anak tunggal. Yusuf? Aku tak melihat Yusuf.
            “Dimana Yusuf?” bisikku pada kakak.
            “Entahlah.” Jawabnya singkat. Lho dia ini tunangannya kan? Mana tunanganmu?
            “hiks…hiks…
            Ada suara terisak. Aku langsung melihat kakakku. Tapi sepertinya dia tidak mendengar. Kakakku melengos masuk ke gerombolan orangtua-orangtua. Aku spontan melihat ayahku. Dia hanya diam dan tidak melihatku balik. Ia berada di tengah orang tua sebayanya. Dan sepertinya itu membosankan.
            “hiks…hiks…”
            Suara isakannya makin keras. Terdengar di seluruh pelosok rumah. Tapi tak ada satupun yang peka terhadap itu.
            “hiks..”
            Suaranya mirip suara…kakak? Kakak?
            “Kau sudah bangun?”
            Aku tersentak bangun. Seolah ditarik paksa untuk kembali ke dunia nyata. Meninggalkan ayah dan mimpiku.
            “Kakak?”
            Pipi kakakku basah. Matanya bengkak dan tak berhenti terisak. Pasti isakannya yang membuatku terbangun.
            “Aku pikir kau mati.” Kata kakakku mencoba tersenyum ditengah segugukannya. Dia menyeka air banyak-banyak yang tumpah dari mata. Aku memperhatikan ruangan tempat aku tertidur. Sebuah kamar, mungil dan sejuk. Tapi aku yakin ini bukan ruang kesehatan. Meski belum sempat melihat ruang kesehatan di sekolah yang baru. Aku yakin setengah mati ini bukan ruang kesehatan di sekolah yang baru. Karena tempatnya sangat bersih, berporselen dan lagi pula tidak ada obat-obatan di sini. Ini bukan ruang kesehatan, bukan rumahku, baik yang rumah lama atau yang baru. Tidak mungkin ini salah satu kamar RS. Ini dimana? Beralih pada ruangan. Mataku kemudian mencari-cari kakakku. Ketika aku sibuk ini dimana, dia menghilang di balik pintu. Dan belum kembali. Lelah memperhatikan ruangan dan pintu, menunggu kakak kembali. Aku lalu memperhatikan tempat aku tidur. Kasur single berseprai mickey mouse dengan kumpulan bulan dan bintang. Bajuku masih pakai seragam sekolah. Dan mataku jatuh pada kalung perak dengan pasak dan palu. Leherku sejak tadi mengenakannya. Ini masih ku kenakan?
            Pintu terbuka.
          “Ini di mana?” sambarku. Padahal sepertinya kakak mau mengatakan sesuatu karena mulutnya terbuka saaat melihatku lalu terkatup lagi ketika aku bertanya.
            “Ini di rumah Yusuf.”
            “Yusuf? Tunanganmu yang menghilang itu? Gara-gara kau mempertahankannya kita jadi kehilangan rumah. Perfect.”
            “Dia baru pulang dari Manhattan.”
Lalu kakakku tidak berkata apaa-apa lagi. Dia menyodorkan sepiring nasi kepadaku.
            “Ha? Hanya itu saja. Hanya ‘baru pulang dari Manhattan’? yang benar saja kak, kita terlunta-lunta di jalan karena ibu dengan sok baiknya mempertahankan tunanganmu yang bahkan tidak datang saat pemakaman ayah. Gara-gara dia aku harus terdampar di sekolah tidak penting dengan orang-orang yang selalu menunjukkan senyum palsu mereka padaku. Gara-gara dia kita kehilangan satu-satunya peninggalan ayah yang paling berarti.“
            Kakakku masih menunjukkan muka tenang.
            “Kau terlalu lama tidur hingga kukira kau syok dengan hidup kita hingga koma. Aku lari tergesa-gesa ke sekolahmu karena kudengar kau pingsan tiba-tiba di kelas. Lalu saat keluar dari sekolah dan berencana membawamu ke rumah sakit, aku bertemu Yusuf. Entah darimana ia tahu engkau sekolah disana. Dia mau mengajak kita bertiga tinggal di rumahnya sampai kasus perebutan hak rumah kita yang lama selesai. Dia juga bersedia membiayai sekolahmu di sekolah yang lama tapi hanya sampai ekonomi keluarga kita stabil. Apakah semua masalamu terselesaikan sekarang?”
            Aku diam.
            “Ini jatah makan siangmu, aku akan kembali ke kantor.”
Lalu dia pergi, selang beberapa menit setelahnya, pintu kembali terbuka. Aku kira ibuku. Tapi yang masuk adalah seorang pria maskulin. Maskulin? Tidak juga ah. Pakaiannya santai tapi rapi. Sekilas wajahnya memang manis, dia laki-laki yang bersih.
“Yusuf?’ kataku saja. Dia tersenyum.
“Sepertinya kau begitu ingin bertemu denganku.”
Aha?
“Kalung pengukir mimpi itu apa berkerja dengan baik?” Tanya Yusuf. Aku menatap kalung itu dan melepasnya.
“Bagaimana kau tau ini pengukir mimpi?” dia dan aku saling berpandangan. Aku dengan penuh curiga padanya. Dia, seolah menunggu aku menjawab sendiri pertanyaanku.
“Kau percaya sihir?” katanya sambil merogoh saku celana. Dan mengeluarkan kalung perak yang lain. Bentuknya bandul kucing.
“Ini kalung pengukir dunia. Yang ini membuat kita bisa menciptakan satu dunia lain sesuai dengan harapan kita. Sebagai gantinya nyawa kita diincar oleh kematian. Kalung ini dan yang kau pegang itu milik kakekku yang diturunkan padaku. Kami pinjamkan satu pada orang yang tidak sadar kalau hidup ini sebenarnya sangat menarik. Untuk meminjamkannya pada orang lain kami harus masuk terlebih dahulu  dalam kehidupan mereka menggunakan bandul yang satunya. Lihat!”
Dia menggunakan kalung berbandul kucing itu dan tiba-tiba datang kumpulan daun kering dari jendela berterbangan mengelilingi dan menyelimuti tubuhnya. Lalu saat daun itu jatuh ke lantai. Aku menemukan Yusuf, teman sebangkuku di sekolah baru.
See?’
Dia melepaskan kembali kalungnya dan wujud tunangan kakak juga kembali.
“Kenapa kau pinjamkan yang pengukir mimpi padaku?’
“Kedua kalung ini sama maknanya. Mengabulkan hal yang paling kau inginkan tapi tidak seperti Tuhan mengabulkan do’amu. Pada akhirnya yang menggunakan kalung harus membuat pilihan. Aku pinjamkan yang pengukir mimpi bukan yang pengukir dunia karena kalung pengukir dunia lebih sulit, salah-salah nyawamu terambil dan aku akan disalahkan oleh kakakmu.”
“Kakak tau soal ini?”
“Menurutmu memangnya bagaimana awal mula kami bertemu?”
Yang benar saja.
“Terima kasih!” aku melempar kalung pengukir mimpi padanya.
“Tidak ingin bermimpi lagi?”
“Aku bukan si rapuh yang tak sanggup hidup di dunia dan ingin terus bermimpi.”
“Mau coba?” dia menunjukkan senyum jahil sambil mengayun-ayunkan kalung yang berbandul kucing.
“Boleh tuh.”
Dia melempar kalung berbandul kucing dan aku menangkapnya dengan sigap. Baik juga laki-laki maskulin ini. Maskulin? Tidak juga ah.

Gemuruh yang Tidak Ada

Gemuruh yang Tidak Ada
By : Albi Yuhana

Aku tidak pernah berpikir tentang kondisi orang lain. Aku selalu mengusahakan diriku sendiri. Jika ada masalah aku berusaha menyelesaikannya sendiri. Aku sama sekali tidak punya tempat untuk aku andalkan. Karena nenekku, sepupuku, tanteku, ibuku, mereka selalu bilang ‘Jangan pernah merepotkan orang lain. Nanti tidak akan ada yang berteman denganmu’. Dan dengan prinsip itu. Aku disini sekarang.
Siswi kelas 3 dari salah satu SMA unggulan di provinsiku. Lulusan SMP terfavorit dengan nilai memuaskan. Tidak ada yang ku keluhkan kecuali satu. Teman.
Aku tidak punya teman. Entah kenapa aku selalu merasa orang orang tidak suka padaku hingga aku menjauh.
“Tunggu, pak! Ana kan belum punya pasangan”, teriak Rei.
Saat semua anak perempuan siap lari berpasangan kecuali aku yang masih berdiri di baris paling belakang anak laki laki. Rencanaku diam diam aku tidak ingin ikut lari. Dan karena teriakan Rei, semua jadi mengetahui keberadaanku.
Rei itu teman sebangkuku. Aku sudah duduk dengannya dua tahun. Tapi sebelumnya dia tidak pernah memusingkan keberadaanku. Kami tidak pernah bicara. Hanya berinteraksi kecil tanpa suara. Rei juga sebenarnya terpaksa duduk denganku karena tidak ada lagi bangku yang kosong selain bangkuku, waktu itu.
“Masih kurang satu, ya?”, kata pak Ahmad sambil memeriksa daftar absennya.
“oh ya, kelas kalian ini jumlah anak perempuannya ganjil”
Ya, jumlahnya jadi genap jika aku tidak ada. Karena itulah aku tidak ingin ikut lari.
“baiklah, jadi siapa diantara kalian yang mau lari pasangan dengan Ana?”, tanya pak Ahmad di depan barisan anak laki laki.
Semuanya saling tukar pandang. Sepertinya ini akan lama. Karena aku yakin tidak akan ada yang mau pasangan denganku.
“Anu. . .”, kataku menyela sebelum pemilihan pasanganku selesai.
“Aku tidak ingin merepotkan. Kalau tidak ada pasangan, apa boleh aku lari tanpa pasangan?”, tanyaku.
“Aku saja!”, Rei mengangkat tangannya.
“Ok. Masuklah barisan”, kata pak Ahmad. Rei langsung menghampiriku dan menarik tanganku masuk ke barisan anak perempuan.
“Bersedia. . . Siap. . . Mulai!”
Lalu, kami semua lari mengitari lapangan sekolah. Peraturannya hanya mengambil satu bendera di setiap pos yang berada di setiap sudut lapangan. Sebanyak lima putaran. Tanpa meninggalkan pasangan kita. Pasangan yang lebih dulu selesai akan mendapat nilai besar.
Awalnya tidak ada masalah tapi setelah dua putaran nafasku sudah tersengal sengal.
“Kau tidak apa apa?”, tanya Rei.
Aku berhenti berlari dan membungkukkan badanku, mengambil nafas.
“Seharusnya. . .”, aku berusaha bicara di tengah nafasku yang putus putus.
“Seharusnya. . .kau. . .ti. . .tidak. . .per. . .perlu. . .ikut lari ber. . .bersamaku. Aku tidak ingin merepotkan orang lain, aku ini tidak kuat lari”
Dan tiba tiba semuanya gelap. Tubuhku jatuh menghantam tanah.
~
Aku bangun, mendapatkan diriku berada di ruang kesehatan sekolah. Di kelilingi oleh teman teman sekelasku.
“Kau tidak apa apa?”, tanya satu dari anak perempuan. Yang berada paling dekat dengan tempat aku tidur, Lisa.
“aku. . .”, aku tidak tau apa yang harus aku jelaskan.
“kau tiba tiba pingsan, kami semua jadi khawatir”, kata Lisa lagi.
“lari berpasangannya diundur minggu depan”
“Hah? Minggu depan? Kenapa? Gara gara aku? Huhft. . . aku minta maaf aku gak bermaksud”, kataku penuh harap mereka semua tidak menyalahkanku. Aku menunggu cukup lama balasan kalimatku. Tapi tak ada satu pun yang berkata kata lagi. Mereka bertukar pandang sejenak lalu melihatku lagi. Apa ada yang aneh?.
“Kenapa kami harus menyalahakan kondisimu. Hahaha. . . kau lucu”, kata Lisa sambil tertawa kecil. Dan anak lainnya juga ikut merekahkan senyum padaku. Aku tidak pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Rasnya aneh. Aku tidak pernah tau mereka hangat sekali dan apa tadi Lisa bilang?. ‘kau tiba tiba pingsan, kami semua jadi khawatir’. Mereka mengkhawatirkanku?. Kenapa padahal aku sendiri tidak pernah memikirkan mereka?.
Rei mencuat dari kumpulan anak anak yang berdiri menggerubungiku.
“pulangnya aku antar saja”, kata Rei dengan gaya sok coolnya.
“Cie. . .”. Alhasil semua anak menyeru kami.
Apa sih?.
~
Aku baru bangun dari tidurku di tengah pelajaran kosong. Dan Lisa sudah berdiri di depan sana.
“Ada yang lihat makalah geografi punya Rei gak?”, Lisa berteriak di muka kelas. Ku lihat Rei mendatangi meja anak satu persatu, memeriksa tas mereka. Raut mukanya, itu raut muka cemas.
“Ayo donk! Kalo liat balikin”, kata Lisa lagi. Sepintas kenapa dia terlihat melirikku sambil tersenyum kecil?. Lalu tanpa kusadari Rei telah berdiri di sampingku.
“Pinjem tas bentar”, katanya tak bersemangat.
Aku mendorong tasku ke arahnya. Tanpa banyak bicara diobrak abriknya sejenak. Dan kemudian untuk beberapa saat dia berhenti.
“Ini. . .makalah. . .”, dia mengeluarkan dengan kasar dari tasku. Makalah Geografi miliknya.
“Eh?”
“Kenapa ini bisa ada di tasmu?”, tanyanya halus. Tapi, tatapan matanya tidak bisa bohong. Dia marah, kecewa, kesal, lelah, dia menuduhku mencuri. Matanya seolah bilang ‘Masih untung aku mau berteman denganmu, tapi kau justru memanfatkanku’. Perasaanku tidak enak. Aku melihat sekeliling kelas, ternyata teman temanku juga sedang menatapku seolah aku pencuri. Suasana ini mirip. Aku pernah mengalami ini. Di tuduh mencuri. Kejadian kelas 6 SD waktu itu terjadi lagi.
“Aku. . .”, tiba tiba aku kehilangan kata kata. Hanya keringat yang mengucur deras saja. Padahal aku tidak melakukan apa apa. Kenapa aku tidak bisa membela diri?.
Bukan aku.
“Bukan. . .”
Jangan menatapku seperti itu, Rei. Bukan aku yang mencurinya.
“Aku. . .”
Kakiku gemetar. Lidahku keluh. Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. Kenapa sulit sekali untuk bilang bukan aku yang melakukannya?. Tapi, sekalipun aku bilang aku yakin tak akan ada yang percaya. Sejak kapan makalahnya ada di tasku?. Ini pasti sudah direncanakan. Dari awal mereka tidak mau berteman denganku. Sikap hangat mereka hanya tipuan. Mereka sesungguhnya tidak ingin berbagi teman seperti Rei makanya melakukan ini. Kejadian lagi. Aku dituduh mencuri lalu mereka semua akan berjalan menjauh dan tidak ada lagi yang mau berteman denganku. Padahal aku kira kali ini aku bisa mengikatkan tali pertemanan. Lalu mereka semua akan memperlakukanku seperti seonggok kotoran. Melihatku seperti aku daging menjijikan yang bisa bernafas. Aku tidak mau terjadi lagi. Cukup sekali. Jangan lagi.
Entah kenapa tiba tiba aku berjongkok sambil menutup erat telinga dan mataku. Rei sudah menuduhku mencuri. Aku tidak mau dituduh mencuri. Bukan aku yang melakukannya. Pasti tidak akan ada lagi yang mau berteman denganku. Semuanya sama saja. Mereka tetap akan satu persatu meninggalkanku, dari dulu siapa saja tidak berubah. Aku takut.
“Masih untung ada yang mau berteman denganmu”
“dasar gak tau diri”
“aku tau kau miskin tapi jangan mencuri donk!”
Aku tidak mau dengar. Jangan tuduh aku, aku tidak melakukan apapun.
“kau kenapa?” aku membuka mataku. Suara itu datang dari Lisa.
“kami hanya main main, kau tidak apa apa?”, tanya Lisa.
Suaranya terdengar parau seperti mau menangis. Wajahnya juga memelas. Seolah minta maaf . Aku berdiri. Dan melihat sekeliling kelasku lagi, semuanya menatapku bingung. Aku melihat Rei.
“Aku gak tau apa apa lho”, kata Rei langsung membela diri.
“Aku minta maaf”, kata Lisa.
Aku tersenyum kecil “enggak kok, aku yang terlalu berlebihan”.
Mungkin memang hanya ketakutanku saja. Suara-suara itu sepertinya hanya perasaanku saja.
Pelajaran kosong sudah berganti bahasa inggris. Gurunya sudah berdiri di muka kelas menjelaskan sesuatu yang tidak bisa masuk ke telingaku. Karena aku berkosentrasi mendengar kalimat Rei.
“Waktu aku membawamu ke ruang kesehatan kemarin, sepanjang jalan kau mengigau. Jangan merepotkan orang lain. Nanti tidak akan ada yang mau berteman”
“Itu diajarkan oleh keluargaku”, potongku ringan.
“Sebenarnya tidak akan merasa direpotkan kalau yang dimintai tolong melakukannya dengan ikhlas. Bodoh sekali jika takut tidak ada yang mau berteman denganmu gara gara kau merepotkan”
Rei menatapku lekat-lekat.
“Dan jika kejadian yang tadi terulang lagi. Katakan saja kalau bukan kau. Aku pasti percaya”
Rasanya mukaku memerah. Aku tidak pernah dengar dia bicara seserius itu dengan nada sok coolnya. Aku merasa kali ini akan ada orang yang tidak akan pernah meninggalkanku. Janji donk, Rei.

Monday, August 8, 2011

Dingin (Flash Fiction)

Aku masih memandang keluar jendela. Badai salju di luar tidak berhenti sejak kemarin. Tumpukkan halus itu pun sudah meninggi. Melalui jendela dengan jelas bisa kulihat persimpangan jalan. Hanya sedikit orang yang berlalu lalang di jalan, mereka melawan badai pastilah karena hal yang benar-benar penting. Aku sedang menunggu. Dan hal yang penting yang sedang kutunggu itu...

"Tok..tok..tok.."

Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Siapa yang bertamu ke rumah gadis tengah malam begini?

"Siapa?" 

"Tok..tok..tok.."

Dia masih saja mengetuk. Dengan berat aku berjalan menuju pintu. Kubuka perlahan pintunya. An. Walaupun sudah lama ia tak mengunjungiku, aku tidak begitu terkejut. An berdiri gemetar, wajahnya pucat dan tertutup sebagian oleh salju. Sebenarnya aku kasihan melihatnya begini. Tapi rasa kasihan ini harus kutahan. Aku mengacuhkannya tanpa mempersilahkannya masuk. Kuharap ia masuk dengan sendirinya untuk menghangatkan badannya. 

Aku kembali duduk menatap keluar jendela. Kali ini tak ada yang kutunggu. An masih berdiri di ambang pintu. Sesekali kuintip dia untuk memastikan dia segera masuk dan menutup pintu. Hawa dingin badai dan hawa lainnya menyergapku, dingin. Tepat sebelum aku beranjak kesal, akhirnya An masuk. An masih diam. Aku juga tak ingin bicara padanya. Saat-saat seperti ini benar-benar menyesakkan dada.

Sudah 4 tahun kami menjadi kekasih, aku mengenal betul kapan An berbicara. Dia berbicara terlalu jarang. Dan perhatian apa yang kau harapkan dari seseorang yang jarang bicara. Sejujurnya untuk hal ini aku sudah lama memakluminya. Bahkan Bibi Ery, tetanggaku, mengatakan kami ini benar-benar cocok. Mengapa? Karena An terlalu pendiam dan aku terlalu cerewet. Selama 3 tahun aku merasa kasih sayang yang diberikan An, tapi sedikit rasanya yang bisa kulakukan untuknya. Dan setahun ini, rasanya hubungan kami di ambang kehancuran. Awalnya aku hanya ingin dia berbicara sedikit lebih banyak. Saat itu aku berpikir bagaimana kalau aku juga ikut berdiam diri. Biasanya, kalau aku berbicara dengan An persis seperti perawat dengan pasien yang sedang sekarat. Kamu ingin ini An? Dia menggeleng. Atau yang ini? Dia menggeleng. Hmm, pasti ini yang kamu suka? Lalu, ia tersenyum tipis, dan matanya melengkung sayu. Ah, sungguh manis senyumnya itu. Bagiku walau dia tidak bicara terlalu banyak, tapi senyum manisnya mencukupkan segalanya. Dulu.

Kembali, aku menatap jendela. Melalui pantulannya kulihat An mengamatiku dari belakang. Wajahnya tidak terlihat sedih. Tapi tak juga ada senyuman disana. Seperti 3 bulan yang lalu. Malam itu, ia mengirimkan pesan untuk ikut pergi bersamanya ke suatu tempat. Aku yang sedang mengimitasi tingkahnya sama sekali tidak berniat membalas. Keesokan harinya, dia datang. Persis seperti hari ini, aku membuka pintu, tidak menyapa, tidak menyuruhnya masuk, hanya membiarkan dia di depan pintu. Sekitar beberapa menit, aku hanya duduk diam. Berharap dia merayuku dan sebagainya. Tapi dia tetap saja berdiri diam. Menungguku. Bingung. Sudah beberapa kali seperti ini dan aku hanya bisa berharap dan berharap. Dan dia selalu diam. Hingga akhirnya kemudian dia memulai nadanya.

"Rin, kamu tidak berdandan?"

Ah. Aku mendesah. Aku yakin dia mendengarnya. Bukan itu pertanyaan yang kuharapkan, An. Ayo, katakan lagi. Lagi...

"Apakah kamu sakit?"

An, bisa tidak sih kamu mengajakku dengan raut wajah lebih ceria. Terlebih, cobalah lebih talkatif. Lagi...

"Rin..."

Persis seperti hari ini. Wajahnya tak tampak sedih, tapi tak kutemukan senyum tipisnya. Barangkali ia tidak 
perduli. Aku memalingkan wajah. Aku melamun. Apakah ini rasanya ketika aku selalu bertanya padanya? Apakah ini rasanya ketika sedikit berbicara dan sebenarnya ingin berbicara banyak. Atau sebenarnya An memang tidak banyak berpikir. Kukira tidak begitu. Kantung mata dan kerutan di sekitarnya jelas membuktikan dia banyak berpikir. Aku terus berpikir. Dan berpikir. Bukankah aku melakukan ini untuk mengetahui bagaimana perasaannya terhadapku? Atau barangkali...

"An, apa benar kamu mencintaiku?" aku melamun sambil berbisik.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. An. Aku berpikir terlalu lama, sampai mengacuhkannya. Buru-buru kubalikkan tubuhku. Hening. An sudah pergi. Pintunya sudah ditutup dengan membiarkan sedikit celah. Barangkali ia merasa tak ingin menganggu. Aku menyesal. Sejak itu An sudah tak pernah lagi kerumahku.

Aku kembali merinding. Tersadar dari lamunanku. An masih berdiri pucat di belakangku. Aku bergerak menuju pintu. Sesaat sebelum kusentuh gagang pintu, An terlebih dahulu merebut tanganku. Beku. Tangannya membeku. Hampir saja aku memuntahkan kata, aku begitu khawatir. Tapi demi egoku. Ini kutahan. Kutahan demi hal yang begitu penting dan kuinginkan.


Egoku itu berdiri bak karang. Tidak mudah hancur. Dan egoku itu ibarat bom waktu, kalau sudah waktunya atau tercapai barulah aku merasa puas. Saat itu, saat aku ingin bekerja di perusahaan Mr. Lim. Dengan syarat membuat sebuah karya ilmiah dengan riset paling kreatif adalah syarat untuk diterima. Aku dengan berapi-apinya ingin membuat 100 lembar dengan rancangan detail penuh. Waktu satu bulan kuhabiskan untuk fokus total terhadap karya ilmiah ini.

Saat-saat obsesif ini sangat rentan sebenarnya bagiku. Aku bukan tipe yang mudah goyah saat mengerjakan tugas. Tapi juga bukan tipe yang bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Maka, satu bulan itu aku benar-benar mirip gelandangan. Ah, aku sudah menjadi gelandangan barangkali saat itu, jika An tidak sering mampir kerumah. Aku melupakan banyak hal. Mulai dari hal paling kecil, makan, mandi, sampai membersihkan rumah. Bahkan An. Keterlaluan memang. Obsesif-kompulsif ku ini memang tidak ada obatnya.

"Rin, kamu kehilangan kompas ya?"

Saat itu An bertanya dengan raut serius. Karena aku juga sedang serius mendesain gambar, kupikir syarafku memang sedang lambat untuk mencerna maksud An.

"Obsesif! Makan donk. Udah dingin itu masakannya."

An tertawa. Sumpah, ia tertawa. Dan aku masih termangu-mangu. Antara sadar dengan tidak. Bayangkan, seseorang yang jarang berbicara. Seberapa jarang pula ia tertawa. Akhirnya aku ikut bicara.

"An, hari ini gak perlu bikin pesta?"

Sekarang, An yang bingung.


Entah kemana saat-saat bahagia itu. Dalam setahun ini, semua itu hanya kenangan. Aku merasa kehilangan, An. An yang begitu perhatian. Entah bagaimana ia saat itu selalu datang dan pergi dari rumahku tanpa kuketahui. Makanan yang tiba-tiba sudah terhidang. Bak mandi yang terisi penuh dengan air dingin. Barangkali awalnya itu panas. Ruangan-ruangan yang rapi. Padahal desainku itu berserak dimana-mana sebelumnya. Ia seperti hantu. Hantu yang manis.


Kutatap An. Bibirnya memutih. Kuhalau tangannya yang dingin. Belum sempat lagi tanganku berpindah menuju pintu, tangan An sudah melingkar di leherku. Benda itu berkilau redup. Antara putih kebiru-biruan. Itu, 2 buah keping berlian berbentuk salju. Hatiku dingin. Tapi dengan cepat kelempar emosiku. Aku takkan runtuh dengan benda seperti ini.


An tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar manis. Bibirnya sedikit bergetar. Kalau saja ia tidak berbalik untuk pergi, barangkali aku akan berbicara padanya. Ah, sudahlah. An sudah pergi. Kututup pintu. Sudah terlalu banyak angin yang masuk. Aku kembali duduk melamun menatap jendela. Kali ini hanya kepingan salju di tanganku yang tertatap. An, kamu begitu dingin. 


"Tok..tok..tok.." 

Dengan cepat ku menuju pintu. Berharap..

"Bibi Eri??"

Aku sedikit terkejut. Sedikit kecewa juga.


"Rin..."

Tubuhnya gemetar, disudut matanya sebening air mengalir.


Aku terduduk. Kaki langung mati rasa. Aku membiarkan badai menamparku. Malam itu semuanya membiru. Aku menitikkan butiran es. Ya, butiran dari hatiku yang membeku. Berkelabat semuanya, 5 tahun kenangan itu. Dapat kudengar. Jeritan yang ikut terbawa angin. Lama-lama berbisik...


Rin, kamu kenapa? Kamu kenapa? Kenapa?
Aku rindu sekali tawamu. Aku tidak mengerti. Akhir-akhir ini kamu selalu diam. Kamu tidak lagi tertawa, tidak juga tersenyum. Aku sangat khawatir.
Apakah kamu sakit?
Hari itu, saat kamu mulai diam. Hari saat aku ingin membawamu ke makam orang tuaku. Aku sangat senang, karena sudah lama aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Tapi barangkali kamu ingin sendiri?
Rin, hari-hariku semakin sepi. Semakin sepi, semakin rinduku membuncah membawaku padamu. Tapi tiap waktu, saat berdiri di depan rumahmu, rasa takut menyergapku. Takut kehilangan. Apa kah kamu sudah bosan? Tidak. tidak. Jangan. 
Tapi Rin, malam selalu membisikkanku sesuatu. Ia terus membisikkanku, "Mana buktinya? Mana buktinya?" Sungguh saat itu aku juga melamun banyak sepertimu belakangan. Aku bingung. Bagaimana lagi cara membuktikannya. 
Tiap malam memandang langit. Apakah kamu masih memandang langit yang sama?
Tiap malam saat angin dingin datang. Perlukah aku datang ketempatmu, membuatkanmu coklat panas? Memastikan selimutmu? Memastikan kamu masih aman? 
Rin, maafkan aku kalau aku tak mampu menjelaskan apa yang ingin aku katakan. Bagiku aku harus memberikan segalanya yang terbaik bagimu.
Rin, aku selalu mencoba menjadi matahari bagimu. Maaf kalau aku selalu menyusahkanmu. Apa mencoba sehangat mungkin. Apa mungkin bagimu aku hanya dingin yang mengganggu. Rin, rin, rin...
Rin, kalau kamu menemukan matahari lain, apakah kamu akan bahagia?
Rin, aku berjanji tidak akan menyusahkanmu lagi. Tapi, aku juga tidak akan berhenti mencintaimu, menjagaku. Maka, malam ini aku berdo'a menjadi salju. Sekali lagi, aku tak bermaksud menyusahkanmu. Aku akan memastikan kamu selalu hangat. Dan apabila kamu kedinginan, saat mataharimu tak mampu menghangatkanmu, aku hanya ingin memastikan, hanya aku yang menjadi dinginmu. 

...

Dua keping salju di dadaku bergemerincing pilu...

"Bibi Eri??" Aku terkejut.
"Rin..., A..a..An meninggal. Tubuhnya terjebak runtuhan salju sejak semalam."


*rasa tak puas selalu memaksa, menghadirkan ego antagonis. menyeruak kepada cinta yang rentan pada rasa percaya.
Stabat, 08 Agustus 2011

NB: maaf norak! xP  klise, basi, tapi sekali lagi...ini fiksi!! :P