apa yang tertinggal
dari bilik-bilik rasa
kasihan kecuali butir-butir
kebutaan. apa
yang ternanti di sudut-sudut lembab pias
kecuali kabut dan lumut.
sepilin raga diam di pelataran wahyu, bila harap bisa membangunkannya,
entah pula ia akan segera
terlupa. bila segalanya harus kalah oleh waktu, sepantasnya pun
ia sudah binasa menjadi abu.
lalu kusayat nadi,
kucarikan aliran yang tak pernah sempat terhubung
kukais-kais segala tempat diatasmu pernah bernaung,
hanya tuk menemukan sekeping tunas yang barangkali tertinggal.
tapi biru jasad ini yang kupunya. tinggal ini yang kupunya. yang tak berharga.
hentak dan bentak tak jua membangunkan,
dari rantai kemiskinan jiwa;
yang sempat memperlambat masa yang tak mungkin lagi bisa ku erat.
kau pekat;
semakin pekat menghilangkan asa nan kian meredup
melihatmu,
hanya meninggalkan pahit dan keenggananku untuk hidup.
bagaimana tentang janji?
cerita yang barangkali usai
atau mungkin
lentera itu masih
bernyawa
itupun bila kau ingin
sesaat, dan pasti bila terjadi itupun
terlambat.