Friday, December 18, 2015

Akhirnya ketemu sama bagian diriku yang selama ini modenya off; yang posesif, gak betah, cemburuan dan suka gelisah tak menentu. Tapi tenang, lagi berlatih sama subuh untuk menguasai empat elemen tersebut. Avatar, The Legend of Kalem!

Wednesday, December 16, 2015

Pulih

Almariku kosong oleh pakaian, pun di laci kecilnya kosong dari album-album masa silam. Ini bukan tentangmu. Bukan tentang baju-baju berwarna gelap seperti yang aku suka pakai. Kosongku bukan tentang apapun yang dulu aku perkirakan.

Pohon depan kamarku kemarin ditebang. Udara tidak begitu dingin lagi ketika pagi, tapi sinar matahari sekarang lebih terang. Aku masih berpikir mana yang lebih baik selain pergi dari ruang kenang. Dan jelmaan ketakutan yang hilir-mudik tak lagi kami saling menghiraukan.

Di penghujung tahun, orang-orang sibuk memperhatikan kebelakang. Aku hanya hirau soal jemariku yang bergelang karat dan nadi yang perlahan-lahan mencuat. Semua sudah kukemasi, kutimbun di langit-langit lapuk. Sebelum nantinya kupasrahkan pada musang dan tikus, yang berebut rakus. Gundahku sudah khatam. Sekalipun terkadang ada kilas yang membayang.
Hatiku? Tak usah hiraukan. Dustaku tetap bernama dusta. Khianatku tetap bernama khianat. Kecewaku pun tetap bernama kecewa. Bahagiaku tetap bernama bahagia. Tak kan lagi tertukar dan kusembunyikan. Sayup-sayup di kejauhan. Aku hanya pejalan di bumi Tuhan. Oleh panggil yang silih bergantian, kukenakan wajahku yang sudah pulang.

Stabat
16 Desember 2015

Thursday, December 10, 2015

Belajar Tentang Alam

aku anak kijang yang kau ajarkan berlari kencang dari rentetan anak panah; 
yang akan datang kukenal sebagai perang. di sabana kau sembunyikan, 
berkeliling pula harimau-harimau, mendekat tak kau izinkan. 
perutku busung, tak lapar, hanya deru tanyaku tak pernah diberi makan rerumputan hijau.

aku anak ayam yang tertidur dari pandangan elang. 
pula suara desis ular yang sering kusangka radio rusak milik pemandu manusia. 
dan pada ingar-bingar itulah, aku ketemu lubang persembunyian. 
tembus persis di hadapan Tuhan. 

"gerbang surga?" 
bukan. 
mulut buaya. 

Medan,
Desember 2015

Monday, December 7, 2015

Nyanyian Kirana

Aduhai. Langit sedang bertabur sonet dan tawamu menyelisir di selasar rumah. Yang kerap merentang kisah, apakah? Kudengar mimpimu adalah tabuh yang tumbuh dari sulur-sulur peluh. Sulamlah lebih riuh! Menjadi berbingkai dan ketat menjuntai. Akan ada aku dan ribuan doa yang kubidik di situ; untukmu.
Kau menanyakan jauh. Aku memastikan utuh. Yang lebih nyeri dari lara bukankah yang tanpa coba? Sebab kata kembara adalah kesima yang menyala-nyala di jantungku. Meski gentar kerap berujar untuk menahanmu lebih genggam.
Sejauh-jauh kau berlayar, sedekat-dekat kau dengan pijar. Kelak tuan, kau akan menyalami alam dengan nyanyian yang dulu kusenandungkan waktu sore di pangkuan. Dadaku adalah lengang yang lebih dari lautan, yang ketika kau kembali pulang, mataku lebih gemericik dari hujan. Sedang pelukku? Berada di barisan terdepan; menampung haru yang lebih semerbak dari gaharu.

Irawati Ningsih
Desember 2015

Friday, December 4, 2015

hari raya

keripik berdesak-desakan di toples
bau bawang, cabai, merica lengket di baju
kukira parfum
minyak jelantah, minyak zaitun, dan ampas kelapa
demo mengacak-acak wajan punya emak
jangan tanya makanan favoritku
belum seminggu sudah berganti kue nastar

Thursday, December 3, 2015

ibu dan anaknya

: ibu

tidak apa-apa, katanya
kemarilah
tidak apa-apa, katanya
pergilah
diantaranya, kau mengusap dada
pedih yang tak luka
kasih yang rela

setahun, dua tahun
dan sudah satu dasawarsa
upahmu penantian
upahnya penyesalan
diantaranya, cium tangan yang terlupakan

medan,
desember 2015

Tarian Sunyi

aku menghadiahimu kaus kaki, belum lagi sepatu. tapi katamu tak perlu. penari bersalaman dengan bumi, jangan diperumit. kemudian kau menari, dari matahari sepenggalan lengan sampai tepat di atas dahi.

pijar liar menggeliat di telapak kakimu, selimut angin pun berderai bergantungan di bawah selendang, dan rambut ikal indah itu berombak panas. ujar kagumku berserakan, tapi puja-puji gerakmu lebih pantas menyembahi alam.

kau lagi menyanyikan salam, dengan tengadah memejam sunyi. tiba-tiba pedis rindu menyibak rerumputan, bersama dersik yang dibawa lautan. tapi hanya dengan harum peluh tari syukurmu nona, kelimpungan aku menghidunya. aduhai.

medan
november 2015

------------------------------------------------------------------
puisi bisa didengarkan;

https://soundcloud.com/kelaspuisi/tarian-sunyi-yourpatheticjoke

Khianat

kau jahanam,
menyeruak merusuk seringai lapar di jalanan
aku, makanan kau sajikan tanpa saus dan kecap kedelai

kau, naar paling runcing,
maharaja pantat belanga
aku budak yang dihela didih hutang pengharapan

kenyataan sedemikian zalim
kolusi iblis pemberi restu
mahar bebas pun bersulam mandau

bila aku tahu perkara khianat, 
sejak rahim detak kan kupecat

Medan,
November 2015

Bila Musim Berganti

bila musim berganti  kulihat senyummu luruh,
disapu-sapukan dingin di antara regang tangan kita
aku beranjak dari bangku taman,
menyisakan ruang untuk kunang berduaan dengan bukan
lalu bisik padanya tapak perjalanan pulang,
kau katakan aku surya yang hilang panas cintanya.

duduk lah kita pada malam di teras menyembah Tuhan,
masing-masing menggemakan bosan hitam arang.
dan pada hari berikutnya, kita bertemu,
dengan jiwa yang bersembunyi di balik tirai sunyi.

di samar matamu, kulihat makna membidik tanya,
sejauh mana ruang di tempatku bermahkota
dan di dasar relungmu, aku, kau ikat bejana dusta

kita bersentuhan, melukisi kuasa guruh,
ada gentar seberat mayapada angan
bersuara lah pisah berlapis janji, bersalaman
dan tentang kita, perlahan-lahan padam.

Medan, 
November 2015

Friday, November 27, 2015

Layangan

bukannya ranum biru parasmu
yang membuatku melayang-layang
dihantarkan benang.
dan angin memukul-mukul pundakku
yang malu-malu menujumu.
kau puisi yang Tuhan bentangkan, 
agar aku mengilhami hujan bintang 
dan kemilau fajar hingga senja.
kau suruh pula aku membaca maumu, 
dekatmu saja hatiku liung.

Stabat
November 2015

Tuesday, November 24, 2015

Dasi Untuk Mati

siapa sibuk melilitkan tubuhnya dengan kafan
baju-baju dan hiasan duka buatan
dan sesiapa berlari kaki kijang, dari
rampasan nyawa dan jerit-jerit nyalang

dosa-dosa naik memanjati hujan
ditengah-tengah siul anak yatim
untuk segala doa yang memilih bisu
peluru dosa beserta aamiin ameen palsu

aku; kau mandikan dengan bunga rampai
yang tumbuhnya subur dari cucuran mata, 
lapar yang melata, dan hari-hari berbayar sakit
dan itu bukan hakku si pongah nan pelit

lumbung lambung telah limbung
nafas satu-satu tundung berkabung
untuk segala jatah yang telah kutelan
bagaimana melarikan diri dari pengadilan Tuhan?

Medan
November 2015

Monday, November 23, 2015

Perkara Cinta-Cintaan

Saya tidak terlalu hobi menulis hal-hal yang berbau nikah. Tapi sempat dulu saya menguping kaji di mesjid kampus (ya, beda jamaah sih, dulu anaknya gak fanatik), tapi berhubung kajiannya menarik, saya dengerin sampai hampir habis.


Topiknya soal mahabbah; cinta kepada Allah. Beliau meyebutkan ada tiga macam bentuknya perkara cinta ini. Tersebutlah mahabbatullah, mahabbah fillah, dan mahabbah lillah. Saya tidak ingat betul bagaimana syarahnya kecuali definisi singkatnya. Mahabbatullah ialah cintanya hamba karena Allah. Dan sebagaimana layaknya manusia jatuh cinta, tak lepas objek kecintaan dari pikirnya. Mereka yang hati merindu dan pikirnya meronta mencari jalan untuk bertemu. Sepanjang waktu mencari ridhanya Allah. Seolah-olah bahkan ketika makan pun bertanya, "Allah ridha gak ya dengan makananku? Suka tidak ya?" Lalu ketika berpakaian, "Allah ridha gak ya dengan dandananku hari ini? Apa nanti dia ga suka?" Dan tak ada pertemuan yang lebih panjang daripada seorang kekasih yang bertemu pujaannya. Lalu di dalam shalatnya begitu khusyu' dan begitu mendua seolah berjamaah pun hanya ada dia dan Tuhannya.

Mahabbah fillah, ialah kecintaan yang hadir karena alasan. Semisal seorang laki-laki yang sebenarnya tak suka makan bakso. Tapi karena kekasihnya suka makan bakso, maka ia pun belajar mencintai makan bakso. Sampai disini, saya teringat pengalaman yang begitu personal ketika saya benci ayat-ayat perang seolah-olah Islam hanya berbicara pedang. Hingga kemudian, ternyata disebutkan bahwa mestilah ada kebencian dalam diri seorang mukmin akan perang dan pertumpahan darah terkecuali untuk menegakkan perintah Allah. Saya tidak akan menjelaskan disini karena bukan topik kali ini, setidaknya saya lega karena perang pun butuh prasyarat dan kondisi sebelum dicetuskan. Lalu perihal bagaimana ada hal-hal yang sebenarnya kita tak sukai, bila Allah mencintainya, maka kitapun harus belajar mencintainya.

Mahabbah lillah, ialah kecintaan yang terus menerus ditanam atas apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Baik itu yang wajib seperti shalat, zakat, puasa, maupun yang sifatnya sunnah seperti tersenyum, bersih-bersih, menjadi tetangga yang baik, dan lain sebagainya. Iman maupun cinta, sama-sama punya siklus naik turunnya. Namun kekasih yang baik, akan belajar dan melakukan banyak hal agar tidak turun perasaaannya.

Cerita soal nikahnya dimana? Haha. Itu pengantar saja. Saya kebayang seandainya kelak menikah, yang ada hanya rasa kasihan. Saya dan masalalu saya tidak terlalu loveable. Tapi bagaimana kalau saya menikahi seseorang yang bahkan tak menuliskan nama saya di hatinya? Itu...berat. Jikapun tidak mampu dua orang itu saling mencintai, tidak menemukan pula alasan-alasan untuk dicintai, setidaknya ia mestilah mencintai Tuhannya. Ibarat dua orang kesepian yang tidak bergandengan tangan, memakai tabir di wajah hingga tak saling mengenal jiwa, setidaknya satu jalan. Bila begitu, berkuranglah setidaknya rasa kesepian itu. Hingga bila Allah nantinya berkenan, menghapusi satu-satu nama sebelum kami, lalu saling mengukir - sekali dan sampai mati. Dan bila tidak di dunia ini, boleh di akhirat nanti. Aamiin Allahuma Aamiin.

Thursday, November 19, 2015

kenapa merobek lukamu semakin dalam?
kebahagiaan bukan tunas yang ditanam
terkadang ia bersama dedaunan yang 
berterbangan; dia, memintamu berjalan.

Monday, November 16, 2015

Yang Pulang Dan Berkalung Salam


Emak telah bangun di hadapan Pencipta.
Ditinggalkannya kami di belakang selang-selang penyangga kehidupan.
Hari itu, adzan subuh pertama kalinya kalah berisik.

Jangan pernah sekali-kali kau hirup udara sepi.
Mereka menjuntai dari bisik kumpulan orang asing,
bergemuruh dibalik tenda-tenda simpatik,
keluar masuk dari paru-paru anak yang sakit.
Dan tak lebih perih dari rindu, bertemu tapi abu, biru, sendu.

Perempuan cantik tak lagi bertudung sutra
Dan riasannya berupa senyum tipis yang berjanji tak dimakan usia,
itu juga bila kau tak lupa katanya.
Wanginya harum, seperti kakek berangkat ke surau.
Sama, ia pun diangkat ke surau, 
oleh tandu yang biasa teronggok dekat gudang bedug.

Aku kira aku yang paling menderita,
sebelum perempuan kecil memeluk nisan seolah boneka permainan,
ditekuk kuat, tapi tak ada yang mau merampas.
Kecuali waktu yang lebih dahulu melepas.

Ada dia yang disitu menatap tajam,
di balik selubung Tuhan
Menanti kami pulang.

Medan
November, 2015



Sunday, November 8, 2015

Ada masa yang sengaja kita tak beri nama, apalagi prasasti. Agar bila kelak ia terkubur dalam hijau, tak ada patah-patah kesengajaan dalam hati. Sesuatu yang tak kau miliki kekuatan atasnya, dan waktu akan membantu. Jika ia tak pulih, setidaknya tak satupun dari kita menjadikannya dalih.

Sebab itu bila kau temukan rongga ku semakin bersekat, adalah kesengajaan agar kau tak kembali tersesat. Jiwaku, terlanjur pekat.

Thursday, October 29, 2015

Slam Poem / Poem is Living


Phil Kaye : Repetition

I plan to post about this about two weeks ago. But just today I could make the effort. In the very first of this posting, consist my favorite videos of slam poem. Slam poem is kind of trend reading poetry which speaking about something vague, taboo, or just ordinary but kinda make us muttering "oh boy, that was i really want to talk about" (at least this is my feeling towards it). It's not like our local doesn't have good poet reader, though I prefer old men like Saut Sitompul et cetera et cetera. (yeah, I don't know much).

What makes slam poem good? I research about them a bit. And I found there are pros and cons, but it's good already. On last of my list, where Sarah actually speaking in some kind of college graduation, well, she also read about two poem (the latter is The Type, you can search on your own). I know about last four years, maybe, that poem doesnt necessarily to be read where you pour emotion, burst and blast, like such. But there also like Katie Makkai's Pretty which is pretty awesome. Let me tell you if you don't know about much poem. My teacher ever told me, in a contest (theatre), a poem reader shouldn't let his own projection pour into his reading, though it possible you read your own. In some cases, a reader who read a poem very powerful, make your heart move, and surely good, but in a contest, a jury disqualify him. My teacher ask, "do you know why?". When he read, he give a moment to bend his hat, maybe his hat slightly off and the jury give his a disqualify. And that very moment, he let his own projection interfere with his reading. While you maybe questioning this, why, we wont talk about this. Let me told another matter.

A poem, commonly use metaphor to disguise its own meaning to give a beautiful structure and imagination. This is sometimes looks funny, because ... does our humanity seem that poor? Maybe not. And there is personification. Let aside another poem where words just loose with metaphor and almost like story telling, and still make good poem too. But here a thing; a poem is also like a living. They have tons of layer to disguise their own meaning. What readers read simply interpret how their limit. I've written short article about deride concept. It's almost alike. Until an author tell its meaning, its free zone of interpreting. Though I also ever read, when an art given to someone, in this case publish it, its totally public who have rights about its meaning. Not the author. There is time when I share my works, and they tell me "hey, isn't about this and that?". And that times I realize, "it (may) relate". And this is it. The power to move people isn't about what an author want. Like Dewi Lestari said to every her works as "giving birth to..", I think. "poem is also living."

I recommend to listen on my list above, it's pretty cool and could give me several insight to make own or just to widen my perspective. I would like know if you know another good slam poem. But since they (Sarah and Phil) are founder of Project VOICE, they're one of the best around. 


Saturday, October 24, 2015

Pinokio

Fadli menggenggam rasa takutnya
dari bengkel sampai tempat ia berdiri
menetes-netes dari celah jemarinya.
meninggalkan jati diri yang selama dua puluh tahun 
terpahat di liang pikirnya.

dalam hitungan menit kini ia terkatung-katung
bibirnya gagap, gelap, hendak berucap mampus
tapi harapan selembar tipis
dibakar pun tak berbau hangus

dan dia diam mendengarkan
bisik-bisik dari rongga tanah
tepat setunas emosi menyerap segala remah
yang lebih dahulu dikuliti cuap-cuap benci.

aku akan berubah...

tapi Fadli bukan ular maupun naga
ia hanya patung yang dipahat dengan sesal
lalu ditiupkan ruh-ruh kegagalan
dipasungkan pula berderet-deret sepah seharum madu
tepat di depan wajahnya, agar ia tak perlu mencari surga

Stabat, Oktober 2015





Tuesday, October 20, 2015

tergeletak ragamu menanti siang dipadamkan
lain saat kalbu mengait temaram hingga ia tak kunjung tenggelam
bahkan, dihadapmu mekar fajar berwarna enggan.
kau terdiam, waktu membercandai kulagi rupanya.
bagaimana mungkin hendam dipinjam terang,
rusuk-rusukmu kau rapatkan tak menyisakan ruang.
lalu kau persoal pun segala tentang kesepian,
tak sadar di wajahmu berkerut rupa-rupa kesedihan.
wajar, dada lutut dan dagumu mengerucut di sudut kamar
sambil berdebar-debar memegang anak tajam.
bayanganmu kau usir, dan kini sadarmu tak bisa disetir.

Oktober, 2015
there are times when I dont want to talk with people. I burned out easily. but not a primary excuse. sometimes talk doesn't solve anything as well as how quiet dissolving into the air.

I ever seen how big a flame could lit, and ashes that came from it never will be same again. regret, sad, frustrate, you name it, I would never identify then as the same feeling as I felt at first time. 

while I'll look them in dictionary later, maybe I wont feel it in the process. i admit i lose several parts and it'll continue to tampe my heart. sorry for i am not.

Wednesday, September 30, 2015

Kenangan [6]

Tiang-tiang penyangga rindumu beranjak ke dasawarsanya.
Tak ada harum rapuh meskipun lembab dan risik angin
sesekali menyelinap menyetir gigil. Dan sarang burung
diatas sana telah berkali-kali berganti generasi dengan
bayi-bayi yang mencicitkan lapar, serta bingar.

Diatas gundukan lantai tanah berserakan lembaran ingatan,
itupun ada yang sudah menjadi remah bekas dimakan tikus tanah.
Berserakan pula hiasan gelang, cincin, kalung yang dulu
acapkali menjadi sesembahanmu. Sesaji lipstik dan janji,
inai dan segenggam tanda janji, tapi kini di hak milik debu
dan karat-karat hitam.

Aku mendengar dulu istana yang dibangun karena rajanya
jatuh cinta, dipugarnya beragam warna emas perak dan berlian
segala rupa. Ditanaknya nasi dengan campuran liur anak-anak
miskin. Dinyalakannya dupa, dan aku tahu segala kemewahan
ini atas kesederhanaan yang ditelan duka.

Dan seiring mengganasnya waktu, yang tersisa hanya cerita.
Dan kenangan ditimbun agar manusia membangun sejarahmu
yang baru.

Monday, September 28, 2015

Ada yang berupaya bugar dengan memupuk beban di pundak, berat dikiranya akan menyadarkan otot dan urat. Ada yang berupaya tegar dengan memupuk simpul senyum dimuka, ramah dikiranya akan menyadarkan jiwa dan mata. Tapi kontras, tiba-tiba dihadapnya, ada siluet yang dibangun atas cerita-cerita pengantar senja kepada malamnya; menerobos pelak sangkanya.

Kau saksikan aku berlari jatuh dan menangis di pengasingan. Aku lah cerita candaan dan drama yang tak bosan-bosan. Buatku ini beban kebutaan dan keserakahan dari gelak tak tahu kapan. Aku berserah padamu tuan puan pemilik pekarangan masa depan. Aku anakmu yang terbuang.


Ini kritis. Pengemis pesimis; meminta saja dia tak pernah yakin. Bangunan kebanggaan akan perjuangannya runtuh, jauh-jauh ingin lupa bila ia membatin. Bajunya kumal dan lusuh, acap kali basah dan oleh kutukan debu kekecewaan; ia kesakitan. Di tempat tidurnya, dia bermimpi pada mimpi. Ketidaksanggupannya seperti miasma yang menembus lorong waktu. Ia menyesal. Ia tak ingin diselamatkan.

Percayalah pada garis-garis daun yang kami sebut ramalan. Apa yang terlihat masih pada lembaran mukadimah tentang keputusasaan, Berikutnya ada serupa peluru ketidakberdayaan datang di ingatan. Aku hanya mengayuh saat petang hingga kemudian petang, padahal kau telah memutuskan tak lagi datang.


Saturday, September 26, 2015

Jadi, blognya bakal di update dulu sama postingan-postingan lama dari berbagai tempat persembunyian. Beberapa postingan bakal disesuaiin sama jadwal postingan tersebut di post. Kalau di post pada setahun yang lalu yaa bakal keluar di tahun yang lalu, bukan jadi newest post. Kalau ga di subscribe ulang yawndizzy-nya kemungkinan ga bakal keliatan apa yang di posting. Karena saya males bikin listnya. *ditendang*

Dan sambilan, mau memperbaiki tag-tag dan beberapa pages. Jadi blog putikdankoma dan anakhawwa, resmi ditutup. Segala projek-projek ga beresnya dilanjut disini juga. *Iya, projek-projek alay itu*

Da dahh...

Aliran Pikir

kalau memang suka tasawuf, setidaknya kau sudah bisa menyadari banyaknya orang bijak yang lebih suka diam.

bukan diam yang tidak acuh, tapi diamnya air yang mengikuti takdir. derasnya pertanyaan kita sama derasnya dengan aliran sungai. tapi betapapun derasnya aliran air itu, belum tentu mampu menghidupi akar-akar yang hampir mati. semua ada jalannya.

sama ketika kau tahu mampu menjelaskan isi dunia ini pada orang yang belum tahu, tapi kau belum tentu tahu seberapa besar wadah si dungu. semua ada masanya.

bila lain kali bertanya, atau barangkali seseorang bertanya, terlebih kau bertanya pada dirimu sendiri. diam sejenak. biarkan setitik air kesadaranmu menyelami wadah yang kau kira hanya genangan air hujan. setelah kau sadar betapa luasnya jawaban yang mungkin, bicaralah.

kalau aku belajar juga untuk menjawab,
aku tak tahu (pertanyaanmu).
aku tak tahu (jawabanku).
aku tak tahu (inginmu).
aku tak tahu (kesamaan pandangku).
aku tak tahu (manfaat semua ini).

bila kau sudah tahu,
begini ...

Friday, September 25, 2015

Hujan [4]

kau takkan pernah tahu bagaimana menggigilnya 
ujung jari kaki yang terbenam di dalam sepatu saat hari hujan. 
tapi bila kukisahkan padamu tentang perjalanan menuju persinggahan ini, 
benar-benar bukan suatu perkara bahkan jika seluruh tubuhku demam. 
tidak ada jejak untuk kau baca 
kecuali kau berniat meraba lumpur dari deras yang tak kunjung reda. 
sebab bila sesampainya aku dihadapmu,
aku tahu segala resahku telah bersih tertinggal di genangan-genangan; 
hingga kemarau tahun depan tak ada yang perlu dikenang. 
sebab bila sesampainya aku dihadapmu,
yang perlu kau tahu kusisakan pelangi dari badai yang kutelan sendiri. 
sebab bila sesampainya aku di pusaramu, 
hanya ada kelopak segar dan basah; 
dan itu bukan airmataku.

Stabat, September 2015

Friday, September 18, 2015

Things I Don't Do (Anymore)

Mimisan
Sebenarnya diantara tiga bersaudara, sayalah yang paling penyakitan. Tapi anehnya, sampai sekarang belum pernah ngerasain yang namanya mimisan.


Step
Ini step kalau demam itu. Kalau mulai demam biasanya barang-barang yang dekat terlihat sangaaaaaaaaaat jauh. Dan terkadang ngelihat sehelai benang itu sangaaaaaaaaatt berat. Dan ini termasuk pengalaman yang seram.

Chameleon Effect
Mungkin kedengarannya aneh, tapi katanya dulu (SMA) saya suka gak sadar ngikutin mimik bicara kalau ada yang ngomong di depan. "Ihh, kau hobi kali ngikutin bibirku ngomong..." Dan saya cuma bisa kaget "ha?"

Sunday, September 13, 2015

Genap

Dulunya kupikir kamu adalah faktor yang menggenapkan hidupku. Tapi bagaimana bila aku sudah genap, dan kamu adalah faktor dari segala keganjilan hidupku? Haruskah kulepas apa yang kupunya untuk memilikimu?

Dulunya kupikir kamu adalah genap dari segala keganjilan hidupku. Tapi, bagaimana bila aku hanya setengah dan memilikimu atau tidak tak pernah menyempurnakan apapun? Sedang yang harus kucari adalah setengah tanpa identitas asli, penyatuan atas diriku sendiri.

Dulunya kupikir kita genap. Ternyata hanya sebagian binari pembentuk hidup.

Dan ternyata memang kita genap. Sebelum aritmatika kegenapan yang lainnya.

Delay

pernah ngatain orang alay?
nah tunggu aja giliranmu jadi 'layangan' juga.
ya, layangan stage dua. *keren bener*
delay=dewasa layangan.
itu yang dikit-dikit melayang, tenggelam, floating, flying and sinking.
itulah maksudnya.
drama, ngeluh, lain waktu pura-pura bahagia, de el el.
ya. semua orang akan layangan pada waktunnya.


`,:)

*pamer emote baru*
*yawda sik gitu aja*

btw, bangun tidur langsung kangen.
iya, kangennya cuma bisa pas bangun tidur. 
kalo sadar ga yakin kangen sama siapa.
kangen andi. kangen albi. 
coincidence?

Saturday, September 12, 2015

Apakah yang kita harus catat? Apakah kjta harus yang terpenting, mengabaikan yang kurang penting, dan melupakan sama sekali yang tidak penting?
Namun apakah jaminannya bahwa yang tidak penting dan boleh dilupakan saja, memang lebih tidak penting daripada yang kurang penting dan cukup diabaikan saja, dan apapula jaminannya bahwa yang kurang penting dan boleh diabaikan, memang kurang penting daripada yang penting - yang tidak bisa tidak mesti dicatat, meskipun menjadi penting hanya karena dibuat agar tampak seperti penting?
Sukab - Travelogue
Someone tells me: this kind of love is not viable. But how can you evaluate viability? Why is the viable a Good Thing? Why is it better to last than to burn?
Roland Barthes - Lover’s Disclosure
Dua potongan quote ini membuat saya berkontemplasi sedikit tentang upaya-upaya hidup dalam sepanjang perencanaan. Kita suka sekali berbicara mengenai rencana-rencana bagaimana nantinya menjalani masa depan. Perencanaan itu buah baik dari siraman air kerja keras pada hari ini, pada awalnya. Setidaknya memang mekanisme harapan bekerja seperti itu; buah baik yang kita kira pada hari ini.
Adakah yang lebih baik dari hari ini? Adalah sebuah janji yang diletakkan Tuhan di dalam dada hambanya, agar biar bagaimana pun kita terjatuh tidak begitu sakit, katanya. Terserah bagaimana urutannya, perencanaanmu, a sampai z, perencanaan Tuhan, atau sebaliknya, kita tidak pernah benar-benar tahu pada batas mana buah harapan yang benar-benar kita harapkan. Benar kan?
Saya sudah lama memikirkan hal ini, entah seperti apapun motivator favoritmu mengatakan untuk berencana sebelum memulai. Rencana sepertinya hanyalah kesia-siaan. Bukan. Saya tidak mengatakan sebab saya orangnya fatalis, atau malah bersebab pada banyaknya rencana yang gagal. Teruslah berencana. Teruslah berharap. Tapi bukan pada kenyataan yang masih Tuhan jadikan impian. Tapi pada keyakinannya.
Sama seperti ketika kita memastikan mana yang baik mana yang tidak baik. Pada akhirnya, urutan-urutan itu hanya membenarkan mana yang lebih diyakini dan tidak diyakini. Lalu bagaimana bila saya katakan saya berhenti berencana, dan meyakini segalanya. Melenyapkan segala ketidakmungkinan, baik atau buruk, hanya karena bila semesta berencana hancur pun akan berakibat pada perjalanan baru.

Stabat, September 2015

Monday, September 7, 2015

Saat...

...Hujan.
Ada apa saat hari hujan? Tidak ada apa-apa sih. Aku barangkali tidak berapa sering bilang suka hujan. Tapi aku suka sengaja pulang berbasah-basahan kalau hari hujan. Lalu sepatuku berat berisi air hujan yang enggan keluar. Kulitku akan berkerut dan semakin pucat. Air hujannya akan mengalir dari rambutku ke pipi, seperti menangis, lengket dan merembes ke bibir; asin. Wangi hujannya tidak terlalu lama bisa kunikmati. Hidungku akan cepat mampet. Lalu aku bernafas lewat mulut. Panasnya akan kontras saat bertabrakan dengan udara. Sepulang di rumah, aku langsung mandi. Tentu saja. Langsung sakit. Pasti.
...Matahari Terbit.
Aku bangun dan berangkat sebelum matahari terbit. Matahari adalah penunjuk waktu. Kalau berangkat terlalu terang pasti terlambat dan susah dapat angkutan. Aku duduk di sebelah kiri, agar bisa melihat matahari bersinar merah. Aku suka melihat matahari yang mencuri-curi lihat dibalik barisan rumah dan pepohonan di sepanjang jalan. Aku berharap saat tepat melewati lapangan yang luas atau sawah, aku bisa melihatnya tepat merah memanjati langit hitam kebiru-biruan. Kalau beruntung, ketika sampai di tujuanku, dia disamping menemaniku berjalan dan melamun.

Sunday, August 16, 2015

Hai...

Ta....daaaa....

Home sweet home!

Walaupun blog ini isinya alay. Mari kita sama-sama lanjutkan kembali, jun! With a new soul, of course. Mungkin kita selesaikan dulu project seventhemes yang belum rampung tahun lalu. Hehehe...

*peluk cium pembaca setia*
Love you all! :* :* :*

*padahal sudah tak ada pembaca lagi* :D