Showing posts with label aku. Show all posts
Showing posts with label aku. Show all posts

Friday, September 18, 2015

Things I Don't Do (Anymore)

Mimisan
Sebenarnya diantara tiga bersaudara, sayalah yang paling penyakitan. Tapi anehnya, sampai sekarang belum pernah ngerasain yang namanya mimisan.


Step
Ini step kalau demam itu. Kalau mulai demam biasanya barang-barang yang dekat terlihat sangaaaaaaaaaat jauh. Dan terkadang ngelihat sehelai benang itu sangaaaaaaaaatt berat. Dan ini termasuk pengalaman yang seram.

Chameleon Effect
Mungkin kedengarannya aneh, tapi katanya dulu (SMA) saya suka gak sadar ngikutin mimik bicara kalau ada yang ngomong di depan. "Ihh, kau hobi kali ngikutin bibirku ngomong..." Dan saya cuma bisa kaget "ha?"

Sunday, September 13, 2015

Delay

pernah ngatain orang alay?
nah tunggu aja giliranmu jadi 'layangan' juga.
ya, layangan stage dua. *keren bener*
delay=dewasa layangan.
itu yang dikit-dikit melayang, tenggelam, floating, flying and sinking.
itulah maksudnya.
drama, ngeluh, lain waktu pura-pura bahagia, de el el.
ya. semua orang akan layangan pada waktunnya.


`,:)

*pamer emote baru*
*yawda sik gitu aja*

btw, bangun tidur langsung kangen.
iya, kangennya cuma bisa pas bangun tidur. 
kalo sadar ga yakin kangen sama siapa.
kangen andi. kangen albi. 
coincidence?

Friday, August 22, 2014

Detak Kesedihan

saya gak tahu harus dijudulin apa postingan ini. tapi, postingan panjang ini akan dimulai dari pertanyaan saya kepada seseorang, “1. apakah kita hidup ini harus selalu bahagia?" jawabannya tidak juga. saya tidak tahu apakah ketika pertanyaan terlontar ia benar-benar memiliki kekuatan untuk melahirkan sebuah jawaban atau hanya sekedar persetujuan. pada akhirnya dia hanya menjadi pertanyaan yang akan melahirkan pertanyaan baru lagi.

hingga kemudian, pertanyaan itu terevisi dengan sendirinya dan terlontar dari kawan saya. “2. apakah manusia tidak boleh berduka?" berita buruknya, saya yang harus menjawab. tapi saya akan berikan dua jawaban common sense.

dengan menggunakan pertanyaan kedua, mereka kebanyakan pasti akan menjawab, tidak boleh berduka. saya gak tahu apa yang terjadi di benak golongan ini. wajah bahagia itu kelihatannya satu, dan mereka belum kenal seribu satu wajah kesedihan. atau mungkin juga mereka menganggap kesedihan adalah wajah buruk dari kehidupan, sehingga sebisa mungkin, sejauh mungkin mereka punya jarak aman dari kesedihan.

major community kedua mungkin akan menjawab half empty half fullboleh, tapi jangan lama-lama. mereka orang baik yang punya empati. hanya saja barangkali mereka belum punya waktu untuk memahami ada jenis kesedihan yang tidak bisa diobati. kalau kalian sempat melihat postingan saya yg lalu tentang “don’t moke a pain that you haven’t endured”, saya berharap kemudian kalian memahami satu hal. serupa kematian, ada juga kesedihan yang tak disertakan obatnya. walau saya sendiri tak begitu yakin jika itu benar-benar tak ada obatnya.

jawaban minoritasnya sudah pasti, boleh. mereka tak lagi sebagai objek penanya, tapi sebagai pelaku utama dalam drama kehidupan mereka masing-masing. saya yakin jumlah mereka cukup banyak, walaupun kemudian alasan mereka variatif. bisa jadi, mereka hanya belum menemukan jalan keluar dari kesedihan. bisa juga mereka hanya terperosok dalam lubang kesedihan. bisa jadi juga mereka terjebak-terlilit-tersangkut atau apapun lah itu namanya oleh kesedihan. mereka itu semua…tolonglah, saya benar-benar meminta tolong. terangilah, ulurkanlah, dan bantulah mereka lepas dari kesedihan itu. kesedihan itu hidup dan bernafas, dan semakin lama ia tumbuh dalam diri seseorang. mereka…

mereka akan menjadi kesedihan itu sendiri. jalan keluar, obat, kesembuhan, keselamatan, bagi mereka adalah kata-kata asing. mereka adalah kekosongan yang tak lagi mengenal antitesisnya. mereka akan menjadi entitas yang tak lagi dapat dipisahkan dari inangnya. bagi kami, kesedihan baru adalah akhir kesedihan lama. kami tak lagi boleh diselamatkan, jika berarti kami harus dibunuh untuk kedua kalinya.

entah bila pun kalian mengerti, semua ini hanya berawal dari kata sederhana. impian.

Stabat, Agustus 2014

Sunday, March 23, 2014


Saat mencoba mengingat-ingat, oh iya, ternyata aku pernah mengutuk diriku sendiri
Demi menghargai kebahagiaan-kebahagiaan kecil,
Lebih baik menghabiskan semua jatah mimpi-mimpi buruk.
Hari ini diingatkan...
mungkin jiwa terlalu banyak mengemil bahagia. Baiklah.

Saturday, March 22, 2014


Keyakinan ini nantinya akan mengingatkanku bahwa aku pernah ada. Ha, Bagaimana?
Ya. Sebelum siapapun menamparku kelak, aku harus memastikan aku tidak pernah tertidur.
Dan kalaupun ada yang ingin menghadiahiku tamparan itu, aku akan menerimanya dan memastikan.
Bahwa aku juga pernah melukai diriku lebih dari itu.
Itu saja. Sebuah ego.

Wednesday, July 31, 2013

Ritual

kau gila kau gila kau gila
kuucapkan mantra, setengah marah
kau tuli kau bisu kau buta.
kau penyakitan terkapar berdarah

Arrrrrrrrrr...ggaaahhh
timbul tenggelam
kepahitan
kebencian

menggigil terisak, samar ku rasa
namamu bergaung tak teraih
entah dimana pijak dunia
kuhabis pilu hilang tertatih

kau tak tau apa-apa
andai bisa ku katakan
andai bisa ku teriakan...
kutekan dalam-dalam gelegak api
mendidih disana airmata luka

segalanya
kita bakar semesta
dan kita bakar surga

Friday, February 3, 2012

Sepuluh Hal (Benci)

1. Nama
Saya sebenarnya tidak pernah terlalu suka dengan nama. Tidak. Nama saya bagus. Maknanya juga. Hanya saja saya lebih memilih (kalau bisa) nama saya tidak terlalu punya arti. Seperti kehidupan saya barangkali. Nama itu tidak perlu panjang-panjang. Asal lekat gampang diingat. Uki, misalnya. #eh

2. Sekolah
Yup, saya salah satu dari kebanyakan yang benci sekolah. Tapi saya lebih benci karena tak ada satu hal menarik pun yang ditawarkan disana. Saya suka belajar. Tapi untuk saat ini, tak ada kenyataan sekolah/kampus yang seideal dengan keinginan saya. Teman-temannya? Ah, kan kau bisa menebaknya.

3. Kendaraan
Saya tidak suka dengan semua jenis kendaraan. Walaupun saya tidak pernah naik kereta api dan pesawat terbang, tapi saya kira saya tidak suka. Bukan karena saya tidak bisa mengendarai salah satu jenisnya (kalaupun iya), tapi lebih karena saya lebih memilih jalan kaki, terlebih duduk berdiam diri. Saya lebih memilih tak beranjak kemanapun. Kalau bisa.

4. Repetisi
Diulang-ulang. Saya pernah posting tentang hal ini. Terkhusus untuk sebuah pertanyaan "kenapa?". Saya terlalu benci, sampai mengakibatkan delusi. Pernah dengarkan lagu JB yang Baby itukan? Semacam itulah. Ah sial.  Delusi lagi!!

5. Hidung Mampet
Saya tidak ingat lagi bagaimana rasanya menghirup udara dengan kedua lubang hidung ini. Saya terlalu benci sampai melupakannya.

6. Fashionista
Gak tau sih, seberapa fashionistanya saya. Lelaki itu tidak umum. Walaupun begitu, semua orang yang fashionista itu, bagi saya. Bodoh. Kalau wanita apalagi.

7. Makanan Basi
Adalah hal luar biasa. Karena hampir tiap hari saya menemukannya. Bukannya rumah ini berlebihan dalam hal makanan, justru sebaliknya. Semua orang dirumah ini bisa lupa makan seharian. Dan makanan dimakan kalau perut udah desperate saja. Orang dirumah ini lebih milih makanan instan diluar. Mahal? Tentu saja.

8. Subjektif
Saya tidak suka dengan orang yang berpendapat subjektif. Saya benci sampai saya ketakutan sendiri. Orang-orang yang subjektif jelas saja egois. Cenderung tak bertenggang rasa. Dan jenis orang yang tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Pada akhirnya, saya justru lebih subjektif dari orang-orang sejenis. Sial. 

9. Pikiran
Kadang saya ingin berhenti berpikir. Berhenti memikirkan hal-hal kecil. Hal-hal besar yang menjadi kecil-kecil. Berhenti berbicara disana. Dan berhenti menulis. Berpikir lebih banyak menyakiti hati. Itulah kenapa saya sangat suka tidur. Walaupun, untuk tidur saja susah!!!

10. Saya
Cukup jelas. Haters gonna hate.

Friday, January 20, 2012

Untuk Hatiku Sendiri

Hi hi hi..
Hatiku...apa kabarmu? Pertama sekali aku ingin berterima kasih, karena kamu masih disana dan tak kunjung mati. Aku sangat berterima untuk semua bisikkanmu selama ini (ya walaupun tak sedikit aku tak perduli), caramu memaafkan diri sendiri, dan semua cinta yang menyeruak tanpa banyak kunikmati.

Yang kedua, itu tadi...umm, aku ingin minta maaf. Entah berapa banyak luka disana, berapa banyak aku menutup mulutmu ~ menutup telingaku, dan kehidupan kita yang tak terlalu hidup. Sebenarnya, aku tidak ingin memberimu terlalu banyak dendam. Dan lagi, aku yakin kau pun bosan, aku juga. Terlebih lagi, belakangan ini aku berlebihan dalam merindu. Tapi aku belum bisa berhenti dari candu yang menyiksa ini, jadi bertahanlah sedikit lagi, ;').

***

Tapi hatiku, pernahkah kamu tahu? Aku selalu mendiamkanmu, bukan karena aku membencimu. Aku masih takut dunia akan membenci kita. Keinginan kita terlalu mewah untuk kenyataan. Kadangkala, kita seperti anak kecil yang kehilangan layangan, ya kan? Ingin lari mengejar tapi takut tersesat. Ah, tenanglah, mungkin tidak sekarang. Tapi kita pasti punya kesempatan menunjukkan pada dunia.

Umm...satu lagi, sebelum aku menjadi antagonis lagi, maukah kamu membantu menamparku sebelum aku melukai orang lain? Berdebar saja sekencang-kencangnya. Aku tahu rasa sakitnya, karena itu kita takkan membiarkan orang lain sakit gara-gara kita, kan?

Dan hatiku, janganlah dulu membeku, aku sedang berusaha mencintaimu. Setelah aku mampu, aku berjanji kita takkan sendiri lagi. Aku akan banyak menyenangkanmu dengan merahnya matahari pagi, lembayung jingga senja, sejuknya air hujan, dan bait-bait cinta Tuhan. Sekali lagi, maaf dan terima kasih.
*pinky promise

Tuesday, September 6, 2011

Cermin


kulihat cermin diriku.
5 tahun kedepan.

terkapar di ruang putih.
mati. sendirian.

brengsek!! Cermin sekarang belajar menipu.

prangg!!!
pecahan kaca, sedikit bercak darah

ku intip dari satu keping kaca.
cermin diriku 3 tahun ke depan,
sambil berdarah-darah mengejar sarjana.

kuambil martil.
druakk!

proyektil tajam menerjang mataku.
aku menjerit.
5 menit kemudian aku diam.
kuputuskan menjemput takdir 5 tahun kedepan.

*29-08-2010...

Friday, November 5, 2010

Samudera

diam, kutatap layar bergambar padang rumput.
tiba-tiba saja, kurasa umurku 30 tahun
dan kakiku terhenti, entah kemana ku kan melangkah.
kutatap lagi matahari.
yang menjelang jingga hendak tenggelam.

surut-surut air pasang meresapi kaki.
kini di hamparkan pantai di mata.
kumelamun, apakah perasaan yang tertinggal
atau ada kenangan yang masih tersimpan
dingin sejenak datang di hati.
mencumbuku rasa haru yang kian sesak

kududuk dan kudapati cangkang kerang.
kumainkan dan kupanggil angin.
sahabat si kesepian.

duhai samudera...
sebuah cerita. dikedalaman yang tak tembus cahaya.
sebuah derita. luka dan pilu yang tersimpan.
bertabuh suara camar menjauh dari pantaimu.
kini berganti malam, gelap dan menyisakan suara ombakmu yang gelisah.
sebuah cerita. tentang masa laluku penuh penyesalan.
sebuah derita. yang kan kutitipkan padamu...
bawalah jauh.
duhai samudera...

mengalir dingin air, perlahan-lahan menyusuri pipiku.
adakah kelabu waktu yang bisa ku ulangi
merubah wajah tua lusuh ini, meniti dari angka satu.
berpola tidak berpola, sebuah janji, tak mungkin ditepati.

...

Sunday, August 29, 2010

Aku Anak Manja


saya anak manja.
sangat sering jatuh cinta.
hingga tak punya logika.

saya seperti perempuan.
yang suka menangis diam-diam.
tapi saya sering kesetanan.
menyiksa orang pelan-pelan.

saya anak manja.
tak bisa diam, barang sekejap saja.
mamak tak punya, bapak acuh kerja.

saya jadi orang gila.
sibuk menyetubuhi dunia.
saya pembuat mantra.
yang membuat orang terpingkal tertawa.
saya pembuat mantra.
yang membua orang menangis sejadinya.

aku punya taman.
tak berdetik tak pula berdetak.
sepanjang jalan daun berguguran.
selama detik yang tak pernah bergerak.

aku anak manja.
pemilik hati seribu rupa.

ah maaf, yang asli entah dimana.