Showing posts with label Taman Waktu. Show all posts
Showing posts with label Taman Waktu. Show all posts

Saturday, August 16, 2014

Merayakan Kesedihan

Kematian [7]
Sudut Pandang Orang Pertama

Jika ada hal yang paling aku ingini sebagai penulis, ialah merayakan kesedihan. Aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya bagaimana keindahan merayakannya. Tapi hari ini aku datang dan menemukan.

Kami berdiri di ruang terbuka. Tidak di Taman Waktu, tidak juga di Istana Ingatan. Kami berdiri di dekat tebing, di timurnya terbentang padang rumput hijau dan di barat jauh di bawah ombak meraung berlipat-lipat.

An dan Rin saling bertatapan. Mereka kelihatannya bingung. Tentu saja. Aku mendekati An, Airlangga Kelana, lalu memeluknya. Dia diam saja dan dia telah mengerti. An selalu hidup atas ketidakmampuanku melawan dunia. Sekarang, setidaknya aku telah memulai untuk melawannya sendiri. Untuk itu istirahatlah, An.

Rin hanya bisa kupandang lama, walaupun pada akhirnya dia terjatuh dan memeluk lututku yang sudah tak lagi berasa. Rin, Airin Yuuji, selalu hidup untuk membenci. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memenuhi daftar orang-orang yang ingin dihapusnya. Tapi belajarlah untuk menjadi pemaaf Rin, karena mulai sekarang aku pun akan belajar meminta maaf. Engkau lelah, beristirahatlah Rin.

Lalu Manja. Aku hanya bisa menggendongnya, memeluknya rapat-rapat. Manja Citra Kelana. Si kecil yang memiliki mata yang aku sendiripun kiranya tak mampu menatapnya. Di antara An, Rin dan Manja, Manjalah yang memiliki aroma kesedihan yang paling harum dan luka yang paling ranum. Sebab itu, tak heran Manja langsung mengenaliku. Karena saat aku menggendongnya, justru ia yang berujar sambil mengusap rambutku, "tak apa.. tak apa.. tuan akan baik-baik saja." Terima kasih An kecil.

Mereka adalah nafas yang menyambungkan malam dengan siang, kenyataan dan impian, kesedihan dan jembatan kebahagiaan. Walaupun kemudian, kita tak bisa saling mengantar pada ujung jalan. Terima kasih, Rumah Hitam Putih.

Benamkan matahari, matikan lampu, hidupkan lilin. Mari kita rayakan...

Stabat, 15 Agustus

Tuesday, July 29, 2014

Sepetak Kamar Tempat Ia Bermimpi

An : Dia tidur melayang, perlahan-lahan turun bersama selimut embun. Bulan sabit terlalu jauh dari sepenggalan tangan, tapi fajar tepat dibawah kelopak mata. Di telinganya masih berbisik dongeng tentang manusia.

Apakah mereka jatuh cinta? Igauku. Tidak, mereka terluka. Jawab bulan sambil menunjuk kawah-kawah di sekujur badannya. Apakah mereka sembuh? Sambungku. Tidak untuk waktu yang singkat. Bulan berbalik, menarik awan-awan kearah wajahnya. Kalau begitu jangan bangunkan aku.

Hari semakin dingin, angin berkerumun sedih di lingkar tubuhnya yang mendekap. Bulan di barat semakin lara dibuatnya.

Rin : Ruhnya semakin dekat ke bumi. Kabut mengitarinya. Sebelum matahari berganti menjaganya, bintang-bintang berkerumun lekat di piyamanya. Mereka menyisipkan sepotong kue.

Tapi engkau bahagia. Bulan menyeka airmatanya. Ia masih tertidur. Ia mengukir senyum.

An : Sejak saat itu, kami tak pernah bertemu purnama.

Sunday, June 22, 2014

Istana Ingatan

Impian [6]

kemarilah, berdecak kagum dengannya
bawa kaki yang bosan didekap, sekali ini hentakkan
genggam tangannya, berlomba lah untuk mabuk
siapa yang menelan kepahitan paling banyak; jadikan raja.

tak ada lampu kerlap-kerlip, hanya mata diambang lelahnya
dihadapkan pada wajah-wajah yang kau sukai
dan semua memeluk, menarik, menari diatas kesadaran rapuh
sudah kau kecap setiap getir, lalu hantarkan pada setiap bibir

confetti dari potongan boneka-boneka buangan, pecahan kelereng, 
lilitan renda-renda baju anak perempuan; berjatuhan dari langit
kita mandikan, menyucikan diri lewat goresan-goresan kesedihan
telan sebagian, tubuh kan semerbak kerajaan tuhan

belum lagi pagi, mual mengendap dari pundak
diantara serakan puluhan mata, potongan jari, dan album abu-abu
dua orang dementia lelah berpesta, terkapar ditengah
wajah mereka sama.

Friday, June 20, 2014

Taman Waktu, Hari Ini...

gadis kecil itu sedang menyibak-nyibak dedaunan basah. hari ini hujan. aku tidak sadar kapan. kapan? ah itu tidak penting. tiba-tiba saja dia sudah berlarian. meninggalkan rumah biru keperakan tergenang.
aku duduk tenang, sebelah tangan memegang pensil, sebelah lagi rautan. dan tiba-tiba dia menyodorkan sehelai daun. 
"ya. kenapa?"
aku tidak berbicara padanya. aku berbicara pada matahari yang masih menggantung.
"udah gak bisa."
dia kemudian duduk di samping, paling ujung dari bangku. menokok-nokok jam mati itu. aku kemudian bercakap-cakap dengan angin.
"gak bisa..."
"udah habis..."
"..kan udah kemarin."
udaranya begitu lembab.
"dasar gak berguna," sekarang aku bicara dengan matahari.
angin menderu itu datang lagi, meninggalkan pola daun yang digodanya. seperti kemarin. seperti kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarinnya lagi. seperti kemarin kemarin kemarin kemarinnya lagi. kemarin? ah, ini juga tidak penting.
"aahhh, jam sembilan lewat empat dua..."
suara asing.
aku menoleh, dia menoleh. aku menatap jam itu. memastikan.
"bener kan?"
suara asing lagi.

Monday, February 17, 2014

(An) : Jingga yang sepi, yang duduk sendiri

Bila bercerita tentang takdir tentulah sembilan bulan yang lalu bukanlah awal. Tapi di buku catatan Tuhan, jahitan takdir tidak pernah salah. Motifnya berwarna, bercampur dengan entah takdir siapa saja. Rajutan takdirnya tiba-tiba menuju pusat segala perhatianku. Mungkin. Dia sudah terjahit rapi di buku catatan Tuhan, sebagai kuncup bunga. Dan aku digiring secara rapi, menjadi tangkainya, berharap mampu memekarkan takdirnya; lebih panjang dari hidupku. Yang terakhir itu sebuah do'a.

Sembilan bulan yang lalu.
Sejujurnya, urusan kuliahku tak ada urusannya dengan kesibukanku selalu singgah ke tempat itu. Seujung kuku pun. Dan pekerjaan sampinganku sudah cukup memakan waktu, walaupun memang tidak setiap hari. Tapi membantu mengajar di salah satu sekolah desa Rukun Sejati sudah menjadi komitmen awalku. Rin sebenarnya yang merekomendasikan tempat ini sebagai tempat pengabdian kemahasiswaan terakhir. Dan aku tak mau tahu lebih banyak dari jaringan kliennya yang nomer berapa yang juga turut andil merekomendasikannya. That's itThe chain of fate. And it's not finished yet.

Jarak tempuh dari kosan ku yang sekarang dari tempat pengabdian memakan waktu sekitar dua jam kurang. Untungnya angkutan menuju desa itu dua puluh empat jam. Sampai di depan gapura desa, aku harus berjalan lagi sekitar tujuh menit untuk sampai sekolah. Sebenarnya jatah mengajarku hanya satu mata pelajaran. Tapi tentu saja bohong. Barangkali hampir semua sekolah dasar di daerah terpencil kekurangan tenaga pengajar. Ya, sekolah dasar. Aku harus mengajar tiga mata pelajaran sekaligus, selama empat hari seminggu, dan berhadapan dengan mental anak-anak. Well, aku tidak keberatan. Aku tidak terlalu penyayang dengan anak-anak, itu sebabnya aku meminta kelas lima dan kelas enam saja. Alasan kedua, kau tahu yang ini agak dilematis jika harus kusampaikan.

Bukan Rin namanya, kalau setiap bahasanya, ajakannya tidak memiliki makna politis. Aku hampir mengoyak-oyak kemejaku saat hari pertama mengajarku selesai. Minggu berikutnya, justru aku berdo'a agar jam mengajarku jangan selesai lebih awal. Yap. Di desa itu, bila dari sekolah berjalan lagi lebih kedalam, kira-kira dua ratus meter, kau akan menemukan kumpulan bangunan bercat kuning dalam kompleks berukuran kira-kira dua halaman sepak bola. Tepat setelah pintu gerbangnya, ada lapangan kecil serbaguna yang lebih kelihatannya hanya dipakai untuk upacara. Walaupun aku tidak mengerti bagaimana orang bisa mengetahui kompleks apa ini karena desain platform namanya tersembunyi dibalik dinding gerbang itu. Tertulis "Panti Asuhan Harmoni".

Setiap pekannya, kelompok grup relawan (salah satu jaringan Rin) yang terdiri dari lima sampai enam orang datang ke sini untuk membuat acara sosial. Tentu saja, pada awalnya aku secara terpaksa ikut bantu-bantu sebagai seksi sibuk. Bukannya aku tidak menyukai kegiatan-kegiatan sosial. Tapi bila harus bekerja sama dengan orang-orang 'asing', terlebih tiap pekannya diganti terasa merepotkan dan meninggalkan rasa ganjil secara khusus. Ini penyakit interpersonalku.

Secara otomatis, jadwalku yang seminggu empat kali ke sini harus bertambah menjadi lima sampai enam hari. Bila segalanya menjadi tak terkontrol, mau tak mau aku tak bisa pulang ke kosan. Soal menginap tak usah ditanya. Semua penduduk dengan senang hati menawarkan rumahnya. Tapi aku lebih memilih untuk tidur sendirian di surau samping panti dengan bercahayakan hanya lampu semprong. Ajaibnya stop kontaknya masih berarus. Dan ini alasan terakhir aku sanggup bertahan di surau sendirian. 
Mata yang berisik.
Setelah sebulan pertama ikut bantu-bantu di panti tiap pekan, ibu-ibu pengasuh lebih mengenalku daripada anggota relawan. Pekerjaanku meliputi mengangkat sarapan dan membagikannya bila itu berbentuk nasi kotak. Jika tidak, aku harus menuangkan nasi dan lauk secara adil tergantung pada umur berapa yang mengantri. Ada yang merasa mendapat nasi kurang, padahal nasinya sudah lebih banyak. Ada yang ogah-ogahan makan, tapi aku tetap tidak boleh mengiyakan permintaan mereka. Begitu kata Mbok Rami, salah satu ibu pengasuh yang paling cerewet soal makanan.

Sebelumnya aku tidak memperhatikan, tapi ada satu gadis kecil yang kapan pun bila kutanya, "Cukup nasinya? Cukup lauknya?" Dia tidak pernah menjawab. Anak-anak yang lain selalu berkomentar tentang nasinya, bila tidak langsung ngeloyor ke meja-meja makan. Tapi gadis kecil ini selalu menunggu aku bertanya seolah-olah itu adalah kerupuk yang aku selalu lupa untuk tambahkan. Bila aku sudah bertanya, dia pun pergi tanpa ada perubahan di ekspresi wajahnya. Wajahnya oval kecil. Pipinya putih merah, tampak urat-urat biru sepanjang pipi sampai lehernya. Matanya tampak besar tapi tidak, justru kelihatan tak pernah digunakan untuk membelalak atau berteriak layaknya anak-anak seumurannya. Lingkar matanya selalu alami tampak merah. Tidak bengkak. Rambutnya sebahu dengan keriting-keriting kecil diujung rambutnya. Satu lagi, dia selalu memegang buku cerita lusuh agak besar. Hard covernya bertuliskan, "Rumah Jingga". Belakangan aku tahu, dia dipanggil Jingga. Nama aslinya? Tak seorang pun tahu.

Di suatu sore ketika aku berjalan menuju surau, ya aku lembur, tatapanku tak sengaja menangkap Jingga yang sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman di lapangan. Mungkin kebetulan. Karena lebar pintu gerbang itu hanya bisa menampakkan wajahnya sekitar empat detik. Entah bisikan apa saat itu yang berhembus di telingaku. Tepat dua detik setelah wajah Jingga menghilang di balik dinding itu, aku berhenti sejenak dan memutuskan untuk singgah sebentar ke panti. Aku berjalan pelan menuju gedung utama. Untuk mencapaiya aku harus menyusuri lapangan kecil sebelah kiri dan melewati koridor yang menghubungkan gedung utama dengan kantor administrasi. Jingga duduk jauh di sebelah kanan lapangan, tapi aku masih bisa merasakan tatapannya yang mengikuti bayanganku. Sembari pura-pura melihat anak-anak panti dari berbagai umur yang berserak di lapangan kecil itu.

Sesampainya di gedung utama, aku hanya menemukan Mbok Firda yang sedang menyapu dedaunan flamboyan di depan gedung utama. Beliau menyapaku sopan, tidak kaget dengan kehadiranku. Aku mengambil dudukan di pagar balkon dan meletakkan tasku di dekat situ.

"Yang lain pada kemana, Mbok?" Maksudku para ibu pengasuh.
"Rami lagi belanja buat makan malam. Minah kayaknya ada di depan tadi jagain anak-anak. Kalok si Sri lagi ngerumput di taman belakang sama anak-anak putri."
"Oh."
"Mas An ndak pulang?"
"Ndak Mbok, agak banyakan tugas hari ini sama besok."
"Wes, mangan bareng sini aja Mas."
"Iya Mbok. Oh iya, omong-omong Jingga itu umurnya berapa tahun ya Mbok?"
"Hmm? Jingga?" Mbok Firda mengulang pertanyaanku sembari menghentikan sejenak aktifitasnya. "Empat tahun kurang." lanjutnya.
"Udah berapa lama disini?"
"Maksud Mas, kenapa bisa sampai disini?", Mbok Firda merevisi pertanyaanku. Mungkin pertanyaanku sudah biasa baginya.
"Hehe, iya Mbok."
"Itu si Rami yang lebih tahu dan paham. Saya kurang tahu detailnya. Kalo disini, baru sekitar empat bulan. Masih baru." lalu Mbok Firda melanjutkan aktifitasnya.
"Hmm.."
"Tapi, yang pingin adopsi Jingga udah banyak. Imut-imut gitu." Mbok Firda menambahkan. "Tapi, si Rami yang ndak ngasi. Kami ya sepakat aja. Kami percaya sama Rami."

Pikiranku mulai bercabang. Tapi aku berusaha penasaran sewajarnya. Mbok Firda kemudian menyelesaikan tumpukan daun yang disapunya. Masih memegang sapunya, kemudian mengambil tempat duduk di sampingku.

"Ndak usahkan orang tuanya yang baru nanti. Lha kami aja yang udah puluhan tahun saja bingung lihat Jingga. Banyak anak yang sampai kesini dengan berbagai macam alasan. Punya trauma, ketakutan dan segala macamnya. Yang pertama sampai sini nangis lah, mau kabur, sampai juga ada yang ngamuk berminggu-minggu. Alasan-alasan itu gak bisa terbuang begitu saja. Butuh waktu kadang sampai tahunan, Mas. Kami bukan ya yang terlalu berpengalaman juga. Tapi kayak si Rami yang udah puluhan tahun disini, paling senior di antara kami, kami sepakat bahwa kebahagiaan anak itu paling penting kalau mau anak-anak dari sini. Bukan uangnya loh Mas." Mbok Firda tersenyum. Aku hanya menyepakati dalam hati. Menunggu kelanjutan ceritanya.

"Tapi anak-anak biasa saling nyemangatin, saling perhatian. Kalo yang tua-tua kita gini lamban, kalo sama yang seumuran cepet nyambungnya. Bagi kami, panti ini, mesti jadi rumah yang nyaman bagi mereka. Ndak ada pilihan lain. Prioritas. Soal donatur perihal lain. Kalo cerita duit, si Rami itu paling pelit. Tapi kalo cerita anak-anak barangkali udah ludes semua tabungan kami demi anak-anak."
Mbok Firda mengambil nafas panjang.

"Kalo soal Jingga...anak itu agak lain. Saya bukannya ndak tahu asal-usulnya. Tapi Ramilah yang berhak cerita. Dari pertama kali sampai disini, dia satu-satunya yang ndak bisa berubah. Kalo Rami bilang 'belum', 'sabar', 'nanti aja'. Kalo soal makan Mas An tau ndiri, anaknya gak rewel. Kalo sama kawan-kawannya juga biasa aja, main bareng, belajar bareng. Tapi kami tahu...dia itu masih memperlakukan dirinya sebagai tamu. Dikit banyaknya pastilah kami sedih."

Aku terdiam. Mencoba mengingat selama sebulan ini suara Jingga. Dan ternyata aku belum pernah mendengarnya. Aku memperhatikan wajah si Mbok. Pastilah keras perjuangan ibu-ibu pengasuh untuk membahagiakan puluhan anak-anak ini. Kuperhatikan satu-persatu kerutan di wajahnya yang berumur kepala lima. Setiap kerutan itu berasal dari anak yang mana. Dari empat ibu pengasuh, cuma Mbok Rami yang perawakannya paling tegar walaupun dari umur beliau paling senior. Aku pun mulai berpikir bagaimana caranya menghidupkan 'warna' panti ini.

"Wes, mandi dulu kamu sana di belakang. Mbok juga mau manggil anak-anak."
"Ndak mbok, di surau saja." Aku bangkit dan tersenyum. Lalu bersama-sama Mbok Firda ke lapangan.
Sembari membantu menyuruh anak-anak masuk untuk mandi dan mengaji sore, aku mendekati Jingga yang sedang serius membaca buku lusuhnya. Ia tak sadar kudekati.
"Jingga." Aku memanggilnya pelan dan setengah menunduk

Kuperhatikan tubuhnya membeku. Lalu seperti gerakan slow motion, dia menutup bukunya. Menegakkan kepalanya datar, tanpa mendongak dia menatapku. Ekspresinya secara alami tidak mengernyit. Tapi matanya menyipit karena tidak mendongak itu. Baru ini aku memperhatikannya dekat dan lekat. Di bibirnya ada senyum tipis, terlalu tipis bahkan seakan-akan disapu angin pun hilang. Dan matanya. Entah apa yang terjadi, panggilanku barusan terngiang lagi ditelingaku. "Jingga". Lalu matanya menjawabnya. Dengan suaranya. Dari pita suara yang aku masih berimajinasi berbunyi seperti apa. Lewat mata itu kami bercakap-cakap banyak. Seolah mimpi di malam hari, pada detik berikutnya kau lupa bercerita apa dengan perasaan buncah yang seperti apa. Matanya terlalu berisik.

Jingga melompat dari tempat duduknya, membuyarkan imajinasiku tadi, melewatiku pelan. Mengikuti barisan Mbok Firda yang pelan-pelan juga menghilang dari balik koridor.

Hei...apa yang barusan itu?





Monday, September 23, 2013

rin...
mereka telah menolak dan mempermalukanku di kaki langit.
mereka bilang, mereka tak bisa memulai menghukum ruh yang berserakan.
jadi, aku dikembalikan. aku pulang.

padamu, sekarang, rumah kecil itu telah berubah menjadi gundukan dengan kamboja layu.
apakah engkau masih disana? aku tak tahu harus kemana.





Tuesday, July 31, 2012

Makam Hati


tak ada peti mati, seperti dimakan jam batu itu. dan jam itu sudah berhenti berdetak.

tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.

tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.

tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.

pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.

sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.

jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.

dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.

trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.

aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...

ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??

Monday, June 25, 2012

Nostalgia

Akan menyenangkan apabila suatu saat pertemuan itu seperti janji-janji di kebanyakan cerita. Dan saat itu, apa yang mesti kita lakukan? Cerita apa yang kau ingin dengar? Apa kau masih pendiam? Apa kau sudah bahagia?

Dadaku bergemuruh hebat hanya membayangkannya.
...dan Rin, berapa lamakah lagi pertemuan itu akan datang?
Karena firasatku mengatakan, pertemuan itu sudah kita lalui. 
...berkali-kali...di dalam mimpi.
An, Taman Waktu

Thursday, April 5, 2012

Mata

Kita berpandangan, entah bagaimana caranya, matamu yang begitu gelap memikat. Dimatamu, ada serumpun bambu basah menguning, gagak hitam yang berterbangan, dan secarik surat setengah terkoyak. Dimatamu, kau biarkan hutan hujan liar merambat, bangkai teman-temanmu berserakan, dan kepala mirip wajahku tergantung. Aku belingsatan, terpenjara dalam siklus ketakutan. Aku tersesat.

Masih berpandangan, aku menemukan sungai terbendung. Memisahkan matamu dari apa yang ada dimataku. Aku mau pulang. Tetapi serabut akar mengikatku cepat. Langit memekat, sedang dibelakang, duniamu jauh lebih tak bersahabat. Aku pun mendengar suara samar berkelabat, "...gi!" Jawabku hanya belalak tak percaya. Reflek kutekan gaya, aku lari menuju nyata dimataku. Terlambat. Satu pijakan dibendunganmu; hancur. Melemparkanku jauh lebih pekat dari bencimu. Hujan menjatuhiku hukuman mati. Seketika samudera pecah. Aku saksi mati ditengah-tengah. Dan dikedua tanganku, ada dua matamu, yang tak berhenti mengalirkan sumpah.

Tuesday, February 21, 2012

Ruang Putih, Dindingnya Di Cat Merah

hatiku yang retak
kini dingin bergemeretak
dan puluhan serpihannya terserak

hati, berhentilah berdetak
kenangan-kenangan terus mengerak
sedang kepiluan kian mengombak

hati, berhentilah bergerak
sedih dan sepi terus membengkak
sedang cinta kian terinjak

mati, jemputlah hati




Sunday, December 11, 2011

suatu tempat di Taman Waktu...

Pita merah, panjang terbentang dari tanganku…menuju lingkar lehermu. Mengikatmu, kata orang. Tapi terseret di gersang amarahmu, aku. Yang katanya dulu penuh dengan hijau rerumputan dan bunga-bunga liar.
Dibawah kakimu, terinjak buta mata kananku. Frasa, melihat sebelah mata lengkap sudah. Bukan tajam wajah yang menghujam, yang kau tawarkan lebih besar. Sendu. Air mata yang tervaporasi, merah hitam tatapmu, karat sejarah di ujung pelipisnya, bibir merah yang terkoyak – dan ruang hampa di hatimu menenggelamkanku dalam segala tanpa akhir.
Aku koma. Bahkan disana kau masih berdiri bergetar. Masih dengan tali merah di lehermu, mencambukku, dan ribuan darah segar  memandikanku. Ini caramu menyucikanku. Kau tatap langit, sedang kau menggantungiku menuju angka enam. Lalu kita mati bersama. Kau setia. Epilog yang kau sediakan untuk yang mencintaimu.
Disana berdiri, di ujung jalan, dimana waktu terhenti. Kita yang menghentikankannya. Berharap tak ada yang merebut rasa sakit ini. 

Friday, June 24, 2011

Kemarau

Di tamanmu, petiklah bunga yang kau suka. Capung dan kupu-kupu sudah tak lagi datang kesini. Sebentar lagi musim kemarau. Bagian mana yang kan kau biarkan mengering gersang tanpa kehidupan. Biarkan saja, mawar lain lagi akan tumbuh disana. 
 
Di tamanmu, tak kan lagi kau temukan teratai yang malu-malu. Sebab kemaraumu kali ini, hanya menyisakan duri bagi yang memaksa. Dimana lagi kau simpan...benih-benih bunga matahari. Kemaraumu tak lagi bilang permisi, untuk menjadi tunggal penyulut siangmu.

Bawakan aku segenggam tanah tamanmu. Segenggam saat kau bakar seluruh lainnya.
Katakan salam, pada mataharimu.

Sunday, October 10, 2010

Makam Hati


tak ada peti mati, seperti dimakan jam batu itu. dan jam itu sudah lama berhenti berdetak.

tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.

tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.

tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.

pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.

sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.

jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.

dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.

trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.

aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...

ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??

Taman Waktu


disana senja abadi. dimana matahari menggantung di barat, seakan hendak tenggelam tapi tak pernah. dia tetap besar dan berwarna kuning kemerahan. Jingga.

Disini hanya sebuah taman. Yang terdiri dari satu ruas jalan. Dikanan kiri, pohon" musim gugur sedang lebat"nya. Jalan raya itu pun sudah tenggelam ditelan 'kresek' daun" maple yg berserakan. sesekali angin berhembus lurus, meninggalkan pola. Yg indah sekali.

di salah satu ujung jalan itu, aku duduk sebuah bangku kayu yg halus dan indah. bangku yang panjang, mungkin cukup 4 orang.

Tepat dibelakangku berdiri sebuah jam. Seperti jam di inggris, tp tak sebesar itu, hanya setinggi 2-3 meter saja. Jarumnya tak pernah brdetak.

tepat di belakang jam itu, sebuah peti mati. yg sangat indah, berwarna biru dan keperakan. Didalamnya...coba tebak?? Ada gadis kecil yang sangat cantik. Dia tertidur entah mati, badannya pucat dan bibirnya tersenyum. dia kaku dan mengeras. Ya...dia membeku, diantara lapisan es, dia terpenjara disana.

Taman waktu ini, sepenuhnya milikku.

Monday, August 30, 2010

Penghuni Taman


terduduk aku disana
hampir sepuluh tahun lamanya

anak kecil tanpa orang tua
melamun, hanya itu kerjanya

sepi, seperti lampu kota.
meredup kadang hidup jarang.

dia bukan remaja.
tapi melukis drama.
cerita tragis bercecar koma.
sebuah kisah duka.
tak berawal tak berakhir pula.

dia daun kering.
tipis terbakar, hilang disapu angin.

Tuesday, July 21, 2009

Sepuluh tahun di depan engkau duduk,
Tangismu membeku kemarau pun bisu,
Detik berlalu dan hatimu tlah melapuk,
Pun daun musim ini tlah layu,

Simpul simpul bulan tenggelam,
Bisik bisik malu bintang tenggara,
Buih buih simpan saja semalam,
Layang layang besok takkan terbela.

Wangi tidurmu dalam selimut awan,
Takkan hilang walau hujan bertamu,
Namun, luka yang kau pendam,
Takkan bisa walau aku yang membiru,

Jauh sekali rasaku ternanti,
Bila pun cahaya bisa hidup sekali,
Ilusi kah kan trus kau tercari,

Lepas dan bebas,
Waktu dan semi kan bias,
Lalu engkau merpati pagi,
Pergilah mencari pelangi abadi.

Stabat, 21 Juli 2009