Riak
Saat itu masa liburan akhir tahun sekolah. Teman sekelas
mengadakan camping selama tiga. Di tiga hari yang sama aku menghabiskan waktu
menginap di rumah salah seorang guru muda, Bu Citra, tapi ia sendiri lebih suka
dipanggil Kak Citra. Masa SMP kuhabiskan mengkhatamkan beberapa rak di
perpustakaan. Tak lebih dari bertegur sapa dengan Kak Citra, setiap hari, tapi
membuatnya menjadi pilihan lebih dari siapapun.
Ketika teman-teman mempersiapkan bekal tiga hari, aku juga
sama. Hanya berbeda tujuan. Saat kukatakan pada Kak Citra di perpustakaan, “Boleh
menginap di tempat kakak aja?”, dia lalu menulis di selembar nota, mirip dokter
yang dimintai resep. Lalu tersenyum sembari menyodorkan nota tadi, “Datangnya
jam-jam 10an ya?”. Maksudnya dia akan
pergi bertanggung jawab menunggui keberangkatan camping kelas. Tapi tentu saja
aku tetap datang lebih pagi. Ayahku hanya tahu aku ikutan camping. Dan aku
lebih rela duduk berjam-jam di depan rumah orang asing daripada diam di rumah.
Bahkan sebelum Kak Citra berangkat dari rumahnya, aku sudah berdiri manis. Kak
Citra tinggal sendiri di kontrakan kecilnya. Aku disuruh menunggu.
Sampai hari kedua. Ada ritual kecil yang harus kulakukan
setiap pagi. Sialnya, alat untuk ritual itu tertinggal di rumah.
Firasatku mengatakan, inilah awal rangkaian tragedi panjang.
========================================================================
Perempuan itu tinggal berjarak hanya satu kota. Sebuah fakta
pertama yang tak sengaja kutemukan. Sebuah fakta yang sengaja ayah sembunyikan.
Entah untuk alasan apa. Sebuah kertas di kantung celananya, bertimpa kutang
wanita simpanannya – fakta kedua, tercuci sebagian. Kalau saja sebagian lagi
bisa terbaca, entah apa, entah lindapan macam apa yang akan jatuh saat mataku
beradu dengan mata ayah.
Berbekal fakta kedua, tahun pertama masa SMA ku nanti,
akhirnya aku punya hak suara. Pertama kali seumur hidupku. Jika saja jeritan
histeris panjangku tak bisa menggedor pintu telinganya, tidak dengan pintu
telinga tetangga. Yang kutahu lindapan itu keluar sebagian. Wajahku dan
wajahnya sama memerah. Aku menggigit bibirku, sekaligus mengunci rapat segala
kuasa lelaki itu selama enam belas tahun. Fakta kedua di tanganku sudah cukup
untuk berbicara dan mengancam jiwanya. Jika pertanyaan tiga kata itu keluar dengan
nada jeritan yang sama, hidupku dan hidupnya akan poranda. Entah karena hidupku
atau karena hidupnya, tapi sekali ini dia merasa kecut dan membagi hak hidupku
yang seharusnya.
Tiga jam berikutnya, aku mengunci diri dalam kamar. Ayah
mengunci seluruh rumah. Hingga ponselku bergetar, Kak Citra, tentu saja. Bagaimana mungkin aku meninggalkan seseorang
dalam kondisi mengkhawatirkanku. Maksudku, satu-satunya orang yang
mengkhawatirkanku. Aku membuka pintu kamarku. Menemukan ayah sedang duduk
tenang merokok. Dan dia menemukan anak perempuannya keluar dengan wajah datar.
Bila harus dicari kesamaan diantara kami, ialah kami sama-sama penipu. Seolah
danau yang beriak tenang, tapi di dasarnya menggelegak lahar yang siap tumpah.
“Mau pergi lagi?”
“Hmm.”
Setengah jam berikutnya aku menemukan diriku berdiri di
gerbang dengan lindapan yang lain lagi, hendak tumpah. Kak Citra berlari
kemudian memelukku, berusaha meredam. Sampai besoknya aku hanya bisa terbaring di
tempat tidur. Dan semua airmata yang tumpah itu membantuku. Menguras semua
warna bahkan detik yang lalu menjadi abu-abu, lalu kusam, berikutnya tinggal
noda-noda gelap di sekat ingatan.
Kerak
Hanya alamat itu yang membekas. Perihal meneriaki ayahku
dulu, fakta pertama harus menjadi bubur di genggamanku beserta emosi dan
cucuran keringat yang mengalir deras. Hanya alamat itu. Di ingatan. Anehnya aku
tak menemukan ada sebetik keinginan
untuk mencari tahu. Kenapa? Tak kutelusuri lebih lanjut mengenai diriku
sendiri. Yang jelas, semasa liburan kuhabiskan waktu mencari tempat bersekolah
yang tepat. Tidak di kota ini. Tidak juga disana.
Momen berikutnya, aku menyodorkan formulir pendaftaran
kepada ayah. Sudah kuisi keseluruhannya. Dan aku tidak meminta persetujuannya.
Aku hanya menunggu secuil legalitas darinya. Legalitas yang bahkan aku tak sudi
mengakuinya. Ayah kemudian mencoret-coret kecil. Dia hanya melihat kop surat,
mencari nama instansi, lalu bagian kosong dekat catatan kaki. Sudah.
Berkat formulir itu seminggu kemudian, pada saat orientasi aku menemukannya. Orang itu salah satu panitia MOS. Dia terlihat ramah, ia bahkan memasang senyum tipis. Rambutnya diikat acak-acakan, seolah tak sempat merapikan, juga seolah mengatakan "hey, takutlah padaku". Aku tahu, semua orang menyukai penampilannya. Tapi pada saat tatapan mata kami bertemu, barulah aku benar-benar paham. Sumbu ketakutan di dalam dadaku, untuk pertama kalinya tersulut. Dan dia akan menjaga apinya agar tetap hidup.
bersambung...