Tuesday, October 9, 2012

di hati yang landai, satu nama berlabuh
lalu ia daratkan segala kesah selama nafas terkembang
dan seketika hatinya menjadi sempit
bukan tak mampu sekedar menampung satu nama
satu cerita dari beragam rasa
tapi seketika itu juga tuan tanah menukar hatinya
untuk hujan yang tak pernah jatuh disana
untuk sang pemilik nama, merebahkan raganya
selamanya...

Bunga April

Waktu itu April, perempuan manis itu mengemasi sisa perbekalannya yang tersisa, Dan kami, anak-anak dari rahimnya yang hangat, dihadiahinya airmata. Tidak untuk dihabiskan hari itu, tidak untuk jatah sebulan. Seumur hidup katanya. Jatah airmata yang mengingatkan kami, untuk tidak menyia-yiakan yang terkasih bagi kami.

Tapi, ketika sampai wajahnya di tikungan bumi. Mendadak tumpah ruah seluruh rinduku, seluruh keluh kesah dalam raga ringkihku. Karena kutahu, rindu ini takkan pernah sampai, takkan ada lagi pertemuan yang melegakan dada. Dan aku juga ingin mati bersama April. Setelah anak-anakku menghormati hari lahirku, sesaat kemudian mengingat kematianku. Karena ya..mereka dekat.