Saturday, January 30, 2016

Rumah Kita

: Valentina Edellwiz
       di mana senyum manis merebak wangi
kususuri jalan yang pernah menggenanginya
tanganku berasam kandis menjinjing kering
setelah lepas jabat yang setia bercanda
lama kulihat sederhana rumahmu
penuh bunga dan rumputrumput kenang
kala kudengarkan suara ngaji
dari bacaan angin di tubuh kamboja
sekamar denganmu berlampukan surya
fajar hingga senja, kadang berhujan
oleh bisik burung gereja 
dan isak tangis keluarga
aku juga ingin rebah bila waktunya
dan kita – tak perlu bangun
tuk menikmati dunia
Medan, 2016

Membalik Mimpi

Aku pernah berharap di balik kulitku hanya ada air, tenang, tanpa gelombang. Dan ketika siapapun melempar jangkar cinta dan benci, aku tak ingin bergeming. 
“Af, kalau kau tak bisa mengerjakannya, bilang dong!”
“Loh itu kan bukan tugasku. Af, kan kamu juga ikutan dengar, kok ga ngabarin aku?!” Aku merasa tugasku terlalu banyak, penuh tekanan dan aku hanya ingin lari saja.

Sadar bahwa menjadi air, aku terlalu mudah mendidih lalu menguap, atau terlalu cepat dirundung sunyi lalu aku membeku. Oleh karena itu, mengurung diri menjadi jawabanku. 
Aku pernah berharap di balik kulitku hanya ada api, panas, dan sangat menyengat. Dan ketika siapapun melempar penuh iri, perhatian palsu dan hasrat mendengki – seketika akan melepuh. 

Pintu diketuk tiga kali. Aku masih mengantuk. Pintu diketuk lagi, lalu ibu masuk. “Afat, sudah jam berapa ini? Kamu ga pergi bekerja?”
“Ah ibu, aku masih capek ini. Ibu jangan ganggu aku dulu! Nanti kalau sudah segar juga aku keluar!”, aku setengah berteriak. Kesalku salah tumpah. Tapi aku tak acuh. Kusembunyikan wajahku dibalik bantal. Kudengar ibu berdiam, tak lama pintu ditutup.
Pada malam hari kuintip ibu duduk di ruang makan, melamun. Aku cukup tahu apa yang disembunyikan di wajah pias itu. Di depannya, nasi penuh lauk tampak dingin. Dan ketika ia sadar aku berdiri di depan pintu, senyum mencerahi wajahnya sedikit, “Af…”
Sadar bahwa menjadi api, aku terlalu lemah pada sejuk tatapan sedih, atau bahkan mudah padam bila disiram tulus airmata. Tak ingin kulukai sesiapa, maka kusembunyikan dari mata pengasih.
Dulu di rumah ini ada ayah, ibu dan aku. Tapi perlahan kami kehilangan bagiannya. Ibu kehilangan belahan jiwanya, ayah kehilangan nyawanya, dan aku merasa waktu mencuri seluruh sandaranku.
Aku sudah puas tertidur, saat duduk bersandari di dinding tak sengaja mataku tertuju di bingkai foto itu. Wajah tiga orang yang tertawa di taman ria.  Aku pun pernah berharap tak menjadi apa-apa. Biar saja menjadi anomali, yang waktu juga takkan perduli. Tapi malam ini, tiga bayangan di foto itu menggamitku sampai bermimpi.
Keesokan paginya aku menghambur dari kamarku, segera kuketuk pintu kamar ibu. Kupeluk ibu sambil tersedu-sedu. Aku ingat benar bisik tiga bayang itu dalam mimpi. Seperti ucapan mereka padaku, kuucapkan pada ibu, “Maaf , meninggalkan ibu sendiri.”

Medan, 2016

Kakek

dulu almarhum kakek punya bengkel sepeda
aku suka melihatnya berkacamata renang
lalu dari pipet yang tak dihisapnya keluar api
kakek lalu menempel mimpi; mimpi pejalan kaki
dulu aku suka ke rumah kakek
bermain di ladang, melempari kerbau
sekarang aku pun suka ke rumah kakek
meruang kenang, menghayati igau
dulu kakek suka memberiku seplastik recehan
lebih banyak ketimbang isi dompetku belakangan
tapi kebahagiaan memang kadang tak gemerincing
sepenuh bunyi impian celengan kucing
Medan, 11 Januari 2016
3:45 AM

Les Fleurs du mal

belum pernah kulihat wanita 
memanggul kapak ke ladang padi
agar anaknya kekar ditampar zaman
katanya. dan di sekolah sana
anaknya busung menjadi kuli dogma,
dan norma-norma yang terpaksa ada.
tapi tak ada yang tahu siasat
saat sayap senyumnya sudah dewasa, 
kan melayang ia dari sarang muka
tinggal cantiknya yang mengalir 
menabuh-nabuh parasnya yang dingin
dan kini anaknya kian jelita, berselendang
rayu dan kedip genit terpercik saja
para saudagar kan menghamba di gubuk ular
dan pada pagi hari, di surat-surat kabar
terdengar cerita, keluarga raja berselendang malu
para ayah, telah kehilangan anu.
Medan, 2016

Dik

mendung sudah di depan mata, dik
biar kupalu barang satu atau sepuluh
genteng rumah kita, kulihat burung gagak
yang terbang di atas sana melirik kita
penuh hasrat rencana
ayolah lepas aku dari selimut candamu, dik
apa kau tak sadar berisik hujan telah menitik
mengamini peluhku yang bersimbah jenuh
dan barang sepuluh atau duapuluh senti
kita akan tenggelam di ranjang keegoisan
dik, kutampar kau sekali ini saja ya
aku tak mau kawin dengan kutu air
Medan, 2016

LDR

kasur kapuk tidak lagi nyaman
sebab wajahmu melayang-layang
seperti nyamuk di penghujung malam
guling kupeluk tidak berlekuk
sampai darah berhenti terhimpit
dada pun melolong, sebab laparnya jiwa
bangkit lalu ku aduk gubuk kerahasiaan
dan kutemukan bingkai kau dan sang pujaan
kapan hari kaukatakan bertajuk Ladang Bangkai
senyumku tiba-tiba mendewasa
mengalir jatuh ke hilir bibir
kupakai peci serta selendang 
pada minggu pagi sebentar lagi
biar kukapak lonceng besi
dan kukumandangkan ajal si mayit mantan
Medan, 2016
nb : LDR (Love Different Religion)

Pengharapan

apakah kau mencintaiku?
“is writing a message…”
aku bersumpah demi pepohon jati yang akarnya menghunjami dan berserakan di tanah.
Medan,
Desember 2015

Melintas Tanya

Awan putih berhenti di atas ubun-ubunku
Angin menggeletik sepintas memberi isyarat; aku?
Gerimis tempias pada ujung hidungku
Basahnya namun tak luruh
Berusaha memberi tahu; angkuhmu?
Desember 2015
Alyssa

Sepatu

: syahriatul amaniah
nona,
aku suka riuh tapak saat kau berjalan di atas lantai
seolah gemuruh di hari mendung dan aku pawang pemanggil hujan
tapi deras turunnya sudah, hanya redam langkahmu lamat-lamat kudengar semakin padam
nona,
sepatu di rak lemari sudah berdebu
mau kubersihkan dan tapi adik memakainya tak selera
hanya karena, tak ada kaki yang bisa ku cuci retak-retak tumitnya 
nona,
apakah permadani kulit sudah memenuhi surga?
Medan
Desember 2015

Tak Canda

jawabanku tidak ada yang bercanda.
tapi di antara tanyamu dan sebab tanyamu,
aku duduk menggelar sajadah

jawabanku tidak ada yang dusta
tidak di tafsir yang kuintip,
tidak juga pada nabinya yang dititip
aku cuma bersalah sekadarnya.

nah, kalau aku rihla kerumahmu
tulis surat untuk ibuku
barangkali aku tenggelam di selat sunda
Medan,
Desember 2015

Wanita di Rumah Kayu

tidak aspal apalagi pematang jalan menuju rumahmu
yang ada hanya kebun melati liar berpagar putri malu
santap saban hari juga singkong dan kentang
ditemani kupu-kupu dan capung kala sore menjelang
karena kau jelita, jemari-jemari gatal mengoja
ego perlahan roboh, berganti dinding-dinding kokoh, 
di sekeliling parasmu yang rupawan
dewi bulan tak lagi sepadan dengan sedap malam
sudah ada bintang yang hidupnya menyetrum
wahai, dayanya bisa membunuh seluruh masa kelam
rumah kemarin telah cakap berias elok
ilalang disulap menjadi karpet yang menawan kaki
langit biru pun berganti warna ingar plafon cantik
kini, tidak ada pejalan menujumu
sebab dirimu telah menyatu di tengah tugu
bersama kenangan yang dipahat kaku
Medan, Desember 2015

Lupa Pakai Kacamata

itu kacamata?
kukira pantat botol
minus delapan rupanya.
tolol.
itu Tuhan?
maaf tak kenal
biasanya Dia tampil 1080p
bufferingku gagal
meski meraba-raba,
menemukanMu tak butuh rupa.
hmm.

Medan,
Desember 2015

Bicara

menulis puisi, aku malu
karena aku tak pintar melukis
di lembaran itu, jangan terlalu panjang
nanti kau bosan. 
dan jangan terlalu pendek 
aku takut tak di pahami
menulis puisi, aku malu
karena aku tak pintar bernyanyi
kalau aku membaca, jangan tertawa
rima segala yang kupunya
dari bunyi-bunyi yang belum tentu
semerdu lagu-lagu kesukaanmu

karena hanya pada puisi
kebisuanku utuh, dunguku meluruh
dan pada puisi saja,
aku tak malu mengajakmu berbicara

medan, desember 2015

Angan

di atas bantal, pikirku berjalan-jalan
lalu menyelip pada celah jendela
melayang membayang-bayang
sampai berhenti di depan sekolah
tempat kita berkenalan.

kasurku berderit, kayunya lapuk
seperti bangku tempatku duduk
saat kau menatap sok sibuk
saban hari di laboratorium komputer
sebulan sebelum ujian semester

anganku berhenti di sana
tak bijak bila mengajakmu bicara
tapi, aku hanya mau tahu namamu saja

anganku berhenti di sana
tak beranjak dari kilau air di matamu
bekas wudhukah itu?

bila saja aku tahu perihal rindu
memandangmu; ku cukupkan sampai situ.

medan, desember 2015

Pengecut

: diri sendiri
rapuh sekali kau
berjalan di perempatan
sesekali melihat kebelakang
lelaki meneguk kopinya
selang dua menit saja 
padahal tak ada yang datang
di megah gedung perkotaan
berlalu kau menunduk tak hirau
bah, nyalimu cuma corek tak codet
jiwamu itu cat dinding
warna-warna ingar
di aliran sungai yang cemar
melayang pula kaleng ikan
plastik ikan, tulang ikan
tak ada kepalanya tapi
beserta buku akuntansi
yang luntur dicandai hujan
Medan, Desember 2015

Jalan Kolaborasi

bait 1 : cerita tentang setitik air yang mengendap
bait 2 : laranya di benua/musim dingin, dan kerinduannya pada matahari
bait 3 : angan-angan di musim gugur
bait 4 : angan-angan di musim panas
bait 5 : angan-angan di musim semi
bait 6 : menegaskan rindu dan keputus-asaan.

Beku dan gigil terpaut; ada aku disana.
Terperangkap buliran putih menggunung
Jenuhku menjelma setitik air
Senantiasa akan membeku jua

Akulah teman deburan pucat yang menusuk-nusuk tulang
Yang pada kaca meremukkan sinar cahaya
dan pada tungku perapian, asaku bergumul
mengingatimu yang merajai lintang khatulistiwa

Musim gugur bersaksi pada cakrawala
Remuk aku meliriknya hingga berbuih salju
tiap semilir hadirnya ku coba membaca
Namun, peta masih belum terbaca

Bila saja mampu aku mengalir
dan bermain di bibir pesisir
lalu dibawa alir anak-anak sungai
menguap dan turun lagi
bersamamu menjadi bianglala

Peralihan ku bertemankan pesisir yang menyala
Hadir segala warna dan semerbak aroma menusuk anganku
Kumbang kembang apik ingin ku singgahi
Sedetik saja ku jelajahi, oh semi

dan kapankah kau lelehkan aku segera
rinduku sudah buncah menyamudera


=================

Di penghujung pasir pucat, ada aku disana.
Aku yang hampir membeku oleh jarak
Menjamah sukma ku yang mengigil atas nama rindu
Mengendap pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang masih sama, aku benci
Meracun pikir ku yang tersesat pada satu nama
Padamu temu yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangatmu walau secuil rasa

bila saja kulihat daun menari dibelai angin
gemulainya tiap tari dan rupa
kan kubaca dan resali isyaratnya
Dan pasrah tergoda pula akhirnya

Bila saja mampu aku mengalir
dan bermain di bibir pesisir
lalu dibawa alir anak-anak sungai
menguap dan turun lagi
bersamamu menjadi bianglala

bila saja beralih temanku pasir yang menyala
hadir segala rebak dan warna
menusuk anganku juga aromanya
kumbang kembang apik kusinggahi
cukup sedetik saja ku jelajahi

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera

=================

Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Bila saja kau bawa aku kesana,
Menyemikan kelopak bunga segala warna
Lalu menari di bibir pantai di musim panas
Hingga duduk di bangku taman,
menikmati gugurnya daun-daun mapel yang dibelai angin
Bila saja aku tidak terdampar di sini.

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera

======================

Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Lelahku sudah bicara
Kabarmu bermuara terlalu lama

=======================
Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera
============================================
Aku mengendap di salju pucat
yang hampir membeku oleh musim
Sukmaku pun terjamah rindu yang menggigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau: sua yang tak kuasa kudamba

Dan kapankah kau gelorakan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera.
=============================================

Tersangkut Musim

aku, terjamah gigil
oleh ruang waktu yang muskil
pada salju yang digulung musim
rindu mengendap; di situ

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba

cakrawala kupandang, aduh!
malang, kabarmu tak kunjung datang

Medan - Bekasi
Desember 2015

anakhawa - azizah

Menumpang Bosan

pintu diketuk sederet tanya
masuk! dan para tamu duduk termangu
mereka kujamu dengan sekoci bisu
satu satu tetap menyesap candu
tunggu! biar kuambil album foto
menunjuk-nunjuk mereka ini itu
pada selembar putih berdebu
dan selembar lagi yang berbau rindu
kusut-kusut raut muka; penuh reka
biar lama kalian memahami
daripada memaksa mengerti
lalu bergegas pergi
rumahku, memang agak sepi

Medan
Desember 2015

Narasi Perpisahan

Barisan kata bertemu di persimpangan berbeda
Dua jiwa berseteru lalu berhimpun dekat rak buku
Bersusun pula jendela pintu tempatku berada
Terkadang senyum wajahmu mengintip dan berlalu

Sampai kutemukan serangkaian aroma khidmat,
pada cerita yang kau semat
Lain arah lain pula rasa
Hingga gelisah datang menyampaikan sapa

Pada lembaran nota yang kubaca,
di rimbun hutan nama kau bernaung,
Kau sisakan aku segenap tanya
dan kaki kecil yang mulai limbung

Ketiadaan kutangkap pada sela penyangga tua
di mana lagi jejak matamu bergelut senda
Tak jua berisik suara larik beradu
dari senyum kecil perlahan sendu

Kau sudah bangga menjadi ilusi di mata
serupa bahasa asing yang tak bisa kucerna
tampak megah tapi kemudian menyerpih

Desember 2015
Puisi Kolaborasi
anakhawa - alyssa

Stereotipe Hedonisme

kerut di kening semakin lumrah
harga diri juga semakin murah
di balik kaca etalase, ada kita
mengasingkan marah geladak tengah 
bibir penuh sudah mesiu bercumbu
asal megah dari guci sampai armani
tapi siapa itu lantang melelang
kain ibu di jemuran belakang?

Medan, 2016

Sunday, January 24, 2016

Cowok

Sebenarnya sudah lama aku mau nulis ini. Berkali-kali ngecek ke dalam diri sendiri dulu -- seobjektif apa hasil tulisanku nanti. Tapi sebodoamat lah, anggap saja aku setengah munafik waktu menuliskan ini. Biasa nulis juga ngalor-ngidul.

Apa? Apa? Aku mau menuliskan tentang cowok di tengah trend Wanita Selalu Benar, feminisme, emansipasi dan kawan-kawan. Di zaman yang laju informasi tak terbendung ini, melemparku ke suatu masa saat SMP, entah tahun 2001 atau 2002. Internet masih suatu hal yang luar biasa yang tak semua orang menikmatinya. Tepat sebelum friendster booming. Kebetulan aku pernah pakai sekali coba-coba di rumah. Tapi berhubung sewaktu itu masih bego, dan koneksi internet belum semurah sekarang, alhasil tagihan telepon kami sampai sejuta lebih! Emak marah. Ayah terdiam. Wassalamu'alaikum Internet.

Tapi tak lama, ada warnet telkom baru buka. Jadilah entah usul dari temanku yang mana, pergilah kami beramai-ramai ke internet. Balada anak kampung ketemu teknologi. Kami sekitar 10 atau belasan orang, dan waktu itu komputernya tidak bersekat-sekat antara satu dengan yang lainnya. Privasi apakabar? Aku ditodong jadi pengguna, sementara belasan kawanku menonton di kanan kiri belakang tempat dudukku. Apa yang situs kami buka? Coba tebak!

Situs porno!! Yak, benar sekali sodara-sodara. Belum ada Internet Positif waktu itu kalau kita menuliskannya di searching engine yahoo. Apa hasil yang nampak pertama, asal klik saja. Aku menunduk sementara mengintip-intip mana yang bisa di klik sesuai petunjuk teman-temanku. Temanku ketawa-ketawa saja. Kegirangan. Gak tahu deh reaksi operator di belakang itu gimana, segerombolan anak SMP jadi saksi sejarah Ghazwul Fikr. Selamat datang Wahai Zaman! 

Belum terpikirku saat itu, bahwa kepolosan segerombolan laki-laki belum matang tadi terkikis pelan-pelan. Pada kenyataannya, yang notabene anak kampung saja sekreatif itu usilnya. Apalagi anak kota yang dimana akses begitu-begitu lebih cepat.

Mau bicarain apa deh kira-kira? Tunggu. Ceritaku belum selesai

Ada fenomena lain yang cukup sering aku perhatikan, yaitu mata keranjangnya cowok. Sering banget kalau aku lagi di angkot aku memperhatikan mata cowok yang ngekorin cewek turun dari angkot, cewek yang berdiri di jalan, cewek yang naik kereta papasan dengan angkotnya, dan segala jenis cewek. Ada juga yang curi-curi pandang lewat spion atau segala kaca yang bisa merefleksi keberadaan cewek.

Ah kali aja cowok brengsek itu? Ikhwan-ikhwan pengajian apa kabar? Nah, metodenya lebih asooy lagi malah.

Mushalla kampusku rada unik posisinya. Kebetulan ada kipas angin di dekat hijab pemisah, tapi masih di bagian laki-laki. Selain untuk kepentingan rapat-rapat, aku sendiri jarang berada di daerah situ kecuali buat berbual dengan mereka yang kebetulan ngadem disitu. Aku kurang suka duduk daerah situ karena dekat sekali dengan pintu keluar. Jadi mereka yang diluar bisa mengintip kedalam, Siapapun yang mondar-mandir ke kamar mandi. Aku mah sukanya tidur di spot dekat jendela. Tidur di bawah kipas angin itu gak ngenakin. Eh terus bagian pentingnya?

Nah, aku gak tau sejak kapan ngetrend setelah sholat itu, sebagian cowok (sebagian lho) itu hobi berbondong-bondong ngadem di bawah kipas angin yang notabene ada sekitar lima langkah kebelakang dari shaf kedua. Maksudnya, sebegitu panasnya kah habis sholat? Zikir dulu kek, eh maksud ana mau ngeringin air wudhu ya? Hihi~ Ada juga waktu di mana, mereka suka tilawahan deket hijab situ. Aku aja yang semau narsis-narsisnya baca tilawah depan cewek mikir-mikir bacain apa, sempet salah tajwid harokat, wuayoo...gagal kereen! Lah ini, rata-rata tilawah setengah juz. Pamer akh? Eh maaf. Bukan begitu maksudnya. Pernah suatu kali aku bercerita dengan senior yang emang rada-rada, tapi aku respect sama belio. Sewaktu zaman-zaman ghadul bashor itu ya Allah ketat gila. Bisa muter arah, mutar dah biar gak papasan sama lawan jenis. Belio pas ngelanturnya bilang gini, "Aduh akh, kalau sempat seorang ikhwan itu VMJ, dengar suara di balik hijab aja Masya Allah..." Nih, negatifnya. Tapi positifnya yang aku tangkap adalah, ghadul bashor menurunkan tingkat mata keranjang jadi telinga keranjang. Aduh ketawa dulu...Hahahaha. Eh maksudnya, dia bisa malu kalau dengar suara aja. Makanya akhwat-akhwat situ dilarang lembek-lembek.

Aku juga keranjangan sih, even temanku yang bagus yaumiyahnya pernah suatu kali teman cina cewek sekelas pakai rok mini (dia jarang pakai rok), dia entah gak sadar atau engga melototin paha temenku yang masuk kelas itu. Aku mikirnya, "Oh ternyata dia manusiawi juga. Btw hilang berapa dah itu hafalannya..."

Aku gak mau bahas dalil, atau dari segi baik buruknya di mata cewek, feminisme, emansipasi wanita, dan lain-lain. Aku juga tertarik, dan barangkali ga ada bedanya sama yang kusebutkan di atas. Cuma terkadang satu nafsu itu luarbiasa banget dah kelihatannya. Mungkin juga aku de-sensitif karena terpapar sekian lama. Nah loh. Tapi mungkin juga kadang aku emang malu. Pernah gitu, aku sengaja NIAT mau natap cewek gak dikenal, pas duduk di depanku di angkutan. Rupanya kan dia duluan yang lihat aku. Reaksi, aku duluan yang buang muka. Nelan ludah dah. Kenapa E? Gak cantik woy. Wakakakaka. Eh ga gitu lah. Ya malu. Ish.

Pernah juga pas lagi main ke mall sama adikku yang cewek, pas nitipin barang aku tahu ini mbak-mbaknya luarbiasa cantik. Cuma kulihat sekali. Eh malah adikku nyeletuk, "Mbaknya cantik yaa". Kalau adikku dah ngomong gitu berarti bener cantik. Pas udah pergi jauh, aku ada rasa juga pingin lagi ngecek, modusnya "yang bener? masa?". Tapi gak gitu juga. Selain kepentingan ngobrol dan hal-hal lainnya, aku emang cuek. Kadang cewek-cewek yang baru kerja di rumah aja aku gatau mukanya kayak apa. Seminggu dua mingguan kalau kepaksa nyapa aja baru kelihatan mukanya.

Gara-gara ngaji dah, sekalipun keranjangan ada kepikiranku begini "Kalau cantik emangnya kenapa?" Maksudnya ya, cantik yaa cantik. Ditatap tapi ga punya, ujung-ujungnya cuma dibawa ngayal. Ngayal apa? Ngayal punya. Enak engga. Sedih yang iya. Punya pacar/istri cantik itu ada gak enaknya. Kadang cantiknya dinikmati orang lain juga. Dibawa ngayal orang lain. Nggg...buat aku yang anaknya cemburuan abis, cewek cantik itu simalakama. Pingin istri cantik iya juga sih. Tapi gak mau bagi-bagi. Priviledge cowok macam aku beginilah yang kemudian berkembang, "Maunya aja ceweknya jaim, tapi cowoknya tebar pesona kemana-mana." Ngggg...

Iya emang. Zaman sekarang, regardless the gender, ketulusan orang lain gampang disalahartikan. Tapi sebaliknya, sepikers pun suka mengambil ketulusan sebagai excuses. Baiknya gimana? Mengunci diri dari peradaban? Membentengi diri dengan cadar-cadaran? Mementali diri dengan sikap tegas dan untolerable, unquestionable principal?

Aku? Aku gak tahu jawabannya. Bahkan yang disokong dengan dalil agama sekalipun yang sering bahkan tampak paradoks dan anti-klimaks. Mungkin kurang ngaji. Nah sementara itu, aku milih bunuh diri. Blending mencari kenyamanan sendiri, minta maaf sama calon jodoh di akhirat nanti. Duh umi, calonmu ini masih brengsek. Selipin do'a biar aku bisa menjaga diri.

Medan, 2016

NB:
Nulis sambil diketawain Manja.
Dia bilang, "Nah, cepet nikah sana, An...!"
Aku, "Nggggg....."