Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Tuesday, July 5, 2016

Setelah Perjamuan

pastinya kau akan datang dalam rahim kesunyian
atau dalam tatapan sepasang mata. dan jalan keinginan
akan menemukan kekekalan yang tak panjang.

jemari dirambati biru, dan haru, dan risau
dan ditemani oleh detik yang berjalan ke belakang
ke ruang tempat aku cantik berdan-dan

hanya ada kehampaan yang menggiringku
pada selimut sawah, yang berdoa agar
tak kering dari hujan ingatan dan nya-Nya

Tanjung Pura, 2016

Saturday, January 30, 2016

Rumah Kita

: Valentina Edellwiz
       di mana senyum manis merebak wangi
kususuri jalan yang pernah menggenanginya
tanganku berasam kandis menjinjing kering
setelah lepas jabat yang setia bercanda
lama kulihat sederhana rumahmu
penuh bunga dan rumputrumput kenang
kala kudengarkan suara ngaji
dari bacaan angin di tubuh kamboja
sekamar denganmu berlampukan surya
fajar hingga senja, kadang berhujan
oleh bisik burung gereja 
dan isak tangis keluarga
aku juga ingin rebah bila waktunya
dan kita – tak perlu bangun
tuk menikmati dunia
Medan, 2016

Kakek

dulu almarhum kakek punya bengkel sepeda
aku suka melihatnya berkacamata renang
lalu dari pipet yang tak dihisapnya keluar api
kakek lalu menempel mimpi; mimpi pejalan kaki
dulu aku suka ke rumah kakek
bermain di ladang, melempari kerbau
sekarang aku pun suka ke rumah kakek
meruang kenang, menghayati igau
dulu kakek suka memberiku seplastik recehan
lebih banyak ketimbang isi dompetku belakangan
tapi kebahagiaan memang kadang tak gemerincing
sepenuh bunyi impian celengan kucing
Medan, 11 Januari 2016
3:45 AM

Les Fleurs du mal

belum pernah kulihat wanita 
memanggul kapak ke ladang padi
agar anaknya kekar ditampar zaman
katanya. dan di sekolah sana
anaknya busung menjadi kuli dogma,
dan norma-norma yang terpaksa ada.
tapi tak ada yang tahu siasat
saat sayap senyumnya sudah dewasa, 
kan melayang ia dari sarang muka
tinggal cantiknya yang mengalir 
menabuh-nabuh parasnya yang dingin
dan kini anaknya kian jelita, berselendang
rayu dan kedip genit terpercik saja
para saudagar kan menghamba di gubuk ular
dan pada pagi hari, di surat-surat kabar
terdengar cerita, keluarga raja berselendang malu
para ayah, telah kehilangan anu.
Medan, 2016

Dik

mendung sudah di depan mata, dik
biar kupalu barang satu atau sepuluh
genteng rumah kita, kulihat burung gagak
yang terbang di atas sana melirik kita
penuh hasrat rencana
ayolah lepas aku dari selimut candamu, dik
apa kau tak sadar berisik hujan telah menitik
mengamini peluhku yang bersimbah jenuh
dan barang sepuluh atau duapuluh senti
kita akan tenggelam di ranjang keegoisan
dik, kutampar kau sekali ini saja ya
aku tak mau kawin dengan kutu air
Medan, 2016

LDR

kasur kapuk tidak lagi nyaman
sebab wajahmu melayang-layang
seperti nyamuk di penghujung malam
guling kupeluk tidak berlekuk
sampai darah berhenti terhimpit
dada pun melolong, sebab laparnya jiwa
bangkit lalu ku aduk gubuk kerahasiaan
dan kutemukan bingkai kau dan sang pujaan
kapan hari kaukatakan bertajuk Ladang Bangkai
senyumku tiba-tiba mendewasa
mengalir jatuh ke hilir bibir
kupakai peci serta selendang 
pada minggu pagi sebentar lagi
biar kukapak lonceng besi
dan kukumandangkan ajal si mayit mantan
Medan, 2016
nb : LDR (Love Different Religion)

Pengharapan

apakah kau mencintaiku?
“is writing a message…”
aku bersumpah demi pepohon jati yang akarnya menghunjami dan berserakan di tanah.
Medan,
Desember 2015

Melintas Tanya

Awan putih berhenti di atas ubun-ubunku
Angin menggeletik sepintas memberi isyarat; aku?
Gerimis tempias pada ujung hidungku
Basahnya namun tak luruh
Berusaha memberi tahu; angkuhmu?
Desember 2015
Alyssa

Sepatu

: syahriatul amaniah
nona,
aku suka riuh tapak saat kau berjalan di atas lantai
seolah gemuruh di hari mendung dan aku pawang pemanggil hujan
tapi deras turunnya sudah, hanya redam langkahmu lamat-lamat kudengar semakin padam
nona,
sepatu di rak lemari sudah berdebu
mau kubersihkan dan tapi adik memakainya tak selera
hanya karena, tak ada kaki yang bisa ku cuci retak-retak tumitnya 
nona,
apakah permadani kulit sudah memenuhi surga?
Medan
Desember 2015

Tak Canda

jawabanku tidak ada yang bercanda.
tapi di antara tanyamu dan sebab tanyamu,
aku duduk menggelar sajadah

jawabanku tidak ada yang dusta
tidak di tafsir yang kuintip,
tidak juga pada nabinya yang dititip
aku cuma bersalah sekadarnya.

nah, kalau aku rihla kerumahmu
tulis surat untuk ibuku
barangkali aku tenggelam di selat sunda
Medan,
Desember 2015

Wanita di Rumah Kayu

tidak aspal apalagi pematang jalan menuju rumahmu
yang ada hanya kebun melati liar berpagar putri malu
santap saban hari juga singkong dan kentang
ditemani kupu-kupu dan capung kala sore menjelang
karena kau jelita, jemari-jemari gatal mengoja
ego perlahan roboh, berganti dinding-dinding kokoh, 
di sekeliling parasmu yang rupawan
dewi bulan tak lagi sepadan dengan sedap malam
sudah ada bintang yang hidupnya menyetrum
wahai, dayanya bisa membunuh seluruh masa kelam
rumah kemarin telah cakap berias elok
ilalang disulap menjadi karpet yang menawan kaki
langit biru pun berganti warna ingar plafon cantik
kini, tidak ada pejalan menujumu
sebab dirimu telah menyatu di tengah tugu
bersama kenangan yang dipahat kaku
Medan, Desember 2015

Lupa Pakai Kacamata

itu kacamata?
kukira pantat botol
minus delapan rupanya.
tolol.
itu Tuhan?
maaf tak kenal
biasanya Dia tampil 1080p
bufferingku gagal
meski meraba-raba,
menemukanMu tak butuh rupa.
hmm.

Medan,
Desember 2015

Bicara

menulis puisi, aku malu
karena aku tak pintar melukis
di lembaran itu, jangan terlalu panjang
nanti kau bosan. 
dan jangan terlalu pendek 
aku takut tak di pahami
menulis puisi, aku malu
karena aku tak pintar bernyanyi
kalau aku membaca, jangan tertawa
rima segala yang kupunya
dari bunyi-bunyi yang belum tentu
semerdu lagu-lagu kesukaanmu

karena hanya pada puisi
kebisuanku utuh, dunguku meluruh
dan pada puisi saja,
aku tak malu mengajakmu berbicara

medan, desember 2015

Angan

di atas bantal, pikirku berjalan-jalan
lalu menyelip pada celah jendela
melayang membayang-bayang
sampai berhenti di depan sekolah
tempat kita berkenalan.

kasurku berderit, kayunya lapuk
seperti bangku tempatku duduk
saat kau menatap sok sibuk
saban hari di laboratorium komputer
sebulan sebelum ujian semester

anganku berhenti di sana
tak bijak bila mengajakmu bicara
tapi, aku hanya mau tahu namamu saja

anganku berhenti di sana
tak beranjak dari kilau air di matamu
bekas wudhukah itu?

bila saja aku tahu perihal rindu
memandangmu; ku cukupkan sampai situ.

medan, desember 2015

Pengecut

: diri sendiri
rapuh sekali kau
berjalan di perempatan
sesekali melihat kebelakang
lelaki meneguk kopinya
selang dua menit saja 
padahal tak ada yang datang
di megah gedung perkotaan
berlalu kau menunduk tak hirau
bah, nyalimu cuma corek tak codet
jiwamu itu cat dinding
warna-warna ingar
di aliran sungai yang cemar
melayang pula kaleng ikan
plastik ikan, tulang ikan
tak ada kepalanya tapi
beserta buku akuntansi
yang luntur dicandai hujan
Medan, Desember 2015

Jalan Kolaborasi

bait 1 : cerita tentang setitik air yang mengendap
bait 2 : laranya di benua/musim dingin, dan kerinduannya pada matahari
bait 3 : angan-angan di musim gugur
bait 4 : angan-angan di musim panas
bait 5 : angan-angan di musim semi
bait 6 : menegaskan rindu dan keputus-asaan.

Beku dan gigil terpaut; ada aku disana.
Terperangkap buliran putih menggunung
Jenuhku menjelma setitik air
Senantiasa akan membeku jua

Akulah teman deburan pucat yang menusuk-nusuk tulang
Yang pada kaca meremukkan sinar cahaya
dan pada tungku perapian, asaku bergumul
mengingatimu yang merajai lintang khatulistiwa

Musim gugur bersaksi pada cakrawala
Remuk aku meliriknya hingga berbuih salju
tiap semilir hadirnya ku coba membaca
Namun, peta masih belum terbaca

Bila saja mampu aku mengalir
dan bermain di bibir pesisir
lalu dibawa alir anak-anak sungai
menguap dan turun lagi
bersamamu menjadi bianglala

Peralihan ku bertemankan pesisir yang menyala
Hadir segala warna dan semerbak aroma menusuk anganku
Kumbang kembang apik ingin ku singgahi
Sedetik saja ku jelajahi, oh semi

dan kapankah kau lelehkan aku segera
rinduku sudah buncah menyamudera


=================

Di penghujung pasir pucat, ada aku disana.
Aku yang hampir membeku oleh jarak
Menjamah sukma ku yang mengigil atas nama rindu
Mengendap pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang masih sama, aku benci
Meracun pikir ku yang tersesat pada satu nama
Padamu temu yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangatmu walau secuil rasa

bila saja kulihat daun menari dibelai angin
gemulainya tiap tari dan rupa
kan kubaca dan resali isyaratnya
Dan pasrah tergoda pula akhirnya

Bila saja mampu aku mengalir
dan bermain di bibir pesisir
lalu dibawa alir anak-anak sungai
menguap dan turun lagi
bersamamu menjadi bianglala

bila saja beralih temanku pasir yang menyala
hadir segala rebak dan warna
menusuk anganku juga aromanya
kumbang kembang apik kusinggahi
cukup sedetik saja ku jelajahi

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera

=================

Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Bila saja kau bawa aku kesana,
Menyemikan kelopak bunga segala warna
Lalu menari di bibir pantai di musim panas
Hingga duduk di bangku taman,
menikmati gugurnya daun-daun mapel yang dibelai angin
Bila saja aku tidak terdampar di sini.

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera

======================

Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Lelahku sudah bicara
Kabarmu bermuara terlalu lama

=======================
Aku mengendap di pasir pucat
yang hampir membeku oleh jarak
Sukmaku pun terjamah rindu yang mengigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba
Tak juga hangat walau sebilah cahaya

Dan kapankah kau lelehkan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera
============================================
Aku mengendap di salju pucat
yang hampir membeku oleh musim
Sukmaku pun terjamah rindu yang menggigil
pada ruang waktu yang tersekat

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau: sua yang tak kuasa kudamba

Dan kapankah kau gelorakan aku segera
Rinduku sudah buncah menyamudera.
=============================================

Tersangkut Musim

aku, terjamah gigil
oleh ruang waktu yang muskil
pada salju yang digulung musim
rindu mengendap; di situ

Di fasa yang sama, aku benci
pada sesat pikir menuju sebuah nama
Kau; sua yang tak kuasa ku damba

cakrawala kupandang, aduh!
malang, kabarmu tak kunjung datang

Medan - Bekasi
Desember 2015

anakhawa - azizah

Menumpang Bosan

pintu diketuk sederet tanya
masuk! dan para tamu duduk termangu
mereka kujamu dengan sekoci bisu
satu satu tetap menyesap candu
tunggu! biar kuambil album foto
menunjuk-nunjuk mereka ini itu
pada selembar putih berdebu
dan selembar lagi yang berbau rindu
kusut-kusut raut muka; penuh reka
biar lama kalian memahami
daripada memaksa mengerti
lalu bergegas pergi
rumahku, memang agak sepi

Medan
Desember 2015

Narasi Perpisahan

Barisan kata bertemu di persimpangan berbeda
Dua jiwa berseteru lalu berhimpun dekat rak buku
Bersusun pula jendela pintu tempatku berada
Terkadang senyum wajahmu mengintip dan berlalu

Sampai kutemukan serangkaian aroma khidmat,
pada cerita yang kau semat
Lain arah lain pula rasa
Hingga gelisah datang menyampaikan sapa

Pada lembaran nota yang kubaca,
di rimbun hutan nama kau bernaung,
Kau sisakan aku segenap tanya
dan kaki kecil yang mulai limbung

Ketiadaan kutangkap pada sela penyangga tua
di mana lagi jejak matamu bergelut senda
Tak jua berisik suara larik beradu
dari senyum kecil perlahan sendu

Kau sudah bangga menjadi ilusi di mata
serupa bahasa asing yang tak bisa kucerna
tampak megah tapi kemudian menyerpih

Desember 2015
Puisi Kolaborasi
anakhawa - alyssa

Stereotipe Hedonisme

kerut di kening semakin lumrah
harga diri juga semakin murah
di balik kaca etalase, ada kita
mengasingkan marah geladak tengah 
bibir penuh sudah mesiu bercumbu
asal megah dari guci sampai armani
tapi siapa itu lantang melelang
kain ibu di jemuran belakang?

Medan, 2016

Thursday, December 10, 2015

Belajar Tentang Alam

aku anak kijang yang kau ajarkan berlari kencang dari rentetan anak panah; 
yang akan datang kukenal sebagai perang. di sabana kau sembunyikan, 
berkeliling pula harimau-harimau, mendekat tak kau izinkan. 
perutku busung, tak lapar, hanya deru tanyaku tak pernah diberi makan rerumputan hijau.

aku anak ayam yang tertidur dari pandangan elang. 
pula suara desis ular yang sering kusangka radio rusak milik pemandu manusia. 
dan pada ingar-bingar itulah, aku ketemu lubang persembunyian. 
tembus persis di hadapan Tuhan. 

"gerbang surga?" 
bukan. 
mulut buaya. 

Medan,
Desember 2015