Saturday, August 27, 2011

Masih basah lagi kurasa setapak jalan itu. Masih membekas rasa sakit dikakiku lantaran luka yang kian membusuk. Adakah kau percaya tentang hati, pikiran, dan organ tubuh yang berkehendak sama dalam hidup? Aku tidak. Barangkali sejak hari itu dan seterusnya.
Hentikan!! 
Aku tidak terlalu mengerti, dan semakin hari aku semakin percaya bisikan kecil yang acapkali muncul saat pikiranku tak berpondasi dan hati sedang kering dari tuntunan surgawi. Kian hari bisikan itu sudah tak kukenali. Bukan. Bukannya menghilang, tapi alam sadarku sekarang sedang mendengar teriakan nista dari ujung neraka. Ah barangkali.
Hentikan!!
Aku mengingat, tak sekalipun aku memiliki niat untuk mengendurkan ikat sadarku. Tapi semakin dibisikkan dunia itu, aku tak mengingat apapun lagi yang berharga. Kalau kau sebut ini topeng, kau salah. Ini wajah yang ditempa paksa dengan panas kecil yang cukup lama. Alhasil, lumayan keras dan kokoh. Sebut saja ini menara...
...Hentikan!!!
Bagiku dunia tempatku lahir sudah lama runtuh satu persatu. Aku tidak percaya berbagai hal umum dan akhirnya menempatkanku pada impian tertinggi. Boleh kusebutkan? Tapi kurasa itu jenis yang memalukan untuk disebutkan. Hanya saja, belakangan aku berpikir kapan aku akan meninggalkan Tuhan. Sungguh melelahkan, aku merasa diriku adalah kebenaran mutlak karena merasa paling dekat dengan Tuhan. Hingga akhirnya aku tahu Tuhan adalah pondasi terakhirku, aku ingin mencoba menantangnya kembali.
Hentikan!!!
Saat ini aku dalam fase paling menjijikkan dalam lingkaran evolusi manusia. Dan tak ada jaminan buatku untuk mengepakkan sayap warna-warni di senja hari. Aku bergulat dengan diriku setiap harinya. Saling mempertentangkan kebenaran absolut yang di bentangkan dari dada, lidah, dan mata. Yang setiap milimeter darinya tak kutemukan kata kecuali...
...Hentikan!!!
Sesungguhnya, menjadi manusia ala kadarnya, punya hidup biasa-biasa, masalah-masalah sederhana, lingkungan yang biasa, di kelilingi oleh orang berpikiran sederhana adalah anugrah yang mestinya disyukuri.
Hentikan!!
Aku tidak tahu kemana tulisan ini akan kubawa. Awalnya aku hanya ingin menceritakan tentang sekumpulan bebek yang aku berkhianat atasnya. Dan aku sendiri berkhianat atas diriku sendiri. Lama-lama kemudian, aku berpikir untuk mengkambing-hitamkan Tuhan. Karena secara tiba-tiba kau mengetuk alam sadarku...barangkali aku akan berhenti sekarang.

*Disudut kamar, antara pilihan munafik atau pencundang.

Stabat, 27 Agustus 2011

Tuesday, August 23, 2011

10 Mitos Tentang Introvert

Dari tulisan Carl King yang di copy-paste, copy-paste, copy-paste, dan akhirnya saya terjemahkan dengan sedikit penambahan. Tulisan ini saya rasakan, dan saya percaya beberapa. :)

Mitos #1 – Introvert tidak suka bicara.

Ini tidak benar. Introvert tidak bicara sampai mereka mempunyai sesuatu untuk dibicarakan. Mereka tidak menyukai pembicaraan kecil. Coba lah berbicara pada introvert tentang hal-hal yang mereka tertarik di dalamnya, dan mereka tidak akan berhenti berbicara sampai beberapa hari. ^_^

Mitos #2 – Introvert itu pemalu.
Rasa malu tidak ada hubungannya dengan sifat Introvert. Introvert tidak terlalu takut pada orang-orang. Apa yang mereka butuhkan adalah alasan untuk berinteraksi. Mereka tidak berinteraksi karena ingin berinteraksi. Jika kamu ingin berbicara pada seorang Introvert, mulai saja berbicara. Tidak perlu takut untuk berusaha sopan. Kadang-kadang seorang introvert juga mencari kesempatan untuk berbicara.

Mitos #3 – Introvert itu kasar.
Introvert tidak melihat alasan untuk berbicara dengan basa-basi. Mereka ingin setiap orang berbicara terus terang dan jujur. Sayangnya, hal ini tidak diterima di kebanyakan situasi, jadi Introvert dapat merasa banyak tekanan untuk masuk di situasi-situasi tersebut, yang mereka temukan membuat mereka lelah.

Mitos #4 – Introvert tidak suka orang-orang.
Sebaliknya, Introvert justru menghargai sedikit teman yang mereka punya. Mereka dapat menghitung teman dekat hanya dengan satu tangan. Jika kamu cukup beruntung mendapatkan seorang Introvert yang menganggap kamu seorang teman, barangkali kamu menemukan teman sejati untuk seumur hidup. Sekali saja kamu mendapatkan rasa hormat mereka sebagai substansi seorang teman, maka kamu sudah terhitung.

Mitos #5 – Introvert tidak suka pergi di keramaian.
Tidak mungkin. Introverts hanya tidak suka berada di keramaian UNTUK WAKTU YANG LAMA. Mereka cenderung menjauhi komplikasi yang terjadi di aktifitas publik. Mereka mengumpulkan kesan dan pengalaman dengan sangat cepat, dan sebagai hasil, tidak merasa butuh disana untuk "mendapatkannya". Mereka selalu siap untuk pulang kerumah, mengingat ulang, dan memprosesnya semua. Faktanya, mengingat ulang adalah hal yang paling penting untuk Introvert.  

Mitos #6 – Introvert selalu ingin sendiri.
Introvert merasa nyaman dengan rasa pikirnya sendiri. Mereka banyak berpikir. Tukang melamun. Mereka suka memiliki masalah untuk dikerjakan, atau teka-teki untuk dikerjakan. Tetapi mereka juga dapat merasa luar biasa kesepian jika mereka tidak mempunyai seorang pun untuk membagi hal-hal yang mereka temukan.  Mereka mendambakan hubungan yang asli dan tulus dengan SATU ORANG pada satu waktu.

Mitos #7 – Introvert itu aneh.
Introvert seringnya seorang individualis. Mereka tidak mengikuti hal-hal umum. Mereka memilih menghargai cara mereka hidup. Mereka berpikir untuk diri sendiri dan karena hal itu, mereka sering menantang hal-hal umum. Mereka tidak membuat banyak keputusan berdasarkan apa yang sedang populer atau sedang ngetrend.

Mitos #8 – Introvert itu jauh dari kutu buku.
Introvert adalah orang-orang yang umumnya melihat dengan perasaan, memperhatikan pikiran dan emosi mereka sendiri. Bukan berarti mereka tidak mampu memperhatikan apa yang terjadi disekitar mereka, hanya saja dunia dalam diri mereka lebih menstimulasi dan menghargai mereka.

Mitos #9 – Introvert tidak tahu bagaimana untuk santai dan bersenang-senang.
Introvert adalah tipe yang santai saat dirumah atau di alam, bukan di tempat-tempat publik yang ramai. Introvert bukan pencari sensasi dan maniak adrenalin. Jika terlalu banyak pembicaraan atau keributan yang terjadi, mereka jadi tertutup. Saraf otak mereka terlalu sensitif untuk neurotransmitter yang disebut Dopamine(*). Introvert dan Extrovert memiliki jalur saraf utama yang berbeda. Itu saja

Mitos #10 – Introvert dapat memperbaiki diri sendiri dan menjadi Extrovert. Sebuah dunia tanpa Introvert akan menjadi dunia dengan sedikit ilmuwan, musisi, seniman, sastrawan, pembuat film, dokter, matematikawan, penulis, dan filosof. Dikatakan bahwa, banyak cara untuk seorang Extrovert bisa mempelajari cara berinteraksi dengan Introvert. (Ya, saya membalik dua istilah ini dengan sengaja untuk menunjukkan padamu bagaimana berat sebelahnya masyarakat kita.) Intovert tidak mampu "memperbaiki diri sendiri" dan mendapatkan rasa hormat untuk temperamen alami dan sumbangsih mereka pada bangsa manusia. Faktanya, suatu studi (Silverman, 1986) menunjukkan bahwa persentasi Introvert meningkat seiring dengan IQ.

Dapat menjadi kehancuran bagi seorang Introvert yang melupakan jati diri mereka hanya untuk bisa berjalan bersama dengan Dunia Dominan-Extrovert. Seperti minoritas lainnya, Intovert dapat berakhir membenci diri mereka sendiri dan yang lainnya karena perbedaan, Jika kamu berpikir kamu adalah seorang Introvert, saya sarankan untuk mencari topik dan membandingkan catatan-catatan seorang Introvert lainnya. Beban tidak saja pada Introvert yang berusaha dan untuk menjadi "normal". Extrovert butuh mengakui dan menghormati kita, dan kita juga perlu menghargai diri sendiri

Ya, saya sendiri menghabiskan 80% hingga 90% waktu dirumah jika tidak ada kegiatan formal seperti kuliah atau kerja. Saya berbicara pada diri sendiri tentang ini dan itu, sebanyak 70% hingga 80% yang saya tulis dan katakan kepada orang lain adalah hal-hal yang saya sesalkan. Saya umumnya mengejek karena saya pikir itu cara yang hangat untuk meningkatkan intimitas dengan satu sama lain. Saya pikir saya itu egois karena hanya datang di suatu perkumpulan karena ingin, dan pergi karena saya memang ingin sendiri. Lebih dari itu, saya banyak berpikir apa yang kalian pikirkan dan rasakan, karena itu berhentilah membicarakan orang dari belakang. Kita manusia yang tidak seimbang dengan perbedaan, tapi justru dengan perbedaan itu kita saling menyeimbangkan diri. :)

Dopamine(*) = saraf ini umumnya terkait dengan sistem reward otak, memberikan perasaan kenikmatan dan penguatan untuk memotivasi seseorang secara proaktif untuk melakukan kegiatan tertentu.

Monday, August 22, 2011

Pengukir Mimpi

Pengukir Mimpi
By: Albi Yohana Sinaga
            Aku bangun pagi ini dan mendapakan ibuku bertengkar dengan kakakku. Mereka saling berteriak. Memenuhi dapur dengan suara tak penting mereka. Sehingga rumah yang baru kami tempati kemarin ini terasa pengap.
            “Jika mau menyalahkanku salahkan saja!” teriak kakak perempuanku. ”Semua ini memang salahku, jangan pura-pura tidak menyalahkanku, tapi terus-terusan menyudutkanku!”
         “Siapa yang menyudutkanmu, kenapa kau tak kunjung mengerti.” bela ibuku. Entah akan terjadi berapa lama. Aku juga tak peduli. Mereka selalu meributkan hal yang sama sejak seminggu yang lalu. Aku sejujurnya sudah bosan. Jadi, terserahlah mereka akan berbuat apa. Aku masuk ke kamar mandi, melewati mereka. Beberapa puluh menit kemudian, aku telah selesai sarapan. Dan siap berangkat sekolah.
           "Aku pergi!" kataku pelan kepada ibuku. Kakakku diam saja.
           "Aku harap kau suka sekolah barumu.” kata kakakku di tengah perjalanan sekolah di atas motornya.
         "Bagiku sama saja, kau dan ibu, sama-sama salah.” kataku dingin, kakakku tak berkata apa-apa lagi. Nama ayahku, Matahari. Dia meninggal satu minggu yang lalu. Meninggalkan tiga wanita yang tidak bisa hidup tanpanya. Beberapa jam setelah pemakamannya, kakak sepupu kami, anak dari adik kandung ayahku, berkata pada kakakku, “Rumahmu adalah rumah orangtuaku yang dulu pernah di berikan pada ayahmu. Batalkan pertunanganmu dengan Yusuf, maka rumah itu bisa jadi milik kalian. Selamanya.” Ibuku mendengar pernyataan itu, dengan sok berani dan sok baiknya dia menampar kakak sepupuku, dan bilang tidak butuh rumah. Padahal tidak ada yang punya perkerjaan atau orang yang bisa dijadikan penopang diantara kami bertiga. Entah apa yang dilakukan oleh kakak sepupuku, sehingga dihari yang sama kami diusir oleh keluarga besar ayahku. Terlunta-lunta beberapa saat di jalan. Sampai akhirnya kami menemukan rumah mungil di kontrakkan. Itu juga atas bantuan teman ibuku. Kami jatuh miskin seketika. Tunangan kakak tidak bisa di hubungi. Dia menghilang. Kakak mencari kerja bersama ibu. Sejak dua hari yang lalu kakak bekerja di perusahaan swasta sebagai administrasi. Dan ibuku diperhotelan. Lalu, aku terpaksa pindah sekolah karena dua alasan. Pertama, sekolah lama terlalu mahal. Kedua, sekolah itu terlalu jauh. Aku terdampar di pinggir jalan, di rumah kecil, dan sekolah tidak penting tanpa teman. Aku tidak dapat menjangkau teman-teman lamaku untuk beberapa alasan. Dan beberapa saat.
            “Ini adikku, Anggrek”, kata kakakku kepada seorang perempuan sebayanya. Namanya Rosa. Guru dan teman kakakku waktu SMA. Rosa ini mengajar disini, dia akan mengurusku selama aku di sekolah. Mau tau pendapatku tentang Rosa? Aku benci senyumnya. Satu-satunya hal yang terus-terusan ia tunjukkan. Orang seperti dia ini biasanya menghabiskan ‘bagian dalam’ lebih dahulu. Tahu maksudku? Tidak bisa di percaya.
            “Titip dia ya?” kata kakakku lagi.
            “Tenang saja”, Rosa mengelus-ngelus kepalaku. Menjijikkan.
          "Enjoy your new school.” Lalu perempuan tidak penting itu meninggalkan aku berdua saja dengan guru ‘tidak bisa di percaya’ ini.
            “Kau akan suka dengan kelas barumu”, mulai Rosa dengan senyum yang tidak kalah lebar dengan sebelumnya.
            “Kenapa ibu diberi nama ‘Rosa’?”, kami saling melirik.
“jika aku boleh tahu.” kataku melanjutkan.
            “Mungkin karena orang tua ibu suka bunga, ‘Rosa’ kan di ambil dari kata ‘Rose’ artinya mawar.
         “Berduri dong.” aku nyengir lebar tanpa alasan. Dan sekejap senyum Ibu Rosa menghilang. Sepertinya kaget. Dia tercengang.
            “Ini kelasnya.”
          Rosa mneggenggam tanganku tiba-tiba dan membawaku masuk ke dalam sebuah kelas. Dengan senyum dua jari bibir atas dan bawahnya itu, kami masuk, dan membuat semua perhatian teralihkan. Pelajaran bahasa Inggris. Gurunya sedang menjelaskan sesuatu tapi kemudian berhenti.
          “Maaf mengganggu, ibu akan memperkenalkan murid baru.” Keheningan langsung riuh. Tidak penting.
         “Karena ibu wali kelas kalian, jadi ibu akan memperkenalkan warga baru kita.” Basa-basi yang tidak perlu. Jujur, semua jadi aneh.
            “Namanya Anggrek.” Rosa mendorongku sedikit ke depan.
            “Silahkan Anggrek, perkenalkan dirimu.” Mereka semua diam menunggu, seperti orang bodoh.
            “Aku Anggrek. Anggrek Shasmitha.” kataku singkat.
            “Jelaskan juga kamu tinggal di mana dan pindahan dari mana.” kata Rosa dengen senyumannya.
            “Alamat rumahku…”
           Aku beralih menatap Rosa. Dan raut muka Rosa seolah bilang ‘ayo katakan’. Tapi aku diam saja dan terus menatapnya.
          “Mungkin Anggrek masih malu, sisanya kamu tanya sendiri. Anggrek, duduklah di sana.” Tunjukannya menunjuk pada satu-satunya kursi yang kosong. Aku berjalan acuh, aku duduk, semua mata berhenti tertuju padaku. Rosa keluar dan pelajaran dilanjutkan. Teman sebangkuku yang baru adalah laki-laki. Aku tak tahu namanya. Dan tidak penting untuk itu. Guru bahasa Inggris yang tertunda tadi mencatatkan sesuatu di papan tulis. Aku mengeluarkan bukuku. Aku tak tahu mengapa. Tapi tanganku sempat mampir ke laci sebelum mengeluarkan alat tulis. Dan menemukan ‘kalung’.
         “Ini punyamu?” tanyaku menunjukkan kalung itu pada teman sebangkuku. Dia berhenti menulis sejenak lalu melihatku dengan kalung itu secara bergantian.
            “Kalau mau ambil saja.”
Kalungnya memang bagus. Perak dan bandulnya berbentuk pasak dan palu.
“Itu kalung pengukir mimpi. Dia akan mengabulkan permintaan pertama yang kau pikirkan setelah memakainya.” Kami saling melontarkan pandangan aneh. Seolah bilang ‘kau percaya?’. Tapi siapa peduli, toh ini cuma kalung. Jadi aku langsung memakainya.
"Mungkin lebih baik jika aku mati…” gumamku begitu saja. Kita harus mencobakan untuk tau apa benar kalung ini seperti perkataannya.
Krek..krek..
Debu-debu kecil berjatuhan di kepalaku. Beserta serpihan-serpihan…Atap? Aku mendongak.
“Ha?”
Atapnya retak. Pecahan-pecahannya seperti mau runtuh menimpaku. Tapi aku sama sekali tidak mau beranjak lari. Aku menunggu atapnya benar-benar menimpaku. Lalu, satu bongkahan batu besar datang dari atas. Seperti lepas dari perekat. Aku memejamkan mata.
“Hei!”
Mataku sentak terbuka. Aku sedang tertidur di tempat aku duduk dan baru saja di bangunkan oleh teman sebangkuku. Tanganku dalam keadaan menggenggam bandul kalung.
“Itu kalung pengukir mimpi. Tidak meminta tumbalan, bayaran, pengorbanan atau apapun sejenisnya. Kalung itu mengabulkan permintaan pertama yang kau pikirkan, tapi itu hanya pengukir mimpi.” Penjelasan yang benar-benar memukau. Tidak juga sih.
“Siapa tadi namamu?”
“Yusuf!”
Aku menatap lekat-lekat kalung berbandul perak ini. Pengukir mimpi ya? Benarkah? Tapi sekalipun iya, semua hanya mimpi. Mimpi mungkin tidak brpengaruh apa-apa, tapi aku butuh hal sejenis mimpi untuk membuka mataku terhadap kenyataan ini. Mimpi tidak akan membunuh kan? Jadi aku melepas dan memakainya lagi.
“Aku harap semua ini tidak pernah terjadi.”
Semua berubah gelap.
            “Anggrek..anggrek..”
Aku mendengar kumpulan suara memanggil, tapi aku tidak bisa melihat apa-apa.
            “Anggrek!”
Tubuhku tersentak.
         “Kau tak apa-apa Anggrek?” Terry meremas tanganku. Terry? Sahabatku? Kenapa dia? Aku memperhatikan sekeliling. Aku tahu ruang kesehatan ini. Catnya masih baru. Porselennya bening. Ruangan identik dengan warna merah muda. Ini ruang kesehatan di sekolah lamaku. Tidak salah lagi.
            “Kenapa senyum-senyum seperti itu? Terry mendorong lenganku, kusadari aku nyengir saat tahu ini sekolah lama ku.
            “Aku tadi mimpi aneh. Mana Terra?” Kembaran Terry. Aku dekat dengan mereka berdua. Dengan Josh, pemain basket sekolah. Dan Adam, atlet lari sekaligus berandalan. Tiap hari selalu mendapatinya berjalan di kejar wakil kepsek karena ketahuan makan saat jam kosong. Tapi mereka bertiga tidak ada, hanya ada Terry.
            “Entahlah, aku di sini saja sendirian selama dua jam menunggumu bangun.”
            “Eh…”
            “Kau tidak ingat? Tadi kau pingsan karena lemparan bola basket Josh ketika istirahat. Aku rasa dia takut bertemu denganmu sementara waktu.”
            Aku kembali. Aku telah kembali. Pulang ini aku akan lari ke rumah dan memeluk ayahku.
            “Ayah?”
            “Ayah? Ada apa dengan ayahmu?” Tanya Terry.
            “Tiba-tiba aku ingin bertemu ayahku.”
            “Dia kan ada di aula, hari ini ada pertemuan wali murid. Ayo lihat!”
Terry menarik lenganku untuk segera bangkit. Kami berlarian kecil menuruni tangga menuju lantai bawah dan segera menghampiri aula.
            “Hei!”
Ayah. Aku memeluknya. Kami bertemu di pintu aula.
            “Kepalamu terbentur sesuatu, Anggrek?” tanya ayahku heran. Wajar saja, aku bukan anak papi. Atau seseorang yang dekat dengan orangtuanya. Tapi kehilangannya selama seminggu terakhir ini dan masalah bertubi-tubi menerpa kami bahkan kuburan ayahku belum kering. Aku sudah benar-benar merindukannya. Aku ingin di sini selamanya. Aku menyesal sama sekali tidak pernah memeluk ayahku. Sama sekali tidak pernah mengajaknya bicara. Aku hanya mendengar suaranya beberapa kali dalam satu bulan.
            “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Berpelukan sampai kering?” Tanya ayahku. Sekarang dengan nada risih. Jadi, aku melepaskan pelukanku. Aku mengangkat kepalaku. Ayahku melirikku. Lama kami saling melihat.
            “Eh..aku tak tahu apa yang di lakukan seorang ayah kalau ketemu anaknya.”
Aku tersenyum kecil. Aku juga tidak tahu apa yang akan di lakukan seorang anak kalau bertemu ayahnya.
          “Begini saja!” Terry tiba-tiba angkat bicara. Cara mencairkan suasana yang baik. Kami berdua beralih padanya. “kita makan malam di rumahku sebagai acara keluarga. Aku akan ajak josh dan adam berserta kaluarga mereka. Gimana?”
         “Boleh!” kataku semangat. Kenapa jadi semangat? Terserahlah. Toh, sudah di sini kan. Tapi bagaimana jika aku mau kembali? Mungkin tidak bisa kembali dan terus begini. Hidup itu harus dijalani kan? Jadi, kenapa tidak dijalani saja. Mimpi atau bukan jelas-jelas ini tidak bisa merugikanku. Lalu semuanya berjalan normal. Aku bermain bersama empat temanku sepanjang istirahat. Pulangnya aku membuat eksperimen masakan bersama kakak dan ibuku. Mereka akur dan tidak meributkan siapa yang salah. Jadi ingat tunangan kakak. Siapa? Yusuf? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Meski sudah jadi tunangan kakak selama tiga bulan. Ngomong-ngomong nama Yusuf sama dengan teman sebangkuku.
          “Bagaimana Yusuf?” aku melemparkan pertanyaan yang membayangkannya saja tidak pernah. Kakak berhenti makan siang.
            “Dia baik-baik saja.” Jawabnya dingin. Lalu melanjutkan makan.
            “Ajak saja dia makan di rumah Terra-Terry hari ini.” Kalimat itu terlontar begitu saja. Sebenarnya bagiku tidak penting bagaimana rupa si Yusuf-Yusuf itu. Tapi ada satu suara dipikiranku mengatakan, ”Siapa tau mirip dengan Yusuf teman sebangkuku.” Saran yang aku keluarkan didukung oleh ayahku. Lebih mirip tindakan terimakasih karena telah memeluknya siang tadi ketimbang sebuah dukungan.
            “Terserah.”
            Selesai makan aku habiskan dengan memilih-milih pakaian untuk makan malam. Lalu pukul 06.30 sore. Kami pergi berempat ke rumah Terra Terry. Aku berpikir ‘ini...malam paling mengesankan’. Makan malam di rumah Terra Terry seperti pesta kerajaan Inggris. Terra, Terry, kakak dan aku mengenakan dress warna-warni hingga aku pusing jika harus menjelaskannya satu persatu pakaian mereka. Semua orang tua mengenakan jas dan gaun. Josh dan Adam jelas memakai jas. Tidak ada tambahan orang dipesta karena Josh dan Adam anak tunggal. Yusuf? Aku tak melihat Yusuf.
            “Dimana Yusuf?” bisikku pada kakak.
            “Entahlah.” Jawabnya singkat. Lho dia ini tunangannya kan? Mana tunanganmu?
            “hiks…hiks…
            Ada suara terisak. Aku langsung melihat kakakku. Tapi sepertinya dia tidak mendengar. Kakakku melengos masuk ke gerombolan orangtua-orangtua. Aku spontan melihat ayahku. Dia hanya diam dan tidak melihatku balik. Ia berada di tengah orang tua sebayanya. Dan sepertinya itu membosankan.
            “hiks…hiks…”
            Suara isakannya makin keras. Terdengar di seluruh pelosok rumah. Tapi tak ada satupun yang peka terhadap itu.
            “hiks..”
            Suaranya mirip suara…kakak? Kakak?
            “Kau sudah bangun?”
            Aku tersentak bangun. Seolah ditarik paksa untuk kembali ke dunia nyata. Meninggalkan ayah dan mimpiku.
            “Kakak?”
            Pipi kakakku basah. Matanya bengkak dan tak berhenti terisak. Pasti isakannya yang membuatku terbangun.
            “Aku pikir kau mati.” Kata kakakku mencoba tersenyum ditengah segugukannya. Dia menyeka air banyak-banyak yang tumpah dari mata. Aku memperhatikan ruangan tempat aku tertidur. Sebuah kamar, mungil dan sejuk. Tapi aku yakin ini bukan ruang kesehatan. Meski belum sempat melihat ruang kesehatan di sekolah yang baru. Aku yakin setengah mati ini bukan ruang kesehatan di sekolah yang baru. Karena tempatnya sangat bersih, berporselen dan lagi pula tidak ada obat-obatan di sini. Ini bukan ruang kesehatan, bukan rumahku, baik yang rumah lama atau yang baru. Tidak mungkin ini salah satu kamar RS. Ini dimana? Beralih pada ruangan. Mataku kemudian mencari-cari kakakku. Ketika aku sibuk ini dimana, dia menghilang di balik pintu. Dan belum kembali. Lelah memperhatikan ruangan dan pintu, menunggu kakak kembali. Aku lalu memperhatikan tempat aku tidur. Kasur single berseprai mickey mouse dengan kumpulan bulan dan bintang. Bajuku masih pakai seragam sekolah. Dan mataku jatuh pada kalung perak dengan pasak dan palu. Leherku sejak tadi mengenakannya. Ini masih ku kenakan?
            Pintu terbuka.
          “Ini di mana?” sambarku. Padahal sepertinya kakak mau mengatakan sesuatu karena mulutnya terbuka saaat melihatku lalu terkatup lagi ketika aku bertanya.
            “Ini di rumah Yusuf.”
            “Yusuf? Tunanganmu yang menghilang itu? Gara-gara kau mempertahankannya kita jadi kehilangan rumah. Perfect.”
            “Dia baru pulang dari Manhattan.”
Lalu kakakku tidak berkata apaa-apa lagi. Dia menyodorkan sepiring nasi kepadaku.
            “Ha? Hanya itu saja. Hanya ‘baru pulang dari Manhattan’? yang benar saja kak, kita terlunta-lunta di jalan karena ibu dengan sok baiknya mempertahankan tunanganmu yang bahkan tidak datang saat pemakaman ayah. Gara-gara dia aku harus terdampar di sekolah tidak penting dengan orang-orang yang selalu menunjukkan senyum palsu mereka padaku. Gara-gara dia kita kehilangan satu-satunya peninggalan ayah yang paling berarti.“
            Kakakku masih menunjukkan muka tenang.
            “Kau terlalu lama tidur hingga kukira kau syok dengan hidup kita hingga koma. Aku lari tergesa-gesa ke sekolahmu karena kudengar kau pingsan tiba-tiba di kelas. Lalu saat keluar dari sekolah dan berencana membawamu ke rumah sakit, aku bertemu Yusuf. Entah darimana ia tahu engkau sekolah disana. Dia mau mengajak kita bertiga tinggal di rumahnya sampai kasus perebutan hak rumah kita yang lama selesai. Dia juga bersedia membiayai sekolahmu di sekolah yang lama tapi hanya sampai ekonomi keluarga kita stabil. Apakah semua masalamu terselesaikan sekarang?”
            Aku diam.
            “Ini jatah makan siangmu, aku akan kembali ke kantor.”
Lalu dia pergi, selang beberapa menit setelahnya, pintu kembali terbuka. Aku kira ibuku. Tapi yang masuk adalah seorang pria maskulin. Maskulin? Tidak juga ah. Pakaiannya santai tapi rapi. Sekilas wajahnya memang manis, dia laki-laki yang bersih.
“Yusuf?’ kataku saja. Dia tersenyum.
“Sepertinya kau begitu ingin bertemu denganku.”
Aha?
“Kalung pengukir mimpi itu apa berkerja dengan baik?” Tanya Yusuf. Aku menatap kalung itu dan melepasnya.
“Bagaimana kau tau ini pengukir mimpi?” dia dan aku saling berpandangan. Aku dengan penuh curiga padanya. Dia, seolah menunggu aku menjawab sendiri pertanyaanku.
“Kau percaya sihir?” katanya sambil merogoh saku celana. Dan mengeluarkan kalung perak yang lain. Bentuknya bandul kucing.
“Ini kalung pengukir dunia. Yang ini membuat kita bisa menciptakan satu dunia lain sesuai dengan harapan kita. Sebagai gantinya nyawa kita diincar oleh kematian. Kalung ini dan yang kau pegang itu milik kakekku yang diturunkan padaku. Kami pinjamkan satu pada orang yang tidak sadar kalau hidup ini sebenarnya sangat menarik. Untuk meminjamkannya pada orang lain kami harus masuk terlebih dahulu  dalam kehidupan mereka menggunakan bandul yang satunya. Lihat!”
Dia menggunakan kalung berbandul kucing itu dan tiba-tiba datang kumpulan daun kering dari jendela berterbangan mengelilingi dan menyelimuti tubuhnya. Lalu saat daun itu jatuh ke lantai. Aku menemukan Yusuf, teman sebangkuku di sekolah baru.
See?’
Dia melepaskan kembali kalungnya dan wujud tunangan kakak juga kembali.
“Kenapa kau pinjamkan yang pengukir mimpi padaku?’
“Kedua kalung ini sama maknanya. Mengabulkan hal yang paling kau inginkan tapi tidak seperti Tuhan mengabulkan do’amu. Pada akhirnya yang menggunakan kalung harus membuat pilihan. Aku pinjamkan yang pengukir mimpi bukan yang pengukir dunia karena kalung pengukir dunia lebih sulit, salah-salah nyawamu terambil dan aku akan disalahkan oleh kakakmu.”
“Kakak tau soal ini?”
“Menurutmu memangnya bagaimana awal mula kami bertemu?”
Yang benar saja.
“Terima kasih!” aku melempar kalung pengukir mimpi padanya.
“Tidak ingin bermimpi lagi?”
“Aku bukan si rapuh yang tak sanggup hidup di dunia dan ingin terus bermimpi.”
“Mau coba?” dia menunjukkan senyum jahil sambil mengayun-ayunkan kalung yang berbandul kucing.
“Boleh tuh.”
Dia melempar kalung berbandul kucing dan aku menangkapnya dengan sigap. Baik juga laki-laki maskulin ini. Maskulin? Tidak juga ah.

Gemuruh yang Tidak Ada

Gemuruh yang Tidak Ada
By : Albi Yuhana

Aku tidak pernah berpikir tentang kondisi orang lain. Aku selalu mengusahakan diriku sendiri. Jika ada masalah aku berusaha menyelesaikannya sendiri. Aku sama sekali tidak punya tempat untuk aku andalkan. Karena nenekku, sepupuku, tanteku, ibuku, mereka selalu bilang ‘Jangan pernah merepotkan orang lain. Nanti tidak akan ada yang berteman denganmu’. Dan dengan prinsip itu. Aku disini sekarang.
Siswi kelas 3 dari salah satu SMA unggulan di provinsiku. Lulusan SMP terfavorit dengan nilai memuaskan. Tidak ada yang ku keluhkan kecuali satu. Teman.
Aku tidak punya teman. Entah kenapa aku selalu merasa orang orang tidak suka padaku hingga aku menjauh.
“Tunggu, pak! Ana kan belum punya pasangan”, teriak Rei.
Saat semua anak perempuan siap lari berpasangan kecuali aku yang masih berdiri di baris paling belakang anak laki laki. Rencanaku diam diam aku tidak ingin ikut lari. Dan karena teriakan Rei, semua jadi mengetahui keberadaanku.
Rei itu teman sebangkuku. Aku sudah duduk dengannya dua tahun. Tapi sebelumnya dia tidak pernah memusingkan keberadaanku. Kami tidak pernah bicara. Hanya berinteraksi kecil tanpa suara. Rei juga sebenarnya terpaksa duduk denganku karena tidak ada lagi bangku yang kosong selain bangkuku, waktu itu.
“Masih kurang satu, ya?”, kata pak Ahmad sambil memeriksa daftar absennya.
“oh ya, kelas kalian ini jumlah anak perempuannya ganjil”
Ya, jumlahnya jadi genap jika aku tidak ada. Karena itulah aku tidak ingin ikut lari.
“baiklah, jadi siapa diantara kalian yang mau lari pasangan dengan Ana?”, tanya pak Ahmad di depan barisan anak laki laki.
Semuanya saling tukar pandang. Sepertinya ini akan lama. Karena aku yakin tidak akan ada yang mau pasangan denganku.
“Anu. . .”, kataku menyela sebelum pemilihan pasanganku selesai.
“Aku tidak ingin merepotkan. Kalau tidak ada pasangan, apa boleh aku lari tanpa pasangan?”, tanyaku.
“Aku saja!”, Rei mengangkat tangannya.
“Ok. Masuklah barisan”, kata pak Ahmad. Rei langsung menghampiriku dan menarik tanganku masuk ke barisan anak perempuan.
“Bersedia. . . Siap. . . Mulai!”
Lalu, kami semua lari mengitari lapangan sekolah. Peraturannya hanya mengambil satu bendera di setiap pos yang berada di setiap sudut lapangan. Sebanyak lima putaran. Tanpa meninggalkan pasangan kita. Pasangan yang lebih dulu selesai akan mendapat nilai besar.
Awalnya tidak ada masalah tapi setelah dua putaran nafasku sudah tersengal sengal.
“Kau tidak apa apa?”, tanya Rei.
Aku berhenti berlari dan membungkukkan badanku, mengambil nafas.
“Seharusnya. . .”, aku berusaha bicara di tengah nafasku yang putus putus.
“Seharusnya. . .kau. . .ti. . .tidak. . .per. . .perlu. . .ikut lari ber. . .bersamaku. Aku tidak ingin merepotkan orang lain, aku ini tidak kuat lari”
Dan tiba tiba semuanya gelap. Tubuhku jatuh menghantam tanah.
~
Aku bangun, mendapatkan diriku berada di ruang kesehatan sekolah. Di kelilingi oleh teman teman sekelasku.
“Kau tidak apa apa?”, tanya satu dari anak perempuan. Yang berada paling dekat dengan tempat aku tidur, Lisa.
“aku. . .”, aku tidak tau apa yang harus aku jelaskan.
“kau tiba tiba pingsan, kami semua jadi khawatir”, kata Lisa lagi.
“lari berpasangannya diundur minggu depan”
“Hah? Minggu depan? Kenapa? Gara gara aku? Huhft. . . aku minta maaf aku gak bermaksud”, kataku penuh harap mereka semua tidak menyalahkanku. Aku menunggu cukup lama balasan kalimatku. Tapi tak ada satu pun yang berkata kata lagi. Mereka bertukar pandang sejenak lalu melihatku lagi. Apa ada yang aneh?.
“Kenapa kami harus menyalahakan kondisimu. Hahaha. . . kau lucu”, kata Lisa sambil tertawa kecil. Dan anak lainnya juga ikut merekahkan senyum padaku. Aku tidak pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Rasnya aneh. Aku tidak pernah tau mereka hangat sekali dan apa tadi Lisa bilang?. ‘kau tiba tiba pingsan, kami semua jadi khawatir’. Mereka mengkhawatirkanku?. Kenapa padahal aku sendiri tidak pernah memikirkan mereka?.
Rei mencuat dari kumpulan anak anak yang berdiri menggerubungiku.
“pulangnya aku antar saja”, kata Rei dengan gaya sok coolnya.
“Cie. . .”. Alhasil semua anak menyeru kami.
Apa sih?.
~
Aku baru bangun dari tidurku di tengah pelajaran kosong. Dan Lisa sudah berdiri di depan sana.
“Ada yang lihat makalah geografi punya Rei gak?”, Lisa berteriak di muka kelas. Ku lihat Rei mendatangi meja anak satu persatu, memeriksa tas mereka. Raut mukanya, itu raut muka cemas.
“Ayo donk! Kalo liat balikin”, kata Lisa lagi. Sepintas kenapa dia terlihat melirikku sambil tersenyum kecil?. Lalu tanpa kusadari Rei telah berdiri di sampingku.
“Pinjem tas bentar”, katanya tak bersemangat.
Aku mendorong tasku ke arahnya. Tanpa banyak bicara diobrak abriknya sejenak. Dan kemudian untuk beberapa saat dia berhenti.
“Ini. . .makalah. . .”, dia mengeluarkan dengan kasar dari tasku. Makalah Geografi miliknya.
“Eh?”
“Kenapa ini bisa ada di tasmu?”, tanyanya halus. Tapi, tatapan matanya tidak bisa bohong. Dia marah, kecewa, kesal, lelah, dia menuduhku mencuri. Matanya seolah bilang ‘Masih untung aku mau berteman denganmu, tapi kau justru memanfatkanku’. Perasaanku tidak enak. Aku melihat sekeliling kelas, ternyata teman temanku juga sedang menatapku seolah aku pencuri. Suasana ini mirip. Aku pernah mengalami ini. Di tuduh mencuri. Kejadian kelas 6 SD waktu itu terjadi lagi.
“Aku. . .”, tiba tiba aku kehilangan kata kata. Hanya keringat yang mengucur deras saja. Padahal aku tidak melakukan apa apa. Kenapa aku tidak bisa membela diri?.
Bukan aku.
“Bukan. . .”
Jangan menatapku seperti itu, Rei. Bukan aku yang mencurinya.
“Aku. . .”
Kakiku gemetar. Lidahku keluh. Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. Kenapa sulit sekali untuk bilang bukan aku yang melakukannya?. Tapi, sekalipun aku bilang aku yakin tak akan ada yang percaya. Sejak kapan makalahnya ada di tasku?. Ini pasti sudah direncanakan. Dari awal mereka tidak mau berteman denganku. Sikap hangat mereka hanya tipuan. Mereka sesungguhnya tidak ingin berbagi teman seperti Rei makanya melakukan ini. Kejadian lagi. Aku dituduh mencuri lalu mereka semua akan berjalan menjauh dan tidak ada lagi yang mau berteman denganku. Padahal aku kira kali ini aku bisa mengikatkan tali pertemanan. Lalu mereka semua akan memperlakukanku seperti seonggok kotoran. Melihatku seperti aku daging menjijikan yang bisa bernafas. Aku tidak mau terjadi lagi. Cukup sekali. Jangan lagi.
Entah kenapa tiba tiba aku berjongkok sambil menutup erat telinga dan mataku. Rei sudah menuduhku mencuri. Aku tidak mau dituduh mencuri. Bukan aku yang melakukannya. Pasti tidak akan ada lagi yang mau berteman denganku. Semuanya sama saja. Mereka tetap akan satu persatu meninggalkanku, dari dulu siapa saja tidak berubah. Aku takut.
“Masih untung ada yang mau berteman denganmu”
“dasar gak tau diri”
“aku tau kau miskin tapi jangan mencuri donk!”
Aku tidak mau dengar. Jangan tuduh aku, aku tidak melakukan apapun.
“kau kenapa?” aku membuka mataku. Suara itu datang dari Lisa.
“kami hanya main main, kau tidak apa apa?”, tanya Lisa.
Suaranya terdengar parau seperti mau menangis. Wajahnya juga memelas. Seolah minta maaf . Aku berdiri. Dan melihat sekeliling kelasku lagi, semuanya menatapku bingung. Aku melihat Rei.
“Aku gak tau apa apa lho”, kata Rei langsung membela diri.
“Aku minta maaf”, kata Lisa.
Aku tersenyum kecil “enggak kok, aku yang terlalu berlebihan”.
Mungkin memang hanya ketakutanku saja. Suara-suara itu sepertinya hanya perasaanku saja.
Pelajaran kosong sudah berganti bahasa inggris. Gurunya sudah berdiri di muka kelas menjelaskan sesuatu yang tidak bisa masuk ke telingaku. Karena aku berkosentrasi mendengar kalimat Rei.
“Waktu aku membawamu ke ruang kesehatan kemarin, sepanjang jalan kau mengigau. Jangan merepotkan orang lain. Nanti tidak akan ada yang mau berteman”
“Itu diajarkan oleh keluargaku”, potongku ringan.
“Sebenarnya tidak akan merasa direpotkan kalau yang dimintai tolong melakukannya dengan ikhlas. Bodoh sekali jika takut tidak ada yang mau berteman denganmu gara gara kau merepotkan”
Rei menatapku lekat-lekat.
“Dan jika kejadian yang tadi terulang lagi. Katakan saja kalau bukan kau. Aku pasti percaya”
Rasanya mukaku memerah. Aku tidak pernah dengar dia bicara seserius itu dengan nada sok coolnya. Aku merasa kali ini akan ada orang yang tidak akan pernah meninggalkanku. Janji donk, Rei.

Saturday, August 20, 2011

From A Particular Station

Right here is station. But only for one train. You may have travel far and far away. Your cells may fill up by hundred names. Yet, if one day, you've tired from running over the world, you may stay here. Stay longer even forever. I'll be your last place.

Monday, August 8, 2011

Cahaya

tak ingin pergi, tapi tak juga bisa disini
pinjamkan aku lilin, selimut dan kelambu
saat setengah sadar, padamkan temaram
biar aku yang melepas jiwa menuju tuhan

seratus dua ratus, kunang-kunang malam
bukan pijar pengganti bintang 
ada awan menggulung di barat
matikan aku sebelum hujan tiba

berkecambah di balik bayangmu
ada degup yang kian memaksa
waktuku memang tak lama
maka, biarkan sekali ini aku jadi cahaya

Dingin (Flash Fiction)

Aku masih memandang keluar jendela. Badai salju di luar tidak berhenti sejak kemarin. Tumpukkan halus itu pun sudah meninggi. Melalui jendela dengan jelas bisa kulihat persimpangan jalan. Hanya sedikit orang yang berlalu lalang di jalan, mereka melawan badai pastilah karena hal yang benar-benar penting. Aku sedang menunggu. Dan hal yang penting yang sedang kutunggu itu...

"Tok..tok..tok.."

Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Siapa yang bertamu ke rumah gadis tengah malam begini?

"Siapa?" 

"Tok..tok..tok.."

Dia masih saja mengetuk. Dengan berat aku berjalan menuju pintu. Kubuka perlahan pintunya. An. Walaupun sudah lama ia tak mengunjungiku, aku tidak begitu terkejut. An berdiri gemetar, wajahnya pucat dan tertutup sebagian oleh salju. Sebenarnya aku kasihan melihatnya begini. Tapi rasa kasihan ini harus kutahan. Aku mengacuhkannya tanpa mempersilahkannya masuk. Kuharap ia masuk dengan sendirinya untuk menghangatkan badannya. 

Aku kembali duduk menatap keluar jendela. Kali ini tak ada yang kutunggu. An masih berdiri di ambang pintu. Sesekali kuintip dia untuk memastikan dia segera masuk dan menutup pintu. Hawa dingin badai dan hawa lainnya menyergapku, dingin. Tepat sebelum aku beranjak kesal, akhirnya An masuk. An masih diam. Aku juga tak ingin bicara padanya. Saat-saat seperti ini benar-benar menyesakkan dada.

Sudah 4 tahun kami menjadi kekasih, aku mengenal betul kapan An berbicara. Dia berbicara terlalu jarang. Dan perhatian apa yang kau harapkan dari seseorang yang jarang bicara. Sejujurnya untuk hal ini aku sudah lama memakluminya. Bahkan Bibi Ery, tetanggaku, mengatakan kami ini benar-benar cocok. Mengapa? Karena An terlalu pendiam dan aku terlalu cerewet. Selama 3 tahun aku merasa kasih sayang yang diberikan An, tapi sedikit rasanya yang bisa kulakukan untuknya. Dan setahun ini, rasanya hubungan kami di ambang kehancuran. Awalnya aku hanya ingin dia berbicara sedikit lebih banyak. Saat itu aku berpikir bagaimana kalau aku juga ikut berdiam diri. Biasanya, kalau aku berbicara dengan An persis seperti perawat dengan pasien yang sedang sekarat. Kamu ingin ini An? Dia menggeleng. Atau yang ini? Dia menggeleng. Hmm, pasti ini yang kamu suka? Lalu, ia tersenyum tipis, dan matanya melengkung sayu. Ah, sungguh manis senyumnya itu. Bagiku walau dia tidak bicara terlalu banyak, tapi senyum manisnya mencukupkan segalanya. Dulu.

Kembali, aku menatap jendela. Melalui pantulannya kulihat An mengamatiku dari belakang. Wajahnya tidak terlihat sedih. Tapi tak juga ada senyuman disana. Seperti 3 bulan yang lalu. Malam itu, ia mengirimkan pesan untuk ikut pergi bersamanya ke suatu tempat. Aku yang sedang mengimitasi tingkahnya sama sekali tidak berniat membalas. Keesokan harinya, dia datang. Persis seperti hari ini, aku membuka pintu, tidak menyapa, tidak menyuruhnya masuk, hanya membiarkan dia di depan pintu. Sekitar beberapa menit, aku hanya duduk diam. Berharap dia merayuku dan sebagainya. Tapi dia tetap saja berdiri diam. Menungguku. Bingung. Sudah beberapa kali seperti ini dan aku hanya bisa berharap dan berharap. Dan dia selalu diam. Hingga akhirnya kemudian dia memulai nadanya.

"Rin, kamu tidak berdandan?"

Ah. Aku mendesah. Aku yakin dia mendengarnya. Bukan itu pertanyaan yang kuharapkan, An. Ayo, katakan lagi. Lagi...

"Apakah kamu sakit?"

An, bisa tidak sih kamu mengajakku dengan raut wajah lebih ceria. Terlebih, cobalah lebih talkatif. Lagi...

"Rin..."

Persis seperti hari ini. Wajahnya tak tampak sedih, tapi tak kutemukan senyum tipisnya. Barangkali ia tidak 
perduli. Aku memalingkan wajah. Aku melamun. Apakah ini rasanya ketika aku selalu bertanya padanya? Apakah ini rasanya ketika sedikit berbicara dan sebenarnya ingin berbicara banyak. Atau sebenarnya An memang tidak banyak berpikir. Kukira tidak begitu. Kantung mata dan kerutan di sekitarnya jelas membuktikan dia banyak berpikir. Aku terus berpikir. Dan berpikir. Bukankah aku melakukan ini untuk mengetahui bagaimana perasaannya terhadapku? Atau barangkali...

"An, apa benar kamu mencintaiku?" aku melamun sambil berbisik.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. An. Aku berpikir terlalu lama, sampai mengacuhkannya. Buru-buru kubalikkan tubuhku. Hening. An sudah pergi. Pintunya sudah ditutup dengan membiarkan sedikit celah. Barangkali ia merasa tak ingin menganggu. Aku menyesal. Sejak itu An sudah tak pernah lagi kerumahku.

Aku kembali merinding. Tersadar dari lamunanku. An masih berdiri pucat di belakangku. Aku bergerak menuju pintu. Sesaat sebelum kusentuh gagang pintu, An terlebih dahulu merebut tanganku. Beku. Tangannya membeku. Hampir saja aku memuntahkan kata, aku begitu khawatir. Tapi demi egoku. Ini kutahan. Kutahan demi hal yang begitu penting dan kuinginkan.


Egoku itu berdiri bak karang. Tidak mudah hancur. Dan egoku itu ibarat bom waktu, kalau sudah waktunya atau tercapai barulah aku merasa puas. Saat itu, saat aku ingin bekerja di perusahaan Mr. Lim. Dengan syarat membuat sebuah karya ilmiah dengan riset paling kreatif adalah syarat untuk diterima. Aku dengan berapi-apinya ingin membuat 100 lembar dengan rancangan detail penuh. Waktu satu bulan kuhabiskan untuk fokus total terhadap karya ilmiah ini.

Saat-saat obsesif ini sangat rentan sebenarnya bagiku. Aku bukan tipe yang mudah goyah saat mengerjakan tugas. Tapi juga bukan tipe yang bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Maka, satu bulan itu aku benar-benar mirip gelandangan. Ah, aku sudah menjadi gelandangan barangkali saat itu, jika An tidak sering mampir kerumah. Aku melupakan banyak hal. Mulai dari hal paling kecil, makan, mandi, sampai membersihkan rumah. Bahkan An. Keterlaluan memang. Obsesif-kompulsif ku ini memang tidak ada obatnya.

"Rin, kamu kehilangan kompas ya?"

Saat itu An bertanya dengan raut serius. Karena aku juga sedang serius mendesain gambar, kupikir syarafku memang sedang lambat untuk mencerna maksud An.

"Obsesif! Makan donk. Udah dingin itu masakannya."

An tertawa. Sumpah, ia tertawa. Dan aku masih termangu-mangu. Antara sadar dengan tidak. Bayangkan, seseorang yang jarang berbicara. Seberapa jarang pula ia tertawa. Akhirnya aku ikut bicara.

"An, hari ini gak perlu bikin pesta?"

Sekarang, An yang bingung.


Entah kemana saat-saat bahagia itu. Dalam setahun ini, semua itu hanya kenangan. Aku merasa kehilangan, An. An yang begitu perhatian. Entah bagaimana ia saat itu selalu datang dan pergi dari rumahku tanpa kuketahui. Makanan yang tiba-tiba sudah terhidang. Bak mandi yang terisi penuh dengan air dingin. Barangkali awalnya itu panas. Ruangan-ruangan yang rapi. Padahal desainku itu berserak dimana-mana sebelumnya. Ia seperti hantu. Hantu yang manis.


Kutatap An. Bibirnya memutih. Kuhalau tangannya yang dingin. Belum sempat lagi tanganku berpindah menuju pintu, tangan An sudah melingkar di leherku. Benda itu berkilau redup. Antara putih kebiru-biruan. Itu, 2 buah keping berlian berbentuk salju. Hatiku dingin. Tapi dengan cepat kelempar emosiku. Aku takkan runtuh dengan benda seperti ini.


An tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar manis. Bibirnya sedikit bergetar. Kalau saja ia tidak berbalik untuk pergi, barangkali aku akan berbicara padanya. Ah, sudahlah. An sudah pergi. Kututup pintu. Sudah terlalu banyak angin yang masuk. Aku kembali duduk melamun menatap jendela. Kali ini hanya kepingan salju di tanganku yang tertatap. An, kamu begitu dingin. 


"Tok..tok..tok.." 

Dengan cepat ku menuju pintu. Berharap..

"Bibi Eri??"

Aku sedikit terkejut. Sedikit kecewa juga.


"Rin..."

Tubuhnya gemetar, disudut matanya sebening air mengalir.


Aku terduduk. Kaki langung mati rasa. Aku membiarkan badai menamparku. Malam itu semuanya membiru. Aku menitikkan butiran es. Ya, butiran dari hatiku yang membeku. Berkelabat semuanya, 5 tahun kenangan itu. Dapat kudengar. Jeritan yang ikut terbawa angin. Lama-lama berbisik...


Rin, kamu kenapa? Kamu kenapa? Kenapa?
Aku rindu sekali tawamu. Aku tidak mengerti. Akhir-akhir ini kamu selalu diam. Kamu tidak lagi tertawa, tidak juga tersenyum. Aku sangat khawatir.
Apakah kamu sakit?
Hari itu, saat kamu mulai diam. Hari saat aku ingin membawamu ke makam orang tuaku. Aku sangat senang, karena sudah lama aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Tapi barangkali kamu ingin sendiri?
Rin, hari-hariku semakin sepi. Semakin sepi, semakin rinduku membuncah membawaku padamu. Tapi tiap waktu, saat berdiri di depan rumahmu, rasa takut menyergapku. Takut kehilangan. Apa kah kamu sudah bosan? Tidak. tidak. Jangan. 
Tapi Rin, malam selalu membisikkanku sesuatu. Ia terus membisikkanku, "Mana buktinya? Mana buktinya?" Sungguh saat itu aku juga melamun banyak sepertimu belakangan. Aku bingung. Bagaimana lagi cara membuktikannya. 
Tiap malam memandang langit. Apakah kamu masih memandang langit yang sama?
Tiap malam saat angin dingin datang. Perlukah aku datang ketempatmu, membuatkanmu coklat panas? Memastikan selimutmu? Memastikan kamu masih aman? 
Rin, maafkan aku kalau aku tak mampu menjelaskan apa yang ingin aku katakan. Bagiku aku harus memberikan segalanya yang terbaik bagimu.
Rin, aku selalu mencoba menjadi matahari bagimu. Maaf kalau aku selalu menyusahkanmu. Apa mencoba sehangat mungkin. Apa mungkin bagimu aku hanya dingin yang mengganggu. Rin, rin, rin...
Rin, kalau kamu menemukan matahari lain, apakah kamu akan bahagia?
Rin, aku berjanji tidak akan menyusahkanmu lagi. Tapi, aku juga tidak akan berhenti mencintaimu, menjagaku. Maka, malam ini aku berdo'a menjadi salju. Sekali lagi, aku tak bermaksud menyusahkanmu. Aku akan memastikan kamu selalu hangat. Dan apabila kamu kedinginan, saat mataharimu tak mampu menghangatkanmu, aku hanya ingin memastikan, hanya aku yang menjadi dinginmu. 

...

Dua keping salju di dadaku bergemerincing pilu...

"Bibi Eri??" Aku terkejut.
"Rin..., A..a..An meninggal. Tubuhnya terjebak runtuhan salju sejak semalam."


*rasa tak puas selalu memaksa, menghadirkan ego antagonis. menyeruak kepada cinta yang rentan pada rasa percaya.
Stabat, 08 Agustus 2011

NB: maaf norak! xP  klise, basi, tapi sekali lagi...ini fiksi!! :P

Monday, August 1, 2011

Captive

nowhere, but in the light.
we got a lot way to choose over.
that lead to moon or to sun.

a bum in wonder earth.
his head hanged to sky.
his hands linked to blazing-heat crater
his legs, was sinking down to the riverbed.
are you galaxy where i was born?.

it was right, to self-hatred.
instead adding salt to wounded heart
captive by worrying-clown man.

a bum in the wonder river.
look rainbow throughly at night.