Sunday, September 28, 2014

Berjalan dengan Sepatu Orang Lain


"Jangan mengejek rasa sakit yang belum pernah kamu alami."

Ini adalah kutipan yang setiap orang harus memasangnya di dinding rumah mereka dengan cahaya lampu seterang mungkin. Masyarakat kita begitu kejam dan begitu seringnya merendahkan orang-orang yang merasa sedih atau kesepian. Orang-orang yang mengalami kesulitan ini dicemooh dan dicela. Orang-orang yang merasa depresi atau gelisah selalu disamakan sebagai "pencari-perhatian" dan selalu disisihkan dengan ungkapan sarkastis "alaah, lupakan saja". Murid-murid akan merendahkan sesamanya yang memiliki kesulitan membaca karena gangguan psikologis dalam belajar. Ibu-ibu muda akan dijadikan bahan gosip bagi siapapun yang melihat mereka. Tidak ada perasaan empati bagi anak autis yang mengalami serangan panik karena rangsangan sensorik berlebihan. Parodi logat asing juga diulang dimana-mana, seakan-akan tidak menghargai bagaimana sulitnya untuk belajar bahasa asing (maksud saya, pernahkah kamu mendengar setengah dari murid-murid di kelas bahasa Inggris atau Prancis di sekolah?). Topeng-topeng palsu kebahagiaan dan keharmonisan dipakai oleh wajah-wajah yang jiwanya telah rusak. Semua orang merasa terlukai dan merasa bahwa merekalah satu-satunya orang di dunia ini yang terluka.

Masyarakat kita, untuk waktu yang sangat lama, memiliki sedikit sekali penghargaan untuk rasa sakit. Jatuh sakit dan menangis serta tampak emosional terlihat sebagai sesuatu yang lemah dan menyedihkan, seakan-akan jiwa manusia kita ini begitu kotor untuk terlihat di khalayak umum. Kutipan ini mirip dengan: "Jangan menghakimi seseorang sampai kamu berjalan dengan sepatunya." Sampai seseorang benar-benar paham secara keseluruhan mengapa orang lain merasa tercambuk atau depresi, tak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menghakimi. Bahkan sekalipun, jika anda berada di situasi yang sama, itu tidak berarti sepenuhnya sama, dan masih banyak perihal yang lebih luas yang tidak boleh disinggung. Kamu mungkin memperhatikan di blog saya dengan topik pemerkosaan, saya selalu menaruh "TW: Pemerkosaan" pada judul. TW berarti Trigger Warning atau Peringatan Pemicu, karena hanya dengan membacakan situasi dapat mengakibatkan seorang korban mengalami serangan panik. Saya melakukan ini karena menghormati korban yang selamat. Saya tidak secara personal mengalami masalah-masalah tersebut, tetapi saya paham bahwa itu adalah masalah kesehatan kejiwaan yang serius dan harus ditangani seserius luka fisik. Apakah anda akan menyuruh seseorang yang kakinya patah terus berlari dan memberi tahu mereka bahwa anak-anak yang lain baik-baik saja dan setiap orang bisa berlari, jadi mengapa mereka tidak bisa? Karena kaki mereka patah! Jiwa yang terluka dan pikiran yang berantakan juga sama. Seorang tentara mengalami guncangan hebat bila mendengar suara bising, yang mengingatkan mereka akan tembakan senjata dan ledakan bom, juga harus dirawat secara rajin seperti merawat seorang tentara yang bagian tubuhnya diamputasi.

Tapi tentu saja, saya tidak bermaksud segala kesulitan dapat dijadikan alasan tindakan seseorang. Tetapi empati akan memberi orang-orang ruang untuk saling memahami, dan mungkin saja dapat membantu satu sama lain dan mencegah rasa sakit terjadi kembali. Suatu ketika, saya menyadari bahwa dunia dan orang-orang di dalamnya lebih besar daripada diri saya sendiri, apapun dunia yang saya bayangkan itu telah memudar untuk menunjukkan keindahan dan berbagai macam kemungkinan. Ada begitu banyak hal yang mungkin saya tidak sanggup pahami, tetapi saya lebih suka berpikir bahwa itulah makna hidup — untuk tetap belajar dan memahami. Saya tidak berpikir kita akan berhenti belajar sampai kita mati. Bahkan seorang guru masih bisa belajar dari murid-muridnya, dan seorang murid mampu menjadi seorang guru. Saya yakin guru seperti anda, Ibu Lahaise, mungkin telah mengamati situasi dari berbagai macam perspektif hanya dari berdiskusi bahan pembelajaran atau membaca blog murid. Jika semua orang bisa mempertahankan pikiran yang terbuka dan hati yang penuh kasih dan kepedulian, saya percaya sepenuhnya bahwa dunia akan benar-benar menjadi tempat yang lebih baik.

“Berbuat baiklah kepada orang lain.” 
— Ellen DeGeneres

sumber terjemahan :http://lahaiseslair.com/uyenl/2014/04/01/81/

Stabat, Agustus 2014

No comments:

Post a Comment