Sunday, November 21, 2010

kita anak-anak sungai.
kita jauh dari lautan.
kita hati yang tercerai.
kita parodi kehidupan.

dengar lantunan jeritan.
asmara jenuh penuh derita.
samar-samar di kegelapan.
manusia tak bisa ceria

lilin-lilin yang basah
dalam gelap tertelan
belukar penumpu resah
menajam perlahan...

Stabat, 21 September 2010


Friday, November 5, 2010

Samudera

diam, kutatap layar bergambar padang rumput.
tiba-tiba saja, kurasa umurku 30 tahun
dan kakiku terhenti, entah kemana ku kan melangkah.
kutatap lagi matahari.
yang menjelang jingga hendak tenggelam.

surut-surut air pasang meresapi kaki.
kini di hamparkan pantai di mata.
kumelamun, apakah perasaan yang tertinggal
atau ada kenangan yang masih tersimpan
dingin sejenak datang di hati.
mencumbuku rasa haru yang kian sesak

kududuk dan kudapati cangkang kerang.
kumainkan dan kupanggil angin.
sahabat si kesepian.

duhai samudera...
sebuah cerita. dikedalaman yang tak tembus cahaya.
sebuah derita. luka dan pilu yang tersimpan.
bertabuh suara camar menjauh dari pantaimu.
kini berganti malam, gelap dan menyisakan suara ombakmu yang gelisah.
sebuah cerita. tentang masa laluku penuh penyesalan.
sebuah derita. yang kan kutitipkan padamu...
bawalah jauh.
duhai samudera...

mengalir dingin air, perlahan-lahan menyusuri pipiku.
adakah kelabu waktu yang bisa ku ulangi
merubah wajah tua lusuh ini, meniti dari angka satu.
berpola tidak berpola, sebuah janji, tak mungkin ditepati.

...

Sunday, October 10, 2010

Makam Hati


tak ada peti mati, seperti dimakan jam batu itu. dan jam itu sudah lama berhenti berdetak.

tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.

tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.

tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.

pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.

sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.

jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.

dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.

trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.

aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...

ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??

Taman Waktu


disana senja abadi. dimana matahari menggantung di barat, seakan hendak tenggelam tapi tak pernah. dia tetap besar dan berwarna kuning kemerahan. Jingga.

Disini hanya sebuah taman. Yang terdiri dari satu ruas jalan. Dikanan kiri, pohon" musim gugur sedang lebat"nya. Jalan raya itu pun sudah tenggelam ditelan 'kresek' daun" maple yg berserakan. sesekali angin berhembus lurus, meninggalkan pola. Yg indah sekali.

di salah satu ujung jalan itu, aku duduk sebuah bangku kayu yg halus dan indah. bangku yang panjang, mungkin cukup 4 orang.

Tepat dibelakangku berdiri sebuah jam. Seperti jam di inggris, tp tak sebesar itu, hanya setinggi 2-3 meter saja. Jarumnya tak pernah brdetak.

tepat di belakang jam itu, sebuah peti mati. yg sangat indah, berwarna biru dan keperakan. Didalamnya...coba tebak?? Ada gadis kecil yang sangat cantik. Dia tertidur entah mati, badannya pucat dan bibirnya tersenyum. dia kaku dan mengeras. Ya...dia membeku, diantara lapisan es, dia terpenjara disana.

Taman waktu ini, sepenuhnya milikku.

Sunday, September 26, 2010

My Fear


my heart was pounding like burst out...

i scared tomorrow of tomorrow...

i can not wait until pain sprouted...

so, i prepare to go as black crow...



father, mother...to all system of life...

i have no name, no sister and no friend...

no emotion no passion for zombie...

and now, lemme go to very world of fiend...

Wednesday, September 22, 2010

Lukisan Malam



F : aku bersepeda nanti malam,
jangan tunggu aku pulang,
biar kuminum awan,
Dan kusisakan bintang serta bulan.

Y : Jangan lupa bawa diktat kawan ya
biar besok bisa melahap habis
badai yang menerpa gugus-gugus bintang
yang tersisa tadi malam

F : ya ya ya,
aku akan pulang ke lautan,
tempat seribu taman dan sejuta teman,
coba saja nanti malam hujan,
kan kubentangkan pelangi keemasan.

Y : tapi di depan rumahku,
tanpa mengurangi warna dan bentuknya,
tanpa harus mengabaikan sang pelukis alam
yang bersarang dalam hati setiap insan,
dan aku akan menunggu saat itu datang tepat di hadapan ku.

F : dengan paralayang dan setir sepeda,
menyelami angkasa malam perkotaan,
tapi aku bisa bungkam.
dimana pekarangan yang kan kutuju?

Y : tepat di bawah langit atas bumi.
dimana aku bermukim, dikota yang kau seberangi.
yang dapat kau jangkau dalam memory waktumu.

F : tapi aku takkan pulang...
...takkan pulang.

Saturday, September 4, 2010

Pulang

apa yang kulakukan, bersimpuh beradu lengan.
katakan setiap duka karena sembilu lidahku.
tak usah sembunyikan, biar dosa semua kusimpan.
rapat rapat kutahan, berbalut air mata membeku.

biru, tak seperti langit pagi
saat mentari jujur katakan aku tak ingin pergi.
maka mendunglah itu hari.

biru, tak seperti duga prasangka.
saat aku alpa katakan cinta, dan kau pergi bersama kecewa.
maka berkabunglah itu hati.

sakitnya tak seberapa, usah kau tanya.
hidup itu terlalu berharga, ah sudah sering kudengar.
yuan, kau bilang kau pergi ke kota raya.
baiklah, sekarang jariku cemas bergetar.

aku duduk terdiam di taman waktu.
saat detik tak urung beranjak berdetak.
dan masih surut perasaan melampau.
aku diam dan tak ingin lagi bergerak.

Menepuk di dulang

karena kita tak pernah jujur pada diri sendiri..
berani menentang dunia pun tak berani..

kita kalah melawan dilema..
teronggok-onggok disana bersama asa yg tak nyata..

bukan!! bukan karena tak bisa!!
Tuhan tak suka..

kita kalah melawan arus..
kita kalah melawan angin..

kita harus belajar menjadi kecil..
menyusup diantara ketiadaan..
bersabar dan berdo'a..
semoga Tuhan, menampar kita dengan sayang..

Monday, August 30, 2010

Penghuni Taman


terduduk aku disana
hampir sepuluh tahun lamanya

anak kecil tanpa orang tua
melamun, hanya itu kerjanya

sepi, seperti lampu kota.
meredup kadang hidup jarang.

dia bukan remaja.
tapi melukis drama.
cerita tragis bercecar koma.
sebuah kisah duka.
tak berawal tak berakhir pula.

dia daun kering.
tipis terbakar, hilang disapu angin.

Sunday, August 29, 2010

Aku Anak Manja


saya anak manja.
sangat sering jatuh cinta.
hingga tak punya logika.

saya seperti perempuan.
yang suka menangis diam-diam.
tapi saya sering kesetanan.
menyiksa orang pelan-pelan.

saya anak manja.
tak bisa diam, barang sekejap saja.
mamak tak punya, bapak acuh kerja.

saya jadi orang gila.
sibuk menyetubuhi dunia.
saya pembuat mantra.
yang membuat orang terpingkal tertawa.
saya pembuat mantra.
yang membua orang menangis sejadinya.

aku punya taman.
tak berdetik tak pula berdetak.
sepanjang jalan daun berguguran.
selama detik yang tak pernah bergerak.

aku anak manja.
pemilik hati seribu rupa.

ah maaf, yang asli entah dimana.

Friday, August 20, 2010

Sebait cinta


ku merawang jauh, jauh ke masa lalu



diantara bayang-bayang masa kecilku



ketika Tuhan membenamkan luka pilu



di hati, dia teronggok di situ ...

Thursday, June 10, 2010

Selamat bahagia


kau dulu menangis, aku tahu
kau dulu tertawa, aku lebih tahu

tulis saja keinginanmu dikertas
biar kujadikan perahu yang melayang
berlayar menuju arsy tinggi di surga

kini biar kutulis sampaikan sejuta do’a,
tapi kau tak perlu tahu,

tanganku mulai tak sanggup menata kata,
melawan hati yang kian deras alunannya
biar saja perlahan kusampaikan
pada Pemilik Segalanya,

bahwa temanku sedang bahagia,
biarkan hatinya bahagia selamanya…

Sahabat Selamanya


saat masih berdiri di depan pintu masa depan
saat kenangan masih belum ada
dan kita ukir disitu, perlahan dan selamanya

saat semua mimpi bergitu haru
saat semua yang kita rasa masih terasa begitu nyata
dan kita percaya tawa selamanya

tapi kawan…
mimpi itu bukan simpang tiga empat
yang biasa kita lewati sehari-harinya
ada seribu atau sejuta jalan setapak disana
yang tiap langkah membuat kita berbeda

saat pertama kita selalu akan bicara
saat kedua kita akan meratap berdua
saat ketiga kita akan saling menukar cinta
saat keempat kau akan bilang, “kenapa…”

saat pertama kita sudah tutup bahasa
saat kedua gelora sakit membuat kita lupa
saat ketiga kita akan saling menukar kecewa
saat keempat kau akan bilang, “kenapa…”

tapi kawan…
mimpi itu pernah ada
yang dulu sama-sama kita gantung di langit
ada sejuta atau seribu malaikat berdansa
yang tiap do’anya mempertemukan kita

kita manusia, berbicara dengan hati yang perasa
kita kerdil, dengan segala ciptaan nuansa
luka-luka ditutup lembut, takkan hilang tapi tiada berasa
kitab-kitab rencana ditata ulang, kita belum hilang suatu asa

sesungguhnya kita saling percaya, jauh disana
sesungguhnya kita saling berharap, walau tak dikata
dan inilah kita, yang melihat dan tertawa
dan inilah kita, yang menangis dan tersenyum

biar saja Tuhan sesuka-Nya memplintir kehidupan kita
karena rantai pengikat hati takkan lepas selamanya

Sunday, January 17, 2010

tak pernah salah


secepatnya,
ingin kubenahi hati,
melipat kenangan menyisipkan kerisauan,
bertumpuk-tumpuk di koper pembuangan,

secepatnya,
ingin kuberlari di lorong ini,
mengalahkan angin mengalahkan waktu,
dalam terbang bebas di antara ketiadaan...

secepatnya,
ingin ku temui Tuhan,
bertanya takdir mengungkap kesahku semua,
kenapa, kenapa tidak mata ujian standar saja??

secepatnya,
ingin aku terbangun. .
dari mimpi ini dari ketidakberdayaanku,
melesat. . .cepat, mengulang kesalahan yang sama. . .

Friday, January 15, 2010

Polaris


sesubuh ini kita di tengah laut
berkompaskan bintang yg tak pernah surut
nelayan ikan, nelayan ikan, oh nelayan ikan

pasir-pasir pantai terkikis
berombak awan dan lautan
menyambut prajurit hendak mengemis
pada Tuhan Segala Tuan

karang semata saksi bisu
pengakuan susah sepi dirimu
ditengah lautan tangis menyatu
menyapu segala gundah dan rindu

tak usah risau tuan,
bintang timur masih disana,
bergelayut menjadi harapan
tumpuan seribu kotak cinta

Thursday, January 7, 2010

Kawan ? (II)


nanti kita kan bertemu
aku di makammu
atau kau dimakamku

sedihmu tak perlu
cukup kita rayakan dgan mesiu
bakar habis masa lalu
dan kita iblis yang berseteru

panggil semua dendam
dari rasa sakit yang kau pendam
tanpa belenggu peredam
mari kita saling menikam

darahmu darahku,
saudaraku yang kubenci
cinta kita tlah lama membeku
dan selamanya terbakar api

Kawan ?


kawan...
biarkan aku datang
membasuh sisa-sisa airmatamu
lalu kutegarkan hatimu

kawan...
kau suka bermuram
biar luka meledak berhambur

kawan...
aku hanya pengelana
terkadang egoisku bergolak
dan kau pun jadi saksi khianatku

kawan...
kau semakin tersungkur
dan akhirnya kau memilih takabur

kawan...
hanya begitu persahabatan kita
lalu semua aibmu kubuka
cacianmu semua kuterima
akhirnya tali itu musnah tak bersisa

kawan...
terkadang nikmat membutakan mata
akan waktu yg terus berdetik mundur
kini kita hanya insan yg futur

kawan...
entah kapan dan dimana
bersama sesal tak guna
kata maaf pun tak bisa

waktu tak bisa kembali
dan dalam diam aku binasa
mungkin kau juga disana