Tuesday, October 9, 2012

di hati yang landai, satu nama berlabuh
lalu ia daratkan segala kesah selama nafas terkembang
dan seketika hatinya menjadi sempit
bukan tak mampu sekedar menampung satu nama
satu cerita dari beragam rasa
tapi seketika itu juga tuan tanah menukar hatinya
untuk hujan yang tak pernah jatuh disana
untuk sang pemilik nama, merebahkan raganya
selamanya...

Bunga April

Waktu itu April, perempuan manis itu mengemasi sisa perbekalannya yang tersisa, Dan kami, anak-anak dari rahimnya yang hangat, dihadiahinya airmata. Tidak untuk dihabiskan hari itu, tidak untuk jatah sebulan. Seumur hidup katanya. Jatah airmata yang mengingatkan kami, untuk tidak menyia-yiakan yang terkasih bagi kami.

Tapi, ketika sampai wajahnya di tikungan bumi. Mendadak tumpah ruah seluruh rinduku, seluruh keluh kesah dalam raga ringkihku. Karena kutahu, rindu ini takkan pernah sampai, takkan ada lagi pertemuan yang melegakan dada. Dan aku juga ingin mati bersama April. Setelah anak-anakku menghormati hari lahirku, sesaat kemudian mengingat kematianku. Karena ya..mereka dekat.

Wednesday, August 15, 2012

Kisah Jembatan Jingga

disuatu senja, kuputuskan untuk mencari pagi
sambil kukulum do'a agar tak sengaja bertemu denganmu
kutatap langit yang semakin jingga, apakah kau melihat indah yang sama disana?

sambil berjalan melewati jembatan sungai
aku memikirkan bagaimana pertemuan kita yang setiap hari berulang
dan bagaimana rindu dan kehilangan adalah komposisinya
di senja yang sama, kau yang biasanya menyapaku terengah-engah
dengan keranjang tampah yang penuh dengan sayuran tak laku terjual
lalu aku dengan senang hati membantumu mengangkatnya ke becak langgananmu
kemudian kau tersenyum puas sambil mencubit pipi kananku
dengan menitip sebuah pisang ditangan, kukira itulah caramu berterima kasih
setiap hari...

pada awal pertama, aku banyak bertanya-tanya
berapa umurmu? apa aku terlihat kekanak-kanakan hingga kau mencubit pipiku?
kemana kau hendak pulang? kemana ibumu? kau berjualan sendirian?
mengapa kau tak mengucapkan terima kasih?
tapi kemudian aku menanyakan pada diriku sendiri
mengapa kemudian aku tak keberatan membantunya? 
mengapa aku tak menanyakan namanya?
mengapa melihatmu menjadi rutinitasku?
dan mengingat senyum manismu, cukuplah itu jawaban semua tanyaku

aku menggaruk-garuk kepalaku lama
aku tertawa sambil berhamburan di pipiku airmata
perempuan bisu tuli, penjaja sayur buah di pajak dekat sungai 
kemarin lalu kutanyakan kabarnya
dan hendak kukatakan cinta ini begitu konyol didapatkan

sore ini, aku putuskan mencari pagi 
sambil kukulum do'a agar tak sengaja bertemu denganmu lagi
lalu kudapati diriku terbaring tengah menunggu senja terakhir yang jatuh dimata
 tapi langit mulai menghitam, dan jinggaku masih disana
hingga berkumpul orang-orang, melihatku berekspresi ketakutan
kepejamkan mataku, dan kulihat kau memegang tanganku gemetaran

aku terhenyak kaget dari ketaksadaran. belum semenit kuputuskan,
aku akan mengusir takutmu disana...

Tuesday, July 31, 2012

Makam Hati


tak ada peti mati, seperti dimakan jam batu itu. dan jam itu sudah berhenti berdetak.

tak ada lagi senja abadi, kini sudah brganti dgan malam yg cerah. ya, cerah.

tak ada lagi musim gugur, ini semua putih seperti salju.

tak ada lagi tumpukan daun maple yg berserakan di jalan raya itu.

pohon-pohon itu pun bukan maple yg kukenal. itu berubah mnjadi pohon cemara yg tandus, daun-daun salju mggantikan yg mranggas, tumpukan ranting-ranting yg mengering.

sesekali bercak darah disekitarnya, itu ketika aq mencoba brjalan diatasnya.

jalanan itu entah sejak kapan ada lampu. lampu-lampu jalan yg dipenuhi binatang malam. sesekali, satu dua mati kekurangan listrik.

dan bangku tempatku duduk, sedingin besi...eh?? itu memang besi, tp tetap saja seperti kayu.

trakhir, tembok itu!! sejak kapan diujung jalan itu ada tembok yg menjulang tinggi.
trkadang ia mghilang ditelan kabut, trkadang berebut dgan badai salju yg tk prnah brhenti.

aq tdk bingung, kelihatannya acuh saja. kupandangi diatas sana, tempat senja itu sudah trganti oleh bulan yg cemerlang. Indah...

ini seperti bukan taman waktu. inikah makam hati??

Friday, July 27, 2012

Meredup

nun dikejauhan bulan pualam
pernah kutimbun beberapa dosa kelam
satu-satu ia berterbangan
menuju hati yang tak setimbang

perih ini sesaat menjadi tuhan
meniupkan nafas pada kenangan
aku berhenti dipersimpangan
aku lupa siapa cintaku gerangan

bawa aku berjalan pelan
aku sedang dirundung kesedihan
tuntunkan aku pulang
menuju rumah yang terang

bukakan pintumu sayang
aku didepan menanti istirahat panjang
bukakan segera oh sayang
kafankan aku dengan lampu temaram



Friday, July 20, 2012

Luluhan

kupangku pudar lalu lantak dunia
kau pacu langkah acuh sekali bicara
kain hitam selendangkan kita
kisah-kisah ini, jangan lagi pernah dibuka

senandungkan aku mantra peniada
sebab rupamu bukan nisan berduka
sejauh mana ratapan surga, duhai adinda
sebelum merah-merah di pagi buta

jelaga hati dikuliti ragu
jenuh berdamai, kau pintakan seteru
jerangkan benci dalam priuk pilu
jerit-jerit bambu, akhirnya pun berdesing mesiu

Monday, June 25, 2012

Nostalgia

Akan menyenangkan apabila suatu saat pertemuan itu seperti janji-janji di kebanyakan cerita. Dan saat itu, apa yang mesti kita lakukan? Cerita apa yang kau ingin dengar? Apa kau masih pendiam? Apa kau sudah bahagia?

Dadaku bergemuruh hebat hanya membayangkannya.
...dan Rin, berapa lamakah lagi pertemuan itu akan datang?
Karena firasatku mengatakan, pertemuan itu sudah kita lalui. 
...berkali-kali...di dalam mimpi.
An, Taman Waktu

Friday, May 25, 2012

Sejauh Ini Hanya Luka

waktu kini tak teraba, antara kenangan dan tatapmu diseberang sana.
dahulu hilang, kini menatapku tak percaya.
bukti-bukti tak berguna, mata sayu itu menatap daging-daging luka.
dulunya luka kita serupa, kini kau menatapku tak percaya.
wangi masih sama, sedang satu sapa merobek sajak nama; namamu.
kau tersenyum hampir kuiikuti, sebelum kau bertanya sambil tertawa,
"kau masih terluka?"
"ya, aku pun tak percaya."

Saturday, May 12, 2012

Apa kau lebih suka menjadi badai? Yang sibuk datang lalu bergegas hilang. Meninggalkan puing dan segala hening yang jua berplintir. Apa kau lebih suka menjadi semilir. Yang tersipu di sore hari. Lembut dan sesekali menepuk pipi. Tapi kau menghilang tanpa peringatan, membiarkan kehilangan tanpa kebiasaan. Apa kau sungai? Yang mengalir membawa perasaan damai. Gemericik tawa dan laku di arus kebosanan. Ah, kau sungai, dimana kau hanyutkan hatiku? Apa kau langit. Awan yang tipis dan pembawa hujan yang kelam. Pasti kau mudah menemukanku, yang terserak di hamparan bumi yang putih.

Bayang

"Kau itu seperti pelajaran sejarah. Jika tidak bisa menangkap benang yg menghubungkan setiap kejadiannya maka akan jadi sulit di mengerti. Kalimatmu memiliki sebuah benang tipis jika salah tarik aku bisa tersesat. Hatiku selalu risau. Takut jika benangmu tidak bisa terlihat. Tapi seperti pelajaran sejarah menarik keinginanku untuk tau lebih dalam."
Aku selalu lupa, pada siapa, kapan, dan dimana, serpihan itu kujatuhkan. Kupinjam dulu, aku ingin mengatakannya pada ilalang yang tajam, ilalang yang memanjang. Ia sulit kelihatan. Karena ia sama. Tak mau berbeda. Meskipun begitu, hadirnya begitu rapuh. Pada detik manakah, di masa depan, ia kan menghilang, bahkan sebelum angin menyadarinya.


Monday, May 7, 2012

Sembilu Lalu

menemuimu adalah penciptaan pertama kali
sebelum ceritaku tentang ceritamu membangunkan sajak
untuk kematian perasaan, kutangkupkan berkali-kali
sebelum kau dan rindu serta aku dan kenangan beranak pinak

pinjamkanku dari tuhan berupa keindahan
sebelum ketemukan bengis dan benci menjalar di nadi
karena aku dan tuhan, berkejaran memfaalkan perpisahan
sebelum mengkita, kujanjikan lebih dulu salah satu mati
  
kelak ingatannya kan cedera, tak berhenti untuk menyesal 
airmatanya mengintan, tuk perpisahan yang tak terucapkan
selama takdir menyisipi getir, dibawah mata yang kian menebal
selama wajah-wajah terkambang, dipelukan hatinya ia rebahkan

Stabat, 2012


Thursday, April 5, 2012

Sarapan

sudah makan? aku masih punya jeritan panjang dan airmata kehilangan.
kau ingin kenangan? ada sekotak lagi buat esok malam pekuburan
dililit dosa yang terhunus-hunus. pun masih kita telan.
separuh dari santapan siangmu tak ada dikenyataan.
biar kupesan secincang kenangan yang matang dalam gelap.
dan kau pun bisa mati telentang dalam kesakitan. terima kasih.
tapi maaf, sedihmu bukan jenis sarapan yang biasa kumakan.

Takut

An, hari ini aku ingin bercerita. Aku selalu enggan kesana. Ke masa depan. Tempat para sahabat meletakkan cita-citanya. Bukan kerut atau keriput, tapi aku selalu membayangkan nafas yang kusut, dan ingatan yang pelan-pelan menyusut.

Bayangkan, benang laba-laba yang menggantung di pohon jambu. Anak kecil yang bermain dibawahnya tak pernah tahu. Hingga ia menjerat halus, lalu anak kecil pun memekik histeris. Anak kecil itu bukan aku. Aku benangnya. Laba-laba itu waktu dan kau anak kecilnya. Aku tak tahu, kapan kau akan bosan. Dan kelak kau pergi, meletakkan sesaji tanpa tahu aku ingin.

Sepi itu yang kutakutkan. Yang menggema saat sendiri di rumah lapuk kita. Tak ada lagi canda, atau perdebatan kecil yang menyemarakkan suasana. Ingatkan dirimu sendiri, an. Kalau kau sudah bisa tertawa, aku sudah mati. Dengan tenang.

...

Mata

Kita berpandangan, entah bagaimana caranya, matamu yang begitu gelap memikat. Dimatamu, ada serumpun bambu basah menguning, gagak hitam yang berterbangan, dan secarik surat setengah terkoyak. Dimatamu, kau biarkan hutan hujan liar merambat, bangkai teman-temanmu berserakan, dan kepala mirip wajahku tergantung. Aku belingsatan, terpenjara dalam siklus ketakutan. Aku tersesat.

Masih berpandangan, aku menemukan sungai terbendung. Memisahkan matamu dari apa yang ada dimataku. Aku mau pulang. Tetapi serabut akar mengikatku cepat. Langit memekat, sedang dibelakang, duniamu jauh lebih tak bersahabat. Aku pun mendengar suara samar berkelabat, "...gi!" Jawabku hanya belalak tak percaya. Reflek kutekan gaya, aku lari menuju nyata dimataku. Terlambat. Satu pijakan dibendunganmu; hancur. Melemparkanku jauh lebih pekat dari bencimu. Hujan menjatuhiku hukuman mati. Seketika samudera pecah. Aku saksi mati ditengah-tengah. Dan dikedua tanganku, ada dua matamu, yang tak berhenti mengalirkan sumpah.

Thursday, March 29, 2012

Platonik

ini bukan perasaan sebelah tangan
ia menyiratkan kedalaman cita dalam dulang
ia cinta yang dinikmati dalam diam
ia membiarkan ruang dipenuhi oleh harapan
hingga ia mampu menuliskan puisi dan cerita
walau sesekali sepi berbisik, menepis tebas sukanya

dan suatu saat, ketika dunia lebih ramah padanya
cintanya akan disibakkan dalam kasur bunga, pelangi jatuh disana
tempat keindahan ditidurkan, mereka akan dibangunkan
cerita akan diberi nafas dan puisi memujinya

Monday, March 26, 2012

Tawan

dalam suratku, kan kau temukan jiwa digang-gang ketakutan
bungkus liurku dan sematkan dirongga pelacur yang kehausan
seperti pagi yang tak pernah sempat kita cemaskan

pilih sesumbar risaumu, amplopkan kerumah panti matahari
hingga lipstik, bedak, dan pemerah setahun diwajahmu abadi
seperti harum cemeti yang meledak di punggungmu berkali-kali

buang rindu dan kenangan, sudah sepantasnya kau mati dengan anggur hitam
kau puan, segala candu yang tak pernah pudar dalam ingatan
ya, ingatkan aku mengantarmu pulang, ke rumahku yang terasing dalam hening

Monday, March 12, 2012

Anak Langit

Namaku Rin. Ini cerita tentang makamku. Aku mati sekitar 10 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 1 Juni. Benar. Aku mati di tengah tahun, di tengah kerisauan, dan tengah melayang diantara langit dan bumi. Sekali lagi ini cerita tentang makamku, bukan caraku mati. Saat ini jasadku ditanam diantara awan. Tiap hari, tak lupa Tuhan menyirami makamku yang putih kebiru-biruan.
Tiap akhir tahun, datang menziarahiku burung-burung dari selatan. Tak ubah layaknya kerabat sebelum hari raya. Apa mereka reinkarnasi orang-orang dari kampung halamanku?

Dan untuk hari-hari matiku, sama seperti mayat-mayat lainnya. Aku ditanya oleh dua penjaga langit dan bumi. Tentu saja aku disiksa jika tak bisa dijawabnya. Tiap aku tak bisa menjawab pertanyaan mereka, tubuhku mulai mengumpul. Kukira aku akan dihidupkan kembali. Tapi sekujur tubuhku terlalu dingin dan organku bergumpal acak. Kepala yang disambung oleh kuku, kaki yang bedesakan dengan ginjal, hati yang bercampur dubur, dan lainnya. Dan saat semua bagian tubuh lengkap terkumpul, saat itulah aku hancur. Berjatuhan menuju bumi. Hingga pada suatu waktu aku memuai dan berkumpul lagi di langit yang tak berujung. 

Sejujurnya sikasaan ini tidak terlalu buruk. Karena selain itu dua penjaga penyiksa, aku juga ditemani dua malaikat lainnya. Kedua malaikat ini berwarna putih dan merah kekuning-kuningan. Dua malaikatku itu cantik dan menemaniku seharian. Dan saat aku terjatuh atau memuai terpisah-pisah, mereka ikut tertawa bersama.

Oh iya, sedikit teringat tentangku mati. Waktu itu aku sedang marah pada temanku. Tiba-tiba tubuhku panas. Terlalu panas, hingga bola mataku meleleh keluar, berjatuhan lalu hilang di udara. Bagian tubuhku yang lain juga mulai meleleh berlepasan, yang lainnya mendidih bergelembung, lepas ke udara dan meletup. Mereka terurai menjadi atom-atom dan meledak antara beningnya kegelisahan.

Barangkali, itu kenapa aku selalu melihat manusia yang gelisah saat aku terjatuh. Atau aku memang pembawa sial? Ah.

Wednesday, March 7, 2012

Sederhana, ya...sebuah rencana

Apa kau pernah merasa hancur? Tubuhmu retak-retak mengering terlalu lama panas terpanggang, lalu kau disentuh angin yang membuat dagingmu jatuh sedikit demi sedikit dan terserak tak berbentuk? Apa kau pernah merasa di suatu tempat, dimana kau merasa asing, dimana semua terlihat sama dan membosankan. Semua orang memakai seragam yang sama. Semua rumah bercat putih berbentuk kotak dan beratap seng merah berkarat. Semua mengendarai mobil yang sama merk dan warnanya. Dan kau merasa muak. "Tak seharusnya aku ada disini!".

Tak ada seorang pun mengerti jeritan kasar, apalagi desis bencimu. Kau ingin melarikan diri. Tapi tak tahu harus kemana. Hingga kau mengunci kamarmu. Dengan bit musik yang keras dan menghentak, jeritanmu tenggelam dan kau pun menghilang dari kenyataan.

Apa kau ingin menjadi orang lain? Saat hidupmu benar-benar sia-sia. Dan kau ingin menemukan sejumput ekstasi untuk membahagiakan hidupmu yang terlalu payah. Tetapi itu hanya angan-angan. Karena kau tetap terjebak, terjepit di hidupmu yang rumit, yang kau benci. Apa kau merasa muak dengan orang-orang disekitarmu? Mereka yang tersenyum lebar penuh kepalsuan dan kebohongan-kebohongan mereka yang bodoh. Kau hanya bisa tersenyum tipis mengiyakan, sedang dalam hatimu berdarah-darah, ingin muntah, merasa jijik dan ingin menampar mereka dengan kenyataan pahit yang barangkali mereka tak pernah alami.

Meski tak ada yang pernah berbohong langsung kepadamu dan tak pernah ada yang menusukmu dari belakang, kau mungkin berpikir aku senang, tetapi aku tak pernah baik. Meski semua orang memberikan apa yang kau inginkan dan kau tak perlu berkerja keras untuk memiliki apa yang seharusnya ada, apa kau pikir aku senang?

Tidak. Kau tak tahu. Kau tak tahu rasanya ketika tak ada satupun yang terasa benar. Kau tak tahu. Kau tak tahu rasanya menjadi aku. Tiap malam bibir dan tanganmu berdarah, serta aku tak tahu lagi dinding rumahku entah berapa kali bergetar. Tiap malam aku merasa sepi, duduk di ruang gelap sepanjang waktu tanpa tahu kapan pagi datang. Sedang saat pagi, aku terus dilempari saat aku terjatuh, seakan-akan aku hanya badut yang tak bisa terluka. Terus di dorong menuju ujung jurang dan tak ada siapapun yang bisa menolongmu. Kau tahu rasanya? Tidak. Kau tak akan tahu. Selamat datang, inilah hidupku.


nb: anggap saja sebuah transliterasi dari lagu Simple Plan - Welcome to My Life

Wednesday, February 22, 2012

aku hanya butuh tuhan, tak butuh konsep agama.
aku hanya hamba tuhan, bukan objekan aturan.
dan kita hanya tersesat, dengan peta di tangan.

Puisi Cinta

kau dan aku adalah tanah
keinginan adam dan aku adalah
hawa dan kau tak dipisah
keras dan liat saat kering dan basah

jangan kau ulangi lagi mimpi
yang kau kata ingin menjadi pelangi
karena selamanya, pada bunga aku hanya menjadi duri
jika kau bukan mawarnya, maka aku tak berarti


Peng(aku)an

dibawakan merpati keujung khatulistiwa
tempat kau bercinta dengan harta dunia
saat kau menerimanya
aku lebih bahagia dari apa yang di tawarkan tuhan di surga
karena benciku di dalam dada
adalah akhir ceritamu kekal di neraka

jauh sebelumnya...
kutuliskan surat perceraianku kepada kehidupan
kematianku tak kan mengguncang hatimu
tapi kutukan, bisikkan piluku tlah berpindah padamu
akankah kau baca, paradoks cintaku yang tak berkesudahan?

Tuesday, February 21, 2012

Ruang Putih, Dindingnya Di Cat Merah

hatiku yang retak
kini dingin bergemeretak
dan puluhan serpihannya terserak

hati, berhentilah berdetak
kenangan-kenangan terus mengerak
sedang kepiluan kian mengombak

hati, berhentilah bergerak
sedih dan sepi terus membengkak
sedang cinta kian terinjak

mati, jemputlah hati




Friday, February 10, 2012

Rok Pendek

Untuk perempuan yang memakai rok pendek. Aku  tak punya dendam denganmu. Aku juga tak suka kalau kau tertidur di mataku. Tapi aku ingatkan hari itu, saat kau menyandarkan seluruh tubuhmu, aku mengingat sesuatu yang begitu penting.

Yang didirikan oleh angan-angan. Terlalu lembut untuk di katakan impian. Maka anggap saja ini sebuah perumpamaan. Siang hari bagimu, bagi manusia yang berlalu-lalang di hiruk pikuk kota, adalah panas menyengat yang (kalau bisa) dihindari. Tahukah? Matahari itu bintang. Sedang, seseorang di tengah malam tak kunjung merasa hangat. Kuharap kau mengerti, perempuan ber-rok pendek.

Saat ini, aku tak hilang kendali. Sungguh. Aku sepenuhnya paham aturan main disini. Hanya saja, saat melihat rok yang melingkar di pahamu, aku berpikir untuk mencadari tanganku. Kau tahu, ia bisa lebih vulgar dari dunia tahu. Akan kutuliskan sebait sajak untukmu, kuharap kau tak mengerti. Sungguh. Karena kau bodoh.

Jilati aku tuan...
Aku puisi bercampur nanah...
Usap aku dengan lidahmu...
Aku empedu berlarik seribu...
Kau rumahku...
Tempat iblis dan rindu bercumbu...

Sunday, February 5, 2012

sepotong cerita yang tak perlu

ada yang berbicara, ada yang mendengar. kau tak bisa pilih keduanya.
ada yang menderita, ada yang mengasihaninya. kau tak bisa merasa kedua-duanya.
ada yang berhenti, ada yang terus berjalan. kau tak mesti memaksakan salah satunya.
ada yang diam, ada yang menjerit perlahan. kau salah satunya.

aku ingin bicara, akan terus bicara, tak perlu ada yang mengasihani, tentang apa aku bercerita. kau boleh berhenti, dan aku akan terus berjalan. karena suatu saat aku akan diam. kehabisan cerita untuk kau dengar. padahal dalam hati aku masih saja bercerita. siapa dari kita yang menjerit perlahan?

aku ingin kau mendengarkan, yang barangkali kau anggap derita, kau pikir kau tak mampu meneruskan, dan aku tetap takkan berhenti. sampai aku diam. dan salah satu dari kita menjerit perlahan.

kau juga pasti berbicara, seringnya bukan deritamu. seringnya aku tak mendengarkan, seringnya justru aku mengasihanimu. karena kau berhenti, aku juga akan takkan meneruskan. kita diam. tak perlu ada yang menjerit perlahan.

kau belajar mendengar dari aku yang tampaknya pendiam. aku belajar bicara darimu yang tampak banyak bicara. apa sekarang kau ikut menderita, soalnya aku tidak. kurang atau lebih, sakit takkan lebih sakit. kau bilang kau akan berhenti, tapi ada yang berjalan. ada yang diam. dan hening yang perlahan.

kita bukan siapa-siapa di skenario tuhan. terlalu banyak peran yang mesti dimainkan. aku memilih antagonis. anggap saja ini sebuah prolog dalam hidupmu, sebelum kau menemukan lawan utamamu. ah,aku berlebihan. aku cameo saja kalau begitu. sorry. aku sengaja membuangmu.

Friday, February 3, 2012

Sepuluh Hal (Benci)

1. Nama
Saya sebenarnya tidak pernah terlalu suka dengan nama. Tidak. Nama saya bagus. Maknanya juga. Hanya saja saya lebih memilih (kalau bisa) nama saya tidak terlalu punya arti. Seperti kehidupan saya barangkali. Nama itu tidak perlu panjang-panjang. Asal lekat gampang diingat. Uki, misalnya. #eh

2. Sekolah
Yup, saya salah satu dari kebanyakan yang benci sekolah. Tapi saya lebih benci karena tak ada satu hal menarik pun yang ditawarkan disana. Saya suka belajar. Tapi untuk saat ini, tak ada kenyataan sekolah/kampus yang seideal dengan keinginan saya. Teman-temannya? Ah, kan kau bisa menebaknya.

3. Kendaraan
Saya tidak suka dengan semua jenis kendaraan. Walaupun saya tidak pernah naik kereta api dan pesawat terbang, tapi saya kira saya tidak suka. Bukan karena saya tidak bisa mengendarai salah satu jenisnya (kalaupun iya), tapi lebih karena saya lebih memilih jalan kaki, terlebih duduk berdiam diri. Saya lebih memilih tak beranjak kemanapun. Kalau bisa.

4. Repetisi
Diulang-ulang. Saya pernah posting tentang hal ini. Terkhusus untuk sebuah pertanyaan "kenapa?". Saya terlalu benci, sampai mengakibatkan delusi. Pernah dengarkan lagu JB yang Baby itukan? Semacam itulah. Ah sial.  Delusi lagi!!

5. Hidung Mampet
Saya tidak ingat lagi bagaimana rasanya menghirup udara dengan kedua lubang hidung ini. Saya terlalu benci sampai melupakannya.

6. Fashionista
Gak tau sih, seberapa fashionistanya saya. Lelaki itu tidak umum. Walaupun begitu, semua orang yang fashionista itu, bagi saya. Bodoh. Kalau wanita apalagi.

7. Makanan Basi
Adalah hal luar biasa. Karena hampir tiap hari saya menemukannya. Bukannya rumah ini berlebihan dalam hal makanan, justru sebaliknya. Semua orang dirumah ini bisa lupa makan seharian. Dan makanan dimakan kalau perut udah desperate saja. Orang dirumah ini lebih milih makanan instan diluar. Mahal? Tentu saja.

8. Subjektif
Saya tidak suka dengan orang yang berpendapat subjektif. Saya benci sampai saya ketakutan sendiri. Orang-orang yang subjektif jelas saja egois. Cenderung tak bertenggang rasa. Dan jenis orang yang tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Pada akhirnya, saya justru lebih subjektif dari orang-orang sejenis. Sial. 

9. Pikiran
Kadang saya ingin berhenti berpikir. Berhenti memikirkan hal-hal kecil. Hal-hal besar yang menjadi kecil-kecil. Berhenti berbicara disana. Dan berhenti menulis. Berpikir lebih banyak menyakiti hati. Itulah kenapa saya sangat suka tidur. Walaupun, untuk tidur saja susah!!!

10. Saya
Cukup jelas. Haters gonna hate.

Friday, January 20, 2012

Untuk Hatiku Sendiri

Hi hi hi..
Hatiku...apa kabarmu? Pertama sekali aku ingin berterima kasih, karena kamu masih disana dan tak kunjung mati. Aku sangat berterima untuk semua bisikkanmu selama ini (ya walaupun tak sedikit aku tak perduli), caramu memaafkan diri sendiri, dan semua cinta yang menyeruak tanpa banyak kunikmati.

Yang kedua, itu tadi...umm, aku ingin minta maaf. Entah berapa banyak luka disana, berapa banyak aku menutup mulutmu ~ menutup telingaku, dan kehidupan kita yang tak terlalu hidup. Sebenarnya, aku tidak ingin memberimu terlalu banyak dendam. Dan lagi, aku yakin kau pun bosan, aku juga. Terlebih lagi, belakangan ini aku berlebihan dalam merindu. Tapi aku belum bisa berhenti dari candu yang menyiksa ini, jadi bertahanlah sedikit lagi, ;').

***

Tapi hatiku, pernahkah kamu tahu? Aku selalu mendiamkanmu, bukan karena aku membencimu. Aku masih takut dunia akan membenci kita. Keinginan kita terlalu mewah untuk kenyataan. Kadangkala, kita seperti anak kecil yang kehilangan layangan, ya kan? Ingin lari mengejar tapi takut tersesat. Ah, tenanglah, mungkin tidak sekarang. Tapi kita pasti punya kesempatan menunjukkan pada dunia.

Umm...satu lagi, sebelum aku menjadi antagonis lagi, maukah kamu membantu menamparku sebelum aku melukai orang lain? Berdebar saja sekencang-kencangnya. Aku tahu rasa sakitnya, karena itu kita takkan membiarkan orang lain sakit gara-gara kita, kan?

Dan hatiku, janganlah dulu membeku, aku sedang berusaha mencintaimu. Setelah aku mampu, aku berjanji kita takkan sendiri lagi. Aku akan banyak menyenangkanmu dengan merahnya matahari pagi, lembayung jingga senja, sejuknya air hujan, dan bait-bait cinta Tuhan. Sekali lagi, maaf dan terima kasih.
*pinky promise

Monday, January 16, 2012

Tak lebih hebat dari ...

Jatuh dari ketinggian
Lalu terhempas keras pada kenyataan
Tak lebih hebat dari
Menjadi lembut yang susut
Lalu koyak tersayat
Tak juga lebih hebat dari
Rusak tak diinginkan
Menua karena penantian
Tak lebih hebat dari
Sederhananya kehilangan 

Wednesday, January 11, 2012

Hati

Hijau padang ilalang, langit memerah
Sendunya angin, lembayung jingga terjatuh

Nyanyian camar, gelora ombak pantai
Putih pasir, hangat mentari

Kukumpul ikhtisar indah, dalam hatimu





Jika kau melupakanku

Kau harus tahu
Berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk mengingatmu
Tapi itu juga tak kan berarti
Kau harus tahu
Kau pernah menjadi candu
Yang membait dalam sajak-sajak rindu
Tapi masa itu kini akan berlalu

Tapi jika harus kau lupa
Maka lupakanlah
Kekasihmu sudah menunggu
Akan kulepaskanlah bilik-bilik ragu
Saat kau sudah terlalu jauh
Bahkan untuk ucapan perpisahan

Karena kau akan berhenti mencintaiku
Aku juga akan berhenti mencintaimu