Saturday, August 23, 2014

Dusta

berdusta tidak menjadikan seseorang tidak dapat dipercaya, sebaliknya berdusta menjadikan seseorang tak mempercayai siapapun. akan ada orang bodoh atau orang terlampau baik yang akan mempercayai atau bahkan seseorang yang telah ditipu berkali-kali tetapi tetap berusaha untuk mempercayai.

tapi, bisakah engkau mempercayai orang-orang yang siap menumpahkan kotak pandoramu? sampai rahasia tergelap hidupmu akan dibeberkan di khayalak ramai, lalu semua orang akan menatapmu jijik, sinis. mereka akan membicarakanmu dibelakang, mereka berbisik. tidak. tidak akan ada yang berubah. mereka akan selalu memperlakukanmu dengan manis.

untuk itulah engkau berdusta. mereka terlalu mengerikan untuk mengetahui kenyataan hidupmu. jangan percaya pada siapapun...dan berdustalah untuk dusta yang ingin engkau jadikan kenyataan.

Stabat, Agustus 2014

Friday, August 22, 2014

Detak Kesedihan

saya gak tahu harus dijudulin apa postingan ini. tapi, postingan panjang ini akan dimulai dari pertanyaan saya kepada seseorang, “1. apakah kita hidup ini harus selalu bahagia?" jawabannya tidak juga. saya tidak tahu apakah ketika pertanyaan terlontar ia benar-benar memiliki kekuatan untuk melahirkan sebuah jawaban atau hanya sekedar persetujuan. pada akhirnya dia hanya menjadi pertanyaan yang akan melahirkan pertanyaan baru lagi.

hingga kemudian, pertanyaan itu terevisi dengan sendirinya dan terlontar dari kawan saya. “2. apakah manusia tidak boleh berduka?" berita buruknya, saya yang harus menjawab. tapi saya akan berikan dua jawaban common sense.

dengan menggunakan pertanyaan kedua, mereka kebanyakan pasti akan menjawab, tidak boleh berduka. saya gak tahu apa yang terjadi di benak golongan ini. wajah bahagia itu kelihatannya satu, dan mereka belum kenal seribu satu wajah kesedihan. atau mungkin juga mereka menganggap kesedihan adalah wajah buruk dari kehidupan, sehingga sebisa mungkin, sejauh mungkin mereka punya jarak aman dari kesedihan.

major community kedua mungkin akan menjawab half empty half fullboleh, tapi jangan lama-lama. mereka orang baik yang punya empati. hanya saja barangkali mereka belum punya waktu untuk memahami ada jenis kesedihan yang tidak bisa diobati. kalau kalian sempat melihat postingan saya yg lalu tentang “don’t moke a pain that you haven’t endured”, saya berharap kemudian kalian memahami satu hal. serupa kematian, ada juga kesedihan yang tak disertakan obatnya. walau saya sendiri tak begitu yakin jika itu benar-benar tak ada obatnya.

jawaban minoritasnya sudah pasti, boleh. mereka tak lagi sebagai objek penanya, tapi sebagai pelaku utama dalam drama kehidupan mereka masing-masing. saya yakin jumlah mereka cukup banyak, walaupun kemudian alasan mereka variatif. bisa jadi, mereka hanya belum menemukan jalan keluar dari kesedihan. bisa juga mereka hanya terperosok dalam lubang kesedihan. bisa jadi juga mereka terjebak-terlilit-tersangkut atau apapun lah itu namanya oleh kesedihan. mereka itu semua…tolonglah, saya benar-benar meminta tolong. terangilah, ulurkanlah, dan bantulah mereka lepas dari kesedihan itu. kesedihan itu hidup dan bernafas, dan semakin lama ia tumbuh dalam diri seseorang. mereka…

mereka akan menjadi kesedihan itu sendiri. jalan keluar, obat, kesembuhan, keselamatan, bagi mereka adalah kata-kata asing. mereka adalah kekosongan yang tak lagi mengenal antitesisnya. mereka akan menjadi entitas yang tak lagi dapat dipisahkan dari inangnya. bagi kami, kesedihan baru adalah akhir kesedihan lama. kami tak lagi boleh diselamatkan, jika berarti kami harus dibunuh untuk kedua kalinya.

entah bila pun kalian mengerti, semua ini hanya berawal dari kata sederhana. impian.

Stabat, Agustus 2014

Saturday, August 16, 2014

Catatan #3

Haaaaah.....tinggal sepuluh lagi!! *ngais-ngais tanah nyari inspirasi*
untuk yang sepuluh ini belum tahu mau di apain. kalo nulis sekedar nulis, kabur ke kamusrima.com ngumpulin diksi, disatuin, jadi mah mau berapa pun diminta.

masih ada dua minggu sebelum September. saya mau istirahat panjaaaaaaaaannnggggg. 
kalo balik lagi kemungkinan nulis Catatan Harian di rumah baluuuu..ahehe. *itu juga kalo sempat nulis*
well, cuma pingin nulis catatan biasa. Why Froo?? Whyyyy??
*tiba-tiba teringat*
kenapa #3? yang #1 dijudulin "Horee...lahir deh!!" yang #2 dijudulin New Born.
tulisan paling lama di blog ini (di draft tepatnya) di tanggal 8 September 2008. sampai kemudian 3 tahun berikutnya, tepatnya di postingan 90an semua dimasukin balik ke draft, dan gaya tulisan di restart. *w..ww..wait! ini juga 3 tahun berikutnya kan? jangan-jangan ini siklus 3 tahunan?*
sekarang, total all (publish-draft) ada sekitar 336 (lebih banyak postingan sampah sih). dan sumpah...saya sayang banget sama ini blog. pingin dibukukan tapi..
1. takut hilang
2. malu-maluin \(._. )
3. takut ada alasan nomer 4
4. takut ada alasan nomer 5
dst...
di restart blog pertama kali di tahun 2011, saya bingung juga kedepan mau nulis apa. karena di tahun-tahun kebelakang saya nulis cuma bermodalkan mood. dan kebanyakan postingannya juga bercampur sama tulisan-tulisan iseng gak jelas. tapi berikut-berikutnya saya lebih konsisten menulis puisi dan belajar banyak gaya dan struktur puisi. surprisingly, saya yang anti nulis cepen (yes, anti!), mulai belajar nulis panjang-panjang (gak sanggup nulis panjang....) dan mulai bisa (belum terbiasa, tetep).

curcol acii?
key...
dulu di nick chibifrozen. anaknya masih kecil, sekarang udah gede di nick chiizen. ha!
.
.
.
.
.
udah, itu aja mah curcolnya. *krik krik krik*

postingan favorit? yg judulnya Sejauh Ini Hanya Luka. puisinya biasanya aja sih, diksinya juga. tapi feelnya diinjeksi berlebihan disana. diendapin bentaaaar aja di Istana Ingatan, kenapa? soalnya saya berasa ketemu musenya langsung. rasanya di penghujung 2012 itu banyak tulisan bagus. kaya Platonik, itu puisi bagus, langka karena salah satu puisi yang gak di endapkan di Taman Waktu ataupun Istana Ingatan, dan hasilnya, terasa bagus! dan feelnya juga gak segloomy lainnya. klo boleh di tag pake seven themes, mungkin masuk di kategori Impian.

paling hobi nulis puisi pake rima, tapi lebih seringnya ngerasa eneg karena kadang klo maksa langsung keliatan. klo mulai nulis pake rima, paling kuat 2 paragraf...ujung-ujungnya masuk draft. makanya nyoba berbagai macam bentuk puisi itu penting. agaknya sekarang kurang-lebih kena efek haiku. penulis tumblr semisal lang leav atau michael faudet banyak tulisannya pake haiku. aslinya satu paragraf itu satu kalimat, tapi banyak pula penggemarya. saya ada kenal sih yang hobinya nulis pendek-pendek gitu, tapi tulisan aslinya lebih original bentuknya. Pekat misalnya, gak bisa dibandingin dengan counterpartsnya, tapi kurang lebih gitu. dengan bahasa Indonesia susah bikin haiku, karena satu kata aja suku katanya bisa banyak. kurang tau apakah dengan memotong suara bisa dikategorikan kesana. well, puisi bukan teori. gak perlu dipikirin.

Dingin barangkali cerpen pertama saya yang agaknya lumayan. tapi bukan cerpen pertama sih. awal-awal banyak bikin kerangka tulisan, bikin karakter, ide cerita, dan yes..kebanyakan masuk tong sampah. Dingin sendiri idenya gak terlalu original. waktu itu saya nantangin diri sendiri karena tulisan yang bilang bahwa membuat cerita klise yang enak dibaca itu jauh lebih sulit daripada membuat satu ide cerita yang kreatif. Idenya dari salah satu video klip korea (atau jepang? waktu itu korea belum booming banget). judulnya winter love (coba tebak siapa penyanyinya? :D). baru kemudian scene di vidklipnya saya pindahin ke otak, terus pemerannya diganti sama Rin dan An. 

balik lagi ke puisi. setelah saya berkonfrontrasi dengan ketakutan saya akan cerpen, saya semakin jatuh cinta dengan gaya puisi bebas. sekat antara puisi yang terbatas dan cerpen yang terbuka lalu menyatu. setelah saya selami lebih dalam, ternyata saya ketemu sama bentuk tulisannya abstrak yang mengetuk pintu Istana Ingatan malam-malam. si abstrak itu nanya, "bisa gak bikin puisi pakai alur campuran?" saya gak tahu. tapi setelah itu endapan si abstrak tadi, jadilah Kenangan [5] dan Gerhana. dan sepertinya bukan jenis yang bisa dinikmati selain penulis. meminjam perkataan almarhumah teman saya, bahwa saya ini seperti sejarah dan yang paling sulit adalah ketika saya sendiri kehilangan benang merah dari satu waktu ke waktu yang lain. sampai sekarang saya belum tahu bagaimana menjahit dua warna dalam satu puisi. kalau perbandingannya mungkin ketika kekasih menuju penjara, kalau disitu dua orang dalam satu waktu.

hmm...berikutnya, sepertinya saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di http://yourpatheticjoke.tumblr.com


baiklah, gitu aja catatannya. kenapa juga ya bikin catatan di blog privat gini? entahlah. mungkin suatu saat ini bisa dibikin publik lagi.
----------------------------------------------------------
Wahai hati perdusta, hati yang bersalah ...
Wahai hati yang lalai cintanya, yang menutup akal ...
Menggelapkan kebenaran, Menghias dengan airmata ...
Kau terpesona dan memesona ...
Kau hanya bisa menyesal ...
Tertutup dan kesepian lah kau semoga, selamanya ...
( Drama : Rahasia Hati,  26 Juni 2010 )

Merayakan Kesedihan

Kematian [7]
Sudut Pandang Orang Pertama

Jika ada hal yang paling aku ingini sebagai penulis, ialah merayakan kesedihan. Aku tidak tahu dan selalu bertanya-tanya bagaimana keindahan merayakannya. Tapi hari ini aku datang dan menemukan.

Kami berdiri di ruang terbuka. Tidak di Taman Waktu, tidak juga di Istana Ingatan. Kami berdiri di dekat tebing, di timurnya terbentang padang rumput hijau dan di barat jauh di bawah ombak meraung berlipat-lipat.

An dan Rin saling bertatapan. Mereka kelihatannya bingung. Tentu saja. Aku mendekati An, Airlangga Kelana, lalu memeluknya. Dia diam saja dan dia telah mengerti. An selalu hidup atas ketidakmampuanku melawan dunia. Sekarang, setidaknya aku telah memulai untuk melawannya sendiri. Untuk itu istirahatlah, An.

Rin hanya bisa kupandang lama, walaupun pada akhirnya dia terjatuh dan memeluk lututku yang sudah tak lagi berasa. Rin, Airin Yuuji, selalu hidup untuk membenci. Hidupnya dihabiskan hanya untuk memenuhi daftar orang-orang yang ingin dihapusnya. Tapi belajarlah untuk menjadi pemaaf Rin, karena mulai sekarang aku pun akan belajar meminta maaf. Engkau lelah, beristirahatlah Rin.

Lalu Manja. Aku hanya bisa menggendongnya, memeluknya rapat-rapat. Manja Citra Kelana. Si kecil yang memiliki mata yang aku sendiripun kiranya tak mampu menatapnya. Di antara An, Rin dan Manja, Manjalah yang memiliki aroma kesedihan yang paling harum dan luka yang paling ranum. Sebab itu, tak heran Manja langsung mengenaliku. Karena saat aku menggendongnya, justru ia yang berujar sambil mengusap rambutku, "tak apa.. tak apa.. tuan akan baik-baik saja." Terima kasih An kecil.

Mereka adalah nafas yang menyambungkan malam dengan siang, kenyataan dan impian, kesedihan dan jembatan kebahagiaan. Walaupun kemudian, kita tak bisa saling mengantar pada ujung jalan. Terima kasih, Rumah Hitam Putih.

Benamkan matahari, matikan lampu, hidupkan lilin. Mari kita rayakan...

Stabat, 15 Agustus

Absorbsi

Makam [7]
takdir menumbuhkan impian dibalik cangkang
lalu mengoleksi engkau dengan pijar kunang-kunang
tapi mereka melapuk, dibawah naung yang tak lagi berbahasa
tapi mereka layu, seperti sebongkah es dijenguki saga
   lihatlah engkau lelah serta bayangmu pun musnah
   bila sesuatu dalam lacimu adalah kunci
   tidakkah engkau rapatkan dan sunyikan dalam dada
   membiarkan rumah birumu terbuka, dan seolah memanggil suci
      kain-kain putih berjuntai tinggi
      lalu meraba cincin hitam disekitar mata
      oleh seorang yang menyematkan jiwa diantaranya
oleh malam yang kian meresap
kini tetes airmatanya pun berubah gelap

Stabat, 14 Agustus

Friday, August 15, 2014

Selamat Malam...

Impian [7]

Sejenak saja, kita tidak akan berbicara tentang kepahitan. Tidak tentang masa lalu. Tidak tentang masa depan. Ini tentang hari ini, sekarang, aku ingin mengajakmu tidur untuk punya mimpi yang sama. Hanya tentang bunga tidur.

Kita tertidur. 

Apa yang sedang kau bicarakan? Aku menghirup teh manisku pelan. Kau masih lanjut bercerita. Di antara lalu lalang pelayan di jam makan siang. Kau berbicara tentang hari-harimu yang sibuk. Kau bertanya, apa yang aku lakukan seminggu ini? Aku mendesah. Lalu menatap sisa tehku yang pekat. Lihat, ada beberapa ampas halus. Aku memijat keningku. Kukatakan, pikiran terlalu kasar untuk lewat saringan di kepalaku. Kau hanya menyunggingkan senyum kecil. Dari tasmu yang selalu kebesaran itu, kau mengeluarkan sebuah buku. Buku berwarna biru. Judulnya dicetak dengan warna emas. Dan ada namamu. Berikutnya kau berkata, "yaa ngapain disaring.."

Setelahnya, kita menghabiskan waktu berdiam. Kau mengutak-atik ponselmu, seolah ada yang penting. Aku tiduran dengan tangan terlipat, seolah berpikir. Dan buku biru di tengah meja, seolah tak mengapa.

Jemputanmu datang. Kau mengemasi barang-barangmu. Kau mengambil tisu, mencatatkan sesuatu. Kemudian giliranku. Mencatat sesuatu. Lalu tisu ditenggelamkan dalam mangkuk cuci tangan. Dua orang asing itu kemudian berdiri. Bersalaman. Saling mengucapkan perpisahan.

Aku terbangun dengan tengkuk yang penuh dengan asam. Ah, masih jam tiga.
Selamat pagi..
.. siapapun itu.

Stabat. 24 Juli

Gerbong Usang

Makam [6]

belumkah engkau lelah berjalan
berkejaran dengan bayangan
dengan lengan berkait awan
akankah engkau urung menjadi hujan?

bila ada saja secuil kemungkinan
istirahatlah dipangkuan
pada gerbong usang termakan zaman
padaku saja, engkau kereta diakhir penantian

Stabat, 11 Agustus