Showing posts with label impian. Show all posts
Showing posts with label impian. Show all posts

Friday, August 15, 2014

Selamat Malam...

Impian [7]

Sejenak saja, kita tidak akan berbicara tentang kepahitan. Tidak tentang masa lalu. Tidak tentang masa depan. Ini tentang hari ini, sekarang, aku ingin mengajakmu tidur untuk punya mimpi yang sama. Hanya tentang bunga tidur.

Kita tertidur. 

Apa yang sedang kau bicarakan? Aku menghirup teh manisku pelan. Kau masih lanjut bercerita. Di antara lalu lalang pelayan di jam makan siang. Kau berbicara tentang hari-harimu yang sibuk. Kau bertanya, apa yang aku lakukan seminggu ini? Aku mendesah. Lalu menatap sisa tehku yang pekat. Lihat, ada beberapa ampas halus. Aku memijat keningku. Kukatakan, pikiran terlalu kasar untuk lewat saringan di kepalaku. Kau hanya menyunggingkan senyum kecil. Dari tasmu yang selalu kebesaran itu, kau mengeluarkan sebuah buku. Buku berwarna biru. Judulnya dicetak dengan warna emas. Dan ada namamu. Berikutnya kau berkata, "yaa ngapain disaring.."

Setelahnya, kita menghabiskan waktu berdiam. Kau mengutak-atik ponselmu, seolah ada yang penting. Aku tiduran dengan tangan terlipat, seolah berpikir. Dan buku biru di tengah meja, seolah tak mengapa.

Jemputanmu datang. Kau mengemasi barang-barangmu. Kau mengambil tisu, mencatatkan sesuatu. Kemudian giliranku. Mencatat sesuatu. Lalu tisu ditenggelamkan dalam mangkuk cuci tangan. Dua orang asing itu kemudian berdiri. Bersalaman. Saling mengucapkan perpisahan.

Aku terbangun dengan tengkuk yang penuh dengan asam. Ah, masih jam tiga.
Selamat pagi..
.. siapapun itu.

Stabat. 24 Juli

Sunday, June 22, 2014

Istana Ingatan

Impian [6]

kemarilah, berdecak kagum dengannya
bawa kaki yang bosan didekap, sekali ini hentakkan
genggam tangannya, berlomba lah untuk mabuk
siapa yang menelan kepahitan paling banyak; jadikan raja.

tak ada lampu kerlap-kerlip, hanya mata diambang lelahnya
dihadapkan pada wajah-wajah yang kau sukai
dan semua memeluk, menarik, menari diatas kesadaran rapuh
sudah kau kecap setiap getir, lalu hantarkan pada setiap bibir

confetti dari potongan boneka-boneka buangan, pecahan kelereng, 
lilitan renda-renda baju anak perempuan; berjatuhan dari langit
kita mandikan, menyucikan diri lewat goresan-goresan kesedihan
telan sebagian, tubuh kan semerbak kerajaan tuhan

belum lagi pagi, mual mengendap dari pundak
diantara serakan puluhan mata, potongan jari, dan album abu-abu
dua orang dementia lelah berpesta, terkapar ditengah
wajah mereka sama.

Wednesday, March 5, 2014

Apakah Kita Memiliki Keberanian Untuk Menghilang

Impian [5]

bila aku tiba di suatu kota, aku membayangkan
siapa gerangan tangan ini akan menjabat, dengan setangkup emosi seperti apakah?

adalah engkau, yang belum kutemukan
sedang melirik-lirik di depan etalase toko
bergumam, apakah mereka menjual hiasan untuk hati yang rusak.
tidak? baiklah.

lalu lonceng pintu toko itu bergemerincing.
adalah aku yang keluar sambil mendesah.
tak memperhatikanmu yang terhenyak; oleh lelaki berwajah lusuh.
apakah dia baik-baik saja. kau bergumam.
tidak? baiklah.

saat itu, aku tidak ingin hari cerah. tak jua ingin ada awan penyimbah.

karena di bilik perpustakaan kota, engkau sibuk membolak-balik buku.
mencari kapan dan dimana; sepetak mimpi yang bisa digadai.
siapapun bolehlah.
lalu aku sibuk menandai koran, mencari bagaimana dan seperti apa
mengganti jarum detik yang patah.
hingga sang penjaga setengah berteriak setengah berbisik, berisik!
di tanganku, tertanggal sekian bulan September, tertoreh.

engkau menatapku lagi.
apakah dia baik-baik saja. kau bergumam.
aku tidak lagi tenang. tidak sedari tadi. dengan sepatu sengaja kuderap menuju mejamu.
dengan masih tidak tenang. ku angkat salah satu buku di hadapmu.
aku menyentakmu, "aku tidak bisa baik-baik saja! dan ini jarum detik yang patah.
berbentuk hati. bisa kau pakai untuk menipu siapapun yang telah meminjam kepunyaanmu yang rusak."

engkau tersenyum. menggamitku, kedua lengan. bersama detik dan hujan.
dan kita raib tertelan. oleh jenis waktu yang menyelamatkan.

Tuesday, November 12, 2013

Impian [4]

kukira ia telah memenuhi udara. kata. lebih dari yang bisa kita bisa. biarlah sekarang hening datang. menggantikan bahasa dalam batas yang nada-nada terlalu lelah untuk dibaca. biarlah hening. biar ia menerjemahkan segalanya dalam syahdu alam. biarlah tenang. lalu kita akan bersama menggenggam bara dingin. membiarkan hitam membercak ditangan. dan hening akan pecah, oleh tawa.

seperti ini itu kehidupan, seperti kita yang senang mereka-reka. kita bersama udara dan langit tak saling mengetahui. kita berbahasa dengan perhatian yang tak putus kecuali saling mengikat. dalam nafas, dalam udara yang bertukar tinggi dan rendahnya. mereka tak tahu. tak tahu kita mencintai senja. dan semena-menanya malam menggantikan. karena sayang dan kita berjatuhan.

panggil aku. dalam puisimu. dalam indah dalam sembunyi. dalam ingin yang sejuta kali ingin kutepati. tapi tak mungkin. jika saja dua bisa mengalirkan tak hingga, maka dua puluh enam akan mengucapkannya tak pernah diam. kau tak sendiri. kau tak sendiri. kita tak sendiri.

patahkan sayapmu satu. kutukar dengan insangku. lewat keindahanmu dan keindahan yang seharusnya bisa kau nikmati, kutukar dengan setengah hidupku. aku tetap tak bisa terbang bersama, begitu jua kau. tapi bila kau bisa mengintip dibalik lemah dunia yang kelam. aku sedang mengamati terang. dan bila kita telah sama-sama menyerah pada dunia. setidaknya, kalbu, kalbuku. telah pernah menyesap teh hangat diteras senja.

Monday, September 23, 2013

Impian [1]

dari lidah pena, kita akan belajar titik dan koma
dari lidah peristiwa, kita akan petik suka dan luka
dari keduanya, aku menuliskan puisi dan cerita
lalu terserah padamu, menjadikannya makna atau sia-sia

bila takdir enggan merodakannya
pada siapakah kuadukan duka yang tak berujung
bila engkau dan tuhan telah duduk malas di meja surga
lalu terserah pada siapakah, hidup akan dijunjung

kelelahan ini meminta alasan
perjuangan panjang, yang aku pun tahu takkan menang
berikut pedihnya berdiri tanpa kekuatan
di mimpi atau kenyataan, aku hanya ingin pulang