Saturday, December 21, 2013

(Fiksi) Doa


pernah berpikir tidak tentang do'a-do'a yang gak/belum dikabulkan Tuhan di langit jadi apa? 
jadi, sebenarnya di atas langit ada antrian do'a. do'a yang paling cepat, do'a yang paling banyak, do' yang saling mendo'akan, dan sebagainya. tapi loket buat ambil karcis ketemu Tuhan cuma ada tujuh. taulah kenapa tujuh. Tuhan suka angka tujuh. bukan bermaksud sara sih ni ya, tapi orang muslim beruntung karena sehari banyak berdo'a. kita gak pernah tau lewat loket mana duluan yang bisa cepat sampai. juga ada do'a-do'a yang cepat sampai, kayak do'a anak sholeh, orang yang menderita, sama yang saling mendoakan. biasanya doa-doa kaya gitu ada stempel khusus dari Mikail.
Intinya, doa yang udah karcis ketemu Tuhan sama yang distempel Mikail pasti langsung dikabulin Tuhan. tapi gimana sisanya yang masih ngantri? ternyata Tuhan ngasi pintu khusus buat doa-doa yang males ngantri, yang gak punya kualifikasi dan doa-doa sejenis yang gak lolos-lolos. hahaha, kasian. :P Iya, ada dong doa yang males ngantri. sama kaya si tukang doa, biasanya mereka doanya sekali-sekali. nah, kalo doa yang gak punya kualifikasi biasanya bercampur dosa atau yang ga ada bau keringatnya sama sekali. ngertilah ya. kalo doa-doa sejenis (maksudnya doanya itu-itu mulu), biasanya udah dikabulin tapi minta lagi, atau belum disyukurin. ibaratnya belum terima kasih, udah nagih lagi. ckck
balik ke pintu doraemon, eh maksudnya pintu doa. :D doa-doa tadi bukan gak dikabulin, tapi justru Tuhan ngasi kesempatan buat doanya turun kebumi. udah capek-capek naik, disuruh turun lagi. tega ih, Tuhan!
doa-doa itu masuk pintu tapi berbayar. nah lho?! ini Tuhan apa calo? xD tapi ini serius, harga untuk lewat pintu itu macam-macam. ada yang ruh waktu tidurnya dikasi doa. "doa diberi nafas..." rada pernah dengar kalimat ini...
ada doa yang dibayar dengan keikhlasan, ini doa orang tulus, yang terserah Tuhan mau ngabulin apa engga, asal diberikan yang terbaik versi Tuhan. yang terakhir, ada doa yang dimintakan ke siapa aja (wal muslimin wal muslimat). makanya penghuni langit ikut bingung... oke, itu bercanda. :P
terus doanya bayar pake apa?  gak bayar. ditraktir sama semesta. :)
makanya doa-doa yang udah lewat pintu tadi jatuh kebumi menjadi apa aja, kalo doraemon punya pintu kemana saja. Tuhan punya pintu apa aja. keren ih Tuhan... doa-doa tadi jadi awan, hujan, udara, embun, salju, semburat jingga, debu di jendela, hara di tanah, makanan burung, dan sebagainya. bahkan, bisa jadi selimut hangat dimalam harimu itu tidak hangat. ada doa-doa orang yang menyayangimu terselip, memeluk hangat setiap saat. makasih ya mak, pak.. :')
Jadi, bersyukur, kamu gak pernah tau doamu tlah menjadi apa, dan disekitarmu ada doa siapa.

Oktober, 2013

Thursday, December 12, 2013

Kenangan [4]

sejarah hidupmu tidak berasal dari satu benang merah. mungkin saja ia pernah berbelit dengan benang orang lain dan menjadi hidupmu. mungkin pula sebenarnya benang hidupmu telah lama terputus dan kau hanya melanjutkan kenangan orang lain. bagiku, mungkin saja.
kau mungkin ingin mengulang beberapa rekaman, tentang apa-apa saja cita-cita yang pernah kau banggakan. polisi? dokter? ilmuwan? guru? pilot? dari rekaman itu, apa kau menemukan bagian hitam seperti kusam dimakan malam? bagimu mungkin tak mengapa. barangkali itu hanyalah jejak-jejak tak signifikan dalam kehidupan. bagiku, itu ketakutan.
masa depan terdiri dari mozaik-mozaik yang belum kita temukan. kau akan temukan di tangan sahabat lamamu-sahabat terbaikmu yang akan mengkhianatimu dalam beberapa tahun kedepan. kau akan temukan di mata seseorang yang bukan siapa-siapa hari ini, tapi di masa depan mata itu akan mengalirkan ketulusan yang tak mungkin bisa dibeli. kau akan temukan di kaki seorang yang telah kau bantu berdiri suatu kali dengan aluran tanganmu, dan dia akan muncul lagi menghamparkan duri lewat jempol kakinya. kau akan temukan di rambut orang tuamu yang memutih dan bersyukur karena pernah tak sengaja menelan rambut dalam mangkuk bubur yang mereka sediakan. 
bagiku, sama saja. karena sejarah bagiku adalah masa depan. masa depanku sudah menjadi sejarah. masa depan yang terdiri dari pecahan masa lalu yang kukumpulkan sekuat tenaga. bercampur bau darah entah milik siapa. dalam ikatan benang entah darimana.

Tuesday, November 12, 2013

Impian [4]

kukira ia telah memenuhi udara. kata. lebih dari yang bisa kita bisa. biarlah sekarang hening datang. menggantikan bahasa dalam batas yang nada-nada terlalu lelah untuk dibaca. biarlah hening. biar ia menerjemahkan segalanya dalam syahdu alam. biarlah tenang. lalu kita akan bersama menggenggam bara dingin. membiarkan hitam membercak ditangan. dan hening akan pecah, oleh tawa.

seperti ini itu kehidupan, seperti kita yang senang mereka-reka. kita bersama udara dan langit tak saling mengetahui. kita berbahasa dengan perhatian yang tak putus kecuali saling mengikat. dalam nafas, dalam udara yang bertukar tinggi dan rendahnya. mereka tak tahu. tak tahu kita mencintai senja. dan semena-menanya malam menggantikan. karena sayang dan kita berjatuhan.

panggil aku. dalam puisimu. dalam indah dalam sembunyi. dalam ingin yang sejuta kali ingin kutepati. tapi tak mungkin. jika saja dua bisa mengalirkan tak hingga, maka dua puluh enam akan mengucapkannya tak pernah diam. kau tak sendiri. kau tak sendiri. kita tak sendiri.

patahkan sayapmu satu. kutukar dengan insangku. lewat keindahanmu dan keindahan yang seharusnya bisa kau nikmati, kutukar dengan setengah hidupku. aku tetap tak bisa terbang bersama, begitu jua kau. tapi bila kau bisa mengintip dibalik lemah dunia yang kelam. aku sedang mengamati terang. dan bila kita telah sama-sama menyerah pada dunia. setidaknya, kalbu, kalbuku. telah pernah menyesap teh hangat diteras senja.

Tuesday, October 29, 2013

Matahari [3]

di matamu, kota tuamu hidup dengan santai
merajut pelangi berlekuk-lekuk, diatas dan bawah kelopak mata
sepertinya aku juga ingin mencari rumah
lalu berlari-lari di pagi hari
mencari-cari papan pengumuman
"dicari: pengemban kebahagiaan"
lalu berkali-kali ditolak, dengan senyum kelegaan

bila berlalu lalang aku di dalam sana
kutemukan ditengah taman yang penuh dengan tawa ramah keluarga
sekelompok perajut manula
keriput mereka berjumlah sama, tapi kebahagiaan mereka seperti rima
seperti tangga nada, berbeda, berwarna, dan simpul-simpulnya penuh makna
pantas saja, dikenyataan kau sedang tersenyum manja

dan aku masih berkejaran, dengan bus yang sudah beranjak beberapa detik saja
aku tebak, kau sedang berdegup. segalanya terlontar
anak-anak penerbang layang menarik jemari-jemariku
kami berlari mengejar entah apa; mengapa?
ternyata ada matahari tersangkut, terjepit diantara dua awan jahil.

duniamu berputar, pada degup tawa. dadamu yang dipenuhi canda

begitu banyak cerita, begitu banyak...
bila menatapmu saja menghadirkan sejuta rasa
alangkah wajar, debaran dihitung pun tak hingga

Matahari [2]


tak ada yang terlalu senja
untuk duduk-duduk dihamparan rumput
dibelaian angin sore yang lembut
disentuh oleh cahaya
yang bersikut-sikutan bersandar di kulitmu

ia belum jatuh
dan sepertinya tidak pernah berniat pergi menjauh
ini matahari dari taman waktu
berpindah dari dimensi yang poranda
ternyata satu bahagiannya kembali padamu

lalu matahari ini duduk berpasangan
bersama kedua matamu yang tak henti memancarkan sinar
dan aku adalah siang.
tak pernah puas dengan terang. dan aku buncah
seperti buih-buih gelembung pecah
ditiup ria oleh anak-anak hikmah







Lilin


Matahari [1]

di tanganku, segalanya seperti lilin
dan bila kuperhatikan sekeliling, ada bias kesepian
jatuh ketitik-titik buta, tepat dibelakang mata

aku enggan untuk sadar, sekadar memandang remah tak bertuan
kepingan sisa saksi sejarah ia dihancurkan, keramaian

maka ini kutulisankan
bagaimana engkau pelan-pelan menghilang
menerobos genggam dan perhatian, mungkin juga ingin pulang
maka, kau dihantarkan
oleh panas ketakutan, walau ia menguap sekejap
menjemput kasih yang rapuh, terebut kejam; malam

seperti itu
kau dipikirku
lalu ini tentang aku

Friday, October 11, 2013

Nyala Hujan, Ketika Pagi...

Hujan [2]

tuhan lah yang paling pagi membuka mata
menunggu jiwa yang paling miskin sekalipun
sekadar membuka jendela

kabut menunggu
bukan wewangian bunga ditaman
di tengah perjalanan, yang entah kapan aku akan melangkah berjalan
dan melangkah lah lagi, seperti dulu-dulu
seperti detik jam, tujuanku yang hanya itu-itu

oleh dingin pagi ini, sebab mata terjaga
dadaku menggigil, ada yang memanggil
itukah tuhan, atau engkau disisian tuhan, dengan penuh kerinduan
       hujan berjatuhan

Stabat, 11 Oktober


Wednesday, September 25, 2013

Kematian [5]

pada kakimu yang melangkah berat
terikat kuat segenap beban
yang sudah terlalu jauh untuk kau lepaskan
    pada dadamu yang bernafas berat
    ada resah terselimut rapat
    oleh kabut-kabut tebal yang sudah kau lewatkan

kunci rumahku berdenting pelan
bersama isak yang sesekali kau tahan
begitu pula sisa-sisa airmata, sudah kering disapu dingin
hanya hujan saja belum turun
melengkapi sedihmu yang kian rimbun

lewat kail bintang di kejauhan
embun turun mengisi rongga
   pada tubuh yang jatuh dipelataran jalan
dan tatapmu semakin hampa
   menerobos gulita malam, malam pesakitan

ruhmu masih enggan berjabat tangan
sedang malaikat maut tlah berjongkok didepanmu
menatapmu, penyesalanku...

       ~Impian [2]
         Jika kau dapat membongkar dadanya
         Tentulah kau lihat geladak kapal hidupnya, telah porak-poranda
         Oleh badai pedih yang buncah, mematah-duakan hati yang samasekali tak berpenyangga

         Sekali kau biarkan tenggelam
         Buritan yang jatuh ke lembah hitam, tak kau selamatkan
         Berapa lama disana ia lapar, tak menemukan cahaya untuk pulang
                Kau biarkan ia tenggelam

         Setelah itu kau biarkan yang lain terapung hilang
         Terombang-ombing sendirian, tanpa kawan, tanpa tujuan
         Sampai terurai, tak bisa berlabuh barang sepatah kayu
                Kau biarkan ia menghilang

        Maka, penuhilah panggilanku
        Sujudkan keningmu pada lautan langit
        Tempat hening dan dukaku disemayamkan

~Impian [3]
Jika kau dapat menguburkan takdir
Semaikanlah bibit melati dibibir jendela
Hingga bila hujan, bayangku akan duduk disampingnya
Bersenandung dalam diam, meminta maaf panjang kepada Tuhan
Untuk doa-doa tentang kita, yang tak pernah bisa kurapalkan

Jika kau ingin menguburkan takdir
Semaikan bibir putri malu dipagar pekarangan
    Tempat kau duduk menikmati petang
Hingga bila langit cerah, bayangnya kan menengadah lemah
Bersama tanah yang sabar, mereka akan berbaris saling menguatkan
Melindungimu, walau tak bisa selamanya, kuhidup dalam ingatan

Jika kau ingin menguburkan takdir
Kuburkan saja.



Monday, September 23, 2013

Perempuan Kaca

aku menatapmu dari balik permukaan kenyataan
mengikuti gerak dan senyum yang kau lingkarkan dengan penuh kekaguman
apa itu suatu kebanggan atau kebohongan
aku hanya perlu mengikutimu

disini, ada sebuah cerita yang setiap perempuan cermin angankan
dongeng putri salju. konon katanya ada kaca ajaib yang jujur
kami membacanya berulang-ulang, di kamar kosong, di kamar mandi kosong

begitu banyak tempat, hanya sedikit yang beruntung dilahirkan di tempat yang indah
beberapa lahir buram, beberapa lahir retak, sedikitnya rajin dibersihkan
dan lebih sedikit lagi...
yang dilahirkan di hati penuh mutiara.
para perempuan yang bila berkaca, mereka melihat tuhan.

Impian [1]

dari lidah pena, kita akan belajar titik dan koma
dari lidah peristiwa, kita akan petik suka dan luka
dari keduanya, aku menuliskan puisi dan cerita
lalu terserah padamu, menjadikannya makna atau sia-sia

bila takdir enggan merodakannya
pada siapakah kuadukan duka yang tak berujung
bila engkau dan tuhan telah duduk malas di meja surga
lalu terserah pada siapakah, hidup akan dijunjung

kelelahan ini meminta alasan
perjuangan panjang, yang aku pun tahu takkan menang
berikut pedihnya berdiri tanpa kekuatan
di mimpi atau kenyataan, aku hanya ingin pulang
rin...
mereka telah menolak dan mempermalukanku di kaki langit.
mereka bilang, mereka tak bisa memulai menghukum ruh yang berserakan.
jadi, aku dikembalikan. aku pulang.

padamu, sekarang, rumah kecil itu telah berubah menjadi gundukan dengan kamboja layu.
apakah engkau masih disana? aku tak tahu harus kemana.





Wednesday, September 18, 2013

Makam [2]

Ditengah malam seperti ini, biasanya penjaja peti mati mulai berkeliling kampung. BIla kamu terbangun tengah malam, mungkin kamu akan berpikir untuk tidur lagi atau pura-pura tidur kembali. Kamu mungkin tidak begitu berani, saat penjaja peti mati itu diam-diam mengintip dari jendela kamarmu. Dan bila saja kamu memutuskan untuk membuka mata, barangkali kamu dengan penasarannya dan sengaja menatap matanya dibalik kaca jendela. Dan dia akan berkata, "Mau beli peti mati?"

Bila sebelum pagi resahmu belum juga reda. Cobalah pesan satu peti mati. Peti mati yang biasanya diseret dari rumah si penjaja. Kamu akan mendengar suara kayu berderit dari gesekan aspal yang dingin. Dan penjaja peti mati akan dengan senang hati mengetuk pintu di ruang tamu. Dan dia akan berkata, "Hatimu saja atau sekalian jasadmu semua?"

Aku pernah melihat penjaja peti mati. Seperti ini, sebelum pukul tiga pagi. Wajahnya lusuh dan pakaian putihnya bercampur lumut-lumut. Aku mengintip diam-diam dari lubang bambu dinding rumahku. Salah satu peti matinya menganga memanggil-manggil seperti kesepian. Kesepian yang panjang. Disela-sela mulut peti mati itu, kulihat mata yang bersembunyi dibalik gelap. Mata yang tak asing lagi. Mata ibuku. Sebelahnya mata pualam berwarna biru. Matamu. Aku menggigil. Sebelum akhirnya pintu kayu ruang tamu kembali diketuk.

Penjaja peti mati tak pernah dipanggil. Bukan seperti penjual roti atau mie yang lewat saban hari dengan terompet atau lonceng besi. Tapi sesaat sebelum hatimu memanggil, selalu ada erangan suara kecil dari kayu peti mati. Suaramu sendiri.

Thursday, September 5, 2013

You must see with eyes unclouded by hate. See the good in that which is evil, and the evil in that which is good. Pledge yourself to neither side, but vow instead to preserve the balance that exists between the two. 
-Hayao Miyazaki

Monday, September 2, 2013

Sunday, September 1, 2013

Review: 1,778 Stories of Me and My Wife



Sebuah film lembut dan romantis (??)  tentang seorang penulis cerita fiksi sains/SciFi, Sakutaro Makimura dan istrinya, Setsuko Makimura. Saya terkesan dengan tujuh menit pertama film ini, dan kalau diingat-ingat sepertinya saya akan bergumam, "whaa, this is romantic...!", and yup its quite romantic. Saya gak tahu bagaimana orang-orang membayangkan apa itu SciFi, mungkin kita yang terbiasa menonton film era sekarang atau penggemar manga-anime langsung berpikir tentang sesuatu yang seru..."hmm, action? thriller?" dan sejenisnya. Tapi sayang sekali, disini tidak ada hal-hal yang seperti itu, walaupun thrillnya lebih unik. You'll know when you watch it.
Saya tadi bilang tujuh menit pertama menarik? Ya. Di tujuh menit pertama, kamu akan melihat bagaimana sebuah manusia dengan ide yang di-hidup-kan. Sakutaro, pria yang musenya adalah robot-robot petak, alien dan kehidupan dimensi  asing. Kemudian dia berjalan menuju bank untuk mengambil uang. Lucunya, waktunya mengambil uang itu, dia bergumam tentang suatu alien dari planet asing. Disampingnya, customer memandang heran. Bayangkan saja kalau tiba-tiba ada orang yang mengigau disebalahmu dengan mata terbuka. Kurang lebih seperti itu. Tapi yang mengagetkan saya adalah, wanita yang jadi teller bank itu menanggapi, seolah-olah itu adalah hal yang lumrah. Jadilah itu customer sebelah makin bingung. xD. Belakangan, ternyata wanita tadi adalah Setsuko, istri Sakutaro sendiri. (pantesannn...!!)
Masih di tujuh menit pertama ( :D ), scene berganti dengan Saku yang pulang membawa ide yang diberikan oleh Setsuko. Sepanjang jalan ia mengucapkan, "Matians adalah serangga". Saya tersenyum geli. Saya tahu persis bagaimana rasanya takut kehilangan ide saat tidak membawa kertas. Dan kemudian Saku menghabiskan waktunya sampai malam untuk menulis cerita barunya. Dan begitu selesai, ia berteriak kepada istrinya. Setsuko yang rupanya tidak lain pembaca setia tulisan Sakutarou. Sebelumnya terlihat Setsuko yang menunggu Saku untuk makan malam, namun ketika ia sudah memegang tulisan Saku, mereka sampai bertengkar kecil.
Saku : "Makan dulu."
Setsuko : "Tidak. Mau baca dulu."
Nah, kemudian 7 menit pertama ditutup oleh oleh scene yang sama, oleh Sakutarou dan Setsuko yang bertengkar kecil tentang isi ceritanya. Tapi tentu saja cerita utamanya bukan itu. Topik yang diangkat film ini adalah bagaimana Setsuko yang didiagnosa mengidap kanker dan bagaimana setiap hari Sakutarou berusaha untuk menghibur Setsuko. Ya, kalau tidak salah Setsuko hanya sanggup hidup sekitar 2 tahun (maap, udah lupa! xP). Bagaimana saya harus menyebutkan film ini, happy but bitter. Or sad yet soothing. Tapi ending film ini memuaskan.
Di film ini seolah-olah Sakutarou lah yang terus memberikan kehidupan kepada Setsuko. Bagaimana ia berusaha menulis cerita-cerita yang menarik agar Setsuko tetap tertawa setiap hari, disamping ia juga harus menabung dengan cara menulis cerita yang - samasekali bukan kehidupannya. Maksudnya, bahwa Sakutarou ini adalah penulis SciFi dan sulit untuk menulis selain itu (aduh, bingung ngejelasinnya). Tetapi dimata saya, film ini justru keduanya saling memberikan kehidupan. Bagaimana Setsuko menjadi inspirasi bagi Sakutarou, dan Sakutarou yang menulis hanya untuk Setsuko. And that's how romantic it can be!
Banyak kejutan di film ini dan pendalaman pergolakan karakternya juga salah satu yang buat film ini layak tonton. Yah, kalau menonton tidak sekadar mencari cerita tapi juga mengapresiasi akting tokoh film ini, Yuko Takeuchi merupakan aktor senior yang bener-bener keren.
So far, film ini recommended sih. Tapi karena faktor SciFinya itu, barangkali gak semua orang bisa menikmati. Ada nih videonya di youtube http://youtu.be/Ra5vl9m1_4M
Tapi mending download deh daripada sakit mata. :D
Lebih mending lagi kalau bisa beli DVD orinya. (eaa..sok banget!)

Kurang lebih mohon maaf kalo reviewnya basi. -,-

Saturday, August 31, 2013

Kematian [4]

andai saja angin di padang-padang ini bisa jauh lebih lembut
mungkin kau akan berpikir seribu kali menyeberanginya
dengan kaki mungkil yang sesekali terperosok dan tenggelam dalam pasir putih.

luputkah dari penglihatanmu, jauh disana, perompak mengawasimu nanar
sebilah pedang dan sedikit bercak darah telah dihunus, serigala-serigala pun mengendus lapar
kau lihat? kau lihat? nafsu telah dilempar.
tapi jiwamu barangkali jauh lebih membakar, merahnya mawar barangkali pun akan pudar
malu padamu.

belum lagi setengah hari, seperempat menuju oasis ilusi, impian tak mungkinmu
di depanmu mereka menatapmu, kau balas dengan tatapan tajam
lagi, mata pisau itupun malu padamu.

kau kira mereka telah berhenti mengusikmu
dan kaupun melangkah dengan pongah kemenangan
sedikit senyum simpul meremehkan

belum lagi setengah hari, seperempat dari mereka kau lewati, perompak terbaik bagiku
di depanmu tinggal kelamnya tujuan, kau berhenti
bukan lupa, bukan pula takut
hanya saja, ada yang hilang...

andai saja angin di padang-padang ini bisa membangunkanmu lebih cepat
tentu kau masih beserta perasaanmu yang terbenam.

Friday, August 23, 2013

ketika kekasih menuju penjara

Ia masih memandangnya; api dalam pikirannya beserta lilin dihadapnya yang telah lama padam.
Di luar sana masih hujan, lengkap bersama angin kencang, gelap, dan gelegar yang bersahut-sahutan.

Ia menatap langit panjang,
Reruntuhan datang belakang,
Ia menatap jeruji panjang,
Dosanya mulai menggenang.

Ada yang hilang, entah uang, entah ingatan. Ia lupa mana yang lebih berharga.
Sebilah pisau ditangan. Ia tersenyum tipis, persis seperti Zulaikha. Perempuan kastil yang kasihan.

Dagunya ia turunkan,
Bersama peluh berjatuhan.
Bahkan rantai ini pun masih sungkan
Disatukan oleh kepedihan

Lelehan lilin berjatuhan, ditangan, di pangkuan. Sedikit pun ia tidak berpindah dari kehampaan.
Terkoyak-koyak, dadanya. Sekedar memastikan. Bahwa memang hatinya tak ditemukan.

Titik-titik air hujan mengobati
Semua akan berempati
Hanya saja ia bukan tercari
Pencurian ini tak hadir di mimpi
Kemudian ingin aku katakan, "Siapakah yang menjanjikan kekuatan di luar dari bingkai Tuhan." Perempuan Zulaikha itu menghisap bibirnya, lalu ia menjawab pelan, perlahan-lahan bersama angin yang bersembunyi dibalik pintu pun bisa hilang, "Hati itu yang menjagamu, sekalipun ia rusak lalu menjadi puing seutuhnya. Bukankah Tuhan telah akan merelakan kebinasaanku nanti?". Aku terdiam, memasrahkan dirinya mendekat, menghujamkan..."kau tahu apa yang seharusnya...".

Aksara di Lingkar Kepala

Ada, satu cerita berputar-putar dikepalaku. Ia ingin duduk, terserah dimana, di kertas atau di dunia binari. Ia ingin tampil sebagai aksara, sebagai perwakilan gelombang debar yang tak bisa kau rasakan. Ia yang akan menyampaikan.

Tapi aksara dalam pikirku begitu pemalu. Sepanjang umurnya hanya bertemankan dusta, dipakaikan rima dan metafora pula. Aksaraku. Dia begitu lekat, bersembunyi di balik kuku, menjabat mataku dekat, takut seakan-akan mata pun bisa berkhianat, ia ikat erat-erat lidah dan pita suara, hanya saja...benarkah dia pantas untuk dilahirkan, disampaikan?
Aksaraku duduk, sendunya...apakah bisa dikatakan sendu sekali. Ia pun paham...disampaikan atau tidak, ia tidak akan mengubah apa-apa.

Tuesday, August 20, 2013

Kenangan [3]

sentuhkan dingin subuh, di dadamu, lelahku kan rubuh
pencarian hangat semata, di semak kelam belukar; dunia
semua padamu benar hangat, 
tatapmu, bisikmu, peluhmu, airmata, inginmu, lalu semua yang belum kau katakan
benarkan semua syair, lalu lagu-lagu, bahwa waktu hendaknya berhenti
menenangkan, setiap detik ini menenangkan
masih di pelukanmu, bahwa asalnya jantung dan hati ini
retakan rusukmu yang telah disatukan
ah...aku pun ingin begitu
dan lagi, setiap saat aku kembali di rebahan dadamu,
aku tak perlu meminta detik; karena ia akan mengasihani dirinya sendiri

seandainya, bilakah, kalaupun, semua andai-andai ku rangkum
bisakah aku tetap lelah; asal tatapmu, biisikmu, peluhmu, tanpa airmata, semua inginmu
dapat kumiliki dan kabulkan.
tapi aku kecil, mengecil, dan bukan tuhan...

dan karena kau pun jauh, menjauh, di tepian ingatan.

Friday, August 16, 2013

Di Ufuk Tiran

aku tersulut dibawah mantramu
terbangun rinduku, mencari dawai penyejuknya yang hilang
masih rapuh, tergopoh-gopoh kearahmu
wangi pantai pagi, tempatmu bersembunyi

kelabat waktu bantu aku
mencibiri sekam yang kutaburi sendiri
bisakah terbakar samudera ini
sebelum tenggelam bersama nafsu yang malu-malu

jelas, aku ingin menjatuhkanmu
sebab kicau cemburuku jauh lebih ranum
di pematang, di tebing-tebing curam, di sekat sebelum senja, di pinggiran sungai,
bangau-bangau, yang bersebab duka dan sukaku berkejaran

bantu aku. tikamlah di ulu-ulu.
aku yang kau kenal, sudah seharusnya kau jegal

Tuesday, August 13, 2013

Kenangan [2]

seyogyianya hati telah hanyut dan tenggelam
lalu terselamatkan oleh kulit kerang
tak sengaja
pernah disimpan
putihnya
pucatnya
hingga tuhan di samudera menghantarkannya pulang
pada pasir pantai yang setia

---

tinggi pada ketinggian manakah
obat dibutuhkan dada ini ada
hingga ia tak lagi butuh udara
tetapi ramai
riuhnya
rendahnya
tiap hembusan nafas memberikan irama
pada rongga yang kosong tadi
sepi meratap panjang

Hujan [1]

berat melepas beban, tak begitu saat takdir disatukan
dua anak langit, kakinya pernah membumi; tidak lagi
sejak mereka dipertuan

langit dipertuan, jauh sebelum kembang ditemukan
matanya hendak menghujam, tapi ia lupa ukur ketinggian
duhai langit yang penuh kerinduan...

ia sakiti, puas pada panas yg ganas
belantara semu tengah pongah, sebelum angkuh diterjemah
duhai langit yang penuh keramaian...

tekan saja, sementara sesak di ulu hati dan mata
sudah seluruh pijarmu mengelam, tertutup gelapnya keculasan
duhai langit yang hendak runtuh....

Wednesday, July 31, 2013

bangunkan aku nanti dengan cangkir senja dan tuangkan lembayung jingga yang pekat. 
rencananya, malam yang pahit kan kutenggak lagi sampai pagi.
kemarin dapat kiriman dari desa bulan. 
setiap fajar selasa mereka punya kebiasaan mendoakan manusia-manusia bumi. 
seakan-akan, kita ini lah yang mati.
nihil kata tuk kukatakan
salah paham terbentang sepanjang jurang
dan diantara reruntuhan di tepinya
adalah bunga-bunga kenangan

dimana hujan
yang kabarnya penghapus gersang
apa kukira bahkan pelangi pun kan kau coba luruskan?

aku lempari awan dengan makian
berharap badai bergumpal berdatangan
aku mengharapkan hujan
tuk menghapus kehausan yang menyiksa

tadinya aku menunggu dengan malu
kini sudah jemu hingga bunga rinduku layu

Ritual

kau gila kau gila kau gila
kuucapkan mantra, setengah marah
kau tuli kau bisu kau buta.
kau penyakitan terkapar berdarah

Arrrrrrrrrr...ggaaahhh
timbul tenggelam
kepahitan
kebencian

menggigil terisak, samar ku rasa
namamu bergaung tak teraih
entah dimana pijak dunia
kuhabis pilu hilang tertatih

kau tak tau apa-apa
andai bisa ku katakan
andai bisa ku teriakan...
kutekan dalam-dalam gelegak api
mendidih disana airmata luka

segalanya
kita bakar semesta
dan kita bakar surga

Tuesday, July 23, 2013

Makam [1]

kala pohon-pohon berlarian, berebut menjadi pagar nisanmu.
dipersemayamanmu, mereka menjadi pelindung,
dari kejamnya panas hari yang tak pernah sampai
dan tudung-tudung awan pun berkejaran,
bertaruh menjadi luruh-luruh hujan.
hendak menyuburkan benih yang takkan pernah tumbuh.
langit telah ditabuh, putik bunga telah dilabuh...

rindu yang kucinta, kapan engkau memiliki tubuh?
tuhan yang maha, kapan doaku kau sentuh?

Saturday, July 6, 2013

I am thinking about obsession

It just I was pretend to be strong. If I were built by words, what am I if you think every second and now it's fake, shit, and goddamn worthless. How worth gold is, if you happen seeking God's heaven?

And so, I'm thinking back and forth. I will try as far as my limit...


I'm trying to recall as many as possible I could, yet I found empty house and long echoes of those I couldn't remember.

And here we are...

...Time doesn't heal, it change us.

Friday, June 28, 2013

Kematian (3)

#3
jika saja bersama hujan aku bisa memahami tanah
mungkin, bersama kenang aku bisa merasakan dingin disana
terlepas dari taburan bunga yang; apakah mewangikan bentuk yang fasad?
dan nafas benci yang meruak dari pori-pori bumi
pujilah takdir; aku masih merutuki tuhan
yang membawa retak yang tak tertambal
yang melukai tanpa mengobati
atas nama yang tak bisa kembali; aku masih merutuki tuhan
bicarakan pada yang bernyawa
ya, lepaskan saja nada - terserah entah bagaimana
lalu tertawalah; identitasnya tlah dicabut tuhan

Friday, June 21, 2013

Kenangan [1]

jika waktu dirupa-rupakan, apakah ia telinga? lidah? atau mata?
jika waktu, dihantar sepi, maka telinga mendengar isyaratnya
jika waktu, ditulis cerita, maka lidah kan tergagap kelu
jika waktu, dicampak warna, maka mata meraba mayanya
bersebab telah terpenggal segala kecap tentangmu

detak detik hampir sampai disana
dimana? disegala tempat disebut kenangan
apakah megah ataukah terkubur?
di ruas bumi paling dina
apa? senyata dingin sebuah penyesalan
disana, air mata pernah ditabur

Tuesday, June 11, 2013

Kematian [1] & [2]

#1
sore hari, dikejauhan suara kereta memanjang
menghempas senyap
kabarkan kepulangan
dari sepucuk surat yang lama kau cemaskan
kendi-kendi tlah diisi penuh
oleh wajah-wajah teduh
mereka mensyairkan sedih
dari sepucuk surat yang aku takutkan
tertegun
mematung
saat hanya sehelai syal yang dititipkan
dari sepenuh raga yang tentram
telah disemayamkan
dan kerinduan jiwa yang damai
telah sampai di sisi Tuhan

#2
masih disore yang sama, diantara pesan-pesan ibunda
tak kutemukan namaku disana...

seluruh tulangnya melunak
lalu meleleh bersama liur anak-anak berpenyakit mental
matanya mencuat
meleleh juga bersama tangis yang tak lagi asin

entah apa yang Tuhan sematkan
di jiwa yang mati Ia hidupkan nafas panjang
di jiwa yang hidup Ia jedakan, terlalu panjang

di duniaku, akhirat terjadi berkali-kali
berapa kali aku mati?


NB : hutangku 7 atau 10? 2 dulu ya...

Friday, January 11, 2013

Don't fall in love with writer

I’ll tell you about it. Writers are like aliens. They string words of proportions to make people understand and see what their views yet behind all these, they have their own planets, they have their own language that even people of their own kind don’t get to fathom, at least most of the times. Writers are boring. They tend to look at the sky without particularly knowing why, or which part of the sky they’re staring at. They swoon over silver clouds while talking to a bunch of alter egos they always drag within them. 

Don’t fall in love with a writer. They love weaving magic carpets of words that will lift your poor soul far beyond the fray and cacophony of heartache and strife and will carry you to a realm of fantasies and dreams. Still, remember that words are words and fantasies are fantasies and that essays are just essays. 

Writers have the most deadly temper and the quickest switch-on switch-off mood. They are slaves to their emotion and can dramatize even a rusty leaking faucet. They justify everything in the name of their art. They read other people’s receipt and tend to eavesdrop at a couple having coffee nearby, not minding that you’re at his side, telling the most awesome tales of ants trailing the sidewalk. This, of course, is justifiable by saying “it’s research.” 

Also, writers give the cheapest of cheapest gifts. They’ll dote you with cards made of milk cartons with a written four-verse poem that doesn’t even rhyme. They’ll bring you flowers handed to them by admirers and would sometimes write “I love you” in your arms. Because state of poverty, to writers, are major avenues of their calling. They look at themselves as creatively complex and hard to understand in a Pablo Picaso cubism sort of way individuals since suffering is art. And because life in the media industry can be a cruel and a fickle beast, they can’t accept just any job. It has to serve their purpose. It has to contribute to a general public and must live to their philosophy yet, still, pinch a nerve near the heart. 

Even the most intimate details of your relationship could most of the times turn up in their writings. And although they are mightily concealed behind metaphors and allegories, you, of course, will still recognize them. It’s all about you after all. 

Although they never really intend to insult you, they will sheepishly remind you that “your” and “you’re” are different and that “despite” is the right one and “despite of” is the wrong one. I’m telling you, they’ll notice the smallest of details about you as an orgy of your descriptions are banging wildly inside their heads. Yes, even the color of your socks. 

Conversations with them are tough. They will talk about characters in books and art films as if they’re real, as if they’re someone tangible, someone he recently got a chance for a vis-à-vis over some tea and biscuits. Annoyingly, they have this habit of writing parts of your conversation on some dank piece of tissue paper. And like lawyers, everything you said is valid and can be used in favor or against you in future discussions. 

Probably the hardest one to understand is their addiction to solitude. It might not be close to that of Ernest Hemingway’s seclusion, but a time alone is always a must. It’s not a snob. It’s not barricading. But in solitude, not only he is gathering his thoughts, formulating sets of theories, but also re-arranging himself. 

But writers are one of the most romantic people you’ll ever meet. They’re lamentably passionate and will adore you for the most natural thing about you. For they don’t succumb to the societal dictates of beauty and form. You are an abstract masterpiece seen in a philosophical beautiful way. They are phenomenally too human that even their tears are sometimes trails of fluid words. They’re achingly martyrs and they can tell you in thousand ways how much you mean to them, how much they adore you and how much they love you. 

So don’t fall in love with a writer. Don’t fall in love with me.
gli
http://www.desoleboy.com/2011/11/dont-fall-in-love-with-writer.html

What happens if you fall in love with a writer?

Lots of things might happen. That’s the thing about writers. They’re unpredictable. They might bring you eggs in bed for breakfast, or they might all but ignore you for days. They might bring you eggs in bed at three in the morning. Or they might wake you up for sex at three in the morning. Or make love at four in the afternoon. They might not sleep at all. Or they might sleep right through the alarm and forget to get you up for work. Or call you home from work to kill a spider. Or refuse to speak to you after finding out you’ve never seen To Kill A Mockingbird. Or spend the last of the rent money on five kinds of soap. Or sell your textbooks for cash halfway through the semester. Or leave you love notes in your pockets. Or wash you pants with Post-It notes in the pockets so your laundry comes out covered in bits of wet paper. They might cry if the Post-It notes are unread all over your pants. It’s an unpredictable life.
But what happens if a writer falls in love with you?
This is a little more predictable. You will find your hemp necklace with the glass mushroom pendant around the neck of someone at a bus stop in a short story. Your favorite shoes will mysteriously disappear, and show up in a poem. The watch you always wear, the watch you own but never wear, the fact that you’ve never worn a watch: they suddenly belong to characters you’ve never known. And yet they’re you. They’re not you; they’re someone else entirely, but they toss their hair like you. They use the same colloquialisms as you. They scratch their nose when they lie like you. Sometimes they will be narrators; sometimes protagonists, sometimes villains. Sometimes they will be nobodies, an unimportant, static prop. This might amuse you at first. Or confuse you. You might be bewildered when books turn into mirrors. You might try to see yourself how your beloved writer sees you when you read a poem about someone who has your middle name or prose about someone who has never seen To Kill A Mockingbird. These poems and novels and short stories, they will scatter into the wind. You will wonder if you’re wandering through the pages of some story you’ve never even read. There’s no way to know. And no way to erase it. Even if you leave, a part of you will always be left behind. 
If a writer falls in love with you, you can never die. 

http://karenfelloutofbedagain.tumblr.com/post/14327141634/what-happens-if-you-fall-in-love-with-a-writer