Showing posts with label makam. Show all posts
Showing posts with label makam. Show all posts

Saturday, August 16, 2014

Absorbsi

Makam [7]
takdir menumbuhkan impian dibalik cangkang
lalu mengoleksi engkau dengan pijar kunang-kunang
tapi mereka melapuk, dibawah naung yang tak lagi berbahasa
tapi mereka layu, seperti sebongkah es dijenguki saga
   lihatlah engkau lelah serta bayangmu pun musnah
   bila sesuatu dalam lacimu adalah kunci
   tidakkah engkau rapatkan dan sunyikan dalam dada
   membiarkan rumah birumu terbuka, dan seolah memanggil suci
      kain-kain putih berjuntai tinggi
      lalu meraba cincin hitam disekitar mata
      oleh seorang yang menyematkan jiwa diantaranya
oleh malam yang kian meresap
kini tetes airmatanya pun berubah gelap

Stabat, 14 Agustus

Friday, August 15, 2014

Gerbong Usang

Makam [6]

belumkah engkau lelah berjalan
berkejaran dengan bayangan
dengan lengan berkait awan
akankah engkau urung menjadi hujan?

bila ada saja secuil kemungkinan
istirahatlah dipangkuan
pada gerbong usang termakan zaman
padaku saja, engkau kereta diakhir penantian

Stabat, 11 Agustus

Sunday, July 13, 2014

Bersama Rindu, Ia Berkecambah

Makam [4]

kau coba membedakannya
yang mengalir dibalik dada,
lalu menetes-netes dari jemari
selebihnya menguap kembali ke ujung pelipis mata.
simpan sebagian, kembang pelayang
yang hamparannya sepanjang mata memandang,
menjangkau pintu-pintu langit,
selebihnya tiup agar kembali terbang pada bumi.
lembayung jatuh, dimana disembunyikan
cecapku yang tak lagi punya rasa.

ada alasan untuk lari,
tapi dunia memilihmu untuk terendam.
memijar tanah kering dan menghauskan awan
yang pelan-pelan menghilang.
agar kau punya hak untuk menjadi ibu
atas kesah duniaku yang tak berbalas.
bila nanti kesanggupanku terbaring
diatas bekas kerambamu,
maukah menungguku di gerbang tuhan?

Sunday, March 23, 2014

Kubur Para Pelupa

Makam [3]

hari ini, dari tempat kuberdiri, 
lautan ikhlas, dan pulau untuk para pelupa
 ikhlaskanlah..
begitu katamu.

entah kapan, mereka bilang itu juga ukuran tuhan
aku mengangguk pelan
masih berdiri di anjungan.
dengan sakit yang menggigit, 
disitu.

mereka bilang aku harus menemukan maknanya,
maka aku melompat. menuju padanya, "pulau para pelupa."

airmata telah samar bersama ombak yang menampar-nampar
perlukah bagaimana kujelaskan luka disentuh sayang garam lautan
pada bibir koyak yang tergigit, kurekamkan.

jadi sudahkah kutemukan?
belum.
aku menggigil. sedihku beku.





ikhlas...
...sudah tak perlu.


Stabat, 23 Maret



Wednesday, September 18, 2013

Makam [2]

Ditengah malam seperti ini, biasanya penjaja peti mati mulai berkeliling kampung. BIla kamu terbangun tengah malam, mungkin kamu akan berpikir untuk tidur lagi atau pura-pura tidur kembali. Kamu mungkin tidak begitu berani, saat penjaja peti mati itu diam-diam mengintip dari jendela kamarmu. Dan bila saja kamu memutuskan untuk membuka mata, barangkali kamu dengan penasarannya dan sengaja menatap matanya dibalik kaca jendela. Dan dia akan berkata, "Mau beli peti mati?"

Bila sebelum pagi resahmu belum juga reda. Cobalah pesan satu peti mati. Peti mati yang biasanya diseret dari rumah si penjaja. Kamu akan mendengar suara kayu berderit dari gesekan aspal yang dingin. Dan penjaja peti mati akan dengan senang hati mengetuk pintu di ruang tamu. Dan dia akan berkata, "Hatimu saja atau sekalian jasadmu semua?"

Aku pernah melihat penjaja peti mati. Seperti ini, sebelum pukul tiga pagi. Wajahnya lusuh dan pakaian putihnya bercampur lumut-lumut. Aku mengintip diam-diam dari lubang bambu dinding rumahku. Salah satu peti matinya menganga memanggil-manggil seperti kesepian. Kesepian yang panjang. Disela-sela mulut peti mati itu, kulihat mata yang bersembunyi dibalik gelap. Mata yang tak asing lagi. Mata ibuku. Sebelahnya mata pualam berwarna biru. Matamu. Aku menggigil. Sebelum akhirnya pintu kayu ruang tamu kembali diketuk.

Penjaja peti mati tak pernah dipanggil. Bukan seperti penjual roti atau mie yang lewat saban hari dengan terompet atau lonceng besi. Tapi sesaat sebelum hatimu memanggil, selalu ada erangan suara kecil dari kayu peti mati. Suaramu sendiri.

Tuesday, July 23, 2013

Makam [1]

kala pohon-pohon berlarian, berebut menjadi pagar nisanmu.
dipersemayamanmu, mereka menjadi pelindung,
dari kejamnya panas hari yang tak pernah sampai
dan tudung-tudung awan pun berkejaran,
bertaruh menjadi luruh-luruh hujan.
hendak menyuburkan benih yang takkan pernah tumbuh.
langit telah ditabuh, putik bunga telah dilabuh...

rindu yang kucinta, kapan engkau memiliki tubuh?
tuhan yang maha, kapan doaku kau sentuh?