Gadis kecil itu mengunyah makanannya dengan amat sangat lucu. Gadis kecil itu mengenakan gamis biru dengan renda merah dan jilbab panjang berwarna krem. Pipinya yang merah bulat itu kembang kempis saat mengunyah pelan. Tapi tangan mungilnya justru sibuk memain-mainkan koin pecahan ratusan, dibolak-balik, lalu diputar-putar di atas meja dengan jemarinya. Kutaksir umurnya belum sampai lima tahun.
Di meja itu gadis kecil itu duduk sendirian. Di tengah salah satu meja food court. Memang tak banyak orang yang makan jam-jam brunch, apalagi dihari kerja seperti ini. Di depan gadis kecil itu terdapat laptop setengah terbuka dan tas ransel berukuran berukuran sedang. Bila diintip sedikit, terlihat sehelai kain berwarna paduan oranye terang dan biru muda. Barangkali baju milik gadis kecil itu.
Aku masih memperhatikan gadis kecil itu hingga pada saat tatapan kami bertemu, barulah ia menarik tangannya, menyembunyikan senyum riangnya tadi, dan menundukkan wajahnya seperti anak yang baru saja tertangkap basah bermain genangan air. Aku pun membalikkan pandanganku, juga sambil menahan senyum. Namun jelas saja sesekali aku mencuri-curi pandang gadis kecil itu. Setelah dia juga puas mencuri-curi lihat padaku, memastikan bahwa aku tidak sedang memperhatikannya, barulah bibir merahnya mengembang lagi.
Semenjak aku datang di kafe ini, terhitung sepuluh menit kemudian barulah seorang pemuda datang menghampiri gadis kecil itu. Kutaksir umurnya sekitar dua puluhan. Pemuda itu mengenakan kemeja lengan panjang, dengan tiga kancing sampai dada, berwarna krem dan strip biru di kerah dan pergelangan tangannya. Bila pemuda itu berdiri berdampingan dengan si gadis kecil, sungguh perpaduan warna yang serasi sekali.
Saat pria itu kembali entah darimana, ekspresi gadis itu berubah manyun. Pura-pura ngambek kelihatannya. Tapi pemuda sengaja tersenyum, seolah-olah dia yakin gadis kecil itu tidak apa-apa selama ia tinggalkan. Dan, kelihatannya memang seperti itu. Pemuda membuka laptopnya sambil tidak melepaskan senyumnya. Gadis kecil itu tetap manyun sambil mengunyah makanannya yang belum habis.
Selama beberapa menit ekspresi mereka belum berubah, hingga pada akhirnya si gadis kecil tersenyum kecil. Si pemuda yang sedari tadi mengotak-atik laptopnya berhenti, kemudian memandang pada gadis kecil itu. Matanya tertarik seolah heran. Tapi ia sudah curiga maksud gadis kecil. Lalu gadis itu mendorong piring makanannya ke arah pemuda itu. Pemuda lalu menggelengkan sambil mengedipkan kedua matanya. Tapi si gadis kecil itu, mungkin punya bawaan genetik yang sama hingga membalas menggelengkan kepalanya sambil mengedipkan mata. Kemudian disusul dengan tangan mungilnya yang ditempel pada wajah, kemudian jari telunjuk dan matanya kompak mengajak pemuda itu untuk melihat kearah yang ditujunya. Sebuah papan menu besar bergambar Ice Cream Sundae Banana Split ukuran sedang. Pemuda itu sontak menarik badannya, menatap balik ke gadis kecil itu lalu membelalakkan matanya. Ia menggeleng.
Gadis kecil itu menggembungkan pipinya dan melemparkan wajahnya dari pemuda. Ngambek. Pemuda itu menghela nafas, tak sanggup mengelak permintaan gadis kecilnya, lalu memesan sundae ukuran sedang itu.
Gadis kecil itu tersenyum senang. Menampakkan barisan gigi susunya yang putih.
Selang beberapa saat sambil melihat gadis kecil itu melahap sundaenya dengan lahap, pemuda itu meneruskan kegiatan dengan laptopnya. Tangan gadis kecil yang memainkan koin sambil melahap sundae itu menarik kembali perhatian si pemuda. Dia setengah menutup laptopnya, meminggirkannya, lalu mengambil koin yang kebetulan sedang lepas dari genggaman si gadis. Gadis kecil itu terdiam, lalu menatap pemuda itu serius. Kedua alis gadis kecil itu terlihat dipaksakan agar bertemu ditengah. Matanya juga seperti dipaksa disipit-sipit agar terlihat sinis. Tapi pemuda itu mengembalikan ekspresi si gadis kecil dengan tersenyum nakal.
Pemuda itu kemudian memberikan isyarat dengan telunjuknya untuk memperhatikannya. Lalu ia mempertontonkan trik old school dengan melemparkan koin itu ke udara dan menangkapnya dengan cepat. Kemudian ia menghadapkan kedua tangannya yang terkatup tadi, tak sempat memberikan kesan di tangan mana koin itu tertangkap pada si gadis kecil. Gadis kecil itu tersenyum namun menatap masih menatap pemuda itu heran. Pemuda itu menatap kedua tangannya yang terkatup bergantian, berisyarat agar si gadis kecil memilih salah satunya. Si gadis girang, dengan manjanya pura-pura bingung lalu menggengam salah satu tangan dengan kedua tangannya lalu melepaskannya. Pemuda itu menahan diri untuk membukanya, lalu begitu terbuka ternyata kosong. Lalu ia membuka tangannya yang lainnya. Ia tersenyum senang, senyum kemenangan. Si gadis mendesah, lalu bertepuk tangan meminta diulang kembali trik yang barusa. Pemuda itu menggeleng, lalu menepuk pipinya dengan telunjuk dan mendekatkannya ke arah si gadis kecil. Si gadis manyun, lalu dengan ia berdiri diatas bangku dan dengan setengah hati mencium cepat pemuda itu. Pemuda itu tersenyum lalu memperagakan triknya tadi. Kali ini si gadis kecil tersenyum penuh percaya diri. Tapi ia pun tak kalah lecenya dari si pemuda, ia pura-pura ragu meletakkan tangannya. Kemudian memilih salah satu tangan yang terkatup. Pemuda itu masih menahan untuk membukanya, lalu beberapa saat ia membukanya pasrah. Gadis kecil itu menang. Lalu ia membalas menepuk-nepuk pipinya yang bulat dengan telunjuknya. Pemuda itu mendesah, pura-pura malas, lalu mencium pipi si gadis dengan cepat.
Gadis kecil itu bertepuk girang. Tapi kali ini wajah si pemuda serius, ia menyembunyikan senyumnya, lalu seolah dengan sinis menyipitkan kedua matanya. Si gadis tak ingin terkecoh membalas dengan ekspresi yang sama. Pemuda itu melempar koinnya lebih cepat, tapi sesaat sebelum menurunkan kedua lengannya, ia menjatuhkan koinnya kedalam lipatan baju lengan panjangnya. Ia membiarkan gadis kecil memilih. Tentu saja pilihan pertamanya salah. Tapi ia tak terburu-buru membuka tangan yang lainnya. Wajah si gadis cemberut karena salah. Karena tangan satunya lagi tak kunjung dibuka oleh si pemuda, ia menepuk tangannya. Tatkala pemuda itu membuka tangannya, ternyata juga kosong. Gadis kecil itu kaget. Belum selesai keterkejutannya, si pemuda itu sudah memberikan isyarat pipinya dengan senyum penuh kemenangan. Si gadis kecil manyun, mau tak mau mencium pipi pemuda itu dengan cepat. Setelah puas dengan kemenangannya, pemuda itu merogoh lengannya dan menunjukkan koin yang disembunyikannya dengan curang. Si gadis kecil tak bisa menyembunyikan ekspresi yang campur aduk, tapi ia tertawa. Tawa yang paling jujur.
Tapi dibalik itu, hanya An, pemuda itu yang paling paham apa yang ada dibalik tawa jenaka Manja, gadis kecil itu....
to be continued