Thursday, March 29, 2012

Platonik

ini bukan perasaan sebelah tangan
ia menyiratkan kedalaman cita dalam dulang
ia cinta yang dinikmati dalam diam
ia membiarkan ruang dipenuhi oleh harapan
hingga ia mampu menuliskan puisi dan cerita
walau sesekali sepi berbisik, menepis tebas sukanya

dan suatu saat, ketika dunia lebih ramah padanya
cintanya akan disibakkan dalam kasur bunga, pelangi jatuh disana
tempat keindahan ditidurkan, mereka akan dibangunkan
cerita akan diberi nafas dan puisi memujinya

Monday, March 26, 2012

Tawan

dalam suratku, kan kau temukan jiwa digang-gang ketakutan
bungkus liurku dan sematkan dirongga pelacur yang kehausan
seperti pagi yang tak pernah sempat kita cemaskan

pilih sesumbar risaumu, amplopkan kerumah panti matahari
hingga lipstik, bedak, dan pemerah setahun diwajahmu abadi
seperti harum cemeti yang meledak di punggungmu berkali-kali

buang rindu dan kenangan, sudah sepantasnya kau mati dengan anggur hitam
kau puan, segala candu yang tak pernah pudar dalam ingatan
ya, ingatkan aku mengantarmu pulang, ke rumahku yang terasing dalam hening

Monday, March 12, 2012

Anak Langit

Namaku Rin. Ini cerita tentang makamku. Aku mati sekitar 10 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 1 Juni. Benar. Aku mati di tengah tahun, di tengah kerisauan, dan tengah melayang diantara langit dan bumi. Sekali lagi ini cerita tentang makamku, bukan caraku mati. Saat ini jasadku ditanam diantara awan. Tiap hari, tak lupa Tuhan menyirami makamku yang putih kebiru-biruan.
Tiap akhir tahun, datang menziarahiku burung-burung dari selatan. Tak ubah layaknya kerabat sebelum hari raya. Apa mereka reinkarnasi orang-orang dari kampung halamanku?

Dan untuk hari-hari matiku, sama seperti mayat-mayat lainnya. Aku ditanya oleh dua penjaga langit dan bumi. Tentu saja aku disiksa jika tak bisa dijawabnya. Tiap aku tak bisa menjawab pertanyaan mereka, tubuhku mulai mengumpul. Kukira aku akan dihidupkan kembali. Tapi sekujur tubuhku terlalu dingin dan organku bergumpal acak. Kepala yang disambung oleh kuku, kaki yang bedesakan dengan ginjal, hati yang bercampur dubur, dan lainnya. Dan saat semua bagian tubuh lengkap terkumpul, saat itulah aku hancur. Berjatuhan menuju bumi. Hingga pada suatu waktu aku memuai dan berkumpul lagi di langit yang tak berujung. 

Sejujurnya sikasaan ini tidak terlalu buruk. Karena selain itu dua penjaga penyiksa, aku juga ditemani dua malaikat lainnya. Kedua malaikat ini berwarna putih dan merah kekuning-kuningan. Dua malaikatku itu cantik dan menemaniku seharian. Dan saat aku terjatuh atau memuai terpisah-pisah, mereka ikut tertawa bersama.

Oh iya, sedikit teringat tentangku mati. Waktu itu aku sedang marah pada temanku. Tiba-tiba tubuhku panas. Terlalu panas, hingga bola mataku meleleh keluar, berjatuhan lalu hilang di udara. Bagian tubuhku yang lain juga mulai meleleh berlepasan, yang lainnya mendidih bergelembung, lepas ke udara dan meletup. Mereka terurai menjadi atom-atom dan meledak antara beningnya kegelisahan.

Barangkali, itu kenapa aku selalu melihat manusia yang gelisah saat aku terjatuh. Atau aku memang pembawa sial? Ah.

Wednesday, March 7, 2012

Sederhana, ya...sebuah rencana

Apa kau pernah merasa hancur? Tubuhmu retak-retak mengering terlalu lama panas terpanggang, lalu kau disentuh angin yang membuat dagingmu jatuh sedikit demi sedikit dan terserak tak berbentuk? Apa kau pernah merasa di suatu tempat, dimana kau merasa asing, dimana semua terlihat sama dan membosankan. Semua orang memakai seragam yang sama. Semua rumah bercat putih berbentuk kotak dan beratap seng merah berkarat. Semua mengendarai mobil yang sama merk dan warnanya. Dan kau merasa muak. "Tak seharusnya aku ada disini!".

Tak ada seorang pun mengerti jeritan kasar, apalagi desis bencimu. Kau ingin melarikan diri. Tapi tak tahu harus kemana. Hingga kau mengunci kamarmu. Dengan bit musik yang keras dan menghentak, jeritanmu tenggelam dan kau pun menghilang dari kenyataan.

Apa kau ingin menjadi orang lain? Saat hidupmu benar-benar sia-sia. Dan kau ingin menemukan sejumput ekstasi untuk membahagiakan hidupmu yang terlalu payah. Tetapi itu hanya angan-angan. Karena kau tetap terjebak, terjepit di hidupmu yang rumit, yang kau benci. Apa kau merasa muak dengan orang-orang disekitarmu? Mereka yang tersenyum lebar penuh kepalsuan dan kebohongan-kebohongan mereka yang bodoh. Kau hanya bisa tersenyum tipis mengiyakan, sedang dalam hatimu berdarah-darah, ingin muntah, merasa jijik dan ingin menampar mereka dengan kenyataan pahit yang barangkali mereka tak pernah alami.

Meski tak ada yang pernah berbohong langsung kepadamu dan tak pernah ada yang menusukmu dari belakang, kau mungkin berpikir aku senang, tetapi aku tak pernah baik. Meski semua orang memberikan apa yang kau inginkan dan kau tak perlu berkerja keras untuk memiliki apa yang seharusnya ada, apa kau pikir aku senang?

Tidak. Kau tak tahu. Kau tak tahu rasanya ketika tak ada satupun yang terasa benar. Kau tak tahu. Kau tak tahu rasanya menjadi aku. Tiap malam bibir dan tanganmu berdarah, serta aku tak tahu lagi dinding rumahku entah berapa kali bergetar. Tiap malam aku merasa sepi, duduk di ruang gelap sepanjang waktu tanpa tahu kapan pagi datang. Sedang saat pagi, aku terus dilempari saat aku terjatuh, seakan-akan aku hanya badut yang tak bisa terluka. Terus di dorong menuju ujung jurang dan tak ada siapapun yang bisa menolongmu. Kau tahu rasanya? Tidak. Kau tak akan tahu. Selamat datang, inilah hidupku.


nb: anggap saja sebuah transliterasi dari lagu Simple Plan - Welcome to My Life