Tuesday, June 28, 2011

Pelarian

apakah ada semburat merah di ufuk kejora,
masih pun mengaduk secangkir kopi sementara kau berbisik akan pergi
dan terlalu pagi disini buatku mati

aku bungkam, dengan kata-kata yang kutikam
tak sampai hati membiusmu kembali
masih banyak dosa yang belum lagi ku tobatkan
satu darimu membuat segalanya pendar tak berpola
kau mawar, birahiku yang tertahan...

pinjamkan aku satu nafas lagi, barangkali sisa-sisa tadi malam
biar kurekatkan, tinta dari ludahmu, kurajut untuk lukaku...

Friday, June 24, 2011

Kemarau

Di tamanmu, petiklah bunga yang kau suka. Capung dan kupu-kupu sudah tak lagi datang kesini. Sebentar lagi musim kemarau. Bagian mana yang kan kau biarkan mengering gersang tanpa kehidupan. Biarkan saja, mawar lain lagi akan tumbuh disana. 
 
Di tamanmu, tak kan lagi kau temukan teratai yang malu-malu. Sebab kemaraumu kali ini, hanya menyisakan duri bagi yang memaksa. Dimana lagi kau simpan...benih-benih bunga matahari. Kemaraumu tak lagi bilang permisi, untuk menjadi tunggal penyulut siangmu.

Bawakan aku segenggam tanah tamanmu. Segenggam saat kau bakar seluruh lainnya.
Katakan salam, pada mataharimu.

Klimaks


Anak laki-laki itu berbalik. Kepada sesuatu ia berteriak, “Aku akan mempertaruhkan apapun!!”

...
Hening. Dalam hatinya ia meramal, “Suatu saat, iman ini juga akan kupertaruhkan.”

Lembut angin berhembus. Membawa bisikan kecil entah darimana, “Tolong, selamatkan aku!” Bisikkan itu lenyap. Menjadi ilusi yang tak diinginkan.

=== === ===

Dia lelah. Duduk sendiri di ujung ruangan. Peluhnya menyatu dengan kertas yang sedang ia kepal. Sesaat angin memaksa masuk dari bilik jendela yang tertutup rapat. Di kamarnya yang gelap, dia kedinginan. Ya, dunia tak lagi hangat dirasanya.

Sesekali terdengar tetesan air dari tubuhnya. Entah peluhnya entah airmatanya. Dia tak punya alasan untuk menangis. Dan tanpa alasan juga, ia terkulai lemas. Ini coda. Intro hidup yang baru lagi.