terikat kuat segenap beban
yang sudah terlalu jauh untuk kau lepaskan
pada dadamu yang bernafas berat
ada resah terselimut rapat
oleh kabut-kabut tebal yang sudah kau lewatkan
kunci rumahku berdenting pelan
bersama isak yang sesekali kau tahan
begitu pula sisa-sisa airmata, sudah kering disapu dingin
hanya hujan saja belum turun
melengkapi sedihmu yang kian rimbun
embun turun mengisi rongga
pada tubuh yang jatuh dipelataran jalan
dan tatapmu semakin hampa
menerobos gulita malam, malam pesakitan
ruhmu masih enggan berjabat tangan
sedang malaikat maut tlah berjongkok didepanmu
menatapmu, penyesalanku...
~Impian [2]
Jika kau dapat membongkar dadanya
Tentulah kau lihat geladak kapal hidupnya, telah porak-poranda
Oleh badai pedih yang buncah, mematah-duakan hati yang samasekali tak berpenyangga
Sekali kau biarkan tenggelam
Buritan yang jatuh ke lembah hitam, tak kau selamatkan
Berapa lama disana ia lapar, tak menemukan cahaya untuk pulang
Kau biarkan ia tenggelam
Setelah itu kau biarkan yang lain terapung hilang
Terombang-ombing sendirian, tanpa kawan, tanpa tujuan
Sampai terurai, tak bisa berlabuh barang sepatah kayu
Kau biarkan ia menghilang
Maka, penuhilah panggilanku
Sujudkan keningmu pada lautan langit
Tempat hening dan dukaku disemayamkan
~Impian [3]
Jika kau dapat menguburkan takdir
Semaikanlah bibit melati dibibir jendela
Hingga bila hujan, bayangku akan duduk disampingnya
Bersenandung dalam diam, meminta maaf panjang kepada Tuhan
Untuk doa-doa tentang kita, yang tak pernah bisa kurapalkan
Jika kau ingin menguburkan takdir
Semaikan bibir putri malu dipagar pekarangan
Tempat kau duduk menikmati petang
Hingga bila langit cerah, bayangnya kan menengadah lemah
Bersama tanah yang sabar, mereka akan berbaris saling menguatkan
Melindungimu, walau tak bisa selamanya, kuhidup dalam ingatan
Jika kau ingin menguburkan takdir
Kuburkan saja.

No comments:
Post a Comment