Di luar sana masih hujan, lengkap bersama angin kencang, gelap, dan gelegar yang bersahut-sahutan.
Ia menatap langit panjang,
Reruntuhan datang belakang,
Ia menatap jeruji panjang,
Dosanya mulai menggenang.
Ada yang hilang, entah uang, entah ingatan. Ia lupa mana yang lebih berharga.
Sebilah pisau ditangan. Ia tersenyum tipis, persis seperti Zulaikha. Perempuan kastil yang kasihan.
Dagunya ia turunkan,
Bersama peluh berjatuhan.
Bahkan rantai ini pun masih sungkan
Disatukan oleh kepedihan
Lelehan lilin berjatuhan, ditangan, di pangkuan. Sedikit pun ia tidak berpindah dari kehampaan.
Terkoyak-koyak, dadanya. Sekedar memastikan. Bahwa memang hatinya tak ditemukan.
Titik-titik air hujan mengobati
Semua akan berempati
Hanya saja ia bukan tercari
Pencurian ini tak hadir di mimpi
Kemudian ingin aku katakan, "Siapakah yang menjanjikan kekuatan di luar dari bingkai Tuhan." Perempuan Zulaikha itu menghisap bibirnya, lalu ia menjawab pelan, perlahan-lahan bersama angin yang bersembunyi dibalik pintu pun bisa hilang, "Hati itu yang menjagamu, sekalipun ia rusak lalu menjadi puing seutuhnya. Bukankah Tuhan telah akan merelakan kebinasaanku nanti?". Aku terdiam, memasrahkan dirinya mendekat, menghujamkan..."kau tahu apa yang seharusnya...".
No comments:
Post a Comment