Wednesday, September 18, 2013

Makam [2]

Ditengah malam seperti ini, biasanya penjaja peti mati mulai berkeliling kampung. BIla kamu terbangun tengah malam, mungkin kamu akan berpikir untuk tidur lagi atau pura-pura tidur kembali. Kamu mungkin tidak begitu berani, saat penjaja peti mati itu diam-diam mengintip dari jendela kamarmu. Dan bila saja kamu memutuskan untuk membuka mata, barangkali kamu dengan penasarannya dan sengaja menatap matanya dibalik kaca jendela. Dan dia akan berkata, "Mau beli peti mati?"

Bila sebelum pagi resahmu belum juga reda. Cobalah pesan satu peti mati. Peti mati yang biasanya diseret dari rumah si penjaja. Kamu akan mendengar suara kayu berderit dari gesekan aspal yang dingin. Dan penjaja peti mati akan dengan senang hati mengetuk pintu di ruang tamu. Dan dia akan berkata, "Hatimu saja atau sekalian jasadmu semua?"

Aku pernah melihat penjaja peti mati. Seperti ini, sebelum pukul tiga pagi. Wajahnya lusuh dan pakaian putihnya bercampur lumut-lumut. Aku mengintip diam-diam dari lubang bambu dinding rumahku. Salah satu peti matinya menganga memanggil-manggil seperti kesepian. Kesepian yang panjang. Disela-sela mulut peti mati itu, kulihat mata yang bersembunyi dibalik gelap. Mata yang tak asing lagi. Mata ibuku. Sebelahnya mata pualam berwarna biru. Matamu. Aku menggigil. Sebelum akhirnya pintu kayu ruang tamu kembali diketuk.

Penjaja peti mati tak pernah dipanggil. Bukan seperti penjual roti atau mie yang lewat saban hari dengan terompet atau lonceng besi. Tapi sesaat sebelum hatimu memanggil, selalu ada erangan suara kecil dari kayu peti mati. Suaramu sendiri.

No comments:

Post a Comment