menunggu jiwa yang paling miskin sekalipun
sekadar membuka jendela
kabut menunggu
bukan wewangian bunga ditaman
di tengah perjalanan, yang entah kapan aku akan melangkah berjalan
dan melangkah lah lagi, seperti dulu-dulu
seperti detik jam, tujuanku yang hanya itu-itu
oleh dingin pagi ini, sebab mata terjaga
dadaku menggigil, ada yang memanggil
itukah tuhan, atau engkau disisian tuhan, dengan penuh kerinduan
hujan berjatuhan
Stabat, 11 Oktober

No comments:
Post a Comment